
Kiara tertegun mendapat telfon dari Bima. Tapi tidak ada keinginan untuk mengangkatnya. Dua kali telfon dari Bima berdering. Tapi Kiara tidak ada keinginan mengangkat telfonnya.
Kiara sedang sibuk membersihkan rumah. Tidak mempedulikan telfonnya yang berdering. Kiara sedang tidak memiliki pekerjaan lain yang bisa dilakukan untuk menyibukkan diri. Membersihkan rumah bisa menjadi kesibukan yang baik untuk dirinya. Lagi pula mbak-mbak yang mau membersihkan rumah juga masih lama datangnya. Jika mbak yang bantu bersih-bersih sudah datang, baru pekerjaan rumah bisa Kiara tinggal.
Usai seisi rumah tampak bersih dan lebih rapi, Kiara menyiram taman kecil yang berada di belakang rumah. Memotong tanaman yang kurang rapi dan tak lupa membersihkan kembali dedaunan yang sudah Kiara rapikan.
Ketika jam 8 mbak yang dikatakan Aldi tadi datang, rumah sudah bersih dan rapi. Tapi Kiara masih menyisakan cuci baju dan menyetrika baju.
Kiara meninggalkan lantai 1 dimana mbak Nani, sang asisten rumah tangga, sedang sibuk bekerja dengan baju kotor. Kiara naik ke kamarnya di lantai 2. Mengecek pesan dimana Bima meninggalkan sebuah pesan untuknya setelah tiga kali panggilannya tidak Kiara jawab.
#Bima:
'Apa bisa bertemu? Aku mau mengembalikan beberapa barang milik kamu.'
#Bima:
'Aku juga mau minta maaf.'
#Bima:
'Aku tunggu jam 8 di cafe depan Marriot.'
Ketiga pesan itu berjarak cukup lama. Kiara sebenarnya masih enggan berbicara dengan Bima. Kiara memutuskan mengirimi Bima pesan.
#Kiara:
'Aku mau ada acara jam 10. Tidak bisa datang.'
Begitu terkirim, pesan Kiara langsung terbaca oleh Bima. Seketika itu juga Bima membalas
#Bima:
'Ku tunggu hingga kamu datang.'
__ADS_1
Kiara paham bagaimana keras kepalanya Bima jika sudah merayu. Bima tak akan menyerah dengan mudah. Lagi-lagi Kiara mendapat pesan begitu usai mandi.
#Bima:
'Kita bertemu kali ini saja, ra. Untuk terakhir kalinya.'
Kiara yang sudah berkeras hati terhadap Bima tak bisa membiarkan keras kepalanya Bima. Kiara memesan taksi online dan pergi menemui Bima.
Sekitar setengah jam berikutnya, Kiara sudah berada di kafe. Menghadapi Bima yang tersenyum lebar melihat kedatangan gadis itu.
Mendapat sambutan senyuman hangat Bima, Kiara memasang wajah tenang tanpa ekspresi. Kiara duduk di kursi di hadapan Bima. Kemudian mengetikkan pesan kepada Aldi.
Kiara:
'Aku sedang di cafe Pelangi di depan hotel Marriot. Nanti jemput ke sini saja ya. Terima kasih.'
Kiara beralih dari layar handphone untuk menghadapi Bima.
"Maafkan aku untuk kemarin, ra." Bima mengawali obrolan mereka.
"Aku mau mengembalikan ini." Bima meletakkan kunci mobil dan apartemen Kiara. Juga surat kepemilikan apartemen Bima letakkan di hadapan Kiara. "Sejak awal ini memang milik kamu. Bella tidak punya hak untuk mengambilnya dari kamu. Seperti yang sudah ku katakan kemarin."
Kiara hanya menatap dingin kunci dan surat kepemilikan apartemen itu.
"Aku tidak membutuhkannya. Biarkan Bella mengambil semuanya." Bima tahu menghadapi Kiara akan lebih sulit dari pada Bella. Tingkat keras kepala mereka berdua jika sudah mengambil keputusan sangat berbeda. Bella bisa dengan mudah Bima rayu. Tapi merayu Kiara tidak bisa dengan materi ataupun perhatian.
"Ku mohon, Ra. Jangan biarkan aku semakin bersalah."
"Silahkan merasa bersalah. Tapi aku akan hidup dengan baik tanpa perlu kamu khawatirkan. Aku sudah pernah menjanjikan itu sama kamu. Begitu pula janjiku kepada diriku sendiri."
"Ra. Aku tahu pasti kamu sudah tinggal bersama Aldi. Jadi tidak perlu tinggal di apartemen lagi. Tapi kamu membutuhkan mobil dan juga barang-barang kamu yang masih tertinggal di apartemen. Aku tahu kamu ke hotel tanpa berkemas kemarin. Ambillah Ra."
Kiara tampak memikirkan perkataan Bima dengan wajah yang masih tetap tenang.
__ADS_1
"Jika kamu meninggalkan barang-barang kamu di apartemen, akan mubadzir, Ra. Kamu kan dulu membeli semuanya dengan uang kamu. Kalau kamu nggak mau menyimpannya, kamu bisa memberikannya kepada orang yang lebih membutuhkan. Aku tahu kamu nggak suka menyia-nyiakan sesuatu. Kamu lebih suka apa yang kamu beli bermanfaat bagi orang lain."
Bima berhenti berbicara karena ada pelayan yang membawakan minuman dan makanan ringan untuk Kiara. Bima sejak awal sebelum Kiara datang sudah memesan untuk Kiara. Dan meminta pelayan menyuguhkan pesanan ketika Kiara tiba.
"Kamu tahu kalau aku bakal datang kemari?" Kiara mengangkat sebelah alisnya.
Melihat Kiara yang biasanya bersikap lembut malah berubah dingin begini membuat Bima frustasi. Meski Bima tetap tampak tenang dengan sorot mata yang hangat.
"Aku hanya berjaga jika kamu datang. Aku sudah bilang kan bakal nunggu kamu hingga kamu datang." Bima tersenyum hangat. Berusaha menghadirkan suasana hangat di tengah keduanya.
Kiara menyeruput minuman dingin rasa coklat dan mokka di hadapannya. Berusaha mendinginkan pikirannya. Memikirkan baik buruknya keputusannya dan memilih yang lebih sedikit hal buruknya.
Bima kembali tersenyum hangat melihat Kiara meminum apa yang Bima pesan kan untuknya. Kiara masih tetap berhati baik. Tidak akan mengambil keputusan yang tidak rasional tanpa alasan.
"Aku akan mengambil barang-barang ku saja. Aku tetap tidak mau menerima apartemen maupun mobil ini. Aku tidak mau Bella punya senjata untuk marah atau menyerangku lagi." Kiara sendiri heran menyebut nama Bella. Kiara terbiasa menyebutnya kakak. Tidak menyebut namanya secara langsung begini.
Bima menatap Kiara cukup lama. Masih dengan tatapan hangat dan sedikit senyuman di ujung bibirnya. Kiara yang ditatap hanya kembali menyedot minumannya dengan tenang.
Kiara mengambil kunci apartemen. Memisahkan kunci mobil yang tertaut bersama kunci apartemen. Kemudian menggeser surat kepemilikan apartemen ke dekat Bima dan meletakkan kunci mobil di atas surat itu. Mengantongi kunci apartemen dan meminum kembali hingga habis minuman dinginnya.
Sementara itu Aldi baru saja memarkir mobil di depan cafe. Dari dalam mobil Aldi bisa melihat Kiara yang duduk di hadapan Bima. Dari apa yang Aldi lihat. Keduanya tampak mengobrol dengan baik. Tampak seperti pasangan yang sedang duduk berdua di sebuah cafe. Mata Aldi menggelap. Pemandangan di hadapannya tidak Aldi sukai.
Dengan sedikit emosi, Aldi menelfon Kiara. Kemudian dalam sekali deringan telfon, Kiara sudah mengangkat telfon dari Aldi.
"Saya sudah di depan." Tanpa basa-basi atau kata sapaan apapun, Aldi memberitahu tujuan Aldi menelfon Kiara.
Mendengar pernyataan Aldi, Kiara langsung mencari keberadaan mobil Aldi yang berwarna putih. Melihat Aldi berada di dalam mobilnya, Kiara khawatir Aldi akan berpikir macam-macam. Kiara harus bergegas.
"Oke. Aku keluar." Aldi menutup telfon begitu Kiara melontarkan jawabannya.
Kiara berpamitan kepada Bima dan tidak menoleh lagi. "Aku sudah dijemput. Selamat tinggal."
Bima tertegun melihat gadisnya pergi meninggalkannya. Kesempatan langka bertemu Kiara hari ini Bima harap cukup membuat dirinya melanjutkan hidup.
__ADS_1
Bima akan melanjutkan hidup seperti halnya Kiara. Bima akan memperlakukan Bella, kakaknya, dengan baik seperti keinginan Kiara. Demi Kiara, Bima akan melakukannya.