Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Rumah Pengantin


__ADS_3

Satu minggu berlalu begitu saja di kota yang terpencil itu. Hari ini Bella dan Bima bersiap kembali ke Jakarta. Begitu pula dengan Aldi dan Kiara.


Bella sudah membaik dan bisa diajak melakukan perjalanan jauh. Sementara Kiara yang setiap hari selalu menemani Bella di rumah sakit juga tidak lagi memiliki alasan untuk tidak kembali ke Jakarta.


Selama mereka tinggal di kota yang berisi kenangan tidak indah bagi Kiara itu, Aldi senantiasa menemani Kiara. Tidak sekalipun Aldi meninggalkan Kiara demi pekerjaannya. Hal ini lah yang membuat emosi Kiara semakin stabil. Kesedihan sudah tidak pernah lagi tampak di wajah cantiknya.


Aldi sendiri masih waspada dengan Bima. Bisa saja Bima menampakkan diri peduli kepada Bella tapi masih saja ada perasaan kepada Kiara. Aldi tidak mau membiarkan kemungkinan sekecil apapun terjadi hingga mengulang penculikan Kiara seperti kemarin.


Setiap Kiara datang menjenguk Bella, Aldi selalu di sekitarnya. Aldi tak pernah menjauh atau meninggalkan Kiara berdua dengan orang lain meski Aldi hanya duduk diam di sofa dengan ponsel di tangannya.


Bima sendiri juga melakukan pekerjaannya ketika ada Kiara yang datang berkunjung. Hanya saja Bima memilih keluar dari ruang rawat inap Bella. Bima tampak menghindari kontak yang terlalu banyak dengan Kiara. Meski Bima melakukan hal ini, tidak ada satu pun dari Bella, Kiara maupun Aldi yang percaya bahwa Bima sepenuhnya telah ingin melupakan Kiara.


Setelah semua kegilaan Bima terhadap Kiara selama ini, semua orang tidak begitu mudah untuk percaya akan perubahan Bima.


Bima sendiri menyadari akan hal itu. Bima sendiri tidak tahu kenapa merasa tidak ingin berhadapan dengan Kiara. Ada rasa enggan untuk berlama-lama di sekitar Kiara. Bima yang menyadari hal ini hanya menganggap bahwa ini adalah perasaan bersalah dan malu. Tidak ingin terlalu memikirkan bagaimana perasaannya kepada Kiara lagi.


"Kak, sampai ketemu di Jakarta. Ingat mengabari aku ya. Aku senang hubungan kita membaik. Aku berharap kita akan tetap baik-baik saja hingga kita sudah di Jakarta nanti. Kak Bella harus ingat bahwa kakak punya adik yang sayang sama kamu, kak. Jangan menyimpan semua hal tidak enak sendiri. Aku pasti akan berusaha bantu kakak dalam segala hal. Ingat itu ya, kak."


Perkataan Kiara kali ini begitu manis. Bella tidak menyangka setelah kehilangan anak yang dia anggap keluarga satu-satunya, malah Tuhan mengirimkan adiknya ke sisinya kembali. Adik yang pernah dia sakiti dengan begitu dalam.


"Terima kasih, Kiara. Aku benar-benar menyesal sudah menyakiti kamu. Aku akan berusaha memperbaikinya." Bella mengucapkan kalimat perpisahannya.


Bella masuk ke mobil bersama Bima di kursi belakang. Mereka menggunakan supir untuk kembali ke Jakarta. Ada satu lagi mobil pengawal di belakang mereka. Pengawal yang tersisa setelah pertarungan malam berdarah itu.


"Kamu tampak sedih, sayang." Bisik Aldi ke telinga Kiara yang masih menatap kepergian mobil yang membawa Bella dan Aldi ke Jakarta.


"Begitukah? Padahal aku nggak seharusnya sedih, kan? Kami kan masih bisa bertemu lagi ketika di Jakarta." Kiara menyangkal kesedihannya tapi juga membenarkannya sekaligus. Aldi tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Kamu rindu dengan kakak yang sudah seperti teman dekat selama beberapa hari ini kan?" Aldi berusaha menebak.


"Menurutmu kami terlihat dekat?" Kiara tersenyum mendengar kesimpulan Aldi.


"Ya. Seperti teman baik. Kalian tampak cocok ketika membicarakan sesuatu. Aku menemukan sisi lain kamu yang mudah tertawa ketika berusaha menghibur Bella."


"Iya. Kak Bella kasihan banget, Al. Sejak kecil tidak mendapat kasih sayang orang tua. Dia sebenarnya hanya ingin disayang oleh pasangannya. Kak Bella rela mengorbankan apa pun dalam hidupnya demi mendapat kasih sayang yang merupakan hal paling mahal baginya."


"Kamu nyalahin aku karena dulu nggak bisa sayang sama Bella kita masih jadi tunangannya?" Ntah kenapa Aldi merasa tersudutkan.


"Nggak mungkin lah sayang. Ih, kok sensitif gitu."


"Trus maksudnya gimana?"


"Tentu saja yang aku maksud itu suaminya yang sekarang. Bukan mantan tunangannya. Mantan tunangannya kan suamiku. Jadi hanya boleh sayangnya buat aku aja."


Keduanya pun masuk ke mobil mereka dan melaju ke Jakarta seperti halnya Bella dan Bima. Hanya saja iringan mobil yang berada di belakang Aldi dan Kiara lebih banyak.


'Aku harap semua hal berjalan baik selama di Jakarta. Aku akan jaga kamu lebih baik lagi, Ra' Harap Aldi dalam hati sambil menggenggam tangan Kiara yang saat ini duduk di sampingnya.


🌸🌸🌸🌸


Bima hari ini membuat perubahan besar dalam hidupnya. Bima akan membawa Bella pulang ke rumah baru mereka. Rumah yang dulunya dibangun untuk dia tinggali bersama Kiara itu telah selesai dibangun dan siap huni usai mereka berdua menikah. Tapi karena perubahan pengantinnya, Bima tidak ingin tinggal di rumah baru itu bersama Bella.


Tapi kini situasinya berbeda. Bella tidak bisa kembali serumah dengan Mommy Diandra. Setelah cukup banyak pertimbangan, Bima membawa Bella pindah ke rumah baru ini.


Bella sendiri tidak tahu dengan rencana kepindahan ini. Tidak ada satupun yang tahu selain asisten dan beberapa pegawainya. Bima ingin hal ini menjadi kejutan yang menyenangkan bagi Bella.

__ADS_1


"Kita dimana? Apa kita nggak langsung pulang?" Bella melihat ke sekeliling halaman depan rumah yang tampak asing baginya ini. Bella memang tahu bahwa Bima dan Kiara punya rumah baru yang dalam proses pembangunan ketika Kiara dan Bima masih bertunangan. Tapi Bella tidak pernah tahu dimana lokasi rumahnya dan seperti apa bentuk rumahnya.


"Kita sudah ada di rumah kita, Bel." Jawab Bima dengan nada yang lemah lembut.


Bella yang mendengarkan nada bicara Bima yang seperti ini selama satu minggu ini masih merasa aneh dan tidak terbiasa. Bima terbiasa kasar dan keras kepadanya. Kelembutan Bima ini masih Bella artikan sebagai sikap yang bisa saja berubah sewaktu-waktu. Biasanya Bima akan berubah kasar ketika Bella melakukan kesalahan. Meski pun hanya suatu kesalahan kecil sekalipun, Bima akan berubah marah dan berlaku kasar.


Bella menganggap sikap Bima ini hanya sementara ketika dirinya sakit. Ketika dia sembuh total, Bima yang seperti ini akan menghilang. Karena itulah Bella tidak mau menggunakan perasaannya untuk menanggapi sikap manis Bima ini. Bella berusaha keras untuk menutup hatinya. Bella tidak ingin berharap kepada pria ini lagi.


"Bel, kok diam." Bima menggerakkan telapak tangannya di hadapan Bella yang tampak bengong, sibuk dengan pikirannya. Bima mengira kejutannya berhasil.


"Tara.. mulai hari ini kita berdua akan tinggal di sini, Bel." Bima bersikap sedikit lucu dengan membuka kedua tangannya dan menunjukkan rumah yang ada di belakangnya.


"Kita pindah ke sini?" Bella masih berusaha meyakinkan maksud dari ucapan Bima.


"Ya, Bel. Ini rumah baru kita mulai hari ini. Pembangunannya sudah selesai. Jadi hari ini kita bisa mulai tinggal di sini. Kita masuk yuk." Bima tidak ingin mengatakan bahwa rumah ini selesai sejak lama.


Bella yang tidak menyangka akan diajak pindah ke rumah baru ini hanya bisa mengikuti Bima memasuki rumah yang sudah dibukakan oleh para pelayan. Dari luar tadi rumah ini tidak sebesar rumah utama keluarga Atmaja. Tapi di dalamnya Bella kira sama luasnya dengan rumah utama.


"Kamu yakin ngajak aku pindah ke sini?" Bella masih saja tidak yakin. Bella punya perasaan bahwa ini adalah rumah pengantin Bima dan Kiara yang dulu amat sering diceritakan oleh Kiara. Ada rasa sakit di hati Bella memikirkannya. Bella merasa sangat jahat kepada adiknya yang sudah begitu baik.


🌸🌸🌸🌸


Hai Readers


Terima kasih buat yang masih setia ama novel ini... Nantikan kelanjutannya...


_Dinda^^

__ADS_1


__ADS_2