
Kiara meraba perutnya yang masih rata. Kemudian menatap ke luar jendela kamarnya. Ini adalah kamar terbaik yang dimiliki hotel tempatnya menginap. Hotel ini terletak di tepi pantai. Tapi tidak semua kamar menghadap ke pantai. Jika matahari masih nampak, sejauh Kiara menatap ke luar jendela, pasti laut akan membentang luas di hadapannya.
'Apa melihat lautan yang luas bisa meredakan perih dan sakit ini? Aku butuh jarak dari Aldi. Demi bayi yang tak diakui oleh Aldi ini, aku harus meredakan emosiku. Berdekatan dengannya hanya membuatku lebih merasa sakit.'
Kiara beranjak dari sofa tunggal dimana dia sedari tadi duduk. Kiara mengambil ponsel miliknya yang tadi sama-sama berada di meja nakas, berdekatan dengan ponsel Aldi.
..."Aku butuh ruang. Berdekatan sama kamu menyakitkan. Kamu hanya punya 2 pilihan:...
...1. Pergi dari hotel ini dan jangan kembali sebelum aku mengijinkan....
...2. Tetap di sini, tapi aku yang akan pergi menghilang....
...Aku tidak mau menyimak penjelasan apapun. Aku tidak mau ada pesan apapun. Biarkan aku sendirian hingga aku bisa menghadapi mu."...
Kiara mengirimkan pesan ini kepada Aldi. Lalu meletakkan ponselnya. Kiara tidak mau tahu apapun balasannya. Kiara memejamkan matanya yang kelelahan karena menangis dan tertidur hingga beberapa jam.
🌸🌸🌸🌸
Malam semakin tua. Kiara yang tertidur di sofa akhirnya merasa tidak nyaman dan terbangun. Kiara ingat dengan ponselnya, kemudian mengambilnya.
Tadi Kiara tidak ingin mengetahui apapun balasan pesannya kepada Aldi. Kini Kiara ingin tahu apa tanggapan Aldi akan keinginannya. Tapi Kiara tidak mendapat balasan pesan. Padahal Aldi membaca pesannya.
Dengan perlahan Kiara bangkit dari sofa. Perutnya mulai lapar. Kiara harus makan demi anak di dalam perutnya. Sehingga Kiara berniat untuk keluar dari kamar tidur untuk menghubungi layanan kamar. Kiara juga ingin tahu apakah Aldi tetap bertahan di sini ataukah pergi.
Begitu Kiara keluar dari kamar tidur, dia merasa sepi dan terlalu sunyi. Aldi tampaknya pergi begitu saja. Ruang tamu hotel tempatnya menginap begitu terang dan sunyi. Aldi sama sekali tidak tampak. Hanya ada hidangan di meja makan yang berada di dekat jendela.
Kiara mendekati meja bundar dengan dua kursi kosong yang berhadapan. Banyak jenis makanan siap untuk disantap. Sepertinya Aldi memesan layanan kamar ketika Kiara tidur. Tapi piring steak yang dipesan Aldi ketika di kantor menarik perhatian Kiara. Ada selembar kertas berlogo hotel di bawah piring itu.
__ADS_1
Kiara mengambilnya dan membaca pesan yang ditulis dalam surat itu.
...Kiara sayang, aku memilih opsi pertama. Aku pamit pergi dari hotel ini. Kamu tenangkan diri ya. Aku berharap kamu masih sudi membaca pesan yang kutinggalkan ini. Aku akan berusaha menuruti semua keinginan kamu, Ra. Termasuk untuk tidak mengirimkan pesan balasan. Tapi aku sangat ingin menjelaskan bahwa aku benar-benar sayang kamu. Nggak mau Sampek ada hal buruk menimpa kamu....
...Jadi, segera membaik ya sayang. Aku menunggu kabar kamu untuk mau menerima kehadiranku dan mendengar penjelasan dari aku, Ra. Percayalah, aku akan membereskan pembuat onar dalam hubungan kita, sayang....
Kiara membaca kalimat demi kalimat tanpa ekspresi apapun. Pandangannya begitu dingin. Kiara kemudian duduk dan memakan steak yang sempat dipanaskan oleh Aldi meski kini sudah terasa dingin kembali.
Kiara tidak bisa merasakan apapun di lidahnya. Kiara mengunyah dan terus mengunyah hingga sepiring steak dengan saus beserta sayur pelengkapnya habis tak bersisa.
Setelah menyelesaikan makan, Kiara masih tak bisa merasakan apapun. Rasa lapar sudah sirna. Tapi perasaan kenyang tak bisa Kiara rasakan. Jadi Kiara memutuskan untuk kembali ke kamar dan berusaha kembali memejamkan mata. Bayinya butuh istirahat. Semua masalah ini tidak baik untuk anaknya. Kiara harus membaik demi anak ini.
🌸🌸🌸🌸
Aldi masih berada di hotel dimana Kiara berada. Tapi Aldi menyewa kamar lain. Tentu saja Aldi tidak lupa memberi perintah kepada manajer hotel untuk merahasiakan keberadaannya dan menghapus catatan menginap Aldi di hotel itu. Tidak boleh ada yang tau Aldi masih berada di sisi Kiara.
"Ra, untung kamu mau bangun dan makan. Dengan begini kekhawatiran aku sedikit berkurang. Tidurlah sayang. Aku akan jagain kamu Sampek kamu tertidur." Aldi berbicara sendiri ke layar laptopnya.
Selama satu jam penuh Aldi memandangi layar dimana Kiara nampak berbaring. Tapi kantuk tak kunjung datang kepada Aldi. Kiara maupun Aldi sedang memikirkan satu sama lain.
🌸🌸🌸🌸
Pagi pun tiba. Aldi dengan cepat meninggalkan hotel dan berangkat ke kantor setelah memastikan Kiara masih di kamarnya dan tak mungkin akan kebetulan berpapasan dengan Aldi di hotel.
Pagi ini Aldi masih begitu dikuasai oleh amarah hingga hawa dingin yang terpancar dari dirinya membuat takut semua orang yang berpapasan dengannya di kantor. Semua karyawan yang memberi hormat ketika Aldi tiba di kantor pagi ini merasakan ketakutan tanpa sebab.
Daniel yang sejak di lobby mengikuti Aldi hingga ke lantai paling atas pun tidak diperbolehkan masuk ke ruangannya. Aldi menutup pintu ruangannya ketika Daniel hendak mengikuti masuk ke kantornya.
__ADS_1
Hal ini membuat para asisten lain ketakutan. Daniel yang setiap pagi membantu Aldi dengan jadwal dan banyak hal malah dikunci di luar ruangan. Sementara Daniel sendiri tidak merasa takut seperti yang lain. Daniel sudah cukup mengenal sifat Aldi, Daniel hanya merasa heran dan bertanya-tanya akan apa yang terjadi dengan si bos.
Tadi malam tiba-tiba si bos memanggilnya ke salah satu hotel di luar kota untuk membawakannya kamera penyadap. Meski dengan patuh Daniel melakukannya, tapi tetap saja Daniel ingin tahu siapa yang hendak diawasi oleh si bos. Akan tetapi Aldi menyuruhnya kembali setelah mengantar barang yang diinginkan. Aldi memasang kamera itu sendiri tanpa menyuruh Daniel seperti biasa.
Hal tak biasa lainnya adalah sekretaris Rara. Dia selalu datang dan pulang bersama Aldi. Tapi hari ini Rara juga tidak tampak. Mungkinkah bos uring-uringan begini karena tidak ada Rara di sisinya seperti biasa?
Daniel merasa alasan ini sepertinya cukup masuk akal. Keduanya memang sangat dekat. Daniel dengan sepihak menyimpulkan bahwa Aldi berubah marah begini karena tidak adanya Rara di sisinya seperti biasa.
Di saat semua pegawai Blue Corp merasa terganggu dengan amarah bos besar, kabar ini pun sampai ke telinga Mike. Dia meluncur ke ruangan Aldi dan ingin memastikan apa yang sudah terjadi.
"Keluar!" Satu kata perintah keluar dari mulut Aldi ketika Mike baru membuka pintu. Bahkan separuh badannya belum masuk ke ruang kerja Aldi, tapi dirinya sudah diusir.
Daniel mendengar kemarahan Aldi ini, sehingga menarik Mike untuk tidak lanjut memasuki ruangan Aldi.
"Dimana sekretaris Rara?" Tanya Mike kepada Daniel.
"Tidak masuk, pak."
"Kamu yakin?" Mike tidak percaya.
"Benar. Pagi ini pak Aldi datang sendiri. Tidak bersama dengan sekertaris Rara seperti biasanya."
"Baiklah." Mike pun mengeluarkan ponselnya dan langsung menelepon seseorang di hadapan Daniel. Akan tetapi, siapapun orang yang ditelepon itu, nampaknya dia tidak mengangkat telepon dari Mike.
Melihat hal ini, Daniel jadi berpikir. Seorang Mike yang sangat dekat dengan Aldi saja ditolak keberadaannya. Daniel yakin kemarahan Aldi kali ini bukan karena masalah sepele. Ada hal buruk yang telah terjadi.
Daniel merasa kasihan kepada si bos. Kenapa masalah dalam hidupnya terus saja berdatangan silih berganti. Daniel hanya bisa bersiaga agar sewaktu-waktu bisa menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Aldi dengan baik.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸
_Dinda^^