
Hana menatap keluar kaca, pegunungan dan pesawahan sangat jelas menyejukan mata.Hana melihat gedung yang seperti di dekat desanya.
apa ini jalan menuju desa ku?
ini percis tapi aku tidak bisa
memastikan .
gedung seperti itu kan banyak .
" Sayang aku boleh membuka kacanya?" Tanya Hana Cakra mengangguk melihat email di ponselnya.
" Ah segarnya " Kepala Hana sedikit keluar mengayunkan ayunkan tanngannya udara yang sangat segar dan sejuk membuatnya nyaman.
Ponsel berdering,Hana duduk dan meraih ponsel di tas nya.
Karan?
" Hallo sayang "
Hana mengangkat telfon,Cakra yang mendengar melempar ponselnya dan mencengkram tanganya.
Aw sakit apa sih!?
Hana melirik kesal berusaha melepaskan tangannya.
__ADS_1
" Kakak kau dimana?" Tanya Karan
" Aku sedang diluar sayang, kenapa ada apa" Hana merasakan sakit terbata bata menjawab.
kenapa dia ,tangaku sakit seperti ini.
" Aku dirumah, baru pulang kakak aku akan menyusul,kata Susi kau akan makan bersama ya" Karan tertawa
" Iya kau benar ,ayo susul saja kami sudah dijalan tempatnya di Rumah makan bla bla bla "
Hana menyebutkan tempat yang akan dituju.Tangannya Cakra sudah menarik ujung dress nya.Hana menepis dengan kesal tangannya ngilu.
" Ok Kaka dadah muah" Ciuman dibalik ponsel Karan.
" Baiklah,muaah juga" Jawaban dari Hana, membuat Cakra semakin naik darah.
" Sayang sakit" Hana menahan tangan Cakra agar melepaskan nya.
" Kau berani menyebut sayang pada orang lain,kau buta ya aku di samping mu" Berteriak.Rey yang didepan ikut khawatir dia tahu yang menelfon nona muda adalah Karan bukan laki laki,jadi dia diam hanya mendengarkan tadi.Tapi reaksi tuan mudanya berlebihan.
" Tuan,dia Karan bukan laki laki tuan lepaskan nona, kau melukainya" Rey menoleh dan kembali dengan kemudinya.
" Sayang lepaskan sakit!" Padahal Hana tidak merasakan sakit,hanya dia pura pura wajah dan bibir Cakra sudah menempel di lehernya.
" Katakan dia siapa?"Tanya cakra meyakinkan ingin jawaban dari Hana sendiri.
__ADS_1
" Dia Karan,lihatlah ponsel ku" Hana mengusap leher nya, menyodorkan ponsel ke wajah Cakra.
Cakra melepaskan bibir yang mengecap merah disana.Hana sadar lehernya pasti sudah berbekas kecupan.
" Katakan dari tadi,jadi aku tidak salah paham"
mengusap leher yang di hisapnya barusan,tanpa rasa bersalah.Hana menepis dan menatap kesal merapihkan rambutnya agar menutupi leher.
" Apa merah?" Bisik Hana melirik Rey semoga laki laki itu tidak mendengar gumamnya.
" Sangat merah " Hana melotot dengan jawaban Cakra.Hana mengeluarkan foundation ke kulit lehernya.Meraba raba dimana suaminya mengecup keras.Cakra membantu Hana mengoleskan dengan seringai licik nya.Bahaya Keluarga besar ada disana kalau melihat leher Hana seperti ini, pasti akan banyak yang bertanya gumam Cakra mengusap lembut foundation.
* * *
Di Rumah makan lesehan...Keluarga sudah sampai mencari cari dimana Hana.
" Maaf nak Robi dimana anak dan menantuku" Tanya ayah Hana
" Masih dijalan tuan, silahkan masuk saja dulu" Semua kerabat masuk Robi mengumpulkan Keluarga Hana,bahkan yang berada di luar kota pun.Cakra mengutus pengawal menjemput mereka.
Jangan sampai ada kesalahan.Robi mengusap dadanya.
Lina sudah berada disana dengan Robi dan Kiran.
" Bekerja dengan benar" Tunjuk Robi sinis menatap kedua gadis itu.Mereka saling menatap dan mengangkat bahunya.
__ADS_1
Ayah ,ibu dan paman Hana memilih menunggu diluar, tidak ikut masuk
.Ayah Hana sudah beberapa kali merapihkan kerahnya dia merasa rindu dengan anak sulung nya itu.