
Kiara benar-benar tidak ingin turun dalam keramaian orang yang sepertinya menolong kecelakaan di depan. Tapi Kiara melihat mobil yang tidak asing sedang parkir di kiri mobilnya.
Mobil itu berwarna putih dengan tipe sporty yang sering dikendarai Aldi. Mobil yang hanya berisi empat orang penumpang saja.
Untuk memastikannya, Kiara mengajak bicara satu-satunya orang di dekatnya saat ini, yaitu sopirnya. Kedua pengawalnya yang sejak tadi menemani Kiara keluar ada di mobil lain di belakang mereka.
"Pak. mobil di sebelah mirip dengan yang biasa dipakai suami saya ya." Kiara juga berniat sekedar mengajak sang sopir berbasa-basi dengan harapan untuk mencegah pikirannya memikirkan banyak hal buruk.
"Iya non. Persis dengan mobil tuan muda. Sebentar saya berusaha lihat pelat mobilnya."
Pak sopir agak memajukan badannya hingga terlihatlah pelat nomor mobil itu.
"Nona Kiara, itu adalah pelat mobilnya bapak." Pak Sopir yang terkejut langsung memberitahukan Kiara.
"Bapak yakin?"
"Yakin, Non."
"Berhenti, pak."
Seketika Kiara turun dan penumpang di mobil. Barangkali ada Aldi maupun sopirnya. Tapi tidak ada siapa pun di mobil itu. Kiara melihat sekeliling dan melihat sopir Aldi sedang berada dalam kerumunan. Tampak sopir Aldi sedang berbicara di telefon.
Dengan tergesa-gesa Kiara mendekat sopir Aldi untuk menanyakan keberadaan suaminya. Tapi Kiara terdiam mendengar apa yang diucapkan si sopir.
__ADS_1
"Baiklah pak Daniel. Kalau begitu tuan muda akan saya bawa dengan mobil saya menuju ke rumah sakit terdekat. Tidak pakai menunggu ambulans datang. Bapak segera menyusul mobil saya ya pak." Dengan itu si sopir mengakhiri panggilan telefonnya kepada Daniel.
Sopir Aldi masih tidak menyadari sedang ada Kiara di dekatnya yang masih terkejut dengan pembicaraan telefon si sopir.
Keterkejutan Kiara berubah menjadi ketakutan begitu melihat sang sopir mengajak beberapa orang mengangkat sosok yang sangat dia kenal. Suaminya yang bersimbah darah sedang diangkat oleh beberapa orang ke dalam mobil putih tadi.
Para orang baik yang mengangkat Aldi bersama-sama mengangkat Aldi yang tak sadarkan diri melewati Kiara yang tertegun dengan gemetaran menyaksikan Aldi dalam kondisi sangat parah.
'Al, tidak mungkin itu kamu.' Kiara masih berusaha menata pikirannya yang berantakan dan dirinya masih gemetaran menyaksikan pemandangan Aldi dalam kondisi berdarah seperti itu.
Ketika Aldi yang tak sadarkan diri sudah masuk ke mobil dengan aman dan sang sopir hendak masuk ke mobil juga, si sopir baru menyadari Kiara sedang tertegun di dekat mobilnya. Sang sopir bahkan mengucek-ngucek matanya beberapa kali karena tidak yakin nona mudanya ada di situ melihat tuan muda dalam keadaan seburuk ini.
Tapi ketika sopir Aldi hendak mendekati dan menegur Kiara, Daniel tiba.
"Cepat bawa Aldi ke rumah sakit. dua mobil pengawal akan mengawal di depan dan belakang. ikuti saja mereka. Tidak boleh ada kejadian buruk lanjutan dalam perjalanan ke rumah sakit." perintah Daniel dengan tegas.
Sementara itu, Kiara juga mendengar perkataan Daniel. Begitu tahu bahwa Aldi akan dibawa pergi, Kiara tersadar dan hendak masuk ke mobil Aldi. Kiara harus ikut mendampingi suaminya.
Tapi Daniel mencegah Kiara. Daniel mencegah Kiara masuk ke mobil Aldi yang sudah dinyalakan.
"Maaf Nyonya Kiara. Instruksi dari Pak Aldi untuk situasi seperti ini tidak membolehkan nyonya ikut mendampingi pak Aldi ke rumah sakit. Saya mohon nyonya melanjutkan perjalanan untuk pulang kembali ke rumah." Daniel menyampaikan ini dengan sopan dan nada merendah.
Daniel tidak menggunakan nada memerintah sedikit pun seperti sebelumnya ketika berbicara kepada sopir Aldi. Tapi Kiara merasa sakit hati dengan apa yang disampaikan oleh asisten Aldi itu.
__ADS_1
"Tidak mungkin. Aldi terluka separah itu. Dan kamu melarang saya menemaninya ke rumah sakit!" Kiara mengeluarkan kemerahannya tapi terdengar seolah meneriakkan kesedihannya.
Mobil Aldi telah melaju pergi membawa sang tuan yang terluka parah dan tak sadarkan diri. Ingin marah rasanya Kiara dicegah oleh anak buah suaminya untuk menemani suaminya yang sedang kritis.
"Maaf Nyonya. Ini adalah perintah pak Aldi. Protokol darurat ini harus kami terapkan setiap pak Aldi dalam kondisi berbahaya atau terluka. Ketika pak Aldi tidak sadarkan diri dan harus mendapat perawatan di rumah sakit, kami dilarang membawa nyonya ke rumah sakit. Nyonya harus diajak ke tempat paling aman. Kami harus mengutamakan keselamatan Nyonya di atas segalanya."
Kiara terdiam tak tahu harus membantah seperti apa.
"Mari nyonya, kita masuk ke mobil nyonya. Rumah sudah dekat." Daniel mengisyaratkan supaya Kiara masuk ke mobilnya sendiri dan tidak bisa dibantah sama sekali.
Dengan langkah pelan dan padangan kosong, Kiara digiring oleh Daniel memasuki mobilnya. Hanya ada Kiara dan sopirnya di mobil itu. Tetapi ada lima mobil lain yang mengapit mobil Kiara di depan dan di belakangnya sekaligus.
Daniel sendiri masih berada di minimarket bersama dengan sisa pengawal yang ada. Daniel harus bergegas ke rumah sakit. Tapi memastikan informasi yang ada di lokasi kecelakaan Aldi ini didapatkan olehnya juga penting. Tuannya akan menginginkan info ini begitu sadar.
Sementara itu, tidak sampai lima menit Kiara sudah tiba di rumah besarnya. Kiara masih tampak linglung. Pikirannya menerawang kemana-mana. Kiara tidak tahu bagaimana Kiara bisa memasuki rumah hingga masuk ke kamarnya. Kamar tempat dirinya dan Aldi semalam hingga tadi pagi masih bersama.
Sejak masuk rumah, Kiara tidak peduli dengan sapaan para pelayan maupun Irma yang mengatakan beberapa kalimat kepadanya. Kiara tidak bisa mendengarkan maupun melihat semua itu hingga tiba di kamarnya,
Kiara mengusap ranjang tempat Aldi berbaring di sana tadi malam. terus mengusapnya dengan lembut hingga Kiara terkejut oleh bayangan Aldi yang terluka parah. Kiara seperti melihat Aldi yang tidak sadarkan diri sedang menutup matanya di ranjang itu.
Seketika itu juga Kiara menutup mulutnya dan menangis sejadinya.
Kiara jarang menangis. Meski sedang sakit parah sekalipun di panti asuhan Kiara tidak pernah menangis karena rasa sakit yang dirasakannya. Tapi kini Kiara berurai air mata sambil terisak melihat Aldi yang tak sadarkan diri di ranjangnya. Aldi wajahnya penuh dengan darah yang menutupi wajah tampannya.
__ADS_1
Bahkan Irma yang berada di pintu kamar Kiara ikut menangis mendengar tangisan yang sungguh menyakitkan untuk didengarkan. Irma yang baru diberitahu oleh beberapa pengawal yang datang bersama Kiara ikut berurai air mata mendengar Kiara menangis seperti itu. Irma yang bersiap di pintu kamar Kiara untuk melayani Kiara terdiam di tempatnya dan hanya bisa ikut menangis.
Jika Irma yang hanya seorang pelayan ikut bersedih dengan keadaan tuan mudanya, tidak bisa Irma bayangkan bagaimana perasaan nona muda melihat suaminya dalam kondisi terluka parah seperti itu tapi tidak bisa berada di sisi suaminya untuk menemani di saat seperti ini,