
Bima adalah keturunan pengusaha hotel yang turun temurun dari kakeknya. Mommy dan daddy berasal dari keturunan yang sama kayanya sejak lahir. Bima hampir tak pernah mengenal hidup susah sejak kecil. Segala kebutuhannya selalu tercukupi oleh keluarganya.
Bima memiliki daddy yang pekerja keras dan mommy yang wanita karir. Keduanya tampak awet muda meski keduanya sudah di awal usia 50 tahun. Mommy memegang beberapa hotel baik di dalam negeri. Sementara Daddy fokus mengembangkan hotel di luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Membuat Daddy sering tiba-tiba bepergian ke luar negeri.
Hari ini sang mommy sengaja tidak ke kantor. Diandra sengaja menanti kedatangan Bella. Memilih off dari pekerjaannya di kantor hari ini.
"Hai, Bella." Diandra menyambut Bella dengan pelukan hangat dan ciuman di pipi kiri kanan Bella.
"Halo tante."
Diandra mengarahkan keduanya ke ruang keluarga yang memiliki sofa tinggi nan empuk. ada Smart Tv berukuran 60 inch yang mencolok dari ruang keluarga itu. Aksen warna putih, krem dan warna alami kayu memberikan rasa nyaman bagi Bella. Apalagi sikap mommy Bima terlihat hangat. Tidak seperti bayangan Bella mengenai nyonya besar para keluarga kaya pada umumnya.
"Maafkan anak tante yang suka kurang ajar itu ya sayang. Kamu sudah banyak menderita atas ulahnya." Diandra mengawali obrolan mereka."
"Aku masih di sini, mom. Ngomongin jelek tentang anak sendiri kok di hadapannya langsung."
"Suka-suka mommy dong. Rumah juga punya mommy."
"Iya, gak sabaran amat ngusir aku dari rumah ini. Nanti aku punya rumah sendiri gak bakal suka tengokin mommy lagi lo."
"Mommy yang bakal tengokin lah. Ngapain nunggu kamu."
Bella heran dengan suasana kedua anak dan ibu ini. Bella tak menyangka seorang nyonya Atmaja Grup tidak berbeda jauh sikapnya dengan wanita biasa yang dia kenal pada umumnya.
"Bella, kita ke kamar kamu aja yuk. Kita lanjut ngobrol di kamar aja. Biar gak digangguin si Bima." Diandra mengajak Bella berjalan cukup jauh ke tangga. Lalu naik ke lantai dua.
"Kok tante nyiapin kamar buat saya. Saya gak bisa nginep, tan."
"Gak bisa, malam ini kamu harus nginep di sini. Kalo sekiranya besok pagi kamu sudah membaik, baru boleh pulang."
"Tapi ini terlalu merepotkan. Saya gak usah nginep saja ya tante."
"Gak bisa, kalo kamu gak mau nurut seperti si Bima, saya bakal marah. Kamu mau liat saya marah?" Mendapat ancaman seperti ini, Bella tidak punya pilihan selain ikuti kemauan DIandra untuk menginap.
"Kamu istirahat dulu ya. nanti kalo makan siang udah siap, kita makan bareng. Saya mau ke ruang kerja dulu ngurus beberapa hal." Diandra pun berlalu. Meninggalkan Bella yang keheranan bisa sampai ke rumah ini dan malah harus menginap.
Ukuran kamar yang Bella tempati lebih luas lagi dari pada kamar rumah sakit tadi. Bella memang masih mengantuk. Mungkin efek obat.
Bella melanjutkan tidurnya. Tidak ingin memikirkan apapun lagi.
Puas melanjutkan tidur, Bella hendak mandi. Ada yang sudah menaruh baju ganti di kamar Bella sewaktu dia masih tidur.
Bella senang ada yang memperhatikan dan peduli padanya seperti ini. Dengan tubuh yang segar dan hati ringan, Bella buru-buru mandi dan berganti baju yang tadi ada di kamarnya.
__ADS_1
Bajunya sesuai selera Bella. rok warna hijau tua dengan blus yang tampak manis berwarna mint.
Bella nampak terlihat segar di dalam pantulan dirinya di cermin. Ternyata hari yang buruk seperti kemarin bisa tiba-tiba berubah menjadi manis seperti sekarang.
Bella turun ke lantai bawah. Melihat Bima dan Mommy Diandra sedang berbincang di sofa ruang keluarga.
"Wah, kamu tampak lebih muda setelah tidur sebentar di rumah tante." Diandra menggoda Bella.
"Jika kamu menginap beberapa hari di sini, pasti akan lebih muda 1 apa 2 tahun an lagi."
Bella paham Diandra hanya menggodanya. Hanya tersenyum menjawab ucapan Diandra.
"Karena Bella sudah turun, kita makan siang bareng sekarang ya." Diandra mengarahkan Bella ke ruang makan.
Meja makannya begitu besar. Terbuat dari marmer tebal warna putih.
Ada banyak makanan terhidang di meja makan. Bella sampai tidak tahan ingin segera mengambilnya. Tapi demi kesopanan, tentu menunggu tuan rumah duluan yang mengambil makanan.
Diandra mengamati Bella. Bella duduk di sebelah kanan Bima. Sementara Diandra berada di depan Bima. Kursi di kiri Bima tempat Daddy yang tidak ikut makan siang di rumah.
"Bella, ayo makan. Tante gak tahu makanan kesukaan kamu. Jadi tante milih makanan Indonesia yang menurut tante enak saja."
"Iya, tante. Tampaknya enak. Kalo tante favoritnya makanan mana?"
Bella jadi gugup tiba-tiba diminta mengambilkan makan untuk Bima. Begitu pula dengan Bima, dia agak heran mommy Diandra berusaha mendekatkan Bella dengan dirinya. Mommy Diandra bersikap begitu ramah kepada Bella.
"Kamu sukanya makanan apa aja, Bel?" Diandra melontarkan pertanyaan lagi ketika Bella mengambilkan nasi dan ayam goreng lengkuas ke piring Bima. Bella juga mengambilkan sambal terong dan acar timun.
"Saya suka semua makanan kok tante. Yang paling saya suka makanan rumahan yang hangat seperti ini. Yang dimasak dengan kehangatan dan cinta."
"Kok kamu tahu ini dimasak dengan cinta. Ini masakan pembantu, loh." Bella tersenyum mendengar Mommy Diandra.
"Iyakah tante? Saya salah mengira dong. Tadinya saya kira kuku ibu jari di tangan kiri tante kena pisau."
"Kamu pinter mengambil hati orang tua ya. Sejak awal tahu saya yang masak makanya memuji masakan saya yang menjadi kesukaan kamu."
"Oh ya. Kapan saya bilang gitu, tante?" Bella cekikikan.
"Itu tadi yang suka masakan rumahan yang hangat. Niat mau ambil hati tante, kan?"
"Oh itu" Bella tersenyum.
"Sebenarnya itu memang kesukaan saya kok tante. Asal itu dibuat di sebuah rumah dengan kehangatan, rasanya di lidah saya pasti lebih enak dari pada makanan beli di tempat makan mana pun."
__ADS_1
"Kamu bisa masak, Bel?" Mommy Diandra masih melanjutkan sesi wawancara dengan Bella meski mereka bertiga sudah mulai menyuap nasi dari piring masing-masing.
"Bisa tante. Tapi masakan yang mudah-mudah saja bisanya. Kalo disuruh masak semeja penuh hidangan enak kayak gini masih belum sanggup kayaknya." Bella menyuapkan nasi dengan kuah kare ayam dan sambal bawang ke mulutnya. Rasanya lezat sekali bagi Bella.
"Tante gak masak semua menu di meja sendirian kok Bel. Dibantuin sama dua pembantu jugak."
"Wah, kayak chef profesional dong. Punya asisten dan souce chef gitu di dapur." Bella senang sekali hari ini. Makanannya enak. Mommy Diandra juga baik.
Bima tidak berbicara dari tadi. Tapi menyimak obrolan mommy dengan Bella membuatnya juga ikut senang keduanya cocok.
"Tambah lagi Bel, cicipi semua menu yang ada di meja ya. Dicobain dikit-dikit. Biar tante tahu mana yang enak menurut kamu dan mana yang menurut kamu nggak enak."
"Oke tante. Aku cicip satu per satu. Tapi dikit-dikit aja ya." Bella tersenyum. Diandra sungguh unik. Senang sekali ngobrol dengan Diandra seperti ini.
"Yang ini pepes ikan bumbu rujak. Ayo coba." Diandra mendekatkan piring menu pepes ke Bella.
"Oke tante." Bella memakannya. Enak sekali. Ikannya masih segar dan bumbu rempahnya pas. Tidak terlalu over power dengan rasa ikannya.
"Ini enak tante. Tante juga suka pepes ikan?"
"Tante kurang suka. Tapi Daddy nya Bima sangat suka olahan ikan. Sementara Bima sama kayak tante. Ga seberapa suka olahan ikan. Nah, tante kan bingung kalo masak ikan itu sebenarnya enak apa nggak."
"Menurut om gimana loh tante?"
"Dia sih semua masakan tante dibilang enak. Ga ada satupun yang gak abis atau dibilang gak suka." Diandra cemberut.
"Loh loh, kok ngomongin daddy sambil cemberut." Suara seorang pria menyela perkataan Diandra.
Daddy nya Bima ternyata pulang dari kantor untuk makan siang bersama keluarganya.
"Mas kok pulang untuk makan siang tanpa bilang-bilang aku!" Diandra terkejut suaminya tiba-tiba pulang.
"Aku yang kasih tau daddy, mom" Bima kini yang menyahut. "Aku tahu Mommy gak ngerti mau masak apa. Asal masak makanan yang biasanya disukai daddy aja kan?"
"Ya sudah, sini makan bareng, mas." Diandra sebenarnya senang suaminya mau pulang untuk makan siang. Jika Diandra yang memintanya, belum tentu suaminya bersedia pulang makan siang bersama. Diandra enggan ditolak. Jadi memilih tidak mengajak saja suaminya makan bersama. Siapa sangka Bima bisa berpikiran mengajak daddy nya untuk makan bersama seperti ini.
Makan berempat dengan calon menantu yang manis begini sungguh menyenangkan bagi Diandra. Sepertinya Diandra cocok dengan Bella.
Ketika bersama Kiara dulu, memang terlihat Bima sangat perhatian dan mencintai Kiara. Tapi Kiara tidak terlihat seperti sedang jatuh cinta kepada anaknya. Tapi Bella mudah sekali tersipu malu ketika berinteraksi dengan Bima.
Diandra yakin Bella sudah memiliki perasaan kepada Bima. Sementara Bima mungkin masih memiliki rasa kepada Kiara. Tapi Kiara sudah memastikan tidak ingin bersama Bima lagi. Jadi bersama dengan Bella sepertinya boleh juga. Bima masih bersikap baik kepada Bella. Tidak menunjukkan ketidaksukaan atau kebencian.
Oke, Diandra sudah bisa memutuskan mana yang akan menjadi menantunya. Semoga saja Diandra tidak salah pilih.
__ADS_1