
Meskipun Aldi telah menemani Kiara hampir sepanjang malam mengobrol, Kiara masih kesulitan tidur di malam hari. Memang tidak ada mimpi buruk lagi. Kiara juga tidak lagi gelisah hingga susah tidur. Tapi rasa kantuk tidak kunjung datang hingga lewat dari tengah malam. Akibatnya Kiara merasa susah sekali membuka mata meski sinar matahari telah menerangi kamar tidurnya.
Kemudian Kiara teringat bahwa Aldi pagi ini akan pulang. Banyak yang harus Kiara siapkan untuk kepulangan Aldi, di antaranya memasak makanan untuknya. Kiara memutuskan untuk membuka mata.
Begitu Kiara membuka mata, sapaan hangat yang mengejutkan dari sampingnya terdengar.
"Selamat pagi, sayang."
Kiara terkejut melihat Aldi tersenyum kepadanya dan menyapanya.
Seketika itu juga rasa kantuk Kiara menghilang. Kiara duduk dan menatap Aldi yang ada berbaring dengan posisi miring ke arahnya.
Kiara mengucek-kucek matanya beberapa kali. Ingin memastikan dirinya masih bermimpi atau memang sudah bangun.
Aldi gemas melihat tingkah Kaira. Dia membantunya memastikan mimpi Kiara itu nyata dengan mencubit pipi Kiara yang tirus.
Kiara merasakan hangat tangan Aldi yang mencubit dengan pelan pipinya. Kiara mulai yakin Aldi yang ada di hadapannya ini nyata.
"Aldi!" Kiara seketika memeluk Aldi. Saking semangatnya, tenaga Kiara yang kecil mampu membuat Aldi yang berbaring miring menjadi terlentang. Ada Kiara yang memeluk Aldi dari atas tubuhnya.
Posisi seperti ini sebenarnya sangat Aldi suka. Kiara memeluknya lebih dulu. Berada di atasnya pula. Tapi Aldi tidak bisa menikmatinya karena seluruh tubuhnya masih terasa nyeri dan berdenyut di beberapa bagian.
"Ba..Bagaimana kamu sudah bisa di rumah sepagi ini?" Kiara agak tergagap saking terkejutnya. Kiara sudah melepaskan pelukannya kepada Aldi dan kini duduk di sampingnya.
"Aku kan sudah berjanji akan pulang pagi ini." Aldi menjawab dengan santai.
"Ta.. tapi ku kira membutuhkan waktu untuk mengurus administrasi dan lainnya sehingga kamu akan tiba di rumah agak siang, Al."
Aldi tertawa melihat kebingungan Kiara.
"Aku bisa menggunakan jalur khusus, Kiara. Itulah gunanya seorang asisten seperti Daniel yang serba bisa."
"Kamu tuh seenaknya banget, Al"
__ADS_1
"Aku mampu untuk mendapatkan yang enak bagi diriku, kenapa juga aku harus menahan diri menerima ketidak enakan."
"Iya, sultan Aldi yang kaya raya." Kiara terlalu senang hanya dengan keberadaan Aldi di hadapannya. Tidak masalah jika Aldi menyombongkan diri seperti ini.
Ya, apapun sikap Aldi akan Kiara terima selama dia terlihat baik-baik saja dan masih ada dalam hidupnya. Bisa Kiara lihat senyum dan juga garis-garis ketampanan di wajahnya.
Menatap wajahnya, Kiara sadar bahwa luka Aldi tidak ringan. Tadi malam cahaya di rumah sakit mampu menyembunyikan luka yang begitu banyak ini hingga menjadi agak samar. Kini luka-luka Aldi tampak jauh lebih banyak. Luka-luka itu menutupi wajah tampan Aldi.
Ada rasa bersalah kembali menggelayuti hati Kiara. Aldi seperti ini karena ingin membuktikan cintanya dan membuat Kiara jatuh cinta kepadanya. Perkataan Aldi tadi malam masih saja terngiang.
"Jangan menatapku seperti itu, Kiara. Percayalah aku baik-baik saja."
".." Kiara masih diam menatap Aldi.
"Tadi malam aku sudah janji akan pulang. Aku ingin kamu merawatku seperti keinginanmu. Jangan menatapku seolah aku sakit parah begini."
Kiara tidak sadar telah menatap Aldi dengan begitu intens dengan rasa bersalahnya. Teguran Aldi membuat Kiara sadar. Kiara memang tidak seharusnya menyalahkan diri seperti ini. Ini saatnya Kiara menebus kesalahannya kepada Aldi dengan merawatnya sebaik mungkin hingga sembuh.
"Apanya yang kaku?"
"Aturan dari protokolnya Al. Menyelamatkan nyawaku tapi membuat orang lain menjadi target penggantiku. Itu tidak adil bagi mereka."
"Kita tidak kenal mereka. Biarkan saja, Kiara."
"Tapi aku kenal. Yang menjadi penggantiku menerima kecelakaan kemarin adalah kamu. Kamu membuat aku selamat tapi kamu sendiri mengabaikan keselamatan kamu."
"Kamu sangat peduli kepadaku, Ra."
"Tentu saja. Aku tidak mau kehilangan suami yang baru menikahiku selama satu bulan."
"Hanya karena hubungan kita, Ra? Bukan karena diriku?" Aldi ingin Kiara mengakui perasaannya. Tapi tidak ingin memaksa Kiara.
Kiara bingung. Apa ini saat yang tepat mengungkapkan perasaannya. Tapi Kiara merasa kurang romantis. Kiara akan tunda dulu untuk mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
"Al. Bercandanya dilanjut nanti ya. Sekarang kita sarapan dulu yuk. Aku juga mau mandi dengan cepat."
"Iya, nikmati waktu kamu. Aku tidak buru-buru sarapan. Bersantai di rumah sama kamu sudah cukup. "
Kiara mandi secepat kilat dan berganti baju baru lagi. Baju yang disediakan di lemari pakaiannya masih baru semuanya. Kiara merasa sungguh pemborosan. Kiara masih tidak suka Aldi menghambur-hamburkan uang begini.
Kiara sudah tampil segar dan percaya diri. Hendak mencari Aldi yang dikira masih di ranjang kamar mereka. Kiara mengira Aldi butuh bantuannya untuk berjalan ke ruang makan. Tapi ternyata Aldi sudah kabur berjalan seorang diri tanpa bantuannya. .
Di meja makan Aldi bercerita bahwa Adelia sudah ditangkap dan kini disekap di rumah ini. Mike yang menanganinya memanfaatkan cerita ini
Pria bermasker itu ternyata adalah Ferdi. Sesuai analisa Kiara. Aldi merasa sangat bangga kepada wanitanya yang selalu saja memberikan kejutan yang menyenangkan kepada dirinya.
"Kenapa tidak diserahkan kepada polisi saja Al?"
"Kita belum memiliki bukti kejahatannya, Ra. Polisi hanya akan melepaskannya jika kita membawanya ke kantor polisi saat ini."
"Bukti apa yang kamu harap?" Kiara memotong kalimat Aldi.
"Pengakuan kejahatannya saja sudah cukup sebagai bukti untuk diserahkan ke polisi, Ra. Tapi seorang Adelia tidak akan mengakui kejahatannya begitu saja. Tentu kita harus melakukan sesuatu untuk membuat Adelia bercerita dan mengaku."
"Kita belum menangkap Ferdi yang masih di luaran."
Kiara masih merasa keselamatan Aldi masih terancam. Setelah kecelakaan yang dialami oleh Aldi, Kiara merasa hidupnya memasuki krisis. Dimana Aldi atau dirinya bisa tiba-tiba masuk dalam bahaya yang mengancam keselamatannya.
"Sebentar lagi kita akan menangkap Ferdi, tenanglah Kiara. Serahkan semuanya kepadaku." gumam Aldi
"Kami sendiri masih cedera, Al. Jangan memaksakan diri. Yang penting tante Adelia sudah kita amankan. Tidak akan merencanakan hal buruk lagi kepada kita. Biarkan Ferdi bergerak terlebih dahulu. Dia pasti akan berusaha menyelamatkan tante Adelia. Kamu harus semakin waspada dan jaga diri baik-baik. Sebaiknya terapkan juga 'protokol keselamatan' buat kamu. Kamu dilarang pergi kemana pun sepertiku."
Aldi senang merasakan kepedulian Kiara.
...****************...
Maaf banget guys... Ending part ini aku revisi. Semalem ngetik sambil ngantuk-ngantuk. Ngeklik submit juga agak setengah sadar.
__ADS_1