Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Dari Rumah Sakit hingga Rumah Megah yang Mewah


__ADS_3

Bella tertidur lelap di ranjang spring bed berukuran king size. Bima memesankan kamar VVIP di rumah sakit ini untuk Bella. Kamar ini tidak seluas suite room hotelnya, tapi fasilitas kamar VVIP di rumah sakit ini lumayan bagus. Ada mini kitchen untuk memasak air dan menyeduh berbagai macam minuman. Sudah tersedia kopi maupun teh yang siap seduh juga. Jatah makan 3x diberikan tidak hanya untuk pasien, tapi juga untuk yang menjaga. Jatah makan malam juga tadi sudah datang, Meski mereka datang ketika larut malam, tapi mengingat kondisi Bella yang kurang makan dan istirahat, makan malam untuk Bella disediakan oleh rumah sakit. Bella sempat menyantapnya sebelum tidur.


Di kamar ini juga disediakan sofa bed. Sofanya bisa dijadikan tempat tidur maupun sekedar sofa untuk duduk biasa. Bima akan tidur di sofa itu nantinya. Tidak mungkin Bima tidur di ranjang yang sama dengan Bella meskipun ukuran ranjangnya bisa memuat mereka berdua.


Bima menatap Bella dengan seksama. Bima tidak pernah menatap wanita selain Kiara. Selain merasa Kiara sudah cukup cantik dan menjadikan dirinya ketagihan hanya sekedar menatapnya, Bima juga berusaha tidak tergoda dengan paras ayu maupun tubuh seksi wanita lain. Bima benar-benar berusaha menjaga diri untuk tidak tergoda wanita yang berbeda dalam hari yang berbeda. seperti ketika dulu sebelum mengenal Kiara.


Wajah Bella yang tenang ketika tidur begitu polos. Mengingatkan Bima akan kepolosan Kiara ketika awal mereka berkenalan. Ada rasa kasihan terhadap wanita ini. Dokter menyatakan bahwa Bella mengalami mal nutrisi. Tekanan darahnya juga terlalu rendah. Bella butuh istirahat dan makan lebih banyak.


Bima mulai mengira Bella seperti ini karena kelakuan Bima malam itu. Mengira Bella kurang tidur setiap malam dan tidak nafsu makan karena Bima. Bima mulai merasa bersalah.


Bella dan Kiara memang sangat mirip. Hanya saja Kiara lebih sering tersenyum. Mata Kiara juga lebih jernih dengan binar kebahagiaan yang sering terlihat.


Tapi Bima sulit  mengingat wajah senyum Bella. Malam ini juga Bella tidak tersenyum sama sekali. Hanya ada wajah tegang dan  terkejut berkali-kali. Juga ada rasa sakit ketika Bima menyatakan keinginannya mengenai masa depan pernikahan Bima dengan Bella nantinya.


Suara getaran handphone menyadarkan Bima dari renungannya. Merasa itu bukan handphone nya, Bima mencari handphone Bella di tasnya.


Ada panggilan dari Kiara. melihat waktu menunjukkan pukul 11 malam, Kiara mungkin panik karena kakaknya tidak kunjung pulang.


"Halo, kak. Kakak dimana." Suara Kiara dari ujung telfon.


"Ini aku ra. Bella lagi sama aku. Kamu gak usah khawatir." Bima menjawab dengan tenang.


Kiara terkejut sekali Bima mengangkat telfon kakaknya. Lebih terkejut lagi karena jawaban Bima.


"Malam ini Bella nginep sama aku. Kamu gak usah nungguin kepulangan Bella ya, Ra. Beberapa hari ini aku akan mendekati kakakmu." Bima terpaksa berbohong. Tidak ingin membuat Kiara khawatir, Lagi pula Kiara sudah memutuskan untuk membuat Bima menikahi Bella. Bima akan mendekati Bella agar mau mengubah keputusannya.


"Oke, kalo gitu. Jaga kakakku ya Bim. jangan sakiti dia lagi. Hidupnya sudah terlalu sulit sejak kecil." Kiara menutup telfon tanpa mendengar balasan Bima.


Ternyata Kiara sakit hati mendengar Bima semudah itu mau bersama kakaknya. Meski ini adalah keinginan Kiara, tapi kenapa Kiara masih merasa sakit?

__ADS_1


Bima yakin saat ini Kiara sedang menangis. Tapi Bima juga tak bisa menenangkan Kiara. Bima sendiri juga merasa marah dengan keputusan Kiara meninggalkannya. Tidak suka harus disuruh menikahi kakaknya.


Tapi Bima tidak bisa memarahi Kiara. Bima juga sependapat untuk bertanggung jawab. Hanya saja Bima masih merasa ingin memiliki Kiara, menua dengan kiara dan juga menikahinya kelak. Karena itulah Bima ingin Bella tidak menyukai Bima sejak awal. Jika mereka berdua menikah dengan tanpa cinta, pasti suatu saat mereka akan berpisah.


Bima tak menyangka Bella menolak.


Apa mungkin Bella menginginkan pernikahan yang sesungguhnya? Atau sudah jatuh cinta kepadanya?


Ah, Bima harus segera mengambil keputusan mengenai wanita yang tidur di hadapannya ini.


Malam pun berlalu dengan Bima dan Kiara yang hampir terjaga sepanjang malam. Sementara Bella tertidur amat nyenyak hingga pagi.


Bella bangun karena merasa kelaparan. Begitu membuka mata, Bella baru ingat bahwa dia sedang berada di rumah sakit. Kamar tempat Bella dirawat inap tidak seperti kamar rumah sakit. Bella merasa berada di kamar hotel. Ranjangnya saja lebih mewah dari pada kamar hotel. Ruangannya juga luas. Ruang tamu ditambah ruang tidur Bella di rumah kontrakan mama tidak seluas ini meski digabung.


Bima tampak tidur di sofa. Melihatnya membuat Bella ingin pergi.


Ya, sebaiknya Bella pergi. Pekerjaannya di kantor masih banyak. Jika berangkat sekarang, sepertinya Bella bisa datang tepat waktu. Tapi kalau Bella pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada Bima, Bella seperti tidak tahu terimakasih.


Bella akan mencoba menelfon Aldi. Mencoba meminta bantuannya untuk ijin sakit hari ini saja.


Membuka handphonenya, ada banyak pesan dari Kiara yang tadi malam mencarinya. Juga beberapa panggilan dari Bima yang tidak terangkat. Tapi ada satu panggilan Kiara yang aneh. Panggilan itu diangkat dan beberapa menit terhubung. Kemungkinannya hanya BIma yang menelfonnya. Ntah apa yang mereka berdua bicarakan. Setelah telfon itu, Kiara tidak mengirimkan pesan apapun.


Oh iya, Bella hendak menelfon Aldi.


Panggilan terhubung, dan tanpa basa-basi, Bella meminta tolong supaya Aldi memintakan ijin sakit kepada atasannya, pak Daniel.


"Kamu sakit apa? Kok sampek gak masuk."


"Cuma demam kok. Tapi semalam terlanjur diantar teman ke rumah sakit. Ini masih belum diperbolehkan pulang. Minta tolong ya Al, mengenai ijin aku."

__ADS_1


"Oke, moga lekas sembuh. Kalo ada waktu nanti aku tengokin sepulang kerja."


"gak usah repot, Al. Aku akan pulang hari ini juga. Kamu gak usah ke sini."


"Kamu yakin sudah baikan? Yasudah kalo itu mau kamu. Jangan segan kalo butuh sesuatu yang bisa aku bantuin lagi." Aldi menutup telfon tanpa mendengar balasan Bella.


Bella merasa aneh, Aldi tidak biasanya peduli kepadanya. Apa selama ini Bella yang salah menilai Aldi?


Mendengar Bella sedang menelfon, Bima membuka matanya. Bisa Bima dengar siapa yang sedang ditelfon oleh Bella. Kini beberapa hal mengenai Bella mulai muncul sebagai tanda tanya di benak Bima.


"Kamu tidak seharusnya nungguin aku di sini. Kamu bisa pulang atau pergi bekerja. Saya baik-baik saja di sini sendiri." Lagi-lagi Bima mendapatkan perlakuan seperti tadi malam. Padahal dia baru saja bangun dari sofa dan hendak mendekat ke ranjang Bella.


"Saya lebih suka bolos bekerja. Hari ini bisa punya alasan untuk membolos sangat menyenangkan rasanya." Bima berlalu ke kamar mandi sementara Bella heran kenapa Bima masih bersikap baik. Apa karena Bella terlihat lemah? Apa ini bentuk rasa kasihannya?


Jika dengan Bima kasihan padanya, Bima memilih bersamanya, Bella tidak menginginkan ini.


"Tolong segera urus kepulangan saya. Saya ingin keluar dari rumah sakit pagi ini juga. Bisa tolong antarkan saya ke rumah mama saya?" Bella langsung membuat Bima keheranan.


"Oke, saya urus supaya kamu bisa pulang dari sini hari ini."


Bima sudah punya beberapa rencana dalam benaknya untuk kelanjutannya dengan Bella. Ada beberapa hal yang Bima ingin yakinkan. Bima harus mengajak Bella bertemu mommy hari ini juga.


Selesai mengurus prosedur keluar dari rumah sakit yang cukup cepat, Bima melajukan mobilnya ke rumah Bima. Bella tertidur di mobil karena habis sarapan dan minum obat membuat Bella kembali mengantuk. Tidak tahu jika Bima membawanya bertemu mommy Bima.


Mommy Diandra sudah dikabari oleh anaknya, Bima, bahwa pagi ini akan mengenalkan Bella kepadanya. Sang mommy sendiri sudah tahu apa yang sudah terjadi di antara Bima, Kiara dan juga Bella. Bima hampir selalu menceritakan masalah percintaannya kepada Diandra sejak jatuh hati kepada Kiara.


Kali ini Bima juga percayakan hubungannya dengan Bella kepada Mommy. Jika mommy memang baik-baik saja dengan sosok Bella untuk menjadi menantunya, maka Bima akan melakukannya. Bima akan Menikahi dan berusaha mencintai Bella sebagai istri. Tidak lagi akan mengharapkan Kiara  kembali ke sisinya.


"Bel, bangun yuk bel. Kita sudah sampai. Ada yang nungguin kamu di dalam." Bella yang tersadar berada di depan sebuah rumah mewah merasa bingung. Bima bilang ada yang menunggunya.

__ADS_1


Bella turun dari mobil begitu saja. Bella enggan banyak bertanya kepada Bima. Bella menyibukkan mata dan pikirannya mengamati rumah tempat Bella berada. Di depan pintu depan rumah yang ada air mancur yang di seelah kirinya ada taman bunga yang Indah. Sebelah kanannya seperti garasi mobil. Tapi Bella melihatnya seperti sebuah showroom mobil mewah. Mobil yang terparkir di sana tidak satupun memilliki merk yang Bella kenal. Pasti semuanya mobil edisi terbatas.


Bima sendiri menyadari bahwa Bella tidak lagi banyak berbicara kepadanya. Bella yang bekerja sama dengannya sebagai pegawai WS TECH yang ceria itu tidak kunjung Bima temukan pada Bella saat ini. Bella menjaga jarak dari dirinya.


__ADS_2