Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
BAB 75. Berita Hangat Pagi Ini


__ADS_3

Diperjalanan, Zaky mengajak Rania dulu mampir ke suatu tempat sebelum mengantarnya pulang. Rania pun menyetujuinya karena papa pasti tahu kalau saat ini ia sedang bersama Zaky. Apalagi Rania menduga, kalau pastinya Zaky telah berjanji pada papanya untuk menjaga dirinya selama ia bersama Zaky.


Tentu saja Rania sudah menduga kalau papa akan membuat Zaky berjanji. Karena itulah kebiasaan papa saat ada seseorang yang mengajak dirinya keluar, meski yang mengajaknya keluar itu adalah teman wanitanya pun!


"Kita mau kemana,?"


"Emm, sebenarnya ngga ada. Aku hanya ingin ketemu sama kamu saja," ujar Zaky disertai kekehan kecilnya.


Rania melipat tangan ke dada. "Hem, pantas saja yang jemput Rania bukan papa." Rania lalu melihat jam di mobil. "Sekarang udah mau masuk magrib," ujar Rania bermaksud kalau waktu mereka ketemu sangatlah singkat.


"Tak apa, yang penting aku udah ketemu kamu."


"Dasar sukanya ngegombal."


"Ya begitulah kalau orang sudah dibutakan oleh ...."


Zaky tersadar kalau ia hampir kelepasan bicara. Ia pun cepat-cepat mengalihkan pembicaraan mereka agar Rania tidak menyadari apa yang sebenarnya ingin dikatakan tadi oleh dirinya. "Oh iya, mengapa kamu sampai pulang telat? Apa Khanif sengaja memberimu tugas tambahan?"


Rania cepat-cepat mengibaskan tangannya. Ia lalu membantah ucapan Zaky. "Tidak, pak Khanif adalah atasan yang pengertian. Sejak kakiku keseleo pun baru pertama kali ini aku masuk kerja. Pernah sih, sekali aku masuk, tapi belum beberapa jam kak Reyhan sudah datang menjemputmu dan pak Khanif malah kembali memberiku izin."


"Dia atasan yang baik, ya."


"Ya, dia adalah atasan yang baik," papar Rania.


Setelah hampir sepuluh menit berkendara, Zaky pun menghentikan mobilnya tepat dipintu rumah Rania.


"Mampir dulu, Zak," ujar Rania basa-basi setelah ia turun dari mobil Zaky.


"Lain kali aja. Baiklah, aku pergi dulu. Kalau ada waktu luang, aku akan mengajakmu pergi."


"Baiklah, aku tunggu." Setelahnya, Rania pun berlalu dari hadapan Zaky. Namun baru saja beberapa langkah, Zaky kembali memanggilnya.


"Rania."


"Kenapa?"


"Tidak, aku hanya memanggilmu saja."


"Ada-ada saja," ujar Rania sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


"Gih, masuk ke dalam rumah."


Rania mengangguk, ia pun melambaikan tangannya pada Zaky baru setelah itu, ia berlalu masuk ke dalam rumah.


Sesampainya didalam, papa yang sedang ada diruangan tengah pun menghentikan langkah kaki Rania dengan bertanya, "nak Zaky udah pulang?"


Rania menoleh pada papa dan menjawabnya, "iya, pa. Baru aja."


Papa mengangguk. Ia pun tidak menghentikan langkah kaki Rania lagi.


***


Keesokan harinya, Rania kambali di antar oleh papa dikantor dengan membawa sebuah bekal dari rumah. Ya, memang inilah kebiasaan Rania sejak bekerja dikantor Khanif. Ia selalu membawa makan siang dari rumah yang ia buat sendiri.


Ia pun masuk kedalam kantor saat sebelumya ia tadi mencium tangan sang papa. Saat Rania hendak melangkah masuk kedalam, ia tidak sengaja berpapasan dengan Khanif yang juga baru tiba.


Mereka pun berjalan beriringan menuju lift masing-masing. Namun sepanjang jalan, para karyawan lain yang tidak sengaja melihat mereka, berdecak kagum melihat mereka.


Bagaimana tidak, mereka seperti pasangan yang telah ditakdirkan untuk bersama. Namun nyatanya, mereka tidak lebih dari atasan dan bawahan.


Mengetahui fakta itu, membuat mereka mendesah kecewa. Mereka sepertinya menginginkan adanya sebuah hubungan khusus diantara atasan dan bawahan itu. Tapi sepertinya hubungan itu mulai tidak mungkin mengingat ada sebuah berita baru yang baru mereka ketahui, yakni kedekatan Khanif dan Davina yang baru-baru muncul ke permukaan.


Entah siapa yang lebih dahulu menyebar berita itu. Tapi pastinya, bukan lagi kedua gadis yang pernah ditangkap basah oleh Davina tempo hari. Entahlah, siapa yang menyebar berita itu pagi ini. Hingga membuat sebahagian karyawan yang gemar berkumpul, membicarakan berita hangat ini.


"Udah, aku ngga mau bahas mereka lagi. Biarlah ungkapan untuk mereka aku simpan aja dalam hati. Bisa-bisa aku nanti dipanggil lagi sama mbak Davina. Ini aja udah untung karena mbak Davina masih mau memaafkan aku. Kalau ngga? Mau makan apa aku yang hidup di perantauan," ungkapnya panjang lebar.


Si gadis berkacamata menggelengkan kepalanya pelan. "Kamu benar, maaf sudah memancing pembicaraan sensitif ini lagi."


"Sudahlah, ayo kembali ke ke ruangan lagi," ajaknya.


"Eh! Tapi, apa kamu udah lihat grup?"


Gadis berkacamata menggelengkan kepalanya pelan.


Temannya menghela napas kecewa, tapi tetap juga memberitahunya. "Berita ini masih sangat hangat ...." Ia lalu menghentikan perkataannya dengan menutup bibirnya. "Sepertinya aku tidak bisa melanjutkannya lagi. Kamu tahukan, kalau aku udah janji. Ini aja aku udah hampir keceplosan. Meski bukan aku yang menyebarkan berita ini digrup, tapi akan sangat salah kalau aku memberitahukan kamu yang belum tahu."


Gadis berkacamata menepuk pundak temannya. "Aku salut sama kamu yang tetap memegang janji. Baiklah, ayo pergi," ajaknya.


Kedua gadis itu pun berlalu dari lobby. Sedangkan Khanif dan Rania berlalu tanpa mengatakan sepatah katapun.

__ADS_1


Baru saja kemarin mereka tampak akrab, pagi ini mereka tampak sebagai orang asing yang terjebak dalam kantor yang sama. Ah, lebih tepatnya Rania-lah yang terjebak dalam kantor Khanif.


Ya, mereka tampak orang asing. Disatu sisi Rania begitu takut untuk lebih dulu menyapa Khanif karena melihat wajah Khanif yang terkesan dingin, tidak seperti biasanya.


Meski biasa Khanif terkesan diam, tapi Khanif biasa menyapa atau pun senyum jika ada karyawan yang ia jumpai. Namun, pagi ini Khanif seperti tidak menganggap orang disekitarnya, bahkan termaksud Rania. Untuk itulah, Rania takut menegurnya. Ia bahkan seperti tidak mengenal lelaki yang berjalan bersisian dengannya tadi. Karena Rania mengira, Khanif bukalah dirinya pagi ini.


Ternyata, dugaan Rania benar. Khanif memang bukalah Khanif seperti hari-hari lalu. Hari ini ia akan menjadi Khanif yang berbeda. Bagaimana tidak.  Pagi ini, Khanif dibuat geram karena telah membaca sebuah berita yang tidak baik dan benar untuk dirinya dan juga Davina. Hingga membuat paginya hari ini begitu buruk.


Bukannya ia tidak ingin balik menyapa dan balas tersenyum pada karyawan yang berpapasan dengannya. Hanya saja, ia harus cepat-cepat sampai keruangannya untuk memanggil manajer bagian informasi agar segera menghadap padanya.


Sungguh, ia ingin segera mengetahui pelaku yang telah menyebarkan berita buruk itu. Siapa pun itu, Khanif tidak akan memberinya kesempatan kerja diperusahnnya lagi! Ia harus bertindak tegas mulai sekarang terkait dirinya dan orang lain agar dikemudian hari, tidak ada lagi orang yang mampu melakukan hal yang sama.


Khanif selama ini telah menutup mata dari pembicaraan yang melibatkan dirinya, karena ia tahu semua berita aneh itu tidaklah benar. Ia pun juga pernah berkata 'kalau kita tidak bisa menutup mulut orang lain karena kita tidak mempunyai hak disana.' Ia juga  melanjutkan dengan berkata, 'kalau kita hanya perlu menutup mata dan telinga dari gosip-gosip murahan itu.'


Namun sekarang, keadaannya berbeda. Ia harus menangkap orang yang telah menyebar berita hangat pagi ini. Agar tidak ada lagi orang yang lebih tersakiti didalamnya.


Khanif pun telah sampai didalam ruangannya. Baru saja ia duduk, ia telah memanggil manajer divisi informasi untuk datang keruangannya segera. Sedangkan Rania, baru saja ia duduk, teman disamping mejanya yang bernama Dian, sudah berdiri dengan antusias lalu mendekat ke arahnya.


"Ra!" panggilnya singkat.


Rania menoleh dan menjawab, "iya ada apa?"


"Kamu udah tahu ngga, berita yang tersebar pagi ini di grup?"


Rania menggelengkan kepalanya tidak tahu, karena pagi ini ia sibuk dengan membuat makan siangnya hingga ia tidak sempat membuka grup kantor.


"Aduh, berarti kamu udah ketinggalan berita kalau gitu."


"Emangnya tentang berita apa?" tanya Rania tanpa minat karena ia memang tidak suka membuka grup kalau tidak ada hal yang penting untuk diberitahukan.


"Kamu tahu, ternyata pak Khanif dan mbak Davina punya hubungan khusus loh!"


"Jangan ngaco kamu!" Rania mengibaskan tangannya didepan wajahnya.


"Ih, bener loh! Ini lihat!" ujarnya sambil memperlihatkan sebuah foto. Seketika Rania membekap mulutnya tidak percaya.


...To be continued...


Apa yang dilihat oleh Rania ya?

__ADS_1


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...


__ADS_2