
Daniel telah telah memberi perintah supaya Aldi dibawa ke Rumah sakit yang sama dengan Rumah sakit dimana Aldi dirawat akibat luka tusukan karena menyelamatkan Kiara yang diculik oleh pria bermasker. Jaraknya hanya sekitar 15 menit dari minimarket tempat Aldi mengalami tabrakan.
Beberapa Dokter spesialis terbaik di kota telah Daniel hubungi untuk menuju ke rumah sakit itu dan bekerja sama menyelamatkan Aldi dari maut. Rumah sakit yang sebelumnya telah memiliki rekam medis Aldi juga menangani dengan lebih cepat karena riwayat kesehatan Aldi juga sudah terekam di sana.
Penanganan rumah sakit yang tidak terlalu besar itu juga berubah dengan sigap ketika pasien yang datang adalah Aldi. Tidak perlu waktu lama bagi Aldi berada di ruang Gawat Darurat. Para dokter langsung membawanya ke ruang operasi dan siap melakukan operasi bedah begitu para dokter spesialis terbaik di kota tiba si rumah sakit tersebut.
Daniel sendiri menyelesaikan misinya di minimarket dengan cepat dan efisien. Ketika operasi hendak dimulai, Daniel telah berada di rumah sakit menyambut para dokter spesialis terbaik di kota.
Begitu Operasi dimulai, Daniel menghubungi Kiara. Daniel yakin Kiara sangat menantikan kabar Aldi saat ini. Tapi berulang kali Daniel menelepon, Kiara tidak mengangkatnya.
Daniel akhirnya menghubungi salah satu pengawal di sana dan menyuruhnya menyambungkan teleponnya kepada Kiara.
"Nyonya, ini pak Daniel. Asisten pak Aldi ingin berbicara dengan Anda." Irma berbicara dari luar kamar Kiara dengan volume sekeras mungkin agar Kiara bisa mendengarnya.
Mendengar Daniel ingin berbicara dengannya, Kiara langsung menghapus air matanya dan berlari ke luar kamar dimana Irma berada,
"Halo. bagaimana keadaan Aldi?" Kiara langsung mengambil ponsel yang ada di tangan salah satu pengawal dan berbicara dengan Daniel tanpa berbasa-basi.
"Halo Nyonya Kiara. Pak Aldi sudah berada di kamar operasi. Kami sudah mendatangkan dokter spesialis terbaik di kota untuk melakukan operasi kepada pak Aldi." Daniel yang mendengarkan suara serak Kiara yang habis menangis merasa iba dengan majikan perempuannya itu. Tapi Daniel tidak bisa membantah perintah paling penting yang sudah ditekankan berulang-ulang oleh atasannya.
"Benarkah? Apa kata dokter yang hendak mengoperasinya?"
"Kami belum bertanya sejauh itu dan para dokter juga masih fokus menangani. Kamu belum dapat kabar apapun mengenai hal itu." Daniel terpaksa berbohong. Sebenarnya pimpinan dokter itu telah menjelaskan banyak hal. Tapi semuanya adalah kabar yang tidak menyenangkan. Daniel tidak tega memberitahukan kepada nyonya yang sedang bersedih.
"Baiklah. Hubungi aku begitu operasi selesai. Kenapa tidak langsung meneleponku?" Kiara kini mulai marah lagi kepada Daniel.
"Maaf nyonya. Saya sudah berusaha. Tapi nyonya tidak mengangkat telefon saya."
"Oh, aku akan selalu membawa ponselku. Langsung hubungi aku mengenai operasi dan kondisi terkini Aldi!" Kiara memberikan perintah yang tak ingin dibantah.
__ADS_1
"Baik nyonya. Saya akan memberi kabar. Saya harap nyonya beristirahat sambil menanti kabar dari saya." Dengan itu, Daniel mengakhiri panggilannya. Tidak menanti Kiara menjawab apa pun.
Kiara merasa ada harapan. Kiara tidak lagi merasa putus asa karena sama sekali tidak bisa mengetahui kabar suaminya. Kiara bergegas mencari keberadaan ponselnya yang ternyata berada di dalam tas tangannya dalam mode senyap. Karena itulah Kiara tidak tahu Daniel telah tiga kali meneleponnya.
Dengan cepat Kiara mengubah pengaturan ponselnya dan menggenggamnya dengan erat. Kiara juga sudah mengirim pesan kepada Daniel supaya segera mengabari apapun yang terjadi di rumah sakit.
Daniel juga seketika membalas dengan satu kata, yaitu 'oke'.
Kiara menanti dan menanti hingga beberapa jam kemudian Daniel akhirnya menelepon.
"Bagaimana?" Kiara langsung bertanya begitu menekan tombol terima panggilan. Tidak ada sapaan maupun basa-basi sedikit pun.
"Pak Aldi sudah selesai dioperasi. Operasinya berhasil. Kita tinggal diminta menunggu perkembangannya dalam satu malam ini, nyonya. Pak Aldi masih di ruang Intensif Cari Unit. Tidak ada satu pun yang diijinkan masuk."
Daniel memberikan penjelasan sejelas mungkin agar Kiara tidak bertanya-tanya akan banyak hal.
"Jadi kita harus menunggu hingga besok? Aldi masih dalam masa kritis?"
Setelah beberapa lama Daniel berbicara, Kiara tidak kunjung mengatakan apapun.
"Aku mengerti. Terima kasih." Akhirnya Kiara buka suara.
"Sekarang aku ingin kamu jelaskan bagaimana bisa Aldi mengalami kecelakaan parah di sana. Apa yang sudah terjadi, Daniel!" Kiara agak emosi.
Sejak tahu Aldi mulai dioperasi, Kiara sudah tidak lagi menangis seperti sebelumnya. Kiara terus berdoa dan yakin Aldi kuat dan akan baik-baik saja. Kiara mencegah dirinya berpikiran buruk. Dia berusaha memikirkan hal lain. Terutama mengenai bagaimana Aldi bisa terlibat kecelakaan.
"Saya akan ke rumah nyonya untuk membahas hal ini secara langsung. Mohon nyonya bersabar. Saya akan membawa hasil penyelidikan saya, nyonya. Juga mendiskusikan langkah yang hendak kita ambil ketika pak Aldi sedang tidak sadarkan diri."
"Baiklah. Bagaimana dengan keluarganya yg lain? Apa kamu nggak ngasih kabar ke om Damien dan Mike?"
__ADS_1
"Belum, nyonya. Kita bahas juga hal ini ketika nanti saya ke situ." Daniel tampak tenang seolah tidak ada kesedihan melihat Aldi dalam kondisi seperti ini. Bahkan Daniel bisa melakukan beberapa hal seperti biasa ketika Aldi memberikannya tugas.
"Iya. Cepatlah. Aku menunggu."
"Baik, nyonya."
Kiara mengakhiri pembicaraannya dan hanya bisa kembali menanti.
Tak berapa lama Kiara menanti, Daniel sudah tiba. Mereka berbicara di ruang kerja Aldi.
"Ceritakan semuanya." Kiara duduk di sofa ruang kerja Aldi dengan nyaman. Sementara Daniel duduk berseberangan dengan Nyonya dari tuannya.
"Sejak tiba di kantor, pak Aldi membuat program peretas yang bisa mengetahui lokasi Bu Adelia. Tapi program ini agak susah. Karena yang dilacak adalah transaksi keuangan Bu Adelia."
Kiara menyimak dengan tenang.
"Ketika siang tadi pak Aldi hendak menemui nyonya di kafe, pak Aldi berangkat lebih dulu meninggalkan kami dengan para pengawal jauh di belakang. Pak Aldi terburu-buru ingin memastikan keselamatan nyonya. Tapi kemudian ada kabar kami diminta mengikuti sinyal Bu Adelia yang terlacak."
"Kami sendiri tidak tahu apa yang pak Aldi lakukan. Kami fokus mengejar lokasi Bu Adelia yang di minimarket. Tapi begitu tiba di sana, kami menemukan pak Aldi yang baru ditabrak mobil."
"Selanjutnya Nyonya sedang lewat di tempat yang sama ketika kami akan membawa pak Aldi ke rumah sakit."
Kiara terdiam mendengar penjelasan Daniel. Berusaha memikirkan telepon terakhir Aldi kepadanya.
"Lalu bagaimana penyelidikan kamu di lokasi kecelakaan?" Mata Kiara tampak dingin.
"Kami tidak bisa menemukan rekaman CCTV dr minimarket nyonya. Pegawainya sendiri tidak sadar jika CCTV mereka ternyata tidak jalan. Pegawai minimarket tidak selalu mengecek rekaman video CCTV yang masuk ke komputer kasir."
"Dalam satu Minggu, mereka tidak mesti butuh mengecek CCTV. Yang paling sering adalah di akhir bulan saja mereka butuh membuka rekaman video CCTV sebagai laporan dan evaluasi."
__ADS_1
"Jadi kamu belum menemukan titik terang mengenai kecelakaan yang menimpa Aldi?"
"Sudah nyonya. Bolehkah saya melanjutkan cerita saya?" Sahut Daniel.