Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 150. Masa lalu kita


__ADS_3

Seperti perkataan Khanif kemarin, ia kembali mendatangi Rania diruangannya. Namun sesampainya ia disana, ia tidak mendapati Rania berada disana. Lalu sebagai gantinya, Dian malah mengatakan kalau Rania sudah menunggu dirinya diparkiran mobil.


"Dia sudah dari tadi berada disana?" tanya Khanif.


"Baru saja, pak. Saat jam telah menunjukkan waktu istirahat, Rania bergegas pergi dari sini setelah menitipkan pesan untuk bapak."


Khanif mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Terima kasih atas informasinya. Baiklah, kalau begitu kamu istirahat juga," ujar Khanif.


"Iya, pak."


Setelah percakapan singkat itu, Khanif bergegas menuju parkiran mobil - tempat dimana Rania telah menunggunya kata Dian.


Selama dalam perjalanan, Khanif tidak habis pikir dengan tindakan Rania ini. Ia tidak menduga Rania akan merahasiakan ajakannya ini pada teman-teman kantornya sampai dirinya rela menunggu Khanif diparkiran mobil.


Namun semua itu telah berlalu karena Rania mau juga diajaknya makan siang. Khanif bahkan sampai tersenyum-senyum sendiri ia telah berada di lobi kantor.


Para karyawan yang berpapasan dengannya pun lagi-lagi mengernyit heran dengan tingkah laku dari atasan mereka.


Sesaat ia telah sampai diparkiran, ia lagi-lagi tersenyum melihat Rania sudah berada didekat mobilnya - menunggu kedatangannya.


"Maaf membuatmu lama menunggu," ujar Khanif setelah ia sampai didekat Rania.


"Tak apa, pak. Saya juga baru sampai," ujar Rania. "Kita mau makan dimana?" tanyanya kemudian.


"Aku ingin membawamu ke tempat yang bisa membuat kita dapat bernostalgia."


Saat Rania hendak menjawabnya, Khanif sudah lebih dahulu membukakan pintu untuknya seraya berkata, "silakan masuk."


Rania mengangguk. Ia pun masuk ke dalam mobil Khanif. Setelah mereka memasang sealbelt masing-masing, Khanif pun melajukan mobilnya menuju ke tempat tujuannya.


Selama dalam perjalanan itu, sesekali Khanif melirik Rania. Begitu pula dengan Rania. Ia juga sesekali melirik Khanif. Namun seberapa kali pun itu, mereka tidak pernah bertemu mata. Karena jika Khanif sudah melirik, lalu fokus menyetir lagi, Rania baru akan meliriknya balik.


Seperti itulah keadaan mereka hingga Rania akhirnya berinisiatif untuk berbicara.


"Bukannya ini jalan menuju sma kita dulu?" tanyanya memastikan.


Ia begitu yakin akan perkataannya barusan karena ia tidak mungkin lupa dengan jalan yang mengantarkannya pada sekolah yang menyimpan banyak kenangan untuknya itu.


"Hem, kamu benar. Aku ingin mengajakmu untuk makan di kantin sekolah. Sudah lama sekali kita tidak pernah datang ke sana."


"Kita?"


"Bisa dibilang begitu," ujar Khanif begitu ragu. "Mungkin kamu tidak menyadari keberadaanku di sana."


"Memangnya bapak sering makan disana?"


"Hem. Sebenarnya aku sering bawa bekal buatan mama kesekolah. Namun setelah tanpa sengaja aku melihat ada seorang gadis yang sering makan disana, aku pun jadi ikut-ikutan makan disana dan sampai menjadi tempat makan langganan."


"Siapa gadis itu?" tanya Rania rada-rada cemburu. "Apa-apaan pak Khanif ini, lagi bersama saya tapi membicarakan gadis lain," lanjutnya dalam hati dengan bibir yang manyun.


"Kenapa kamu cemburu?" ujar Khanif seraya menoleh sekilas pada Rania sambil tersenyum.


"Kenapa juga saya harus cemburu?" balasnya membuat Khanif terkekeh pelan.

__ADS_1


"Kamu cemburu pada dirimu sendiri?" tanya Khanif membuat Rania seketika melihatnya tak percaya.


"Gadis itu adalah kamu, Rania," ujar Khanif membuat Rania tak dapat berkata apa-apa.


Khanif lalu mulai menceritakan masa lalu saat ia pertama kali melihat Rania berada dikantin yang mulai menjadi kantin langganannya saat tahun terakhir disekolahnya.


Kala itu, ia lupa membawa air mineral yang biasa mama siapkan bersama bekalnya. Jadinya, ia memutuskan  pergi ke kantin untuk membeli air minumnya.


Sesaat ia baru masuk kedalam kantin, netra matanya tidak sengaja menangkap sosok gadis yang telah di ospeknya beberapa hari lalu. Ia melihat sosok wanita yang bernama Rania itu duduk sendirian dengan meja yang begitu besar dan kursi di kanan, kiri dan depannya terlihat tak berpenghuni.


Khanif tau penyebab semua itu. Ya, karena penampilan Rania kala itu sangat berbeda jauh dengan penampilannya saat ini.


Namun ia bukanlah lelaki yang memandang fisik seseorang. Ia adalah lelaki yang memandang seseorang dari lubuk hatinya.


Mungkin Rania telah lupa kejadian dimana ia menolong seorang nenek tua yang kehilangan uang untuk kembali ke rumahnya saat sepulang sekolah, namun Khanif yang kebetulan melihat hal itu, masih mengingat kejadian itu sampai detik ini.


Dan ... dari kejadian itulah Khanif mulai memperhatikan sosok Rania bertubuh gemuk nan wajah yang tak mulus.


"Dia adalah kamu, Rania," ulang Khanif lagi yang membuat Rania mulai tersadar.


"Bapak jangan bercanda," kata Rania lagi-lagi tak percaya.


"Tak apa saat ini kamu ngga percaya, mungkin setelah berada di kantin sekolah kamu akan percaya," ujar Khanif.


Tidak lama setelah berkendara, akhirnya mereka tiba juga di sekolah yang mempertemukan mereka.


Sebelum keluar dari mobil, Khanif mengambil topi untuknya dan sebuah syal untuk Rania dikursi belakangnya. Baru setelah itu, ia memberikan Rania syal itu.


"Untuk apa?" tanya Rania tidak mengerti.


Rania pun memakai syal pemberian Khanif, sedang Khanif memakai topi putihnya juga.


"Kenapa kamu diam?" tanya Khanif saat ia tidak sengaja melihat Rania menatapnya dengan terdiam. "Kamu sadar kalau kamu sudah terpesona olehku?" canda Khanif membuat Rania tersadar.


"Siapa yang terpesona. Ada-ada saja." Rania pun berlalu keluar lebih dahulu dari mobil - meninggalkan Khanif yang senyum-senyum sendiri.


Sedetik kemudian, Khanif pun ikutan keluar dari mobilnya.


"Ayo," ajaknya kemudian.


Mereka pun berjalan bersisian menuju kantin sekolah mereka. Sesampainya mereka disana, seakan ada sebuah angin yang menerpa tubuh mereka yang mengingatkan masa-masa sma mereka. Mereka sontak saja tersenyum.


"Tidak terasa ya, kita dapat pergi kesini lagi," ujar Rania tanpa sadar.


"Hem. Aku juga tidak menyangka," katanya sambil tersenyum. "Aku ingat betul tempat duduk kesukaanmu ada disana." Tujuk Khanif pada meja yang berada disudut kantin.


Rania terkekeh. "Sepertinya waktu dulu bapak adalah mata-mata," ujar Rania membuat Khanif ikut terkekeh pelan.


"Kalau begitu, kita kesana saja," ajak Khanif kemudian.


Mereka pun melangkah kaki mereka menuju tempat duduk favorit Rania masa sma.


Sesampainya disana, Khanif menyuruh Rania duduk terlebih dahulu karena ia ingin pergi memesan makanan untuk mereka berdua.


"Emang bapak tau makanan kesukaan saya di kantin ini?" tanya Rania.

__ADS_1


"Kamu lihat saja nanti setelah aku memesankanmu."


Setelahnya, ia pun pergi memesankan makan siang untuknya dan Rania di ibu kantin.


"Nak Khanif," seru ibu kantin itu.


Jelas ibu kantin itu mengenali Khanif, meski Khanif memakai topi sekali pun.


"Iya, bu. Saya Khanif."


"Kenapa baru kesini lagi, sih, nak."


"Khanif baru ada kesempatan, bu."


"Oh, iya. Sama siapa kesini?"


"Sama gadis yang sama, bu, waktu sma."


"Sama nak Rania?" pekik ibu kantin itu pelan.


Khanif menganggukkan kepalanya tanda meniyakan.


"Ibu tidak menyangka loh, nak Khanif. Kalau nak Khanif sama si eneng cantik itu," ujar ibu kantin yang bermaksud pada kecantikan hati Rania. "Aduh, ibu sampai lupa. Nak Khanif mau pesan apa?"


"Bakso mi goreng dua bu."


"Baik, nak Khanif. Nak Khanif tunggu saja," ujar ibu kantin itu membuat Khanif menganggukkan kepalanya.


Ia pun pergi kembali ke tempat duduknya bersama Rania.


"Apa yang bapak pesankan untuk saya?"


"Bakso mi goreng," ujar Khanif.


"Benar, ternyata bapak adalah mata-mata yang nyasar ke sekolah," kekeh Rania membuat Khanif tersenyum kecil.


Tidak lama setelah itu, pesanan mereka pun akhirnya tiba.


"Ini pesanan nak Khanif dan nak Rania."


"Terima kasih, bu," ujar Khanif dan Rania hampir bersamaan.


"Sama-sama nak. Nanti, sering-sering ya datang ke sini."


"Insya Allah, bu," ujar Khanif, sedang Rania hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Kalau begitu ibu pergi dulu, kalian nikmati makanannya saja."


Seperginya ibu kantin itu, mereka pun mulai menyantap makanan mereka masing-masing. Mereka makan dalam diam, hingga makanan mereka habis tak tersisa.


Lama terdiam, membiasakan makanan berada didalam perut, Khanif pun mulai mengajak Rania untuk berbicara kembali.


"Ada yang ingin kukatakan padamu," ujar Khanif seketika membuat Rania menatapnya.


...To be continued ...

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2