Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Satu minggu pertama di WS TECH


__ADS_3

Seminggu berlalu dalam sekejap mata. Kiara senang bekerja di WS TECH. Kiara merasa senang bisa menjalankan tugasnya sebagai sekertaris sekaligus sebagai istri Aldi di kantor itu.


Sejak seminggu yang lalu, Kiara rutin membuat sarapan sekaligus menu berbeda untuk bekal makan siang Aldi dan dirinya.


Awalnya Kiara berpikir akan makan di bawah air mancur yang berada di depan WS TECH. Tapi Aldi benar. Mana mungkin Kiara tidak malu makan di tempat umum tempat banyak orang asing maupun pegawai kantor berlalu lalang seperti itu.


Kiara membuat bekal makan siang untuk menghindari makan di cafe. Dia risih dengan tatapan pegawai lainnya. Tidak mungkin Kiara sanggup makan di tempat yang memiliki lebih banyak pegawai di sekitarnya.


Sambil memikirkan akan makan bekal dimana, Kiara mendatangi meja kerja Aldi di lantai bawah dengan tas berisi bekal makan siang di tangannya. Aldi nampak masih sibuk mengetikkan sesuatu di keyboard komputernya.


"Dalam lima menit aku akan menyelesaikan ini. Duduklah dulu." Mata Aldi tidak beralih dari layar komputernya.


Kiara duduk menuruti perkataan Aldi. Memikirkan bagaimana dulu Aldi selalu mengabaikan Kiara di saat bekerja dengan koding programnya. Aldi telah berubah lebih baik. Tidak sedingin awalnya.


Kiara tersenyum-senyum memikirkan semua itu. Senyumnya tertangkap basah oleh Aldi yang sudah menyelesaikan pekerjaannya.


"Sedang senang?" Aldi dalam proses mematikan komputernya.


"Apa?" Kiara yang tidak paham arah pembicaraan Aldi juga bingung.


"Kamu senyum-senyum sendiri begitu kenapa? Sedang senang mau makan bareng aku?" Aldi berdecak sambil berdiri dari kursi kerjanya.


Aldi mengenakan kemeja polos berwarna biru pucat dengan dasi. Tanpa jas layaknya eksekutif muda seperti Bima. Tapi masih saja nampak tampan dan auranya seperti seorang pemimpin. Nada bicaranya ketika di kantor selalu tegas dan berwibawa.


"Aku bingung kita makan dimana."


"Bukannya di air mancur bawah?"


"Aku baru sadar bahwa di sana lebih ramai dari pada di cafetaria kantor."


"Oh. Kamu mau yang sepi supaya hanya berduaan denganku?"

__ADS_1


"A.. apa! Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin terganggu dengan pegawai lain ketika makan."


"Masa' ? Kalo kamu mengaku ingin berduaan sam aku, bakal aku ajak ke tempat yang kamu inginkan tadi." Aldi mendekat ke telinga Kiara membisikkan hal ini. Membuat Kiara merinding.


"Ih, Aldi apaan." Kiara mendorong Aldi dan membuat jarak.


"Gitu aja kamu sudah memerah malu. Haha" Aldi tertawa lepas untuk pertama kalinya. Kiara saja heran melihat Aldi se-senang itu.


"Ayo Al. Keburu jam makan siang habis."


"Iya. Ayo." Aldi menggandeng tangan Kiara menuju lift. Kiara hanya menatap tangannya yang digenggam Aldi tanpa menolak atau berkomentar.


Mereka naik ke lantai paling atas. Lantai dimana Kiara bekerja sekaligus ruang kantor CEO berada. Kiara yang bingung akan diajak kemana hanya bisa diam menunggu Aldi akan mengajak kemana.


Setibanya di lift lantai paling atas, Kiara agak berdebar. Khawatir akan mendapat teguran.


Aldi menggandeng Kiara keluar dari lift menuju ruangan paling ujung. Kiara ingat bahwa ini adalah deretan ruang meeting.


Ada lagi satu ruangan meeting yang luasnya dapat menampung seluruh pegawai WS TECH di dalamnya. Tapi ruang itu berada satu lantai di bawah mereka saat ini.


"Al, kita akan makan dimana?" Kiara tidak tahan lagi untuk bertanya.


Tapi Aldi mempercepat langkahnya dan mendorong ruang meeting paling ujung.


Ruang meeting ini yang paling kecil. Biasanya klien yang berjumlah dua hingga lima orang akan diajak meeting di ruangan ini.


"Ini ruang meeting yang paling sering tidak dipakai karena terlalu kecil."


"Apa boleh kita menggunakan ruangan ini."


"Tentu boleh. Asal kamu tidak bercerita kepada teman-teman kantor kamu." Aldi memasang tanda tutup mulut dengan meletakkan jari telunjuk di mulut Kiara.

__ADS_1


Kiara seketika berdebar merasakan bibirnya disentuh oleh jari Aldi. Sementara Aldi yang merasakan bibir lembut Kiara melalui jari telunjuknya juga terdiam. Aldi tidak sadar telah melakukan langkah yang salah. Pandangannya tidak bisa beralih dari Kiara, terutama bibirnya.


Beberapa detik berlalu. Kiara lah yang memutuskan kontak mata keduanya.


"Ayo kita makan." Kiara meletakkan cooler bag yang dia bawa. Mengeluarkan beberapa kotak makan di dalamnya beserta dua botol minuman.


Keduanya menghindari topik yang mengarah ke masalah pribadi mereka.


Begitulah satu minggu yang Kiara lalui. Sibuk dengan pekerjaan kantor di siang hari dan menyiapkan bahan makanan di malam hari untuk menu makan berdua dengan Aldi dari sarapan hingg makan malam.


Aldi beberapa kali menawarkan makan malam di luar atau pesan makan siang dari luar. Tapi Kiara menolak.


Kiara sangat suka memasak. Ada perasaan senang melihat orang yang memakan masakan Kiara dengan ekspresi puas dengan rasa masakannya.


Setelah memiliki banyak tabungan di rekening yang diberikan oleh suaminya itu, Kiara tidak merasa kekurangan uang atau merasa harus berhemat. Kiara bisa bebas memasak bahan makanan yang cukup mahal. Yang dulunya tidak mampu. Kiara beli setiap hari.


Kiara juga memikirkan dari sisi kesehatan. Memasak makanan mereka sendiri membuat Kiara merasa yakin bahwa yang dia makan adalah makanan sehat yang tercukupi gizinya. Kiara dapat menambahkan banyak sayuran dan variasi makanan yang tidak tersedia di banyak restoran.


Yang semakin membuat Kiara tetap termotivasi dengan untuk memasak adalah Aldi. Dia selalu memakan apapun menu masakan yang Kiara sajikan. Tidak ada ekspresi keberatan sedikitpun di wajah Aldi ketika memakan apa yang Kiara sajikan.


Entah Aldi penyuka sayur atau tidak, Kiara tidak tahu. Tapi setiap sayuran yang Kiara oleh untuk Aldi selalu dihabiskan tak bersisa. Kiara sangat senang memasak makanan untuk Aldi.


Kiara yakin, makanan yang Kiara olah untuk Aldi akan mendekatkan mereka berdua. Ada usaha Kiara untuk menjadikannya layak di makan dalam setiap makanan yang disajikan untuk Aldi. Ada usaha yang sepenuh hati Kiara berikan untuk setiap suapan yang masuk ke mulut Aldi.


Di WS TECH juga Kiara tidak memiliki beban kerja seberat General Manajer Hotel Marriot. Pekerjaannya tidak membutuhkan banyak pemikiran di dalamnya. Pekerjaan administrasi di bagian sekeretariat terlalu mudah baginya.


Hal itu membuat Kiara tidak terlalu lelah. Kiara masih memiliki cukup tenaga dan pikiran untuk memasak makan malam hingga menyiapkan bahan untuk sarapan dan makan siang.


Aldi juga mulai rutin membantu Kiara untuk mencuci piring setelah mereka makan malam. Bahkan tadi malam Aldi bersedia mengambil alih pekerjaan Kiara untuk membersihkan lantai rumah dengan vakuum cleaner.


Membayangkan semua itu membuat Kiara yang saat ini sedang berada di hadapan Aldi untuk menanti makan siang bersama menjadi tersenyum bahagia. Seminggu di WS TECH cukup menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2