
Kiara sudah berganti gaun sederhana berwarna hijau pastel. Dia nampak segar dengan warna baju yang membalut tubuhnya yang ramping dan cukup tinggi. Rambut Kiara dibiarkan tergerai ke bahunya. Ada sebuah jepit rambut dengan ornamen bunga mungil yang menambah manis tampilannya. Jepit rambut itu ada dalam kemasan pakaian yang dibawakan oleh Daniel.
Ketika kiara bercermin dan merapikan rambutnya dengan sisir, Aldi tiba-tiba memeluknya dari belakang. Kiara awalnya tegang karena terkejut. Aldi juga menyadari keterkejutan Kiara berikut dengan perasaan tegang yang dialami istrinya. Aldi merutuki dirinya karena hal ini. Dia seharusnya bersikap lebih lembut lagi. Aldi selalu lupa bahwa dia harus lebih berhati- hati dalam bersikap maupun berbuat sesuatu kepada istrinya.
"Maaf. Sudah membuat kamu terkejut, sayang." Aldi setengah berbisik di samping Kiara sambil tetap tidak melepaskan pelukannya. Aldi berusaha bersikap biasa dan hangat, seolah tidak menyadari perubahan dan kekagetan Kiara.
"Kamu terlalu cantik dan manis. Aku tidak tahan untuk tidak memeluk kamu yang seperti ini." Tambah Aldi
"Benarkah?" Tanggapan Kiara sangat singkat.
"Benar. Aku jadi tidak ingin kemana pun. Ingin berduaan begini saja seharian."
"Kita harus keluar, Al. Aku ingin melihat kak Bella. Aku harus berterima kasih." Kiara menanggapi ucapan Aldi dengan serius. Kiara mengira Aldi serius tidak ingin keluar bersamanya hari ini.
"Baiklah. Tapi kenakan blazernya ya. Kota ini begitu dingin. Jauh berbeda dengan Jakarta." Aldi memakaikan blazer dengan warna senada yang diambil dari kantong tas yang lain. Kiara sendiri tidak tahu ada blazer untuknya. Dia kira di dalam tas yang itu berisi pakaian Aldi semua.
Kiara melihat ke arah Aldi yang hanya mengenakan sweater yang menutupi lehernya dan celana bahan berwarna gelap. Jika dilihat-lihat, mereka memakai pakaian dengan warna yang sama. Mereka berdua tampak serasi. Kiara tersenyum melihat hal ini. Kiara tidak menyangka berada di sini bersama Aldi saat ini.
Kemarin Kiara tidak memiliki harapan apapun. Hanya berusaha bertahan selama mungkin untuk tetap siaga di sekitar Ferdi. Tapi hari ini Kiara bisa menghapus sikap kewaspadaannya. Semua itu tidak lain karena keberadaan pria ini, suaminya yang selalu saja tampak mempesona.
"Kita berangkat sekarang?" Ajak Aldi.
Keduanya keluar dari hotel dan disambut oleh Daniel yang hari ini menjadi asisten sekaligus supir mereka berdua. 'Jadi asisten Aldi harus serba bisa.' Pikir Kiara ketika menatap Daniel yang duduk di belakang kemudi.
"Jangan memikirkan pria lain ketika bersama denganku. Apalagi jika pria itu asistenku." Kalimat Aldi sukses membuat Kiara menoleh kepadanya.
"Kamu semakin pandai membaca pikiran aku ya, Al." Pria ini kenapa semakin menggemaskan. Aku memikirkan asistennya saja dia menjadi protes begini.
"Aku berusaha memahami apa yang ada dalam kepala kamu ini. Biar aku tahu apa yang kamu inginkan." Aldi membelai rambut Kiara.
"Aku cuma ingin menghabiskan waktu sama kamu, bersama kamu aja terus."
__ADS_1
"Jadi masih suka aku kerja di rumah terus seperti ketika sakit?"
"Begitu juga boleh." Sahut Kiara dengan enteng tanpa pikir panjang.
"Aku bisa bikin seperti itu kalau kamu maunya begitu. Biarkan Mike yang akan handle BLUE CORP. Aku akan memantau dari jauh sambil memanjakan istriku di rumah saja setiap hari." Aldi tampak serius.
Kiara ingin menahan tawa melihat hal ini.
"Al, kamu serius?" Kiara tertawa.
"Aku selalu serius jika mengenai kamu." Aldi tidak terlihat bercanda,
"Hentikan, Al. Aku bercanda. Aku tidak akan menjerat kamu agar selalu menemaniku di rumah."
"Tapi aku suka menemani kamu di rumah terus-terusan. Bagaimana dong?"
"Tapi aku nggak suka punya suami yang nggak kerja. Bagaimana aku bisa hidup dan berbelanja sesuka hati jika suamiku nggak mau pergi ngantor untuk bekerja." Kiara cemberut dengan tangan bersendekap di dada.
"Aku percaya kamu bisa kasih aku kecukupan materi meski diam di rumah sama aku. Tapi aku nggak mau otak cerdas dan segala kelebihan yang kamu punya untuk menjadi pemimpin BLUE CORP sia-sia."
"Kamu begitu sayang sama aku, ya Ra." Aldi mencium buku-buku jari Kiara. Sementara hanya diam menatap pria itu.
🌸🌸🌸🌸
Di pagi yang sama, Bima pun masih sedang bersama Bella di rumah sakit.
"Aku suapi ya." Bima menyendok bubur yang masih hangat dari mangkuknya. Bersiap mengangkat sendok itu hingga ke depan bibir Bella.
"Aku akan memakannya sendiri nanti. Aku masih belum ingin makan."
Bima tidak suka penolakan, Bella sadar itu. Tapi kali ini Bella tidak ingin berpura-pura lagi. Bella tidak ingin menyetujui semua hal yang Bima inginkan.
__ADS_1
"Apa buburnya tidak membuat kamu berselera untuk makan? Padahal wangi aromatik nya harum banget loh."
Di luar dugaan Bella, Bima bukannya marah, malah berbicara dengan nada yang kekanak-kanakan. Sikap Bima ini membuat Bella diam menatap pria itu. Sikap Bima yang semacam ini begitu asing dan aneh bagi Bella.
"Iya, nanti aku makan." Bella berusaha berkompromi.
"Kalo nanti, buburnya tidak akan selezat sekarang. Kalo nanti udah dingin, teksturnya tidak akan lembut seperti ketika masih hangat gini. Nanti bakal agak keras, Bella." Bima bicara dengan perlahan. Berusaha membujuk Bella untuk makan.
Bella pun semakin merasa aneh. Bella tidak tahu harus bagaimana menolaknya. Bella hanya diam menatap Bima.
"Aaak... Buka mulut kamu." Melihat Bella yang hanya diam menatap Bima tanpa menyuarakan penolakannya, Bima membawa sesendok bubur ke depan bibir Bella dan mengisyaratkan Bell untuk membuka mulutnya.
Bella melihat bubur yang sudah tinggal dia lahap begitu membuka mulutnya. Lalu mencium aroma wangi aromatik bahan-bahan yang menguar dari satu sendok yang berada di hadapannya itu. Bella pun berpikir, tidak ada salahnya lah makan satu sendok ini saja. Bima sudah terlanjur memisahkan satu sendok ini dari teman-teman buburnya yang masih di mangkok. Kasihan jika satu sendok bubur ini terabaikan hingga terbuang.
Bima melihat usahanya berhasil. Bella memakan suapan pertama bubur yang dia berikan. Ada rasa hangat dan senang melihat Bella mau memakan suapan bubur darinya.
"Gimana? Buburnya enak kan?" Begitu semua yang ada di mulut Bella berhasil ditelan, Bima langsung menyorotinya pertanyaan yang tidak bisa dielakkan.
"Ya, wangi sekali." Jawab Bella singkat.
"Kalau begitu kita lanjutkan makanan suapan kedua ya. A..." Bima dengan cepat sudah mengambil sesendok bubur lagi dan membawanya ke hadapan Bella.
Begitu terus hingga Bella menghabiskan separuh isi mangkuk bubur yang Bima bawa.
🌸🌸🌸🌸
Hai Readers
Otewe nulis chapter 2 hari ini. Ada yg masih nungguin lanjutannya?
_Dinda^^
__ADS_1