
"Assalamualaikum, sayang."
"Waalaikumsalam. Iya, ma."
"Ingat perkataan mama kan waktu itu."
"Yang mana, ma?"
"Yang itu tuh, yang pernah mama katakan sewaktu kamu masih di kota M."
"Mama dapat kenalan lagi?"
Khanif membalikkan badannya melihat keramaian kota yang menjadi tempat saksi bisunya sebagai seorang yang sukses dimasa sekarang. Ia pun kembali melanjutkan perkataannya.
"Bukannya Khanif sudah katakan, Khanif tidak ingin adanya hubungan dilandaskan pada kencan seperti ini lagi."
"Mama tahu, tapi mau gimana lagi. Hampir tiap tahun kamu ngga pernah kenalin mama sama seorang perempuan. Walau sekedar teman dekat saja. Makanya mama ambil tindakan yang seperti ini. Biar kamu ada yang nemenin. Lagi pula mama bosan lihat kamu sendiri terus. Apalagi usia kamu udah hampir masuk kepala tiga. Mau nunggu ber-uban dulu baru nyari pendamping gitu?"
"Ngga juga ma." Khanif menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya.
"Makanya, ikuti saran mama aja. Biar kamu cepat ketemu sama jodoh kamu. Pokoknya, kamu harus temui perempuan pilihan mama malam ini. Tanpa bantahan dan tanpa telat. Karena mama mau kamu secepatnya cari jodoh, bukan cari alasan terus."
"Khanif usahain, ma."
"Tidak. Jangan diusahakan, tapi dilakukan. Jangan buat mama malu. Anak ini, anak teman deket mama. Makanya mama kenalin sama kamu. Oh iya, mama udah pesan tempat ketemuan kamu. Nanti mama kirimkan alamatnya lewat wa aja."
"Baiklah, terserah mama."
"Nah, gitu kan bagus. Nurut aja sama mama. Biar mama yang atur perjodohan ini. Baiklah, mama mau lanjut masak dulu."
"Iya, ma."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sambungan mereka terputus. Khanif berbalik belakang dan berjalan ke arah meja kerjanya lalu ia menjatuhkan dirinya di kursi kebesarannya. Ia lantas menyandarkan dirinya disandaran kursi sambil melihat langit-langit kantor yang sengaja ia desain seperti orang yang lagi tersenyum.
Sungguh, melihatnya, membuat kecemasannya sedikit terobati. Setelah merasa sedikit tenang, Khanif pun beralih pada tumpukan berkas yang harus ia periksa sejak kepergiannya ke kota M. Dengan tenang dan fokus ia memeriksa berkas perusahaan itu satu persatu. Hingga suara adzan dzuhur berkumandang dari suara ponselnya, ia pun merapikan berkas-berkasnya dan berlalu menuju musholla kantor yang terletak di lantai sepuluh perusahaan.
__ADS_1
Melihat lift kaca didepannya, ia seperti tidak memiliki minat hari ini untuk memakainya. Khanif pun lantas memilih memakai lift yang biasa seperti karyawan lainnya. Sesampainya disana, ia melihat sudah ada banyak karyawan yang ada didalamnya.
Karyawan yang ada disana pun merasa heran saat Khanif melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Mereka heran karena tidak bisanya Khanif menggunakan lift karyawan ini seperti biasanya. Namun meski begitu, tidak ada yang bertanya soal Khanif menggunakan lift seperti mereka. Toh, Khanif adalah atasan mereka jadi terserah Khanif mau memakai lift yang mana. Lagipula meraka harusnya senang karena Khanif mau bergabung bersama karyawan biasa seperti mereka.
Setelah sampai di lantai sepuluh, Khanif melangkahkan kakinya keluar diikuti oleh beberapa karyawan lainnya yang juga hendak melaksanakan kewajiban mereka. Beberapa karyawan menyapa Khanif seperti biasa dan seperti biasa pula Khanif balik menyapa mereka.
...***...
Sedangkan Rania, baru saja makan siang bersama keluarganya. Saat Rania hendak membantu mama, lagi-lagi Rania mendapat larangan dari dua orang pria didalam keluarganya. Tentu saja dua pria itu adalah papa dan Reyhan. Mereka dengan tegas melarang Rania. Padahal mama bersikap biasa saja.
Bahkan mama kena teguran dari papa karena mama tidak ikut serta melarang Rania. Namun teguran papa hanya berlaku di bibir saja karena papa bukalah pria yang ringan tangan pada seorang wanita. Terlebih wanita itu adalah istri yang sangat dicintainya. Mengetahui hal itu membuat mama hanya dapat tersenyum lebar saja.
Setelah urusan dapur selesai, mama ikut bergabung dengan keluarganya di ruangan keluarga. Baru saja mama duduk disamping papa, Rania sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana nak?" tanya papa.
"Rania mau ke kamar dulu pa."
Papa mengangguk. Rania pun berjalan menuju kamarnya. Namun belum juga Rania menghilang dari pandangan papa, papa memanggil namanya. Otomasi Rania pun berbalik.
"Iya pa."
"Malam nanti, siap-siap ya. Kita sekeluarga mau pergi dinner di restoran biasa."
"Papa juga mau pergi?"
Papa mengangguk kepalanya.
"Kenapa baru bilang sekarang." Rania lalu beralih melihat Reyhan. "Kak Reyhan juga, baru tadi mengatakannya pada Rania," sungut Rania seperti anak kecil.
Rania pun masuk ke dalam kamarnya. Dibalik pintu, tiba-tiba saja air mata Rania mulai berjatuhan seperti hujan yang jatuh tanpa aba-aba.
"Sayang." Papa mengetuk pintu kamar Rania. "Bukain pintu buat papa ya."
Perlahan pintu kamar Rania terbuka. Papa pun masuk ke dalam kamar untuk memberi pengertian pada Rania kalau papa pasti akan segera kembali jika tugas papa telah selesai. Begitupula dengan Reyhan. Setelah berhasil membujuk Rania, papa pun keluar dari kamar.
"Gimana pa?" tanya mama.
"Rania udah ngerti."
__ADS_1
"Papa sih. Kan papa udah tau sifat anak gadis kita gimana."
"Iya papa ngerti. Tapi mau gimana lagi, ini juga mendadak."
"Untung Rania mau ngerti. Kalau ngga, papa yang bujuk Rania biar mau keluar kamar."
"Iya, iya sayang."
...***...
Malam harinya seperti perkataan papa, mereka semua telah bersiap-siap untuk menuju ke sebuah restoran yang biasa mereka datangi sekeluarga. Dengan menggunakan mobil jeep, akhirnya mereka berangkat ke tempat tujuan.
Sesampainya mereka disana, papa memberikan kunci mobilnya pada petugas valet parkir. Setelahnya, mereka masuk ke dalam restoran. Disana, papa dan lainnya langsung menuju ke tempat yang telah papa pesan sebelumnya.
Pelayan restoran pun langsung mendatangi mereka untuk memberikan buku menu dan mencatat pesanan keluarga kecil itu.
"Kalau mau makan seafood jangan ditahan-tahan sayang," ujar papa saat Rania lagi-lagi tidak memesan makanan kesukaannya.
Padahal, sudah beberapa tahun yang lalu, setiap datang kesini pastinya pesanan Rania tidak jauh-jauh dari makanan berbahan seafood.
Tiba-tiba Reyhan berceletuk, "adik lagi diet pa. Takut gendut kayak ...."
Belum juga Reyhan meyelesaikan kata-katanya, sudah lebih dahulu Rania membungkam mulut Reyhan dengan sehelai tisu. Reyhan lantas terbatuk-batuk kecil karena aksi usil Rania ini.
Mama dan papa yang melihat mereka pun jadi semakin tidak menyangka kalau mereka akan se-akrab ini saat besar. Padahal dulu, jauh tahun sebelumya, Reyhan sangat membenci Rania karena merasa tersaingi oleh adil kecil yang disayangi sama besar dengannya. Melihat hal itu, papa memegang tangan mama.
"Udah, pesanan kita udah tiba."
"Kakak duluan," adu Rania.
"Udah. Kalian udah gede, masa masih bersikap kanak-kanak."
Reyhan dan Rania pun terdiam akan nasihat mama.
Sedang tak jauh dari meja keluarga kelurga kecil itu, sepasang wanita dan pria yang telah diatur pertemuannya oleh kedua orang tua mereka pun melihat ke arah keluarga kecil itu.
Hingga tiba-tiba wanita itu bertanya, "mereka keluarga Rania?"
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲
...By Siska C...