
Aldi mengajak Kiara memasuki rumahnya yang minimalis di sebuah perumahan yang bagi Kiara cukup nyaman. Rumahnya bersih dan ada dua kamar tidur di lantai dua dengan kamar mandi berada di dalam kamar. Di lantai satu ada ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan ruang makan. Rumahnya juga memiliki taman kecil di belakang rumah yang bersebelahan dengan ruang laundry.
Kiara bersyukur tidak harus kembali ke apartemen yang selama ini dia tempati. Apartemen itu hanya akan membuat Kiara selalu akan mengingat Bima.
Untuk baju-baju dan barang-barangnya yang masih di apartemen, Kiara tidak ambil pusing. Kiara masih punya tabungan. Kiara bisa membeli pakaian sebutuhnya. Kiara sendiri terbiasa berpakaian sederhana. Asalkan baju yang dipakai terasa nyaman dan sesuai dengan kemana baju yang Kiara kenakan akan dipakai.
Kiara masih larut dengan pikirannya atas sikap Bella hari ini. Kemarahan dan kebencian yang terpancar di mata Bella hari ini sangat aneh. Kiara tidak menyangka Bella akan seperti itu. Saking larutnya Kiara dengan Bima dan Bella, Kiara sampai lupa dengan Aldi yang hari ini sudah sah menjadi suaminya.
Aldi sendiri tidak mengucapkan sepatah katapun sejak meninggalkan hotel. Membuat Kiara seolah diberi ruang untuk sibuk dengan pikirannya sendiri. Bahkan setelah tiba di rumahnya, Aldi hanya diam. Aldi membiarkan Kiara mengamati isi rumah dan melakukan apapun sesukanya.
Hingga Kiara tiba di depan dua kamar di lantai dua yang letaknya berhadapan. Kiara tahu bahwa salah satu dari dua kamar itu pasti kamar tidur Aldi. Kiara memandang kedua pintunya. Belum memutuskan akan memasuki kamar yang mana.
Aldi yang hendak masuk ke kamar tidurnya melihat Kiara memandang ke dua pintu kamar di lantai dua. Aldi paham apa yang ada di benak Kiara.
"Apa kamu sudah siap untuk hidup satu kamar dengan saya?" Aldi tiba-tiba bersuara dari jarak yang tidak terlalu dekat.
__ADS_1
"Apa saya masih bisa memilih tidak satu kamar sama kamu?" Kiara berusaha tampak tenang meski berdebar-debar menanti jawaban Aldi. Kiara sadar bahwa pria ini adalah suaminya. Jika pria ini menginginkan haknya sebagai suami, Kiara tidak boleh menolak. Apa lagi jika pria ini menginginkan mereka tidur di kamar yang sama.
"Apa kamu bermain-main ketika menikah dengan saya?" Kiara terkejut mendapati pertanyaannya bukan hanya tidak dijawab. Tapi malah mendapati pertanyaan Aldi dengan ekspresi wajahnya yang dingin.
"Saya tidak berani mempermainkan pernikahan. Hanya saja saya butuh waktu. Kita tidak saling kenal. Kita hanya dua orang asing yang tiba-tiba menikah." Kiara mencoba tidak terganggu dengan sikap dingin pria ini.
"Berapa lama?" Aldi masih bernada acuh dengan tatapan mata yang dingin. Kiara yang terbiasa mendapatkan perlakuan Bima yang hangat dan pancaran kasih sayang dari tatapan kekasihnya ini merasa gemetar memikirkan jawaban yang tiba-tiba dilontarkan oleh suaminya ini.
"Bolehkah saya memikirkannya dulu?"
"Tidak. Putuskan sekarang. Saya tidak sesabar itu."
"Tidak. terlalu lama." Aldi mendekati Kiara masih dengan tatapan dinginnya.
"Satu bulan. Kamu bisa tidur di kamar terpisah dengan saya selama satu bulan. Bersiaplah hidup sekamar dengan saya setelah itu." Aldi bukan berniat mendekati Kiara tapi hanya sekedar untuk melewati Kiara sebelum masuk ke kamar tidur yang berada di kanan tangga.
__ADS_1
Melihat Aldi memasuki kamar tidur di bagian kanan, Kiara bisa bernafas lega dan menyimpulkan bahwa Kiara bisa menempati kamar di sebelah Kiri selama satu bulan ini. Kiara masih berdebar-debar karena Aldi yang tadi mendekatinya. Kiara mengira Aldi akan melakukan sesuatu dengan mendekatinya. Bisa saja Aldi hendak mencium atau memeluknya. Aldi bisa melakukan apapun kepada dirinya dengan legal. Mereka suami istri yang sah.
Bertukar beberapa kalimat dengan suami dinginnya ini membuat Kiara agak lelah. Kiara memutuskan memasuki kamar tidurnya saja. Mandi sepertinya menyenangkan. Tapi Kiara bingung dengan pakaiannya. Kiara tidak memiliki baju ganti saat ini. Bodohnya Kiara tidak meminta Aldi mampir ke toko baju manapun sebelum pulang ke rumah Aldi.
Ketika di hotel kemarin, Kiara tidak berkemas untuk bermalam di hotel. Sejak awal Kiara terlalu memikirkan pernikahannya dengan Bima yang harus berubah dengan Aldi . Sama sekali tidak ada keinginan di hati Kiara untuk menyiapkan apapun demi pernikahan ini. Semua hal sudah ditangani WO profesional. Bahkan uang angpau pernikahan pun tidak Kiara pedulikan. Kiara biarkan itu semua menjadi urusan Aldi karena Kiara sendiri tidak mengeluarkan uang sama sekali untuk acara pernikahan ini.
Aldi tidak memiliki Keluarga di pihaknya yang menyerahkan pengantin pria. Begitu pula Kiara. Meski ada mama dari pihaknya, Kiara tidak ingin berlama-lama melakukan resepsi. Sehingga resepsi pernikahan hari ini seolah milik Bima dan Bella. Kiara dan Aldi hanya seolah numpang duduk di pelaminan dan ikut disahkan menikah.
Karena Aldi hanya datang sendiri, tidak ada barang-barang seserahan yang Aldi bawa. Aldi hanya membawa maharnya. Itupun kini sudah dibawa pulang. Mahar yang diberikan Aldi cukup besar. Kiara bahkan ingin menolaknya dan membuat Aldi merubahnya. Tapi Aldi sendiri terlalu sibuk. Tidak ada waktu yang Aldi luangkan untuk sekedar membicarakan mahar. Dan hingga kini Kiara belum memiliki kontak Aldi. Kiara dan Aldi tidak pernah bertelfon atau saling mengirimkan pesan. Mahar berupa satu set perhiasan emas yang nampak berkilau dan uang sebesar 500 juta berupa cek atas nama Kiara itu sekarang tergeletak di atas meja kamar tidurnya.
Ketika menoleh ke meja menatap mahar dari Aldi itu, Kiara masih heran kenapa Aldi memberi mahar sebanyak ini. Apa memang sejak awal mahar yang akan diberikan kepada Bella juga sebanyak itu?
Kiara mengingat pertanyaan Aldi yang paling menohok jantungnya barusan. 'Apa kamu bermain-main ketika menikah dengan saya?'
Kiara tidak pernah bermain-main dengan pilihan hidupnya, Kiara akan berusaha dengan maksimal melakukan yang terbaik atas jalan hidup yang dia tempuh. Tapi kali ini adalah masalah hati. Apa hatinya bisa Kiara ajak mencintai suami sahnya itu? Kenal saja tidak.
__ADS_1
Lalu jika nanti Kiara menyukai pria sedingin Aldi, apakah Aldi yang dingin bisa menyukainya juga? Kiara takut kembali kecewa atau mencintai seseorang yang tidak memiliki hati untuknya.
Tapi jika Kiara menatap mahar yang Aldi berikan, rasanya tidak mungkin Aldi bermain-main dengan pernikahan mereka. Rumah yang Kiara tempat ini tidak terlalu mewah. Aldi tidak sekaya Bima yang bisa menghabiskan uang sebesar itu hanya untuk menyenangkan Kiara. Uang 500 juta bukan jumlah yang sedikit bagi Aldi. Kiara yakin itu. Jadi, Aldi pasti serius ingin membina rumah tangga yang baik dengan Kiara.