
Mike terkejut dengan perkenalan sekertaris Aldi yang baru. Tidak mungkin wanita ini Kiara.
"Bagaimana mungkin kamu Kiara! Jangan membohongiku!" Mike tidak begitu mudah percaya perkataan sekertaris Rara. Wajahnya begitu berbeda dengan Kiara.
"Hanya merubah sedikit dandanan saja kamu sudah nggak mengenaliku, Mike." Kini Rara menggunakan akses bicara Kiara. Terdengar seperti Kiara yang sedang berbicara.
"Kamu beneran Kiara?" Mike mencoba meyakinkan dirinya.
Tapi bukan sekertaris Rara yang menjawab. Tapi kini Aldi yang menjawab pertanyaannya dengan pamer kemesraan terlebih dahulu. Aldi berdiri dari kursi kebesarannya di kantor dan mendekati sekertaris Rara. Tanpa Mike maupun wanita itu duga, Aldi langsung mencium bibir wanita imut itu.
Mike shock melihatnya. Aldi bukan tipe yang suka pamer hal-hal vulgar semacam ini. Dia tau batasan. Hanya Kiara yang bisa membuatnya keluar batas. Dan semua wanita di dunia membuatnya alergi.
Hanya wanita tertentu saja yang bisa melakukan kontak fisik dengannya. Bahkan Verlita dan Bella yang menjadi mantannya juga tidak pernah berciuman dengan Aldi. Mike tahu itu dengan jelas. Karena Aldi seolah alergi berdekatan dengan kaum hawa. Hanya Kiara yang bisa menyentuh Aldi.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Mike kepanasan melihat mereka berdua berciuman begitu lama.
"Aku akan keluar dari ruangan ini jika kalian belum mau menyelesaikan apa yang sedang kalian lakukan saat ini." Mike heran kenapa dua sejoli yang bertemu hampir 24 jam sehari ini ciuman dengan intens dan begitu lama. Bukankah mereka sudah sering melakukannya?
Yang bereaksi dengan ancaman Mike untuk keluar dari ruangan ini malah sekretarisnya. Dengan sekuat tenaga Rara mendorong Aldi. Mereka harus mengendalikan diri.
"Apa kalian sudah lama tidak melakukan hal ini? Yang benar saja. Kalian berdua pamer kemesraan dengan begitu intens di hadapanku." Mike pura-pura marah. Tapi sebenarnya dia merasa lucu dengan kelakuan pasangan di hadapannya ini.
"Sudah sejak berangkat tadi aku ingin melakukan ini. Wajah gadis SMA nya ini membuat aku susah mengendalikan diri. Kamu akan tahu bagaimana susahnya mengendalikan diri jika sudah punya pasangan, Mike."
"Okey. Lupakan hal mengenai aku. Kalian membuat aku penasaran. Untuk apa semua penyamaran ini?" Mike kembali menanyakan pertanyaan yang sama.
"Ra, sebaiknya kamu sendiri yang menceritakannya." Aldi masih merangkul pinggang Rara. Rangkulan itu menyebabkan mereka masih saja menempel satu sama lain.
"Nggak ada yang perlu dijelaskan, Mike. Aku rasa kamu sudah lihat sendiri alasannya barusan."
"Kalian ingin melakukannya di kantor? Tidak cukup puas kah menjelajahi rumah besar keluarga Wiji Sasongko?"
__ADS_1
"Tentu tidak cukup." Kali ini Aldi yang menyahut.
"Oke, baiklah. Lalu untuk apa semua penyamaran ini? Kamu bisa menduduki jabatan salah satu dewan direksi, direktur atau jabatan tinggi lain dengan status Kamu sebagai nyonya muda perusahaan ini." Mike menatap Aldi. Menuntut jawaban.
Yang ditatap Mike, yaitu Aldi, malah tersenyum sumringah. ' Bagus sekali Mike, kamu menanyakan bagian yang aku juga masih penasaran tentangnya.'
Aldi kemudian memberikan tatapan yang berarti kepada Rara agar mau menjelaskan kepada Mike alasannya.
"Aku terbiasa bekerja, Mike. Diam di rumah sebagai nyonya besar tidak cocok untukku."
Kiara tidak mengungkap alasan yang sama persis dengan alasan yang tadi malam. Wanitanya ini pandai juga mengatur kalimatnya.
"Kamu nggak harus menutupi identitas kamu dan bekerja sebagai staf."
"Dengan menjadi staf biasa begini, aku bisa lebih sering melihatnya." Sebuah tatapan manja ditujukan kepada Aldi.
Mike merasa ingin segera keluar dari ruangan ini.
"Jadi kamu pasti tahu kenapa aku harus menyamar untuk bekerja di samping bos besar kamu ini."
Mike menertawakan kelakuan Aldi barusan. Dia sudah bucin banget sama istrinya. Apapun yang diinginkan Kiara pasti dikabulkan tanpa pikir panjang. Pria dingin itu banyak berubah karena istrinya.
Sementara itu Kiara dan Aldi yang hanya berdua di ruangannya kini salah tingkah. Aldi merasa terlalu dekat dengan Kiara. Saatnya kembali ke pekerjaannya.
"Ra, Daniel sudah handle sebagian besar kerjaan asisten merangkap sekertaris. Kamu nggak boleh terlalu capek, okey." Aldi mengalihkan topik ke pekerjaan. Itu lebih aman dari pada memikirkan keinginannya untuk melakukan sesuatu kepada istrinya di ruangan ini.
"Oke. Meja kerja aku dimana?" Kiara tidak melihat ada meja di luar ruangan Aldi yang kosong. Di luar hanya ada dua meja. Satu milik Daniel sang asisten, sementara satunya lagi juga asisten Aldi yang Kiara sendiri lupa namanya. Sering kali Kiara hanya melihat Daniel di sekitar Aldi.
"Tentu saja di dalam ruangan ini. Daniel masih pesan meja buat kamu. Jadi hari ini kamu nggak ada kerjaan. Cukup duduk di sofa dengan santai nunggu aku kerja, seperti ketika kita biasanya di rumah." Aldi melihat ekspresi Kiara berubah.
"Tidak, Al. Nggak bisa seperti itu. Aku beneran ingin menambah pengalaman dan kerja di Blue Corp. Jika aku se-ruangan sama kamu, aku nggak bisa fokus kerja dan berkembang. Ijinkan aku di depan ruangan kamu aja ya, Al." Wajah Kiara berubah memelas. Tidak mungkin Aldi tega untuk tidak mengabulkan permintaan kekasihnya ini.
__ADS_1
Tapi Aldi juga enggan membuat Kiara dekat dengan dia orang asisten di luar yang merupakan seorang pria.
"Ra, kamu bukannya ingin bersama aku 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu?" Alasan ini akan lebih masuk akal dari pada memberikan alasan mengenai para pria di luar. Aldi merasa Kiara akan setuju se-ruangan dengannya.
Kiara tidak menyangka senjatanya akan berbalik menyerangnya. Kalau alasannya karena hal ini, Kiara tidak punya cara untuk membantah.
🌸🌸🌸🌸
Di saat yang sama, Bella dan Bima sedang makan siang bersama. Letak rumah baru mereka cukup dekat dengan kantor Bima saat ini.
Bima sekarang kembali kerja di kantor pusat Atmaja Grup. Bima sudah tidak lagi berkantor di Hotel Marriot. Selain letaknya yang cukup jauh dari rumah barunya, Bima juga tidak ingin teringat kenangan lamanya ketika bekerja di sana bersama Kiara.
"Makan lebih banyak, Bel." Bima menyendok kan ayam panggang ke piring Bella.
Melihat hal itu, Bella memandang Bima yang hari ini secara khusus pulang untuk makan siang bersamanya.
"Makan banyak protein baik untuk penyembuhan luka." Bima melihat tatapan Bella yang sebelumnya merasa aneh.
Bella sendiri tidak membalas perkataan Bima. Bella memilih menggigit potongan ayam panggang yang diambilkan Bima. Dengan perlahan berusaha memakannya meski sedikit.
"Jangan memikirkan mimpi buruk itu lagi. Aku akan berusaha mengubah semua hal buruk menjadi indah. Berikan aku kesempatan untuk merubah hubungan kita menjadi lebih baik."
Bella berhenti mengunyah makanannya. Bima ternyata tau mengenai mimpi buruknya setiap malam.
Bella meletakkan makanannya dan menatap Bima. Melanjutkan mengunyah makanan yang sudah terlanjur masuk ke mulutnya. Bella menekan makanan itu dengan susah payah sambil menatap mata Bima.
'Jangan percaya janji dan mulut manis pria ini, Bel. Kamu telah melakukan semua hal yang kamu bisa. Jika percaya akan janjinya lagi, kamu bisa gila.' Bella meyakinkan dirinya untuk tidak percaya atau berharap.
🌸🌸🌸🌸
Hai Readers
__ADS_1
Hari terakhir liburan singkat ya ges.. Yang gak kemana-mana seperti saya aja. Baca novel sepuasnya.
_Dinda^^