Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Diculik atau Menjadi Nona Muda?


__ADS_3

Mentari pagi menerobos ke jendela kamar tidur Kiara. Sinarnya menyilaukan mata Kiara yang masih terpejam.


'Kenapa mataku berat sekali untuk dibuka. Badanku berat sekali untuk diajak bangun. Mentari sudah bangun. Tapi aku kok enggan membuka mata.' Batin Kiara.


'Tunggu. Kenapa aku malas bangun begini. Aku habis ngapain kok kerasa capek semua.' Kiara membuka mata.


Seketika Kiara ingat telah dibius oleh pria bermasker dan melihat seorang wanita cantik yang familiar. Kiara mengitari kamar tidur yang cukup luas itu dan ingin tahu kenapa dia diculik dan dikurung di kamar yang luas, bersih dan nyaman ini.


Kiara mendekat ke jendela dan melihat beberapa pria berpakaian hitam sedang berjaga dan mengelilingi pekarangan rumah.


'Sepertinya aku benar diculik. Hanya saja tidak sampai disekap di dalam gudang. Penjagaan di luar begitu ketat' pikir Kiara lagi.


Kiara mendekati pintu kamar dan mencoba peruntungan untuk membukanya.


"Ceklek" Kiara amat terkejut karena pintu kamar bisa dibuka.


'Apa mungkin aku diculik tanpa disekap digudang dan bisa keluar kamar seenaknya?' Kiara masih sulit percaya bahwa dia beruntung kali ini.


Dengan perlahan-lahan Kiara berjalan keluar kamar sambil memperhatikan situasi di sekitarnya. Kiara ingin tahu dia berada dimana.


Yang Kiara lihat begitu keluar kamar adalah sebuah ruangan megah dengan perabot yang tampak mewah. Begitu Kiara keluar dari kamar, dia disambut oleh ruangan luas yang nampak seperti ruang keluarga dengan perabotan berkilau seperti kristal di dalam lemari-lemari raksasa yang menjulang tinggi. Terkesan mewah sekali tapi berkilauan, tak berdebu sedikitpun. Rumah ini terawat dengan baik.


Kiara berjalan hingga ke ruang makan yang telah tersajikan berbagai makanan. Meja makan yang panjang itu penuh dengan berbagai makanan, kue, dan buah-buahan. Tapi anehnya hanya ada satu buah piring makan dengan set sendok, garpu dan pisau makan.


Salah seorang pelayan keluar dari dapur dengan membawa semangkuk sup. Pelayan wanita yang mengenakan seragam pelayan warna hitam putih itu terkejut melihat Kiara.


"Nona sudah bangun. Silahkan dimakan sarapannya. Ini adalah sup. Menu terakhir untuk sarapan anda." Pelayan wanita itu langsung menunduk mempersilahkan Kiara usai meletakkan mangkuk sup yang dibawa.


"Dimana saya?" Kiara tidak berminat dengan makanan yang tersaji di meja.


"Kami hanya diperintah melayani nona, Silahkan makan dulu, nona." pelayan wanita masih sopan dan menunduk.


"Siapa yang menyuruh kamu?"


"Nanti nona akan bertemu. Kami hanya diperbolehkan melayani kebutuhan dan makan nona. Pertanyaan-pertanyaan nona akan dijawab oleh tuan nanti."


'Jadi yang menculikku pria bermasker kemarin. Bukan yang wanita.' pikir Kiara.

__ADS_1


Kiara tidak habis pikir. Siapa yang sudah menculiknya tapi bersikap baik seperti ini. Tapi melihat tatapan dan rasa hormat pelayan di hadapannya, sepertinya makanan ini aman, Tidak mungkin ada racun atau hal aneh dari makanan di hadapannya.


Melihat Kiara yang bersedia duduk untuk makan membuat pelayan wanita menarik kursi untuk Kiara duduk dan mengembalikan kursinya ketika Kiara sudah duduk dengan nyaman. Kiara merasa sedang dilayani makan di restoran mahal. 'Rumah siapa ini?' pikir Kiara.


"Kami menyiapkan bermacam-macam menu karena tidak tahu pasti nona menyukai jenis menu apa. Ingin makan apa dulu, nona?" Pelayan wanita itu memulai pelayanan makan untuk Kiara.


"Saya bisa ambil makananku sendiri. Tinggalkan saya untuk makan sendiri dengan tenang." Kiara menolak dengan halus.


"Jangan berbicara dengan sopan kepada kami para pelayan, nona. Nona bisa menggunakan bahasa yang bebas dan santai. Kami hanya pelayan." Pelayan itu menunduk memohon maaf lagi.


"Iya, maaf. Sudahlah, tinggalkan saya untuk makan sendiri. saya enggak biasa dilayani sampai seperti ini." Kiara mencoba mengusir kehadiran pelayan wanita.


"Saya di sini untuk melayani makan nona. Mohon mengijinkan saya tetap di sini." Pelayan itu menunduk agak takut.


"Baiklah, kamu harus mematuhi perintah tuan kamu, kan, Aku nggak akan mempersulit kamu." Kiara akhirnya mengalah dan memakan yang tersaji di meja makan dengan didampingi oleh pelayan wanita yanga da di sampingnya.


Kiara mulai makan, "Apa tidak ada orang lain di rumah ini yang akan makan bersamaku?" Kiara melirik pelayan wanita.


"Tuan muda berangkat lebih awal, nona. Tidak jadi menunggu nona untuk sarapan."


"Jadi hanya ada aku saja yang akan sarapan pagi ini?"


"Iya, nona."


"Kenapa makanannya begitu banyak?"


"Tuan yang memerintahkan, nona." Pelayan wanita selalu menunduk setiap menjawab pertanyaan Kiara.


"Apa hanya kamu seorang pelayan di rumah ini?"


"Tidak nona. Masih ada beberapa yang lain. Kami memiliki tugas masing-masing. Saya bertugas melayani nona."


"Baiklah." Kiara melanjutkan makan perlahan sambil terus berpikir untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak.


"Siapa yang memasak semua makanan di meja ini?"


"Ada chef dan beberapa asistennya yang memasak semua ini, nona."

__ADS_1


"Oh." Kiara hanya bisa terdiam. Makanan lezat yang jarang Kiara nikmati.


"Chef kami ingin tahu apa nona ingin makanan tertentu untuk makan siang dan makan malam nanti?"


"Tidak. Masak saja apa yang biasa dimasak di rumah ini. Aku nggak pemilih kok." Jawab Kiara dengan cepat.


"Baik, nona. Silahkan tambah lagi, nona." Pelayan wanita melihat Kiara makan dengan perlahan tapi lumayan menikmati.


"Ini sudah banyak. Aku nggak bisa nambah lagi." Kiara berusaha menolak.


"Nona tidak makan malam. tertidur cukup lama. Sebaiknya makan lebih banyak. Tuan berpesan seperti itu, nona."


"Dia yang menyebabkan aku tidak makan. Dia sendiri yang membiusku. Apa sekarang dia merasa bersalah?" Kiara menggerutu. Tapi pelayan hanya diam tidak berani menanggapi perkataan dan suasana hati Kiara yang tampak berubah lebih buruk.


"Terima kasih untuk makanannya." Kiara usai dengan makanannya dan mengelap mulutnya.


"Tidak usah sungkan, nona."


Kiara berdiri hendak kembali ke kamarnya.


"Permisi nona. Apa nona hendak mandi?" Pelayan wanita lagi-lagi menghentikan Kiara.


"Iya, ada apa?"


"Silahkan ke kamar mandi yang lebih luas di kamar tidur utama. Air hangat sudah disiapkan di bath up. DI kamar mandi nona hanya ada shower. Tidak bisa untuk berendam, nona."


"Apa perintah tuanmu lagi?"


"Iya, nona."


"Oh iya, saya tidak tahu harus memanggil kamu siapa." Kiara berada di belakang pelayan wanita.


"Saya Irma, nona." Pelayan wanita itu berhenti berjalan, menghadap kepada Kiara dan menundukkan kepalanya untuk memperkenalkan namanya.


"Baiklah, Irma." Kiara tergagap heran dan semakin bingung. Kenapa dia memberitahu namanya. Skenario penculikan yang dia bayangkan tidak cocok sama sekali dengan situasi yang Kiara hadapi saat ini.


Penculik biasanya tidak hanya menyekap dan menyakiti. Tapi juga menyembunyikan identitasnya. Tapi ini pelayan sang penculik memberitahu namanya. Kiara semakin pusing memikirkan semua ini. Sebaiknya Kiara menuruti saran sang penculik untuk mandi saja.

__ADS_1


__ADS_2