Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 161. Bagaimana Kalau Dia Meninggalkan Aku?


__ADS_3

Rania membekap mulutnya tanpa sadar saat ia tidak sengaja melihat sosok lelaki yang tertidur di ranjang rumah sakit dengan pintu yang sedikit terbuka.


Sungguh, ia tidak menyangka akan melihat hal ini saat ia mengikuti langkah kaki mama Adelin dan Davina. Ia berharap, apa yang dilihatnya saat ini tidaklah benar. Karena ia percaya kalau saat ini Khanif sedang berada diluar kota seperti perkataan mamanya dan Dian beberapa saat lalu.


Bukan Khanif yang tengah tertidur di ranjang rumah sakit dengan banyak alat yang terpasang di tubuhnya.


Tidak ingin menunggu lebih lama lagi, Rania bergegas masuk ke dalam ruangan inap Khanif.


Mama Adelin dan Davina yang sadar kalau ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan ini, lantas menolehkan wajah mereka dan secara bersamaan dan tanpa disangka, mama dan Davina juga sama-sama menyebut nama Rania.


"Bukannya pak Khanif sedang berada diluar kota?" tanya Rania pelan.


Mama sontak saja berkaca-kaca. Alasan yang ia beritaukan pada Dian dan mama Dahlia jika Rania bertanya pada mereka kini pada akhirnya tidak berguna lagi.


"Ra," panggil Davina pelan. "Kami tidak bermaksud untuk memboho ..."


"Kenapa kalian tidak memberitaukan aku keadaan sebenarnya?" potong Rania cepat dengan suara yang mengebu-ngebu.


"Ra, kami ..."


Lagi-lagi ucapan Davina terpotong dengan ucapan Rania selanjutnya. "Kalian tau, dengan berbohong, membuat aku tambah merasa bersalah sama pak Khanif. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya namun aku masih hidup dalam ketenangan? Apakah aku bisa bahagia?" ujar Rania mulai histeris dengan air mata yang mulai keluar melewati pipinya.


Mama Adelin yang merasa kondisi Rania mulai tidak stabil, secepat mungkin menghampirinya.


"Nak, tenang dulu. Kita duduk di sofa, ya," ujar mama Adelin hendak menenangkan Rania dengan mengajaknya duduk di sofa terlebih dahulu.


"Aku tidak mau!" katanya cepat tanpa mempertimbangkan siapa yang tengah diajaknya berbicara saat ini.


"Rania, kak Khanif saat ini sudah tidak apa-apa. Dia telah melewati masa kritisnya," ujar Davina.


"Kalau sudah tidak apa-apa, kenapa masih banyak alat yang terpasang di tubuhnya?" tanya Rania membuat mama maupun Davina jadi terdiam.


"Kalian tidak bisa menjawab karena pak Khanif masih dalam keadaan tidak baik," serunya.


"Setidaknya kamu harus memperhatikan dirimu sendiri, Ra. Kak Khanif pasti tidak ingin melihatmu sampai seperti ini," ujar Davina lagi.


Rania terisak pelan. Ia tau, perkataan Davina benar. Namun apakah ia bisa hidup tenang jika terjadi sesuatu pada Khanif? Bisakah ia hidup seperti dulu lagi?


Sudah, Rania tidak tahan lagi berada disini dengan melihat kondisi Khanif yang terlihat tidak baik. Ia pun berlalu pergi dari sana dengan tanpa mengatakan apa-apa lagi pada mama Adelin dan Davina.


"Rania," panggil Davina hendak mengejarnya sebelum mama menghentikan langkah kakinya.


"Biarkan nak Rania sendiri, sayang. Mama yakin kalau dia akan baik-baik saja dan dia pastinya membutuhkan waktu untuk menyendiri," ujar mama Adelin seraya memegang lengan Davina.

__ADS_1


Mau tak mau, Davina pun mengikuti ucapan sang mama. Biar bagaimana pun juga, mama pasti tau apa yang terbaik untuk Rania saat ini.


Rania tidak lantas berjalan ke kamar inapnya. Ia berjalan tak tentu arah, hingga dirinya tidak sadar kalau ia telah sampai di taman kecil belakang rumah sakit.


Rania lantas mengedarkan pandangannya mencari tempat untuk ia duduki. Setelah mendapatkannya, ia pun berjalan ke arah kursi yang berada di tengah taman.


Baru saja ia mendudukkan dirinya, terlihat seorang lelaki dengan pakaian dokter tengah mendekatinya. Rania lantas mendonggakkan wajahnya melihat sosok lelaki yang tidak lain adalah Zaky.


"Aku kira siapa, ternyata benar kamu, Rania," ujar Zaky seraya mendudukkan dirinya tepat di depan kursi Rania.


"Kenapa kamu berada disini sendirian?" tanya Zaky kemudian yang tidak mendapat tanggapan apapun dari Rania.


Zaky tau, Rania ingin sendiri. Namun ia tidak akan membiarkannya. Meski Rania tetap diam, Zaky akan terus berada disampingnya sebelum Rania mau kembali ke ruang inapnya lagi.


"Kamu mencemaskan Khanif?" tanya Zaky membuat Rania menoleh kepadanya.


"Dia sudah tidak apa-apa. Saat ini dia masih dalam pemulihan."


"Tapi dia masih belum sadarkan diri," ujar Rania pelan.


"Hal itu biasa terjadi. Jadi kamu tenang saja, ya," ujar Zaky. "Baiklah. Kamu sepertinya sudah lama berkeliaran disini. Maka itu, aku akan mengantarmu kembali pulang. Ayo," ajak Zaky.


Dengan lemah, Rania menganggukkan kepalanya pelan tanda mengiyakan.


Zaky pun mengantar Rania kembali ke ruang inapnya.


Malam harinya, Rania sudah merasa agak baikan. Ia pun lagi-lagi kembali beringsut turun dari tempat tidurnya untuk pergi mengunjungi Khanif yang masih belum sadarkan diri sampai saat ini.


Saat ia hendak membuka pintu ruangannya, sudah lebih dahulu pintu bercat coklat itu terbuka - menampilkan sosok lelaki tegap nan tampan didepannya.


"Adik mau kemana?" tanya Reyhan.


"Rania mau pergi melihat pak Khanif, kak."


"Kakak tadi habis dari sana. Keadaan Khanif sudah agak baikan kata mamanya."


"Kalau begitu Rania mau pergi melihatnya."


"Adik ... adik itu masih sakit. Kalau kamu terus-terusan pergi melihat Khanif tanpa memikirkan kesehatanmu sendiri, apa yang harus kakak katakan pada papa nanti. Khanif juga pastinya tidak ingin melihat adik seperti ini," ujar Reyhan pada Rania yang sudah beberapa kali melihat Khanif dalam satu hari ini.


"Ini adalah yang terakhir, Rania janji."


"Tidak. Kalau adik ingin pergi melihatnya, adik bisa pergi melihatnya besok saja. Lagi pula ini sudah malam. Tidak baik kalau adik pergi ke sana lagi."

__ADS_1


Lalu dengan tanpa minat pun Rania menjawab, "baiklah." Ia pun kembali naik ke atas tempat tidurnya.


Berbeda dengan Rania yang sudah sadarkan diri sejak pagi, Khanif baru sadarkan diri pada malam harinya.


Semua terlihat dari jari-jari tangannya yang perlahan-lahan mulai bergerak dan mata yang perlahan-lahan mulai terbuka.


Sama seperti Rania, hal yang pertama Khanif rasakan adalah bau obat yang begitu menyengat di hidung dan mata yang perlahan-lahan terbuka merasa silau akan cahaya lampu yang masuk ke dalam retina matanya.


Mama yang pertama kali mendapati Khanif sadarkan diri pun jadi tersenyum haru. Mama Adelin bahkan sampai menitihkan air mata kebahagiaannya melihat anak lelaki satu-satunya telah sadarkan diri.


"Sayang. Alhamdulillah kamu telah sadar," ujar mama begitu haru seraya mengelus kepala Khanif penuh kelembutan.


Mama lantas menekan tombol merah tepat diatas tempat tidur Khanif untuk mengabarkan pada dokter yang merawat anaknya, kalau anaknya telah sadarkan diri.


Khanif yang merasa sangat kehausan pun menyebut kata pertamanya dengan suara yang parau.


"Air," ujarnya.


Mama lantas mengambil air diatas nakas samping tempat tidurnya. Lalu mulai menyodorkan air minum itu pada Khanif.


"Ini, sayang. Kamu pelan-pelan minumnya, hem."


Setelah membantu Khanif minum, mama Adelin pun menaruh kembali gelas kaca bekas minum Khanif. Lalu tidak lama setelah itu, terlihat Zaky  yang masih menggunakan berjas putihnya memasuki ruangannya.


"Akhirnya kamu sadarkan diri juga, Khanif, " kata Zaky sambil tersenyum.


"Iya, nak Zaky."


"Kalau begitu aku periksa dulu ya."


Mama Adelin mengangguk. Ia lalu mundur kebelakang untuk memberikan Zaky keleluasaan dalam memeriksa keadaan anaknya, Khanif.


"Bagaimana nak Zaky?" tanya mama Adelin saat Zaky telah memeriksa keadaan Khanif.


"Khanif mulai baikan, tan. Tante tidak perlu khawatir lagi."


"Aku mau pulang," ujar Khanif mengejutkan Zaky, apalagi mama.


...To be continued...


Minal aidin wal faizin. Taqabbalallaahu minnaa wa minkum (Semoga kita tergolong orang-orang yang kembali dan berhasil. Semoga Allah menerima (amal ibadah Ramadhan) kami dan kamu. Aamiin.


Mohon maaf jika selama ini saya punya salah sama kalian. Baik tulisan yang saya sengaja atau tidak. Mungkin tanpa saya sadari, ada tulisan saya yang menyinggung hati kalian. Untuk itu, saya dengan hati yang tulus, meminta maaf pada kalian dan semoga kita semua mendapat berkah di bulan suci ini. Aamiin 🤲

__ADS_1


Jangan lupa, like, vote dan komentarnya, ya. 🤗


...By Siska C...


__ADS_2