Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Berhati-Hati dalam Menjaga Hati


__ADS_3

"Kita berangkat periksa ke dokter sekarang ya sayang." Aldi seolah tahu kapan saat yang tepat untuk merayu Kiara. Mana mungkin Kiara menolak hal ini saat ini. Beradu pendapat saja Kiara tidak berani. Pria di hadapannya ini baru saja berusaha menetralisir amarahnya. Jika Kiara bermain dengan api amarah yang belum sepenuhnya padam ini, maka bisa saja api ini membesar kembali dan melahap mereka berdua.


Jadi Kiara hanya punya satu pilihan untuk dilakukan. Mengikuti keinginan Aldi untuk memeriksakan diri ke dokter.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Kiara jatuh tertidur di pundak Aldi. Daniel telah mengatur antrian untuk Aldi memeriksakan diri. Lebih tepatnya, pengaturan supaya mereka tidak perlu antri begitu tiba di rumah sakit. Rumah sakit yang Aldi kunjungi merupakan Rumah sakit khusus kalangan menengah ke atas. Keluarga Wiji Sasongko adalah penyumbang rumah sakit terbesar. Jika Aldi atau keluarganya membutuhkan bantuan medis, dokter yang bekerja di sana maupun pihak rumah sakitnya sendiri akan memberikan pelayanan prima paling spesial. Aldi juga tidak perlu mengkhawatirkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit ini, sebab Keluarga Wiji Sasongko selalu memberikan peralatan medis termutakhir sekaligus tercanggih bagi Rumah Sakit ini.


Karena alasan perlakuan yang spesial ini juga, Aldi tidak membangunkan Kiara. Aldi biarkan Kiara tertidur di pundaknya hingga bangun dengan sendirinya. Toh mereka bisa langsung masuk dan melakukan pemeriksaan jam berapa pun keduanya siap.


Kiara tidur hingga satu jam berikutnya tanpa dia sadari. Dalam satu jam penantian itu, Aldi menatap wajah Kiara yang masih memiliki make up Rara. Oleh karena itu dengan perlahan Aldi membantu Kiara menghapus make up yang masih menutupi wajah Kiara-nya.


Sebelum membersihkan wajah Kiara dengan penghapus make up yang sudah disiapkan oleh asistennya, Aldi dengan perlahan membaringkan Kiara di pangkuannya dan menghadapkan wajah Kiara ke atas. Setelah posisinya sudah nyaman, Aldi baru menghapus make up di wajah Kiara dengan perlahan dan kelembutan yang ekstra. Kiara masih bisa tetap tidur dengan nyaman meski Aldi menyapukan kapas yang mengandung cairan pembersih wajah yang tak perlu dibilas.


Setelah menemukan wajah Kiara yang sebenarnya, Aldi cukup lama menatap wajah dari wanita yang masih terlelap itu. Hati Aldi berdebar menanti hasil pemeriksaan Kiara nantinya. Aldi belum mempersiapkan diri untuk setiap kemungkinan yang muncul nantinya. Aldi pun menatap ke luar jendela. Aldi mencoba mempertimbangkan perasaannya sendiri jika sampai Kiara memang hamil. Aldi bertanya kepada dirinya, siapkah dirinya menjadi ayah dari bayi itu? Bayi milik Kiara dan entah siapa.


Tentu Aldi berharap itu adalah bayinya. Tapi jikalau bukan, siapkah dia bersikap baik kepada anak itu sejak masih dalam diri Kiara?


Memikirkan hal ini membuat Aldi mengacak-acak rambutnya. Di titik ini, Aldi sama sekali tidak bisa memikirkan masa depannya dengan Kiara akan seperti apa.


Karena keasyikan dengan pikirannya sendiri, Aldi sampai tidak sadar bahwa Kiara telah bangun.

__ADS_1


"Al, aku tertidur ya?" Suara Kiara menyadarkan Aldi dari lamunannya yang berkepanjangan.


"Ya, kamu tertidur di sisiku. Nyaman nggak tidurnya?" Aldi menoleh kepada Kiara yang kepalanya masih berada di pangkun Aldi.


"Hmm. Nyaman banget. Kamu kok nggak bangunin aku aja, Al. Waktu kita kan jadi terbuang percuma." Kiara masih merasa mengantuk. Matanya susah terbuka sepenuhnya menatap Aldi.


"Waktu bersama kamu itu nggak ada yang terbuang percuma, Ra." Aldi membelai lembut rambut Kiara yang masih berada di pangkuannya.


"Jangan mulai merayu lagi deh, Al. Hatiku nggak akan sanggup menerima kenyataan jika kamu sampai menghentikan rayuan dan kelembutan kamu ini suatu saat nanti."


Aldi tertegun dengan alasan Kiara melarang dirinya merayunya. Aldi tahu dengan jelas bahwa dia tidak sedang merayu. Aldi selalu berusaha jujur dengan perasaannya kepada Kiara. Aldi ingin mengungkapkan setiap perasaan yang dia rasakan kepada Kiara. Semua itu terucap dari hatinya. Tidak ada yang bertujuan untuk merayu Kiara sama sekali. Aldi tahu itu dengan pasti.


Kiara menyadari ada yang salah. Aldi terdiam cukup lama tanpa menanggapi ucapannya. Kiara pun kembali memikirkan ucapan terakhirnya. Apa mungkin jangan-jangan Kiara telah salah bicara kepada Aldi? Kiara hanya tidak menginginkan rayuan. Kiara yakin Aldi tidak serius dengan ucapannya. Tidak mungkin Aldi merasa bahwa waktu bersama Kiara itu berharga. Selama ini saja Aldi menghindarinya. Aldi tidak ingin tidur seranjang dengannya. Lebih memilih membiarkan Kiara tertidur lebih dulu sementara dia bekerja hingga larut malam.


Setelah diam yang cukup lama dengan pikirannya masing-masing, Aldi dan Kiara pun keluar dari mobil mereka dan menuju tempat Kiara akan diperiksa.


Tentu Aldi tidak akan begitu bodoh membawa Kiara langsung periksa ke dokter kandungan. Bisa-bisa Kiara akan tahu bahwa Aldi menduga dirinya hamil. Jadi Aldi mengajak Kiara periksa ke dokter umum saja. Dan tentu Aldi memilih dokter perempuan yang kemampuan medisnya terkenal baik.


"Selamat siang Tuan dan Nyonya Wiji Sasongko. Silahkan Nyonya berbaring di ranjang dulu. Saya akan memeriksa nyonya." Tanpa perlu mengantri dan mengurusi Administrasi, Aldi dengan lancar langsung menuju kamar periksa dokter yang dituju. Dokter yang Aldi pilih pun tidak berani buang-buang waktu dengan pasangan di hadapannya. Tidak ada basa-basi yang tidak berguna. Sapaan secara sopan saja sudah cukup.

__ADS_1


Dokter perempuan yang tampak muda itu memeriksa Kiara dengan stetoskop dan senternya. Sambil melakukan pemeriksaan dengan kedua tangannya, sang dokter juga menanyakan beberapa hal kepada Kiara yang masih berbaring di ranjang periksa. "Keluhannya apa, nyonya?"


"Sebenarnya saya baik-baik saja dok. Saya tidak merasa ada yang perlu dikeluhkan dari kesehatan saya." Kiara menjawab apa adanya. Dari pada bingung mencari keluahan kesehatannya apa. Toh, dia sendiri merasa baik-baik saja dan juga merasa sehat.


"Istri saya tidak baik-baik saja dok. Dia tidak nafsu makan sama sekali sejak pagi. Padahal biasanya makannya selalu lahap. Sejak saya kenal sama dia, saat dimana dia tidak mau makan hanyalah ketika sedang sakit. Karena itulah saya ingin dokter memeriksanya dengan menyeluruh. Pastikan istri saya memang benar-benar sehat." Aldi menatap tajam ke arah dokter yang memeriksa Kiara.


Mendapat tatapan tajam dari Tuan muda Wiji Sasongko yang berperan besar dalam rumah sakit ini tentu menjadi masalah besar bagi sang dokter. Dia merasa harus memeriksa nyonya muda di hadapannya ini dengan baik tanpa melewatkan gejala gangguan kesehatan apa pun.


"Baik pak. Selain mengenai nafsu makan yang hilang, apa lagi gejala sakitnya nyonya?" Dokter di hadapan mereka mencoba tersenyum ramah meski hasilnyia tampak aneh karena terlalu kaku.


"Dia semakin suka tidur. Durasi tidurnya cukup lama. Dari agak sore sudah tertidur. Susah sekali baginya untuk begadang."


Kiara sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengungkapkan kondisi kesehatan maupun ketidak sehatan dirinya sendiri. Yang menjawab semua pertanyaan mengenai kesehatannya adalah Aldi. Ada rasa gemas dalam hati Kiara karena hal ini. Tapi mau bagaimana lagi, Aldi tampak senang menceritakan pengamatannya tentang kondisi kesehatan Kiara. Hal ini membuat Kiara merasa begitu diperhatikan oleh suaminya. Ternyata hal kecil mengenai makan camilan di malam hari pun sangat diperhatikan oleh Aldi. Dia tahu bahwa sepanjang hari Kiara suka sering pergi ke dapur hanya untuk mencari makanan kecil. Ntah itu waktu break minum teh atau pun waktu tak terjadwal untuk makan lainnya, Kiara selalu mencari makanan ringan yang biasanya selalu tersedia di dapur.


'Apa semua suami di dunia ini begitu perhatian kepada istrinya seperti suaminya ini?' kiara memikirkan hal ini cukup lama sambil memperhatikan obrolan dokter dengan Aldi


🌸🌸🌸🌸


_Dinda^^

__ADS_1


__ADS_2