Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 50. Niat Awal Rania


__ADS_3

Rania masih senyum-senyum saat seseorang masuk ke dalam kamar inapnya.


"Ehem."


Jika saja lelaki itu tidak berdehem, mungkin Rania tidak sadar akan kedatangannya.


"Boleh saya masuk?"


Rania menganggukan kepalanya tanda setuju. Khanif pun masuk kedalam ruangan Rania.


Khanif diam. Ia sepertinya tidak ingin memberitahukan rencana kepulangannya malam ini pada Rania. Namun biar bagaimana pun, ia harus memberitahukannya juga. Lagi pula, sebelumnya ia telah mengatakannya pada Reyhan dan Reyhan menganggap hal itulah yang terbaik saat ini - jika mengingat keadaan Rania yang tidak memungkinkan.


Melihat Khanif yang tetap diam sambil memandangi kakinya, Rania pun akhirnya memulai percakapan.


"Bapak mau pamit pulang?" tanya Rania seakan tahu apa yang ada dipikirkan Khanif.


Khanif beralih pada Rania. Ia menjawab pelan dan singkat. "Ya, saya akan pulang malam ini bersama Davina."


"Saya mengerti keputusan bapak. Bapak jangan mengkhawatirkan saya disini. Disini ada kak Reyhan yang menjaga saya. Soal papa saya, saya yang akan menghubunginya nanti."


Ya, Rania tidak berniat membohongi papa dengan kata-katanya pada Khanif. Meski Rania tidak sedang terluka saat ini, pasti Rania juga akan meminta izin lebih sehari untuk bersama kakaknya disini.


Khanif mengangguk. "Davina sudah membereskan baju-bajumu disana. Mungkin dia sudah dalam perjalanan kesini."


"Iya, pak. Terima kasih."


Tidak lama kemudian, terlihat Reyhan masuk kedalam kamar inap Rania.


"Khanif, jam berapa kamu mau berangkat?"


"Setibanya Davina disini dan mungkin berbincang dengan Rania sedikit, kami baru akan pergi."


"Semoga perjalanan kalian lancar. Untuk soal Rania, setelah kakinya agak sembuh, saya sendiri yang akan mengantarnya pulang."


"Saya percaya Anda."


Disaat bersamaan dengan perkataan Khanif, Rania mengomentari perkataan kakaknya.


"Kakak ... " Reyhan dan Khanif beralih melihatnya. "Pokoknya Rania mau pulang besok. Kalau tunggu kaki Rania sembuh dulu pasti akan menghabiskan waktu yang lama. Lagi pula Rania hanya keseleo, tidak lebih. Rania mau pulang besok."


"Baik, kakak turuti. Asalkan adik bisa berjalan normal dengan kedua kaki adik."


"Loh kok gitu," komentar Rania lagi.


"Ucapan kakakmu benar. Setelah keseleomu sembuh, kamu baru bisa kembali."

__ADS_1


"Kalian kenapa, aku bukan anak kecil lagi!"


Khanif terkejut melihat Rania berbicara dengan nada tinggi. Sedangkan Reyhan malah tertawa mendengarnya.


"Ngga ada yang lucu."


Rania beralih melihat Khanif. Selanjutnya, Rania pun meminta maaf karena secara spontan berkata seperti itu.


"Maaf, Rania tidak bermaksud untuk ...."


"Tak apa," ujar Khanif.


"Karena atasan adik sudah memberi izin, tidak ada yang perlu ditakutkan lagi," ujar Reyhan berbicara santai sambil duduk ditepi tempat tidur Rania.


"Kakak jahat."


Reyhan menutup bibir Rania dengan jari telunjuknya. Ia seperti tidak ingin mendengar kata-kata itu lagi. Ia takut Rania akan berbalik membencinya seperti pada tahun-tahun yang telah lalu.


"Ok, ok. Kakak minta maaf. Tapi, ini juga demi kebaikan adik. Kakak takut nanti kamu seperti hari itu lagi. Disuruh diam, malah sebaliknya."


"Iya tahu kak. Tapi itu waktu Rania masih kecil. Sekarang Rania udah gede."


"Baiklah, kalau begitu dua hari adik disini, kakak akan mengantarkan adik pulang. Lagipula kakak harus segera meyelesaikan masalah itu dulu."


Dengan tanpa minat, Rania menganggukan kepalanya. Melihatnya pun membuat Reyhan tersenyum lebar.


"Itu baru adik, kakak."


"Jadi selama ini Rania bukan adik, kakak, gitu?"


"Emm ... bisa dibilang begitu."


"Aaa ... kakak ja ...."


Belum juga Rania menyelesaikan kata-katanya, Reyhan sudah lebih dahulu menempatkan jari telunjuknya dibibir Rania seraya berkata, "kakak bercanda."


"Kalau begitu saya keluar dulu. Mungkin Davina sudah ada didepan menunggu saya didepan."


Upss, Rania sadar. Pasti sudah dari tadi Khanif memperhatikannya bertingkah laku seperti anak kecil. Pasti nilainya di mata Khanif sudah turun. Tapi, tunggu! Apa pedulinya pada nilai dirinya dimana Khanif sudah turun? Secara Rania dan Khanif tidak memiliki hubungan yang khusus seperti drama-drama yang telah di tontonnya antara sekertaris dan atasannya.


Lagi pula tidak selamanya ia menjadi sekretaris Khanif karena jabatannya saat ini pun hanya sementara. Ia hanya masuk kedalam pencalonan sekretaris Khanif dalam masa seminggu. Namun, Rania sedih jika kembali mengingatnya karena mulai besok, Rania tidak lagi menjadi sekretaris Khanif sebab masa percobaannya telah habis. Ah, disaat seperti ini, ia malah jatuh sakit.


Rania tau, sepulangnya ia nanti, meja dilantai duapuluh satu itu bukalah mejanya lagi, melainkan meja yang akan ditempati Lisa selama seminggu kemudian. Memikirnya, membuat Rania lagi-lagi sedih. Namun ia buru-buru menepisnya.


Bukannya ia tidak ingin menjadi sekertaris Khanif? Mengapa ia harus sedih? Malahan hal itu bisa dianggap sebagai keberuntungan dirinya.

__ADS_1


Rania pun menggelengkan kepalanya mencoba menepis pemikiran aneh yang sempat hinggap di kepalanya barusan. Ada-ada saja!


"Adik, kamu kenapa?" tanya Reyhan.


"A' oh, tidak apa-apa kak. Rania hanya merasa pusing sedikit saja."


"Kalau begitu istirahatlah, kakak keluar dulu."


Rania mengangguk. Reyhan pun berlalu dari kamar inap Rania. Reyhan berjalan kearah depan karena mendengar sebuah mobil yang masuk ke halaman rumah sakit. Sesampainya didepan, Reyhan melihat Davina baru saja keluar jadi mobil.


Reyhan pun mendekati Davina. Ia juga melihat Khanif yang ada disana. Ia menduga kalau khanif pergi ke bagasi mobil untuk mengambil koper Rania. Tidak ingin membuat orang lain repot, Reyhan bergegas pergi ke belakang mobil.


"Biar saya saja," tawar Reyhan.


"Tak apa. Biar saya saja. Lagipula Davina sepertinya ingin menemui Rania."


"Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu."


Reyhan pun melakukan perjalanannya yang tadi sempat tertunda.


"Bagaimana keadaan Rania?" tanya Davina.


"Dia sudah mulai baikan. Hanya saja bengkak dikakinya masih belum turun juga."


"Semoga saja dia cepat bergabung bersama kita lagi."


"Semoga saja."


Mereka pun masuk kedalam rumah sakit tentara. Sementara disana, Rania sedang memikirkan niat awalnya. Ia seperti telah melupakan niatnya untuk tidak menjadi sekretaris Khanif. Entah apa yang terjadi pada niat awalnya itu.


Semula ia begitu menolaknya, bahkan dengan terang-terangan Rania mengatakan hal itu pada Davina sewaktu mereka lagi berada dilantai teratas penginapan mereka selama berada disini. Namun apa ini? Ia bahkan sudah melupakan kata-katanya pada Davina kalau ia tidak ingin menjadi sekertaris Khanif karena telah nyaman dengan pekerjaannya sebagai staf accounting biasa.


Padahal sebelumnya Davina sudah susah membujuknya untuk memiliki niat yang besar untuk menjadi sekertaris Khanif. Bahkan sampai hal-hal yang bisa membuat Rania tertarik pun Davina sebutkan.


Ah, ia jadi malu jika harus menelan kata-katanya sendiri. Apalagi dengan terang-terangan ia menolaknya didepan Davina. Untung saja kalau Davina tidak memberitahu Khanif, kalau ya, entah dimana ia akan menaruh wajahnya. Rania menghela nafas berat nan panjang. Ia seperti menyesali dirinya yang terlalu menolak dulu.


Apakah keadaan sebelumya bisa diubah? Jika ya, maka Rania bersedia mengubahnya meski taruhannya adalah ia membuat dirinya menahan malu.


Saat Rania tengah sibuk dalam pemikirannya sendiri, lagi-lagi Rania dikejutkan oleh deheman seseorang.


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, aamiin 🤲


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2