
Kemunculan Aldi sebagai CEO membuat Bima kembali menyusun rencana lain dalam memisahkan Kiara dengan Aldi. Membeli WS TECH dan memecat Aldi hingga membuat mentalnya tertekan sudah tidak mungkin.
Awalnya Bima hendak mengirim Verlita ke ranjang Aldi ketika dia sedang kena tekanan mental akibat pemecatannya dari WS TECH. Tapi kini rencananya harus diubah. Aldi adalah pemilik WS TECH. Untuk merampas WS TECH dari tangan Aldi membutuhkan usaha yang besar. Lebih baik Bima memikirkan cara lain dalam membuat keretakan hubungannya dengan Kiara.
"Sampaikan kepada Aldi, aku ingin membuat janji bertemu di hotel Marriot untuk membicarakan kerja sama bisnis dengan Atmaja Grup hari ini." Daniel berada di ujung telepon Bima.
"Baik, pak Bima. Kami akan mengirimkan waktunya jika pak Aldi bisa datang."
Tidak lama kemudian, Daniel mengirimkan pesan untuk bertemu di sore hari. Aldi masih harus melakukan seleksi akhir pegawai hari ini.
Bima merasa senang dan langsung menghubungi Verlita supaya bersiap di hotel Marriot sore ini.
"Aku rasa tidak bisa melakukan ini dengan Aldi." Verlita berusaha menolak.
"Kamu tidak bisa mundur sekarang, Verlita. Aku tidak bisa menemukan wanita sembarangan untuk membuat Kiara percaya. Harus mantan Aldi."
"Aku bukan satu-satunya mantan Aldi. Kamu pasti tahu itu."
"Jangan main-main denganku, Verlita. Kamu mau membuat istriku tidur dengan mantannya? Kamu kira aku gila!" Bima mulai emosi.
"Tenang dulu, pak Bima. Aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja pak Bima bilang harus saya karena saya mantannya. Saya yakin bukan hanya saya mantan Aldi."
"Kamu tidak bisa menolak, Verlita."
"Baiklah, pak Bima. Begini saja. Saya akan merekayasa bukti seolah kami tidur bersama. Tapi saya tidak akan tidur dengan Aldi. Bagaimana?"
"Kamu yakin bisa melakukan itu?"
"Tentu saja."
Verlita menghela nafas lega. Setelah mempertimbangkan banyak hal, Verlita tidak ingin semakin merasa bersalah kepada Aldi. Sudah cukup pengkhianatannya dulu.
Mengetahui Aldi sudah menjadi seorang CEO perusahaan sekelas WS TECH sudah menjadi tamparan tersendiri baginya. Jika dulu dia tidak mencuri program buatan Aldi dan memasuki Beli Corp sendiri, bisa jadi kini Verlitalah yang menjadi istri seorang Aldi.
Tapi membantah Bima tidaklah mungkin juga baginya. Verlita hanya bisa melakukan ini.
Bima terdiam cukup lama memikirkan usulan Verlita.
__ADS_1
"Aku akan memikirkannya. Sekarang kamu segera mengatur waktu supaya bisa ke sini."
Pada saat yang sama, Kiara yang berada jauh dari Jakarta sama sekali tidak mengetahui ada pemberitaan yang menggemparkan di dunia bisnis.
"Kak Kiara kok tumben tidak ada acara telepon-menelepon hingga lama sama kak Aldi?" Tanya salah seorang adik panti.
"Sepertinya dia sedang tidak memiliki banyak waktu luang untuk menghubungi kakak" Jawab Kiara dengan senyum. Mengingat Aldi masih membuat hatinya bahagia dan berbunga.
"Kakak apa tidak rindu? Kok betah jauh dari cowok tampan seperti kak Aldi. Nanti ada yang ambil loh."
"Dia bukan barang yang bisa dengan mudah diambil orang lain, dek. Dia sudah jadi milik kakak Kiara." Kiara masih merasa lucu dengan pertanyaan demi pertanyaan adik panti.
"Ya kan kak Aldi barang bagus. Tampannya melebihi rata-rata. Aku saja kalo sudah dewasa bakal berusaha menarik perhatian dia meski tahu kak Kiara adalah pasangannya. Sayang sekali aku masih kecil."
Kiara tidak bisa menahan tawa mendengar pernyataan gadis kecil di hadapannya.
Kiara sendiri membenarkan perkataan gadis kecil ini. Aldi terlalu tampan. Dia bisa dengan mudah menarik perhatian gadis mana pun yang lebih cantik, lebih pintar, lebih kaya dan juga lebih segalanya dari Kiara.
"Kamu benar, dek. Kakak seharusnya lebih berhati-hati memiliki cowok setampan itu. Bakal banyak yang lirik dan mendekati."
"Kakak mau hubungi cowok tampan kak Kiara dulu ya. Kak Kiara balik ke kamar dulu ya."
Kiara bergegas ke kamar tidurnya dan menghubungi Aldi. Tapi sayang tidak ada yang mengangkat telefonnya. Kiara juga mengecek pesan-pesannya. Tapi tidak ada pesan dari Aldi.
Aldi sendiri baru tiba di hotel Marriot untuk bertemu dengan Bima. Telepon genggamnya dalam mode senyap sejak pagi ini. Aldi juga lupa meninggalkan pesan kepada Kiara yang mengabarkan dirinya hari ini banyak agenda acara.
Bima sangat senang menerima kehadiran Aldi. Mereka bertemu di kantor lama Bima yang berada di hotel Marriot.
"Halo Adik ipar," Bima merangkul Aldi begitu melihat Aldi memasuki ruang kantornya.
Aldi hanya diam bergeming. Entah kenapa panggilan adik ipar ini tidak Aldi sukai.
"Duduklah. Mau kopi, teh atau minuman dingin?" Bima menunjukkan keakraban ekstra dengan basa-basi yang lumrah kepada tamu-tamunya selama ini.
"Yang dingin saja. Dengan gula sedikit."
"Baiklah. Aku pesankan minuman dingin yang banyak diminati di restoran hotel ya. Tunggu sebentar."
__ADS_1
Bima melakukan panggilan telefon seolah-olah ke dapur restoran. Padahal Verlita yang sedang diajak bicara.
Sementara Bima mengajak berbasa-basi dan mengobrol santai. Verlita menghubungi dapur sesuai rencana. memesan minuman dan makanan ringan yang diminta Bima tadi. Lalu menunggu di ruang dekat kantor Bima berada.
Pelayan sudah tiba di ruangan Verlita dalam 10 menit. Verlita kemudian memasukkan obat tidur ke minuman untuk Aldi. Sementara Bima sendiri memesan kopi hitam. Tidak akan tertukar minuman yang untuk Aldi dengan Bima.
Pelayan yang membawa sajian itu mendapat amplop lumayan tebal dari Verlita. Sang pelayan pun pergi ke kantor Bima menyajikan apa yang dia bawa dari dapur.
"Ayo diminum dan dimakan dulu, Al." Ajak Bima usai makanan ringan dan minuman tersaji.
Bima menyeruput kopi hitamnya supaya Aldi juga mengikutinya meminum minuman dinginnya.
Melihat hal itu, Aldi pun mengikuti Bima dengan meminum apa yang ada di hadapannya tanpa ada sedikit pun tatapan curiga.
Bima menyeringai senang melihat Aldi sedang minum.
"Terima kasih, Al. Kamu masih memandang saya sebagai kakak ipar kamu dan melanjutkan kerja sama WS TECH dengan Atmaja Grup." Bima berbasa-basi lagi. Berusaha mengulur waktu hingga obat tidur yang Aldi minum bereaksi.
"Aku melakukan semua itu demi Kiara. Bukan demi kakaknya."
"Kamu tampaknya mulai menyukai Kiara." Bima menahan emosi ketika mengucapkan hal ini.
"Tentu saja. Siapa yang tidak menyukai wanita serba sempurna seperti Kiara. Apa lagi jika Kiara sudah melayani suaminya dengan sepenuh hati." Bima terpancing dengan kalimat Aldi ini.
Bima mengira melayani urusan ranjanglah yang dimaksud oleh Aldi. Padahal Aldi mengacu kepada Kiara yang melayaninya makan dengan masakan lezat setiap hari. Juga menyiapkan kebutuhan kerja Aldi dari pakaian hingga jam tangan dan dasi mana yang cocok Aldi pakai setiap harinya.
"Kalian sudah melakukannya?" Bima sudah tidak tahan dengan rasa penasarannya mengenai sejauh mana hubungan Aldi dengan Kiara.
"Maksud pak Bima melakukan apa?" Aldi sok polos
"Tentu saja melakukan hubungan suami istri." Bima sudah terpancing.
"Menurut kamu? Apa ada suami yang tahan tidak menjamah istri sempurna seperti Kiara?" Aldi mempermainkan Bima. Tapi Aldi mulai mengantuk dan tidak bisa mengedikkan bahunya kepada Bima untuk menyombongkan perkataannya. Aldi mengucapkan ini sambil setengah sadar.
Entah kenapa Aldi merasa matanya terlalu berat. Aldi memilih menuruti rasa kantuknya untuk memejamkan mata dan tertidur lelap di sofa tamu di ruangan Bima.
Bima menghubungi Verlita untuk masuk ke ruang kantornya usai memastikan Aldi benar-benar sudah tidur seolah pingsan.
__ADS_1