Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 27. Aku Cemburu 2?


__ADS_3

"Apa hubunganmu dengan Rania?"


Reyhan berbalik, ia lalu menjawab Khanif, "saya dan Rania, kami ...."


Saat Reyhan ingin mengatakannya pada Khanif, tiba-tiba ada seorang lelaki yang menghampiri Khanif dengan pakaian begitu rapi. Lelaki itu memberikan hormat pada Reyhan sebelum maju untuk membisikkan sesuatu ditelinga Reyhan hingga membuat Reyhan terkejut sekaligus membuat Khanif penasaran.


Beberapa detik kemudian, lelaki itu pergi duluan meninggalkan Reyhan dan diikuti Reyhan setelah berpamitan pada Khanif.


"Maaf, saat ini saya belum bisa memberitahu Anda. Jika mempunyai kesempatan, saya akan datang kesini lagi. Permisi." Reyhan pun pergi meninggalkan Khanif.


Sedang Khanif, kembali masuk ke dalam penginapan. Saat ia baru saja menginjakkan kakinya ke dalam, pandangannya langsung tertuju pada sosok Rania yang berdiri didepan pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Khanif.


"Pak, saya ingin menjelaskan ...," perkataan Rania terpotong.


"Besok saja, lagi pula ini sudah malam. Masih ada hari yang panjang kan!"


"Pak ...." lagi-lagi ucapan Rania terpotong.


Ia sadar, ia sudah membuat kesalahan. Apalagi ditambah dengan dirinya yang terlambat pulang. Semua karena dirinya yang terlalu memaksa Reyhan untuk membawanya berjalan-jalan selepas makan malam tadi.


Saat itu, mereka baru saja selesai menyantap makanan yang membuat rasa kelaparan Rania lenyap seketika. Rania terlihat begitu antusias akan kota yang baru ia kunjungi ini.


Ia seakan lupa akan tugasnya datang ke kota ini. Jadi, ia pun meminta Reyhan untuk membawanya berjalan-jalan, walau hanya sebentar untuk melihat suasana yang ada di kota M saat malam hari. Rania memohon, karena belum tentu ia akan punya waktu berjalan-jalan kala malam hari tiba.


Meski sempat menolak, Reyhan tetap kalah akan bujukan Rania padanya. Jadi mau tidak mau, Reyhan pun mengajak Rania pergi berjalan-jalan.


Namun, kesalahan terbesar Rania disini adalah, saat Rania mengatakan kalau dirinya ingin pergi melihat suasana kota sebentar saja, padahal kata sebentar tersebut menjadi bumerang baginya.


Ia sampai terlupa karena Rania terpesona akan keindahan kota M saat malam hari. Dengan lampu dari rumah-rumah warga yang sinar terang ditambah hawa dingin yang sejuk.


Rania sadar, seharusnya dari awal ia tidak memaksa Reyhan untuk mengikuti kemauannya dari awal. Namun, kini nasi sudah menjadi bubur. Apa yang sudah Rania lakukan, tidak dapat diubah lagi.


Rania tertunduk sedih. Sungguh, ia tidak bermaksud membuat Khanif melanggar janjinya pada sang papa.


Tidak ingin tinggal diam terus, Rania pun mengetuk pintu kamar Khanif. Pokoknya, malam ini ia harus menjelaskan semuanya pada Khanif.


Saat ketukan kedua di pintu kamar Khanif hampir melayang, seseorang dari belakang Rania memegang tangannya. Rania seketika menoleh.

__ADS_1


" Mbak Davina!" seru Rania terkejut. "Mbak, aku ... aku ...."


Davina tersenyum kecil. Ia lalu menurunkan tangan Rania. "Jika ingin berbicara dengan pak Khanif, sebaiknya kamu menundanya dulu. Hari esok masih ada kan? Saya percaya pak Khanif akan mendengarkan penjelasanmu." Davina pun menarik Rania masuk ke dalam kamarnya. Lalu mereka menuju kursi santai yang ada ditengah kamar.


"Duduklah."


Rania mengangguk, ia mengikuti perkataan Davina.


"Bantu aku untuk berbicara dengan pak Khanif."


"Kamu tenang saja. Pak Khanif memang begitu, tapi besok sudah berubah lagi. Kamu tau, waktu pertama kali aku datang kemari, aku pun sama seperti kamu. Bahkan aku lebih nekat pergi sendiri dengan mengandalkan maps."


"Hah!" Rania tak percaya.


"Sungguh. Waktu itu aku sama seperti mu, lupa waktu pulang karena terpesona akan keindahan kota ini pada malam hari. Pak Khanif pun sempat mendiamiku sepertimu, tapi esoknya tidak lagi. Jadi, seperti saranku, kamu istirahat aja dulu. Besok baru menjelaskannya pada pak Khanif."


"Baiklah, aku pikir ucapan mbak benar juga." Rania lalu berdiri. "Kalau begitu, aku balik ke kamar dulu."


Davina mengangguk. Rania pun kembali ke kamarnya dengan perasaan sedikit terhibur. Sesampainya dikamar, Rania langsung membersihkan diri. Baru setelahnya, Rania langsung menjatuhkan di tempat tidur.


"Semoga perkataan mbak Davina benar."


Rania pun jatuh tertidur ke alam mimpi.


Keesokan harinya, Rania terlambat bangun karena semalam ia begitu kedinginan hingga merapatkan selimut sampai ke lehernya. Saat Rania terbangun, matahari sudah begitu hangat. Kicauan burung sudah mulai  terdengar dan bunga-bunga kini sudah bermekaran.


Seperti kebiasaannya saat dirumah, Rania membuka jendela kamarnya inapnya, lalu menghirup udara yang begitu sejuk ditambah dengan aroma bunga yang begitu harum. Saat Rania hendak meninggalkan jendela menuju kamar mandi, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


"Pagi Rania," sapa Davina.


"Mbak Davina! Maaf aku terlambat bangun."


"Tak apa, kamu bersiap-siap lah dulu. Baru setelah itu kita keluar untuk mencari sarapan."


"Ok." Rania pun kembali menutup pintunya dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Rania membersihkan diri, Davina kembali menemui Khanif yang sedang berada diruangan tamu.


"Bagaimana?"


"Rania lagi bersiap."

__ADS_1


Khanif mengangguk. Ia lalu memberikan laptop pada Davina untuk memeriksa sebuah dokumen yang terkait akan pembangunan vila-nya. Entah sudah berapa lama Davina begitu sibuk memeriksa dokumen yang disuruhkan Khanif padanya saat Rania mendatangi mereka.


"Pagi, pak. Maaf saya terlambat."


Lagi-lagi Khanif mengangguk tanpa melihat Rania. Ia lalu berdiri dan mulai berbicara, "kita pergi cari sarapan dulu. Baru mulai bekerja lagi."


Davina langsung menyudahi aksi pemeriksaannya dan mematikan laptop, lalu memasukkannya kedalam tas.


"Sudah siap, pak."


"Hem. Baiklah, kita berangkat sekarang." Mereka pun keluar dari penginapan menuju tempat makan.


Saat diperjalanan, Khanif memperlambat laju mobilnya karena ia melihat ada sekumpulan lelaki berbaju loreng tengah berlari pagi, sambil menyanyikan lagu persatuan mereka.


Rania dan Davina yang kian penasaran pun menurukan kaca mobil. Rania tersenyum kala melihat lelaki yang tadi malam mengajaknya jalan-jalan. Rania Seketika melambaikan tangannya dan memanggil nama Rey.


"Kak Rey."


Lelaki yang menjadi pemimpin berbaju loreng itu pun membalas lambaian tangan Rania dan tersenyum.


"Lelaki semalam?" tanya Davina tiba-tiba, saat mobil mereka telah menjauh dari kelompok berbaju loreng itu.


"Hem. Mbak benar," ujar Rania.


"Ternyata dia seorang ...."


"Tentara," potong Rania dengan nada bangga.


Khanif yang semula fokus menyetir, jadi tidak konsentrasi saat mendengar Rania mengatakan pekerjaan Reyhan. Oh tidak! Ia mulai kehilangan konsentrasi menyetir saat manik matanya menangkap sosok lelaki di antara banyaknya lelaki lain yang berpakaian loreng.


Serta jangan lupa, lelaki itu yang tadi malam membuat Rania pergi, sehingga dirinya tidak bisa tidur dan hanya mondar-mandir tidak jelas menunggu kedatangan Rania.


Lelaki itu juga yang sudah membuatnya, cemburu. Cemburu? Khanif tertawa dalam hati, untuk apa ia cemburu pada lelaki itu. Paling-paling itu hanya perasaan tidak terima Khanif karena kecemasan semalam. Tidak lebih!


Khanif pun kembali melajukan mobilnya dengan penuh konsentrasi, karena dirinya telah mendapatkan apa yang dibutuhkan dipikirannya. Ia ingin membuktikan kalau dirinya tidak cemburu pada lelaki yang mengajak Rania jalan-jalan semalam sampai lupa waktu.


Ia yakin, dirinya hanya bersikap seperti itu karena ingin memenuhi janjinya pada papa Rania untuk menjaganya selama perjalanan bisnis ini, tidak lebih! Karena Khanif beranggapan kalau ucapan lelaki hanya bisa dipercayai sekali saja. Selebihnya, akan terdapat keraguan didalamnya dan Khanif tidak ingin hal itu sampai terjadi padanya.


...To be continued ...

__ADS_1


Semoga yang Like/vote/komentarnya diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah, aamiin 🤲


...By Siska C...


__ADS_2