
"Istirahatlah, Kiara. Kita lanjutkan pembicaraan ini di kamar kita nanti ya. Aku masih ada urusan sama Daniel."
Dengan kalimat terakhir dari Aldi, Kiara mengalah dan pergi dari ruang kerja Aldi tanpa sepatah kata pun.
Aldi tidak bilang kamar mana yang bisa Kiara tempati. Jadi Kiara memilih ke kamar dimana dia bangun tadi pagi.
Ada yang Aldi sembunyikan. Kiara yakin akan hal itu. Aldi juga pasti punya alasan tidak memberitahunya. Apa mungkin semalam Kiara benar telah dilecehkan oleh pria bermasker itu? Kiara merinding memikirkannya. Apa Aldi menjadi agak pemarah malam ini karena Kiara telah dilecehkan?
Seluruh pertanyaan itu berputar dalam benak Kiara. Membuat Kiara semakin pusing. Kiara pun akhirnya tertidur. Aldi yang dinanti kedatangannya oleh Kiara tidak kunjung datang hingga kantuk menguasainya.
Sementara itu, Aldi yang berada di ruang kerja bersama Daniel sedang marah-marah.
"Bagaimana mungkin kalian tidak menemukan apapun mengenai kepemilikan Villa itu!" Aldi membentak Daniel. Sorot matanya cukup tajam dan menakutkan.
"Betul, pak. Villa itu hanya sewaan. Tidak ada kaitannya dengan Bu Adelia maupun pria bermasker."
"Baiklah, aku hanya ada satu cara terakhir menemukan keberadaan tante Adelia. Besok kita lakukan eksekusi sekaligus serangan. Malam ini persiapkan para pengawal yang bisa diandalkan."
"Baik, pak Aldi." Daniel mengangguk.
Usai urusannya dengan Daniel selesai, Aldi mencari Kiara. Tapi tidak menemukannya di kamar tidur utama. Aldi mencoba mencari ke kamar dimana tadi malam Kiara tidur.
"ceklek" Aldi memasuki kamar Kiara tanpa mengetuk pintu sekalipun. Aldi masuk begitu saja dan mendekati Kiara sudah terlelap.
"Maafkan aku." Aldi tiba-tiba mengecup kening Kiara yang terlelap dan memandangi wajah tenangnya ketika tidur. Puas menatap wanitanya, Aldi menggendong Kiara ke kamar tidur utama. Kamar mereka berdua.
Usai menidurkan Kiara di ranjang kamar utama, Aldi memutuskan untuk mandi dulu sebelum berbaring di sisi Kiara.
Begitu membuka baju hendak mandi, Aldi baru sadar ada luka bekas tusukan. Aldi tidak bisa mandi dengan nyaman. Untuk itu Aldi mengelap tubuhnya dengan handuk hangat. Tidak jadi mandi.
Selesai dengan acara mandinya yang singkat, Aldi mengenakan jubah mandi ketika keluar dari kamar mandi. Mencari baju tidur di lemari pakaiannya, kemudian berbaring di sisi Kiara.
Kiara sendiri sudah bangun sejak Aldi menggendongnya ke kamar tidur utama. Tapi Kiara tidak berani membuka mata. Kiara menanti apa yang ingin Aldi lakukan atau bicarakan ketika Kiara tidur.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sudah bangun, Ra. Apakah masih ingin membicarakan masalah tadi?" Aldi tidur dengan posisi miring menghadap Kiara. Aldi menatap dengan intens Kiara yang masih memejamkan mata.
"Bagaimana kamu tahu aku sudah bangun?" Kiara seketika membuka mata kemudian menoleh ke samping dimana Aldi sedang menatapnya.
"Kamu meremehkan kecerdasanku, ya?" Aldi terkekeh.
"Tentu saja aku tahu kamu bangun sejak berada di gendonganku. Aku tidak sebodoh itu kamu perdaya dengan akting yang ala kadarnya."
"Jadi kamu sengaja berlama-lama mandi karena tahu aku sudah bangun!" Kiara seolah kesal. Tapi kemudian Kiara menertawakan kebodohannya berpura-pura tidur.
"Apa aku mandi cukup lama?"
"Iya. Lama sekali. Aku sampai pegal-pegal mempertahankan posisi tidurku supaya kamu tidak curiga."
"Haha... kamu ada-ada saja. Posisi tidur dipertahankan. Mending sini aku peluk." Aldi tampak ceria sekarang.
"Apa luka kamu baik-baik saja dipake meluk aku?" Kiara tampak ragu.
"Coba saja. apa aku nanti bakal kesakitan atau nggak." Aldi masih saja menggoda.
"Kalau begitu aku nggak akan sakit. Justru aku akan lebih cepat sembuh dengan peluk kamu. Sini aku peluk." Aldi akhirnya meraih Kiara. Merengkuhnya ke dalam pelukannya.
"Aku lupa belum ngucapin makasih. Kamu sudah nyelametin aku dari penculikan dan pelecehan." Suara Kiara terdengar pelan. Cukup pelan hingga hanya Aldi yang bisa mendengar.
"Iya. Sudah tugas aku melindungi kamu, istriku." Aldi mengelus punggung Kiara.
"Apa aku boleh bertanya lagi?" Kiara mendongak menatap Wajah Aldi.
"Bertanya lah."
"Apa yang membuat kamu begitu marah, Al?" Kiara membiarkan Aldi tetap merangkulnya.
Aldi terdiam. Memikirkan kalimat yang sesuai untuk disampaikan kepada Kiara.
__ADS_1
"Pria bermasker itu kabur, Lebih parahnya, aku masih belum tahu identitasnya. Aku tidak tahu siapa musuhku. Tante Adelia juga semakin waspada. Aku tidak bisa lagi melacak keberadaannya atau menyadap ponselnya."
"Hanya itu? " Kiara berbalik menatap Aldi. "Katakan apa lagi yang membuat kamu ingin marah setiap menatapku."
"Kamu hampir dilecehkan oleh pria tak dikenal, Kiara. Aku selalu ingin marah setiap ingat hal itu."
"Apa saja yang dia lakukan kepadaku, Al? Jika pakaianku sudah berantakan, dia sudah melakukan sesuatu kepadaku, kan?" Kiara mulai memahami kemarahan Aldi. Kiara pasti telah diapa-apakan oleh pria itu, Aldi selalu akan marah setiap mengingat hal itu.
Muncul amarah dalam tatapan Aldi kepada Kiara. Dugaan Kiara benar. Pria bermasker itu telah melakukan sesuatu ketika Kiara dibius. Saking marahnya Aldi melihat kondisi Kiara ketika ditemukan, Aldi sampai tidak sadar ketika ditusuk dari belakang.
"Lupakan hal itu, Kiara. Hal buruk itu telah berlalu." Aldi mempererat pelukannya terhadap Kiara. Berharap pelukan ini dapat meredam amarah dan kekecewaan Aldi.
"Aku baik-baik saja, Al. Aku lebih khawatir sama kamu. Kamu yang sudah terluka karena aku. Kamu yang menjadi selalu ingin marah mengingat kejadian kemarin. Mana mungkin aku bisa melupakannya begitu saja."
"Aku baik-baik saja. Kamu juga nggak boleh mengkhawatirkan aku." Aldi menjawab dengan tetap memeluk Kiara.
"Aku masih punya pertanyaan." Kiara mendongakkan wajahnya lagi menatap Aldi.
"Masih ada lagi? Tanyakan lah."
"Katakan padaku, kenapa kamu tidak langsung ke rumah sakit? Kamu terluka parah, Al."
"Rumah ini lebih aman dari pada rumah sakit. Aku tidak mau mengambil resiko dibuntuti oleh mereka kemudian kamu diambil lagi dari sisiku ketika aku tidak sadarkan diri di rumah sakit." Aldi mengelus pipi Kiara.
"Kenapa kamu selalu memikirkan aku lebih dulu dari pada keselamatan kamu sendiri sih Al. Bagaimana jika luka kamu terlambat ditangani hingga terjadi sesuatu sama kamu?" Kiara melepaskan diri dari pelukan Aldi. Menatap Aldi dan menanti jawaban sang suami.
"Mungkin karena kamu bisa ku percaya menjaga hati dan kepercayaan ku, Ra. Membuatku berani untuk kembali mencintai seorang wanita." Tatapan Aldi melembut.
"Jadi kamu sayang sama aku, Al? Mencintaiku?" Kiara ingin memastikan dan mendengar sendiri dari mulut Aldi pernyataan cinta untuk dirinya.
"Ya, Aku sudah jatuh cinta sama kamu, istriku. Apakah kamu masih belum juga bisa merasakannya?"
"Ya, aku selalu bisa merasakan kasih sayang kamu. Tapi aku belum pernah mendengar kamu nyatakan perasaan kamu sama aku."
__ADS_1
"Aku sudah mengatakannya barusan. Bagaimana dengan perasaan kamu sendiri, Ra?"