
"Hari ini saya ingin memperkenalkan CEO baru kalian," Damien membuka rapat pimpinan BLUE CORP.
"Michael Wiji Sasongko akan menjabat sebagai CEO sementara." Ruangan hening.
Sejak melihat sosok Mike di samping sang Presdir, beberapa orang telah menduga anak dari Presdir Damien akan mulai bekerja di BLUE CORP pusat. Tapi banyak yang tidak menyangka bahwa dia akan langsung menjabat sebagai CEO.
"Mengenai reshuffle jabatan beberapa karyawan yang sebelumnya saya tangani, akan dilanjutkan oleh CEO Michael Wiji Sasongko." Ujar Damien.
"Saya persilahkan kepada CEO baru untuk memberikan sambutan sekaligus perkenalan." Damien mengakhiri bagiannya.
"Selamat pagi. Saya sebelumnya menangani jaringan Mall yang dimiliki oleh BLUE CORP. Saya sangat mengharap kerjasama kalian dalam pengembangan perusahaan kita di kantor pusat ini."
Tepuk tangan terdengar riuh. Meski tepuk tangan itu berawal dari Damien yang merasa bangga mendengar kata sambutan anaknya.
"Selanjutnya saya ingin melakukan rapat terbatas dengan para direktur dan wakil dari penanggung jawab setiap brand yang kita miliki. Bagi yang tidak berkepentingan silahkan kembali melanjutkan pekerjaan bapak/ibu di tempat kerja masing-masing." Mike mengakhiri sambutannya dan membubarkan rapat itu.
Usai rombongan wakil direktur dan setiap kepala bagian meninggalkan ruang rapat, tersisa sebagian kecil saja di ruangan itu. Damien juga kembali ke ruang kerjanya.
Mike menatap para Direktur yang wajahnya cukup familier bagi Mike. Tentu yang paling akrab adalah Verlita. Direktur IT BLUE CORP. Tapi dua orang direktur di kanan dan kiri Verlita juga mengundang perhatian Mike.
"Saya ingin mendengar laporan singkat dari kalian semua tanpa terkecuali. Tapi yang paling saya ingin dengar adalah dari Direktur pemasaran Mall yang menaungi seluruh Mall di bawah BLUE CORP." Mike mengarahkan pandangannya kepada pria di kanan Verlita.
"Baik, pak." Jawab sang pria.
Mike mengamati setiap ulasan dan bahasa tubuh Direktur Pemasaran yang masih sangat muda ini. Dia bahkan lebih muda dari pada Verlita. Mike juga mendengar bahwa Verlita memiliki hubungan dengan pria ini.
Direktur Ferdy mengakhiri ulasannya dengan baik. Mike sempat terpukau dengan kecerdasannya dalam menyampaikan poin-poin penting yang harus disampaikan beserta penjelasan singkatnya. Mike puas dengan kinerja Direktur Ferdy yang masih sangat muda.
"Terimakasih direktur. Selanjutnya saya persilahkan kepada satu-satunya wanita di ruangan ini, Direktur Verli." Mike sengaja memanggil Verli seperti Bima.
__ADS_1
Sesuai dugaan Mike, Verlita terkejut dipanggil begitu. Yang pernah memanggil dirinya Verli hanyalah Bima. Verlita merasa ini bukan kebetulan semata.
"Sa... Saya.. a.. akan mema...parkan kinerja bagian IT selama ini ... dengan singkat." Verlita terlalu gugup. Bahkan kertas yang akan menjadi pedoman paparannya pun terjatuh ke bawah meja rapat.
Akan terasa canggung jika Verlita menunda paparannya dan malah menunduk ke bawah meja memunguti kertas catatan paparannya. Verlita hanya bisa melanjutkan pemaparan bagian IT tanpa contekan catatan apapun.
"Apa anda selalu gugup begini jika dikelilingi oleh rekan kerja dan atasan yang semuanya pria, Direktur Verli?" Lagi-lagi panggilan itu ditujukan kepada Verlita oleh Mike.
"Maaf, pak." Dua kata singkat dan wajah yang menunduk satu-satunya andalannya ketika terdesak.
"Jika semua pekerjaan bisa selesai dengan satu permintaan maaf, saya tidak perlu membayar mahal kalian para direktur dan pengelola brand milik BLUE CORP."
"Besok saya menginginkan kamu sudah siap dengan laporan data dan paparan yang akan kamu sampaikan. Sekarang kamu kembali saja ke kantor kamu. Ngeliat kamu lebih lama di sini hanya akan mengganggu mood bekerja aku. "
Verlita tercengang dengan perkataan Mike.
Banyak dari para pria di ruangan itu yang selama ini mengagumi sosok Verlita yang cerdas dan cantik. Mereka berbisik satu sama lain dan tidak menyangka sang CEO baru akan memperlakukan Verlita seperti ini. Banyak yang menduga CEO Mike salah satu pengagum Verlita yang dicampakkan atau pengagum yang bermain keras di awal untuk mendapatkan pelukan hangat Verlita.
"Terima kasih CEO. Saya pengelola brand jamu tradisional kemasan." Sang direktur brand terkemuka yang juga tampak muda mengemukakan kondisi keuangan maupun kendala brand mereka secara lengkap.
Dalam 10 menit, semua pemaparan telah usai disampaikan dan Mike merasa senang dengan kinerja direktur yang bernama Hasan ini. Direktur Hasan juga sempat memiliki gosip dengan Verlita. Tapi Mike tidak terlalu memikirkannya. Mike sudah terlalu menyukai pembawaan direktur Hasan yang santai tapi tampak cerdas mengajukan poin penting yang ingin Mike dengar.
Rapat berlanjut hingga tiga jam ke depan menjelang jam makan siang. Mike merasa bersemangat hingga baru terasa lelah ketika rapat usai.
Mengelola BLUE CORP yang memiliki ratusan anak perusahaan yang harus diatur ternyata cukup melelahkan. Kini Mike mulai memahami kenapa papanya, Damien, selama ini selalu tampak sibuk dan hampir tidak pernah punya waktu bagi dirinya.
Mike menikmati jam makan siang dengan memejamkan mata sejenak di sofa ruangan CEO. Mike tampak memejamkan mata seolah tidur. Tapi sebenarnya dia sedang memikirkan setiap pemaparan dan kejanggalan di ruang rapat tadi.
Dia telah mendapat dua orang yang perlu perhatian khususnya. Sesuai perkiraan Aldi, masih ada orang penting di balik layar yang belum Aldi temukan. Dia tak lain adalah salah satu dari Direktur Ferdy atau Direktur Hasan.
__ADS_1
Ketika Mike ingin semakin membandingkan keduanya, Aldi menelepon.
"Bagaimana situasi di sana?" Aldi langsung ke pokok permasalahan seperti biasa.
"Sesuai dugaan kamu. BLUE CORP masih belum sepenuhnya bersih."
"Sudah memperkirakan pelakunya?"
"Sudah dapat dua orang kandidat. Aku baru mau menghubungi kamu untuk melakukan pemeriksaan latar belakang."
"Bagus. Kirimkan data yang kamu punya kepada Daniel. Biar segera dia tangani."
"Ya. Aku akan mengirimkan CV perusahaan yang berisi dua pemuda itu." Mike berbahasa formal dan terdengar profesional. Tidak seperti selama ini ketika berbicara dengan Aldi yang penuh dengan banyak lelucon.
Aldi menyadari hal ini. Biasanya Aldi akan mengakhiri panggilan teleponnya usai keperluannya tersampaikan. Tapi kini Aldi menunggu hal lain yang mungkin ingin Mike sampaikan.
"Bagaimana dengan Bima? Verlita tadi langsung salah tingkah ketika ku panggil dengan Verli."
"Dia masih berusaha dengan keras mengatasi krisis yang aku buat. Sebentar lagi dia akan merasa menang karena bisa mengatasinya." Aldi tertawa membayangkan reaksi Bima yang merasa menang padahal semakin terjerumus.
"Kamu memasang jebakan berlapis, Al?"
"Kamu sangat memahami ku, Mike." Aldi kembali tertawa.
"Aku tidak sabar ingin mendengar rinciannya. Kamu akan mengetahui dengan sendirinya sore ini. Tunggu saja hal ini menjadi perbincangan hangat di kalangan kolega bisnis BLUE CORP." Aldi kembali mengakhiri kalimatnya dengan tawa.
"Aku tak sabar mendengar kabar itu beredar."
"Sabarlah, Mike. Sudah ya. Aku masih belum menelepon Kiara dan mengecek kondisinya." Dengan kalimat itu, telepon Aldi terputus.
__ADS_1
Mike hanya bengong menatap layar ponselnya yang diakhiri panggilannya secara sepihak oleh Aldi.