
Aldi kembali ke ruangan kerjanya. Masalah Mike sempat membuatnya cukup terkejut hingga melupakan masalahnya sendiri dengan Kiara. Kini ketika kembali ke ruangannya, rasa kosong dan hampa di hatinya kembali menusuk relung hatinya.
'Kiara' Ucap Aldi dalam hati. Berulang kali Aldi hanya bisa menyebut namanya ketika teringat masalah di antara keduanya. Aldi dan Kiara tak pernah menghadapi krisis kepercayaan sebesar ini. Aldi tak pernah kebingungan dalam hal berkomunikasi dengan siapapun baik atasan, bawahan maupun Kiara yang selama ini dia sayang. Tapi kali ini Aldi merasa kesulitan meyakinkan Kiara akan apa yang dia pikirkan. Aldi kebingungan bagaimana meyakinkan Kiara akan apa yang dia rasakan.
Aldi duduk di kursinya, memandang layar komputernya yang masih menayangkan video berisi Kiara yang saat ini masih saja hanya duduk di kamar hotelnya. Pikiran Aldi terus melayang ke Kiara dan masalah di antara mereka. Dia tahu bahwa jika masalah ini tidak segera diselesaikan, apa yang telah mereka bangun berdua selama ini bisa hancur.
Aldi memutuskan untuk mulai fokus ke akar masalah mereka dan melakukan langkah-langkah yang tadi sempat tertunda karena masalah Mike dan Verlita.
"Daniel, datanglah ke kantorku." Perintah Aldi secara singkat kepada Daniel melalui telepon di mejanya. Usai menutup panggilannya kepada Daniel, Aldi kembali teringat dengan keluhan Kiara kepadanya.
'Kenapa tidak mengucapkan sapaan sebelum mengatakan keperluan kamu? Kamu juga nggak pernah bilang terima kasih usai menyuruh bawahan kamu.' Suara Kiara seolah sedang mengomel di sampingnya. Rara senang sekali mengomel terhadap hal-hal kecil di kantor. Dulu Aldi suka protes dalam hati ketika mendengar hal itu. Kini Aldi merasa rindu akan hal itu. Padahal baru kemarin mereka berada di kantor yang sama, di ruangan yang sama, dan masih bercanda berdua. Tapi hari yang berlalu kemarin terasa begitu lama terjadinya hingga Aldi merasa amat sangat merindukan istrinya.
"Permisi, pak." Daniel yang masuk ke ruangan Aldi membuyarkan lamunan Aldi.
"Masuklah, silahkan duduk." Aldi mengingatkan dirinya untuk sekedar berbasa-basi kepada bawahannya. "Saya ingin minta tolong kamu melanjutkan rencana saya untuk Mike yang tertunda."
Daniel mendengarkan ucapan Aldi dengan seksama, tapi belum menjawab permintaan sang atasan. Daniel mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Dia tak percaya bosnya yang biasa bersikap dingin itu kini berbasa-basi kepadanya dengan mempersilahkan duduk. Sang bos juga mengatakan 'tolong' ketika memerintah dirinya yang hanya seorang asisten.
"Saya menanti jawaban kamu, Daniel. Apa kamu nggak mau menolong saya mengerjakan hal ini?" Aldi yang tidak tahu apa yang sedang Daniel pikirkan, menuntut jawaban kesanggupan asistennya.
"Tentu, pak. sudah tugas saya melaksanakan setiap perintah bapak. Apa yang eprlu saya lakukan, pak?"
__ADS_1
"Verlita mendapat informasi mengenai penculikan Kiara oleh Ferdi dari wanita yang diculik bersama Kiara. Aku tidak tahu nama wanita itu siapa. Dia dulu adalah pelayan di rumah besar keluarga Wiji Sasongko. Dia ku pecat karena mengkhianati kami dengan melepaskan Ferdi yang saat ini dikurung di rumah."
"Saya tahu mantan pelayan bapak itu, pak. Namanya Nina. Dulu saya yang mengurus pemberhentiannya, pak. Juga yang mengurus administrasi rumah sakit setelah penculikan."
Aldi sama sekali tidak ingat telah memerintahkan Daniel mengurus semua itu. Saat itu banyak hal menjadi tidak penting selain Kiara. Tapi mereka yang tidak penting itu kini mengusik hidup Aldi.
"Bagus, Daniel. Kamu pasti tahu yang harus kamu lakukan. Saya butuh bertemu dengan Nina. Atur tempat yang aman buat dia, tapi yang tidak bisa ditemukan oleh orang lain selain kita. Kabar terakhir yang ku dapat dia masih di rumah sakit. Jadi jika memang dia masih membutuhkan perawatan medis di rumah sakit, amankan dari para pengunjung selain kita."
"Apa perlu pindah ke rumah sakit lain, pak."
"Jika bisa pindah malam ini tanpa menarik perhatian pihak lain, itu tidak apa-apa."
"Terima kasih, Daniel." Ucap Aldi sebelum Daniel pamit undur diri.
Daniel kembali terpaku dengan kalimat Aldi ini. Tidak pernah ada ucapan terima kasih yang terucap sebelumnya dari sang Bos besar. Ini adalah pertama kalinya. Daniel berbalik dan melihat tatapan Aldi yang tampak tulus berterima kasih.
"Sa... Sama-sama pak. Ini sudah tugas saya. Bapak tidak perlu sungkan." Meski begitu, Daniel sebenarnya merasa berbunga-bunga hanya dengan ucapan terima kasih yang tulus dari Aldi.
Usai kepergian Daniel, Aldi kembali menatap layar komputernya dan menatap kembali Kiara yang hanya menampakkan punggungnya saja. Kamera CCTV rahasia yang Aldi pasang tidak bisa bergerak merekan ke arah lain sesuai keinginan Aldi. Jadi hanya tayangan punggung Kiara yang tampak bergetar saja yang bisa Aldi perhatikan.
Kiara sedang menangis kembali. Aldi merasa sakit memperhatikan hal itu. Ingin rasanya Aldi meraih wanita itu dan menenangkan kesedihan di hatinya. Tapi Aldi tahu bahwa kehadirannya belum bisa menyembuhkan rasa sakit yang dia berikan.
__ADS_1
Aldi memegang dadanya yang perih dan semakin ikut merasa sakit melihat punggung Kiara yang kesepian.
"Ra, berhentilah menangis sayang. Aku pun ikut merasakan sakit yang sama, Ra. Jangan bersedih begin, Kiara." Aldi berbicara sendiri sambil menatap Kiara di layar komputernya.
Dengan hati yang masih nyeri, Aldi meraih ponselnya dan menghubungi hotel.
"Selamat sore... Ya, terima kasih telah melayani istri saya selama di hotel anda.. iya.. saya butuh bantuan kalian lagi. Tolong antarkan makanan kembali ke kamar istri saya ya. Cemilan sehat untuk ibu hamil saja... Iya, baik... Terima kasih sekali lagi untuk kerja keras kalian membantu saya." Aldi berbicara dengan nada sopan kali ini. Dia sadar cara bicaranya sebelumnya terlalu kasar kepada pihak hotel. Kini Aldi merasa lega telah memperbaiki sikapnya.
"Kiara, aku telah melakukan apa yang kamu sarankan. Kamu senang kan sayang??" Aldi mengucapkan ini kepada bayangan Kiara yang ada di video CCTV.
Aldi terus saja memperhatikan Video CCTV Kiara hingga tertidur tanpa sadar. Dia tertidur hingga berjam-jam. Tapi telepon dari Daniel membangunkan tidur Aldi yang nyenyak.
Begitu Aldi terbangun karena suara panggilan Daniel, Aldi terkejut karena sadar sudah tertidur begitu saja.
"Halo. Ya, Daniel. Bagaimana?.. Oke, aku akan segera ke sana. Tunggu di sana ya. dan terima kasih atas keras kamu kali ini, Daniel." Aldi mendapat kabar bagus yang sudah dia nantikan. Aldi segera bangun dari kursi kerjanya dan meraih jas yang tadi dia lepas.
Daniel sebelumnya sudah mengatur supir Aldi dan beberapa pengawal untuk bersiap di mobil untuk mengantarkan Aldi. Oleh karena itu, Aldi dengan cepat berangkat dari Blue Corp ke rumah sakit dimana Daniel kini sedang bersama Nina.
🌸🌸🌸🌸
_Dinda^^
__ADS_1