
Hai, selamat siang. aku datang lagi nih, membawa cerita kesukaan kalian.
Selamat membaca ya! ๐ค
...***...
Seperti perkataan Khanif kemarin, Saat ini Rania telah menyiapkan segala keperluannya. Ia hanya perlu menunggu Khanif datang menjemputnya. Mama dan papa pun senantiasa menemani Rania. Ia ingin melihat atasan Rania yang akan membawa putri tercinta mereka untuk bekerja diluar kota.
Lama menunggu, akhirnya mobil Khanif terlihat memasuki halaman rumah Rania. Semakin lama mobil itu semakin dekat, hingga berhenti tepat di pintu masuk rumah. Terlihatlah, sesosok lelaki yang keluar dari pintu kanan.
Rania yang mengetahuinya, lantas berkata pada kedua orang tuanya, "pa, ma. Dia atasan Rania, pak Khanif."
Papa langsung saja menghampiri Khanif yang baru saja sampai didepan pintunya. Khanif tersenyum ramah, sedangkan papa hanya menampilkan wajah datarnya. Papa lalu menyuruh Khanif masuk ke dalam rumah.
Khaniftau, tidak seenak jidatnya ingin membawa Rania pergi karena urusan bisnis. Untuk itulah, Khanif tetap masuk kedalam rumah Rania, meski jadwal penerbangannya tidak lama lagi. Ia melakukannya sebagai tanda hormatnya pada orang tua Rania.
Baru saja Khanif duduk di sofa, papa sudah melayangkan pertanyaan padanya. "Berapa lama kalian akan pergi?" tanya papa berulang. Padahal jauh sebelumnya, papa sudah mengetahuinya.
"Kami akan pergi selama empat hari pak."
"Jaga anak saya baik-baik, jika saat pulang nanti, saya mendapati ada satu luka saja di tubuhnya, saya tidak akan segan-segan berurusan denganmu," jelas papa.
Tentu saja, sebagai anak perempuan satu-satunya dikeluarga Papa Rudy, papa tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan pada putrinya. Untuk itulah, papa bersikap tegas, agar lelaki dihadapannya ini mengerti kalau papa sangat tidak ingin membuat anaknya terluka.
Rania yang ada didekat papa, langsung saja merasa tidak enak. Memangnya mereka mau pergi kemana? Namun setelah mendengar ucapan Khanif yang berkata, "Saya janji."
Rania begitu lega, karena ia mengira Khanif akan berkata yang sebaliknya ataupun menganggap papanya terlalu berlebihan dalam menjaganya.
"Hanya itu saja yang saya ingin dengar langsung dari kamu. Baiklah, saya tidak akan menahan kalian lagi. Kalian boleh berangkat sekarang."
Khanif bangkit dari duduknya, begitu pula semua orang yang ada disana. Lalu Rania pun mencium tangan kedua orang tuanya sebagai tanda pamitnya.
"Rania pergi dulu, ma,"
"Hem, hati-hati selama disana. Kalau ada apa-apa, hubungi Rey segera," pesan Mama Dahlia.
"Iya ma, pasti."
Rania pun beralih pada papa dan mengucapkan hal yang sama juga.
"Hati-hati disana, setelah sampai langsung hubungi papa."
"Iya, pa. Rania pamit. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," jawab kedua orang tua Rania.
Rania pun menarik kopernya tapi tidak langsung lama karena Khanif segera mengambilnya untuk dimasukkannya kedalam bagasi mobil. Setelahnya, bersama mereka masuk kedalam mobil. Saat mobil mulai melaju, Rania melambaikan tangannya sampai papa dan mama tidak terlihat lagi.
Baru saja mobil keluar dari kawasan perumahan yang Rania tinggali, Rania tiba-tiba berkata, "Maafkan perkataan papa saya tadi. Papa saya memang sangat menyayangi saya."ย
"Tidak perlu minta maaf. Wajar kalau papa kamu mengatakan hal tersebut pada saya. Apalagi saat tau, kamu hendak jauh dari pengawasan mereka. Setiap anak perempuan disatu keluarga pun akan selalu diperhatikan lebih oleh papa mereka. Jadi tak apa, kamu tidak perlu merasa tidak enak pada saya karena saya memakluminya."
Setelah percakapan singkat itu, keheninganlah yang terjadi diantara mereka dipanjang jalan menuju bandara. Entahlah, mereka berdua larut dalam pemikiran mereka masing-masing.
Sesampainya di halaman bandara, mereka berdua sama-sama keluar dari mobil. Khanif lalu menuju bagasi mobil, mengeluarkan kopernya dan koper Rania.
"Terima kasih pak," ujar Rania.
"Sama-sama. Tunggu sebentar disini, saya mau bicara sama sopir saya dulu."
Rania mengangguk sebagai jawaban. Khanif lalu menghampiri pak sopir yang masih setia duduk di kursi kemudinya karena suruhan Khanif.
"Pak, terima kasih sudah mengantar kami. Bapak bisa pulang sekarang."
"Sama-sama den. Aden hati-hati disana, soal keamanan rumah serahkan saja sama bapak dan pak satpam."
"Iya pak."
Tidak lama setelah menunggu, informasi penerbangan mereka di kota M pun terdengar. Khanif berdiri, begitu pula Rania yang mulai mengikuti langkah kaki Khanif.
Rania bosan, sungguh perjalanannya kali ini tidak terlalu menyenangkan. Namun, perjalanan yang tidak menyenangkan ini bukan disebabkan oleh Khanif, melainkan oleh Rania sendiri. Ia merasa kesepian karena tidak ada orang yang leluasa ia ajak bicara. Seperti saat ia keluar kota saat bersama keluarganya.
Dalam hatinya, Rania ingin sekali mengajak Khanif berbicara untuk menghilangkan kesuntukannya, tapi melihat wajah Khanif yang begitu tidak bersahabat, ia tidak berani mengajaknya duluan berbicara. Bukan karena apanya, ia hanya tidak ingin merasa kecewa karena tidak disambut dengan hangat atau lebih tepatnya, tidak membalas ajakan percakapan Rania.
Rania menghela nafas berat. Ia benar-benar bosan saat ini. Ingin memejamkan matanya, matanya tidak ingin diajak bersahabat. Ingin mengajak lelaki disampingnya berbicara, lelaki disampingnya telah menutup matanya beberapa waktu yang lalu. Sungguh membosankan.
Saat Rania hendak mencoba memejamkan matanya, tiba-tiba dari arah samping Khanif, ada seorang lelaki yang mengajak dirinya berbicara. Meski Rania dan lelaki itu berada di ujung yang berada di deretan tempat duduk yang sama dan meskipun tahu posisi Khanif yang berada di tengah, merugikan dirinya yang ingin dekat dengan Rania, tak urung juga menyurutkan semangat lelaki itu mencoba mengajaknya berbicara.
"Halo perkenalkan, aku Alex," sapa lelaki itu memperkenalkan diri.
"Halo, saya Rania," ujar Rania.
"Aku melihat kamu begitu risih. Kalau boleh tau, apa yang membuatmu risih. Jika bisa aku bantu, maka aku bantu."
"Oh itu! Saya hanya bosan karena tidak mempunyai teman bicara saat mata tidak mau terlelap," ujar Rania sebenarnya untuk membuat Khanif peka terhadap dirinya. Namun melihat Khanif tidak memberikan respon balik, Rania malah bertambah sengaja membuat Khanif peka.
"Aku bisa menemanimu mengobrol."
__ADS_1
"Sepertinya Anda orang yang cepat akrab dengan orang lain. Termaksud saya."
"Tentu saja. Tapi sebelumnya, kamu harus merubah panggilan kamu padaku menjadi, aku - kamu. Bukan saya-Anda."
"Ah, ya. Tentu saja itu usulan yang bagus. Tapi sayang, Saya terbiasa memakai panggilan Saya - Anda."
Setelah mengatakannya, seketika Rania tersadar. Ia baru teringat kalau selama ini, dirinya dan Khanif memanggil satu sama lain dengan panggilan 'saya' dan 'kamu' yang terbilang canggung untuk sebuah panggilan singkat. Jadi selama ini mereka tidak pernah sangat akrab dari dulu dan sekarang.
Apakah Rania pernah mendengar mereka memanggil dengan panggilan aku dan kamu yang terbilang lebih terdengar akrab? Tentu saja tidak jawabannya. Karena sudah sejak dulu, Khanif sudah membuat benteng kuat yang tak bisa ditembus diantara mereka.
Ya, sejak mereka masih dekat sewaktu sma, baik Rania maupun Khanif, masih mempertahankan panggilan saya dan kamu yang terbilang canggung untuk sebuah panggilan singkat pada seseorang yang terbilang didekat. Awalnya Rania ingin mengubah panggilan mereka menjadi aku - kamu agar terdengar akrab. Namun, melihat Khanif yang selalu menjaga diri jika mereka terlihat semakin dekat, membuat Rania tidak berani mengubahnya. Rania sedih, ia menoleh dan melihat awan yang tertata rapi di langit yang begitu biru.
"Rania!" panggil Alex.
Rania tersentak. Ia langsung tersadar dari lamunan sesaatnya. Ia merasa tidak enak pada Alex yang mungkin sudah menunggu percakapan berikut darinya.
"Maaf, saya sepertinya mulai ngantuk," kilah Rania.
"Jangan ngantuk dulu. Temani aku mengobrol sebentar."
"Saya tidak bisa."
"Kamu pasti bisa," paksanya.
Awalnya Rania menyambut baik ajakan percakapan itu. Namun, lama kelamaan percakapan itu malah membuat Rania menyesal. Ia seperti tidak ingin mengakui kalau dirinya sudah mengajak lelaki disamping Khanif itu berbicara.
Apalagi jika percakapan ini mulai terkesan memaksa dari pihak yang lain. Sungguh Rania lebih tidak menyukainya. Jika boleh memilih kembali, Rania akan memilih dilanda kebosanan sampai mereka tiba di kota M daripada mengulang kembali percakapan mereka.
"Rania," panggil Alex. Saat tangan Alex hendak menyeberang untuk menyentuh tangan Rania, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menahan tangannya.
...To be continued...
Semoga yang like/vote/komentar diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah, aamiin ๐คฒ
Yang mau berteman di media sosial silakan cari aja nama ๐๐๐
Fb : Siska choice
Ig : Siska_choice
Yang mau di follow balik, kirim pesan aja ya.
...By Siska C...
__ADS_1