
Rania lantas memutar knop pintu dan masuk kedalam ruangan. Disana, matanya terpaku pada sosok yang telah lama ia coba lupakan.
"Kak Khanif!"
Merasa namanya disebut, lelaki yang fokus pada lembaran-lembaran didepannya, kini mendonggakkan kepalanya melihat sosok didekat pintu yang terpaku melihatnya. Khanif tidak balik menyapa Rania. Ia lebih banyak fokus pada dokumen yang dibawa Rania.
"Apa kamu akan terus berdiri disana tanpa memberikanku dokumen keuangan?"
"Kakak adalah ceo disini? Jadi, selama ini kakak sudah tahu kalau aku kerja disini!"
"Kamu adalah karyawan saya. Untuk apa bertanya hal yang tidak penting!"
Rania tertegun. Khanif yang dikenalnya dulu telah berbeda dengan Khanif yang sekarang berada didepannya.
Ia tahu, tahun-tahun yang sudah lewat itu, pastinya ada orang yang telah mengubah kepribadiannya menjadi lebih baik ataupun sebaliknya. Namun, Rania tidak bisa menebak Khanif ke arah mana. Karena Rania tahu kalau saat ini adalah jam kantor. Tentu saja Khanif harus bersikap profesional dan begitupun dirinya.
Rania pun berpikir untuk mengalah, toh ia memang salah karena mencampur adukkan hal pribadi dan pekerjaan di kantor dengan bersikap sok akrab dengan atasannya.
"Maaf, saya terlalu terkejut mengetahui kalau Anda adalah atasan saya."
"Tak apa. Kemarikan dokumen yang ada padamu."
Rania mengangguk. Ia pun berjalan mendekat ke arah Khanif. Lalu memberikannya.
"Ini dokumen dari divisi keuangan selama sebulan."
"Terima kasih. Kamu boleh pergi."
Lagi-lagi Rania tercengang. Setidaknya, sebagai seorang atasan, Khanif harusnya mulai menyapanya agar ia yang sebagai karyawan tidak melanggar salah satu pasal yang ada didalam kontrak kerjanya. Yakni, tidak boleh mencampurkan urusan pribadi dan pekerjaan. Ya, setidaknya Khanif yang duluan memulainya.
Khanif mendongkak melihat Rania yang tak kunjung melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.
"Ada yang ingin kamu sampaikan?"
Rania menggelengkan.
Bodoh! Bukannya itu adalah yang ia mau, namun kenapa kepala ini tidak bisa diajak kompromi! Sungguh terlalu, saat Khanif memberinya lampu hijau, ia malah melambatkan jalannya dan pada akhirnya, ia mendapati dirinya berada di lampu merah lagi.
"Jika tidak ada, kamu bisa keluar."
Rania mengerucutkan bibirnya seraya berbalik menuju pintu keluar. Ia sudah membuang kesempatan emas itu.
***
Memikirkan kejadian tahun lalu, membuat Rania menepiskan pemikiran sesaatnya. Ia pun membuka surat usang itu.
"Ternyata udah lama sekali berlalu sejak insiden penolakan itu."
Rania menghela nafas berat nan panjang. Ia tidak menyangka akan bekerja diperusaahaan lelaki yang pernah menolaknya. Sungguh ia tidak mengetahui kalau pekerjaan yang ingin ia lamar dulu adalah pekerjaan dikantor Khanif.
Ia hanya tahu soal itu karena saat itu, ia menganggap kalau inilah jalannya untuk sukses didalam dunia pekerjaan. Jadi tanpa mengecek profil pemilik perusahaan itu, Rania melamarnya tanpa berpikir dua kali.
__ADS_1
Disatu sisi ia seperti menyesal melamar pekerjaan disana karena ia masih sakit hati jika mengingat penolakan Khanif dibelakang sekolah. Namun disisi lain, ia juga merasa beruntung karena dapat bertemu dengannya lagi setelah sekian lama hanya mendengar informasi tentang dirinya dari Bella. Entahlah, apa yang diinginkan oleh hatinya. Ia sendiri juga tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini.
Ketukan dipintu menyadarkan Rania. Ia lalu menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka.
"Kakak."
"Kenapa belum tidur?"
"Belum mau aja kak. Kakak kenapa datang malam-malam kesini?"
"Kakak hanya ingin mengecek kamu saja. Ternyata dugaan kakak benar."
"Dugaan apa kak?" tanya Rania hati-hati.
"Kalau kamu belum tidur. Sekarang jawab kakak, kenapa adik belum tidur juga?"
"Oh itu, Rania baru aja mau tidur saat kakak masuk."
Reyhan menaikkan alisnya. Pandangannya lalu beralih pada laci yang terbuka dan sepucuk surat ditangan Rania, Reyhan tidak percaya akan alasan Rania barusan. Tapi ia tidak ingin mendesaknya untuk berbicara lagi.
Karena Reyhan tahu kalau adiknya tidak akan memberitahu maksud dirinya yang tengah memegang benda tipis berwarna biru usang itu. Sebagai kakak yang telah mengenal lama Rania, Reyhan tidak mungkin tidak mengenal watak adiknya yang penuh rahasia itu jika menyangkut hal pribadinya.
Ia pun mengalihkan pembicaraan mereka agar Rania tidak curiga padanya kalau ia sudah curiga pada adiknya karena ia ingin adiknya tetap merasa nyaman kalau bersamanya. Ia tidak ingin kalau Rania menjauh darinya karena ia merasa ingin tahu semua urusan adiknya.
"Baiklah kalau begitu kakak keluar dulu. Istirahatlah, tidur yang nyenyak."
"Iya, kak. Kakak juga."
Reyhan pun menutup pintu kamar Rania. Rania menghela nafas lega karena ia telah berhasil mengalihkan pembicaraan. Namun seketika ia tersadar saat ia menunduk. Ia melihat laci meja nya masih terbuka, ditambah lagi ia masih memegang sepucuk suratnya dulu.
Rania pun memasukkan suratnya kedalam laci kembali. Setelahnya, ia pun kembali ke tempat tidur dengan berjalan perlahan. Ia tidak sadar saat menjatuhkan dirinya ditempat tidur, kakinya masih terasa sakit.
Ia menjerit, "auu ... sakitnya." Rania lalu berguling-guling diatas tempat tidur.
Reyhan yang belum jauh dari kamar Rania pun berlari kembali ke kamar Rania. Ia langsung membuka pintu tanpa menunggu persetujuan Rania. Reyhan kaget melihat Rania yang tengah kesakitan sambil memegangi kakinya.
"Adik kenapa?"
"Hah, kakak. Kaki Rania sakit."
Reyhan lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seorang dokter yang telah dikenalnya untuk memeriksa Rania. Tidak lama setelahnya, ia mendapat jawaban. Ia pun memberitahu dokter disambungkan ponsel genggamnya kalau adiknya membutuhkan dirinya segera.
"Kak, Rania sudah tidak apa-apa."
Reyhan beralih pada Rania dan menunjukkan jarinya yang telah ia tempatkan didepan bibirnya agar Rania diam dan tidak mengganggunya.
"Tunggu kakak disini," ujar Reyhan setelah menutup sambungan teleponnya.
Rania mengangguk patuh. Keluarnya Reyhan dari kamarnya, Rania kembali mengelus-ngelus kakinya agar sakitnya kian berkurang. Namun, saat Reyhan muncul kembali, secepat kilat Rania menarik tangannya. Ia ingin kakaknya tidak khawatir padanya.
"Kakimu diperiksa diluarnya aja. Sini kakak, angkat."
__ADS_1
"Ra ... Rania bisa jalan sendiri kak."
"Udah. Kakak ngga mau dengar kata penolakan."
Rania pasrah. Reyhan pun membawa Rania keluar kamar dengan cara menggendongnya. Mereka pun telah sampai diruang tengah tanpa membuat seisi rumah bangun akibat suara penolakan Rania. Sambil menunggu dokter yang telah dihubunginya itu tiba, Reyhan pergi ke dapur mengambil air hangat untuk mengompres kaki Rania yang tidak tertutupi perban.
"Kakak mau apa?" tanya Rania saat ia melihat Reyhan membawa ember kecil ditangannya.
"Tentu saja untuk mengompres kaki kamu."
"Rania ngga mau."
"Pokoknya harus. Sini biar kakak kompresin."
Reyhan pun mengompres kaki Rania dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin salah gerakan saja malah membuat adiknya kesakitan.
"Kak, Rania dengar bel rumah berbunyi."
Reyhan pun beranjak untuk membukakan pintu untuk seorang dokter yang telah dihubunginya tadi.
"Silakan masuk."
"Siapa yang mau diperiksa?"
"Biasa adik bandel saya."
"Rania?"
Reyhan terkekeh. "Maaf membuatmu datang malam-malam begini."
"Tak apa. Itu memang sudah pekerjaanku."
"Baiklah, mari. Rania ada diruangan tengah."
Setibanya mereka di ruangan tengah, Rania tiba-tiba memanggil nama dokter tersebut, "Zaky!" Rania tidak menyangka kalau dokter yang dihubungi oleh kakaknya adalah Zaky. Tau begini, ia akan menghubungi Zaky setelahnya, agar Zaky tidak perlu datang ke sini.
"Lama tidak bertemu, Rania," sapa Zaky.
"Ah, ya. Kamu benar."
"Silakan diperiksa dulu dok," ujar Reyhan.
Zaky mengangguk. Ia pun memeriksa kaki Rania.
"Bagaimana, dok?" tanya Reyhan.
"Sudah agak baikan. Ia sudah lebih baik dari sebelumnya."
"Benar, Zak?" tanya Rania tidak percaya. Ia seketika mempunyai ide didalam pikirannya.
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲
...By Siska C...