Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
34. Terlalu Memanjakannya


__ADS_3

"Cocok?" Khanif mengernyit bingung dengan pekerjaan mama.


"Iya cocok. Sepulang dari sana, ada yang ingin mama kenalkan sama kamu."


"Kencan buta lagi?" Tebak Khanif.


Diujung tangga, seseorang terpaku mendengar perkataan Khanif. Khanif berbalik. Tanpa sengaja matanya bertatapan dengan mata seseorang yang masih diam membatu diujung sana


"Rania!" seru Khanif bergumam. Sama sepertinya, Khanif juga tidak percaya Rania berada disini. Merasa sadar akan situasi saat ini, Khanif cepat-cepat mengambil alih suasana. "Bukannya sudah ku katakan tadi, kalau kamu bisa beristirahat?"


"Oh, itu ... itu ... saya bosan dikamar terus, jadi saya kesini saja. Mungkin ada yang bisa saya bantu."


"Khanif, sayang," ujar Mama Adelin yang masih terhubung dengan Khanif.


Khanif tersadar, ia lalu kembali berbalik. Membelakangi Rania. "Maaf ma. Itu tadi Rania."


"Oh, nak Rania. Gimana kabarnya dia?"


"Alhamdulillah, baik juga seperti Khanif."


"Syukurlah, mama jadi tidak khawatir lagi kalau Rania ikut bersamamu."


"Iya ma. Ma, Khanif sudahi dulu ya. Ada yang ingin Khanif kerjakan."


Khanif pun menyudahi telponannya dengan Mama Adelin. Saat sudah selesai, Khanif berbalik. Ia heran, Rania masih berada ditempatnya yang tadi. Gelengan kepalanya pun tak luput melihat tingkah Rania yang seperti anak kecil itu.


"Apa yang kamu lakukan disitu. Kemari! Bukannya kamu ingin membantuku?"


Rania tersadar. Perlahan ia melangkahkan kakinya mendekati Khanif dengan ragu-ragu. Ia takut Khanif akan menjadi detektif dadakan yang akan menanyakan apa-apa saja yang telah ia dengar dari pembicaraan Khanif dengan orang yang tengah ditelponnya.


Belum juga ada semenit pemikirannya tentang Khanif berlalu, Rania sudah di todong dengan berbagai macam pertanyaan yang salah satunya.


"Apa kamu mendengarkan percakapan kami?"


Tuh kan! Apa Rania pikirkan. Pasti Khanif akan menanyakan hal itu. Ia sebenarnya ingin menghindar, tapi sepertinya ia sudah tidak sempat lagi. Apalagi lari dari sana, sungguh tidak mungkin lagi. 


"Maaf saya tidak sengaja mendengarnya, pak," ujar Rania tanpa menatap manik mata Khanif yang tengah menatapnya juga.


"Saya tidak menanyakan itu," ujar Khanif pelan, namun terdengar menakutkan ditelinga Rania.

__ADS_1


"Tapi ... tapi pak, saya hanya mendengar suara bapak sedikit saja." Sungguh, Rania sudah tidak bisa menghindar lagi. Ia pun menganggukan kepalanya tanpa membenarkan pertanyaan Khanif.


"Apa itu? Katakan?" runtut Khanif.


"Bapak bilang 'kencan buta lagi' kalau tidak salah," kekeh Rania.


Jujur, Rania tidak dapat menahan tawanya kala mendengar tiga kata itu. Entahlah, ia seperti berada di dalam drama-drama yang biasa ia nonton.


Dulu sekali, Rania pernah menyebutkan Bella, teman kuliahnya dulu sebagai cenayang karena Bella seperti tahu tentang Khanif walau tidak begitu banyak. Sekarang, kencan buta? Huh! Sepertinya ia sedang bermimpi saja.


Namun, saat mendengar suara Khanif mengatakan, "apa itu lucu?" Seketika Rania menghentikan tawanya. Ia melihat Khanif yang sedang menatapnya tajam.


"Maaf pak. Saya tidak bermaksud," cicit Rania.


"Sudahlah, lebih baik kamu beristirahat saja dari pada mengacaukan rencana saya disini."


"Pak, saya ... saya ... sungguh minta maaf."


"Saya sudah memaafkanmu. Kamu bisa pergi sekarang," ujar Khanif sepertinya sudah kembali ke kebiasaan lamanya, yakni tidak ingin dibantah.


Rania mengangguk. Ia pun pergi meninggalkan Khanif seorang diri dengan tertunduk. Seperginya Rania, Khanif berpikir. Ia sepertinya telah memanjakan Rania sebagai sekretarisnya. Oh tidak, calon kandidat sekretarisnya. Ia sepertinya harus mengubah pandangan Rania padanya. Harus, ya harus. Khanif harus melakukan itu.


Sekretarisnya yang dulu pun tidak pernah menggunakan lift kaca itu, para petinggi-petinggi perusahaan yang lainnya pun tidak pernah menggunakannya.


Rania yang hanya karyawan biasa, bisa menaiki lift kaca itu. Meski sudah masuk kedalam pencalonan sekretaris dan menjadi sekretaris Khanif selama seminggu ini, hal tersebut bukanlah alasan yang kuat untuk Rania bisa menggunakan lift kaca itu.


Khanif tau, dialah pemimpin perusahaan, ia serta merta bisa menyuruh ataupun memilih siapa saja yang bisa naik lift kaca itu. Tapi, walau begitu, tentu saja para karyawan lainnya akan salah paham akan hal itu atau bahkan bisa iri pada Rania. 


Apalagi Rania awalnya hanya sebagai staf accounting biasa diperusaahaannya. Siapa yang tidak heran, karyawan biasa seperti Rania bisa menaiki lift kaca itu yang jelas-jelas menjadi impian tiap karyawan.


Ya, Khanif telah sadar. Ia sepertinya telah salah dalam hal ini dan sebagai gantinya, ia akan memperbaikinya segera mereka kembali.


Khanif pun kembali ke tempat duduknya mengecek pekerjaan Davina yang telah diselesaikannya. Khanif begitu puas akan hasil kerja Davina. Dengan begitu, tinggal besok saja, semua kecurangan paman serta teman-temannya yang berkomplot akan ketahuan. Lebih baik ia mengambil langkah awal dari pada ia kecolongan nanti.


"Tidak salah, saya mempercayakannya pada Davina," puji Khanif.


"Tentu saja harus, selain saya dan Rania siapa lagi yang dapat bapak percayai disini," ujar Davina yang baru tiba dengan nampan berisi dua cangkir teh ditangannya.


"Bapak! Bapak apaan. Kan sudah ku bilang, kalau bebas dari tugas, panggil saja aku kakak."

__ADS_1


"Iya ... iya kakakku sayang," ujar Davina sambil tersenyum.


"Duduklah. Temani kakak disini berbagi pikiran."


"Tunggu ... tunggu, aku lihat sepertinya Rania baru saja dari sini. Kenapa dia cepat sekali kembalinya?"


"Kakak suruh dia istirahat dulu. Kalau kamu mau silakan saja."


"Aku tidak mau istirahat lagi. Lebih baik kakak menyuruhku mengerjakan tugas saja." 


"Baiklah."


Khanif dan Davina pun mulai bertukar pikiran lagi tentang rencana mereka besok. Berbeda dengan Rania yang terus mondar-mandir tidak jelas didalam kamarnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.


Sebenarnya, Rania tadi telah menghubungi Reyhan untuk mengajaknya jalan-jalan. Namun, waktu tidak berpihak kepadanya sebab Reyhan yang saat ini tidak bisa mengajaknya jalan-jalan karena Reyhan sedang melatih paraanggotanya.


Rania tentu tahu pasti dengan apa yang terjadi pagi tadi. Dari pada ia berbuat salah lagi, Ia pun hanya bisa memasrahkannya saja. Lagi pula masih ada hari-hari yang akan datang kan!


Rania masih bisa bertahan didalam kamarnya selama sejam. Namun, setelah lewat dari itu, Rania sudah tidak tahan lagi. Ia hampir mati bosan saat sebuah ide tiba-tiba menghampirinya. Ia pun bersiap-siap dahulu sebelum menemui Khanif.


"Semoga saja pak Khanif telah melupakan kejadian tadi," rapal Rania dalam hati.


Benar, masalah tadi adalah murni kesalahannya. Apa salahnya Khanif jika ingin pergi kencan buta setelah mereka pulang? Tidak ada kan! Mungkin dengan begitu, baik Rania maupun karyawan lainnya akan segera menghadiri acara besar yang akan diselenggarakan oleh Khanif. Namun sepertinya itu tidaklah mudah, kala mengingat sifat Khanif yang suka berubah-ubah.


"Apaan sih!" Rania menepis apa yang tadi hinggap dipikirannya. Ia pun kembali menepisnya dengan pergi ke lantai teratas untuk meminta izin pada Khanif sekaligus meminjam mobilnya untuk dipakainya sebentar.


Saat kakinya sudah sampai di anak tangga terakhir, lagi-lagi Rania di buat terkejut oleh Khanif.


"Hah!"


...To be continued ...


Apa yang Rania lihat sampai terkejut seperti itu, ya?


Ada yang bisa tebak ngga?


Semoga saja yang like/vote/komentar diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, Aamiin 🤲


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2