
Irma kebingungan. Tidak tahu apakah harus menuruti perintah nona mudanya atau tidak. Tugas utamanya adalah melayani Kiara dengan segenap hati dan melakukan apapun perintah Kiara, majikannya.
Tapi di sisi lain Irma tidak tahu apakah tuan muda Aldi memperbolehkannya bercerita. Ingin rasanya Irma bertanya dulu kepada sang tuan muda. Tapi Kiara di hadapannya ingin jawaban Irma saat itu juga.
"Kenapa kamu enggan menjawab pertanyaan aku? Apa benar tadi malam terjadi sesuatu?"
"Saya tidak tahu apakah saya boleh memberi tahu nona."
"Jangan membuat aku semakin penasaran! Apa yang terjadi ketika aku dibawa kemari tadi malam?"
Irma bergetar ketakutan.
"Tuan muda dan nona dalam kondisi tidak sadarkan diri. Tuan muda berdarah banyak. Tuan Daniel langsung melarikan tuan muda ke rumah sakit dan meminta kami merawat nona."
Aldi terluka parah. Terluka karena nyelametin dirinya. Kenapa Aldi menyembunyikannya? kenapa Aldi berusaha terlihat baik-baik saja dan tampak sehat?
"Jadi Aldi baru pulang dari rumah sakit malam ini?" Kiara harus tahu lebih banyak lagi.
"Saya kurang tahu kapan tuan muda keluar rumah sakit, nona." Irma memang tidak tahu tuan muda Aldi dari rumah sakit atau kantor.
Ketika Aldi datang tadi, sudah dalam setelan jas rapi dan tidak ada tanda-tanda bekas luka sama sekali yang tampak.
"Bagaimana kamu bisa tidak tahu?"
"Sejak nona bangun, kami memberikan laporan kepada tuan Daniel. Lalu siang tadi tuan muda Aldi mulai memberikan beberapa instruksi langsung kepada saya mengenai nona muda."
Kiara terdiam cukup lama dan berpikir kembali.
"Dimana Aldi dan Daniel sekarang?"
"Di ruang kerja, nona." Jawab Irma singkat.
"Antarkan aku ke ruang kerja Aldi!" Perintah Kiara dengan tegas. Tidak ingin dibantah atau ditolak dengan alasan apapun. Irma hanya bisa menunduk dan menunjukkan dimana ruang kerja Aldi berada.
Irma mengajak Kiara ke lantai dua melewati tangga berputar di ruang keluarga. Setelah berjalan agak lumayan, Irma berhenti di depan pintu ruang kerja Aldi yang tertutup rapat.
"Kamu bisa pergi, Irma." Nada bicara Kiara masih saja tegas.Dia tidak menerima penolakan.
Setelah Irma pergi, Kiara mengetuk pintu ruang kerja Aldi.
"Tok.. tok.. tok... Al, ijinkan aku masuk."
__ADS_1
Daniel membukakan pintu untuk Kiara.
"Ada apa?" Sapaan Aldi tidak bersahabat. Seolah sedang marah.
"Aku ingin bicara sama kamu." Kiara berbicara dengan pelan.
"Kita sudah cukup banyak bicara tadi."
'Sebelumnya Aldi masih bersikap lembut di tepi kolam renang. Sekarang sudah keluar lagi mode pemarah seperti ketika di ruang makan. Apa yang memicu kemarahannya?' Kiara bengong memikirkan hal ini. Membuat Aldi semakin kesal karena tidak ditanggapi.
"Masih ada yang ingin ku bicarakan sama kamu, Al." Kiara menatap Aldi kemudian menoleh kepada Daniel. "Bisakah pak Daniel meminjamkan Aldi kepada saya sebentar?"
"I.. Iya tentu saja nona. Saya permisi." Daniel seketika keluar dari ruang kerja. Memberikan kedua pasangan suami istri itu ruang.
"Daniel itu bawahan saya. Ngapain kamu panggil pak dengan sopan!"
"Bersikap sopan ya. Bukankah kepada semua orang kita harus bersopan santun?" Kiara menatap Aldi dengan sorot mata polosnya.
Ingin rasanya Aldi merengkuh dan mencium istrinya yang polos ini.
"Yang seharusnya bersikap sopan ya bawahan sama atasannya. Untuk bos ya bebas. Mau bersopan santun maupun nggak, tidak ada masalah."
"Kamu itu istrinya bos. Jadi kamu punya hak yang sama seperti sang bos, yaitu aku. Kamu bebas nyuruh bawahan aku untuk kepentingan kamu." Kini nada bicara Aldi tidak lagi kasar. Aldi menjelaskan dengan lembut sambil menatap Kiara yang sudah ada di hadapannya.
"Baiklah. Aku akan menjadi istri bos Aldi yang bisa memanfaatkan semua anak buahnya untuk kesenangan istri bos." Kiara tak bisa menahan tawa.
"Itu lebih baik." Jawab Aldi singkat. "Ada apa?"
"Aku ingin tahu luka kamu. Kamu terluka di bagian mana?"
"Bagaimana kamu bisa tahu? Aku sudah melarang semua orang memberitahu kamu mengenai hal ini." Tatapan Aldi mulai mengeras lagi. Menuntut jawaban Kiara.
"Kamu lupa aku istri bos? Aku memanfaatkan posisiku untuk mendapatkan informasi yang aku inginkan." Kiara tidak ingin terintimidasi dengan tatapan Aldi.
"Sejauh mana informasi yang kamu dapatkan?" Aldi tidak bisa membantah ucapan Kiara. Dia butuh tahu apa saja yang Kiara ketahui.
"Hanya mengenai kamu yang terluka bersimbah darah ketika sampai di rumah ini. Makanya aku mau kamu ceritakan kepadaku lebih banyak mengenai hal ini."
"Hanya itu?" Aldi memastikan.
"Iya. Katanya kamu dilarikan ke rumah sakit sama Daniel. Tapi malam ini sudah muncul di hadapanku. Bagaimana dengan luka kamu?"
__ADS_1
"Itu hanya luka tusukan yang tidak terlalu dalam. Aku sudah bisa berdiri di hadapan kamu seperti sediakala setelah mendapat penanganan di rumah sakit. Aku baik-baik saja Kiara."
Aldi menceritakan hal yang mengerikan bagi Kiara dengan santainya. Kiara tidak menyangka Aldi kena tusukan pisau karena menyelamatkan dirinya.
"Kenapa kamu tidak bercerita?"
"Untuk apa diceritakan? Aku sudah baik-baik saja. Tidak kurang satupun apa."
"Bagian mana yang terluka? Tante Adelia yang melakukannya?"
"Berhenti mengkhawatirkan aku, Kiara. Istirahatlah." Aldi dengan lembut menolak Kiara untuk memperlihatkan lukanya.
"Jangan seperti ini, Al. Kamu terluka karena nyelametin aku. Tapi kamu nutupin semuanya seolah kamu nggak kenapa-kenapa." Mata Kiara mulai memerah.
Aldi mulai goyah. Aldi memilih memenuhi keinginan Kiara. Tapi Aldi tidak akan bisa mengatakan semua hal kepada istrinya.
"Ketika aku sampai di Villa, aku terkejut karena kondisi pakaian kamu yang berantakan. Aku langsung mengecek kondisi kamu dan merapikan baju kamu. Aku lengah hingga tidak memperhatikan pria bermasker yang nyulik kamu berusaha menusuk aku dari belakang."
Kiara seketika menutup mulutnya tak percaya. Kiara tidak menyangka Aldi terkena tusukan karena menyelamatkannya. "Aku... aku.. mereka sudah melecehkan aku?"
"Tenanglah Kiara. Kamu masih ingin aku bercerita?"
Kiara diam dan menanti Aldi melanjutkan ceritanya.
"Aku yakin kamu belum diapa-apain sama pria itu. Dia baru mulai melakukan sesuatu sama kamu. Tapi terhenti karena kedatangan aku. "
"Lalu?" Kiara masih tidak percaya sepenuhnya dengan cerita Aldi ini.
"Merasa berhasil melukaiku, dia kabur terlebih dahulu. Dia yakin aku tidak bisa kabur terlalu jauh sama kamu dengan luka seperti itu."
Kiara menanti kelanjutan cerita Aldi. Kiara tak berkomentar sedikitpun.
"Aku membebat luka tusukan itu. Aku harus membawa kamu pergi secepatnya sebelum ada serangan gelombang kedua dari tante Adelia maupun pria itu."
"Itulah kenapa aku tiba di rumah ini dalam kondisi kehilangan banyak darah. Tapi aku sudah dirawat dan kini baik-baik saja. Jadi tenanglah, Kiara."
"Apa kamu akan berniat menyembunyikannya sampai akhir jika aku tidak tahu dengan sendirinya?"
"Ya. Aku memilih lebih baik kamu tidak tahu." Aldi menjawab dengan tenang.
"Kenapa?" Pertanyaan Kiara dijawab dengan tatapan Aldi yang cukup lama. Tidak ada jawaban yang Kiara dapatkan. Tapi tatapan itu begitu hangat hingga Kiara berkhayal bahwa Aldi mencintainya.
__ADS_1