
"Mike, aku terbiasa memikirkan arah hidupku seorang diri. Kamu adalah satu-satunya yang paling dekat denganku sebelum aku memiliki Kiara," kata Aldi dengan hati-hati, mencoba menenangkan Mike yang masih penuh amarah.
"Lalu?" Sahut Mike dengan nada datar, tetap terjebak dalam kemarahan yang menguasainya.
"Aku akan menjelaskan kepadamu mengenai Verlita, tapi kita bicara berdua saja. Biarkan Daniel keluar dulu," Aldi memohon kepada Mike sambil menatapnya dengan harap-harap cemas, meski yang dibicarakan adalah Daniel yang berada di samping Mike.
Daniel menyadari bahwa keberadaannya sedang tidak diinginkan oleh bosnya. Maka dengan bijaksana, Daniel berdiri dan memohon izin untuk meninggalkan ruangan. Dia tidak perlu persetujuan Mike untuk pergi, karena tahu betul suasana yang tengah terjadi.
Mike masih merasa terlalu marah dengan Aldi. Meski ini pertama kalinya Aldi menyatakan bahwa Mike adalah orang yang amat dekat dengannya, itu tidak berarti apapun saat ini. Mike merasa iba untuk Kiara.
"Aku tuh selalu iri dengan betapa cerdas dan jeniusnya kamu sejak kecil. Om selalu menatap kamu dengan penuh kagum. Karena kelebihan kamu itu, kamu nggak akan dibuang oleh orang tua kamu seperti aku," ujar Mike, suaranya penuh dengan rasa sakit dan kekesalan.
Aldi hanya diam menatap Mike, tidak ingin membantah atau memotong luapan amarah Mike kepada dirinya.
"Kamu seperti pelita harapan dalam hidup kedua orang tua kamu. Tapi aku?!" Mike menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, kesedihan tampak jelas di matanya.
"Aku tidak diinginkan oleh papa Damien karena wanita lain, Al! Dan mamaku juga nggak mau bertahan hidup demi aku! Dia lebih memilih bunuh diri meninggalkan aku karena penderitaan di hatinya. Dia tidak mau bertahan berjuang untuk hidup! Mamaku lebih memilih bunuh diri!" Mike berteriak, air matanya tak tertahankan.
Aldi tetap tenang melihat Mike yang sudah marah-marah. Aldi jarang melihat Mike seperti ini, dan dia bisa merasakan betapa dalamnya luka yang ada di hati sepupu satu-satunya ini.
"Kamu ini sangat jenius dan berbakat di banyak bidang, Al. Kehadiran kamu dihargai dan diinginkan oleh banyak orang. Kamu bukan orang buangan sepertiku," Mike merintih dengan rasa sedih yang tak bisa disembunyikan.
__ADS_1
"Jadi itu alasan kamu menatap Verlita dari kejauhan saja?" tanya Aldi tiba-tiba, mencoba mengarahkan pembicaraan pada inti masalah.
Mike terpaku menatap Aldi, terkejut dengan pertanyaan yang diajukan. Mike tidak bisa lagi berkata-kata, apalagi marah.
"Kamu selalu memperhatikan Verlita. Sejak sebelum dia berpacaran denganku hingga sekarang, kamu masih tidak bisa berhenti memperhatikan Verlita dari kejauhan," lanjut Aldi, menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan. Aldi yakin Mike sudah tidak bisa lagi marah-marah kepadanya.
"Verlita pindah ke Indonesia setelah beberapa waktu putus dariku dan memenangkan proyek. Jadi kamu juga menggunakan beberapa alasan untuk kembali ke Indonesia. Kamu juga selalu tinggal di apartemen yang sama dengan dia. Kemanapun Verlita berpindah, kamu selalu mengikutinya," Aldi memperhatikan ekspresi wajah Mike yang masih membeku.
"Kamu tetap tinggal dekat dengan Verlita meski tidak pernah sekalipun menyapa atau bertemu dengannya secara langsung. Kamu hanya memperhatikan dia dari kejauhan. Dan itu tidak berhenti hingga sekarang!" Aldi semakin menegaskan.
"Bagaimana mungkin aku tega menjauhkan kamu dari Verlita! Kamu ku pindahkan ke kantor pusat dengan jabatan yang tinggi agar kamu bisa semakin dekat dengan dia dan mencoba peluang keberuntungan kamu. Tapi apa? Kamu sama sekali tidak mengambil tindakan, Mike!" Aldi menatap Mike dalam-dalam. Dia menatap Mike dengan penuh emosi. Dia mencermati rasa malu yang terpancar dari wajah Mike.
"Apa kamu berharap aku bersatu dengan Verlita?" Mike ragu dengan kesimpulannya.
Mike terdiam sejenak, mencoba mengumpulkan pikirannya. Hatinya terasa berat saat Aldi mengungkapkan alasan di balik tindakannya. Dia merenung sejenak, mencari kebenaran dalam dirinya sendiri.
"Aku... aku tidak tahu, Al," ucap Mike dengan suara tergagap. "Aku selalu berusaha menghapus perasaanku terhadap Verlita, tapi aku selalu tidak tahan untuk berada dekat dengannya. Meskipun hanya menatap dia dari jauh atau sekadar berada satu ruangan dengannya, itu sangat berharga bagiku."
Aldi merasakan sedikit rasa simpati terhadap Mike. Aldi sedang berada dalam posisi yang sama saat ini. Aldi hanya bisa menatap Kiara dari jauh melalui layar laptopnya. Aldi sama sekali tidak bisa mendekat kepada Kiara, apalagi sampai bisa merengkuh Kiara ke dalam dekapannya.
Aldi pun menghela nafas dalam-dalam, memahami betapa rumitnya perasaan yang sedang dialami Mike dan dirinya saat ini.
__ADS_1
"Mike, kita tidak bisa terus memendam perasaan ini dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Kamu harus memilih salah satu langkah: maju hadapi perasaanmu terhadapnya atau mundur diam-diam karena sadar Verlita tidak akan bisa menjalani hidup yang bahagia bersamamu!" jelas Aldi dengan tegas.
Mike merenung sejenak, membiarkan kata-kata Aldi meresap ke dalam hatinya. Mike diam mencerna semua yang telah Aldi sampaikan.Dia menyadari bahwa Aldi benar. Hatinya terasa teriris oleh kebenaran yang diungkapkan oleh Aldi.
"Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, Al," ucap Mike dengan suara lirih. "Aku menyadari bahwa Verlita adalah mantan pacarmu dan dia adalah pengganggu dalam hubunganmu dengan Kiara. Namun, aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini. Aku mencoba untuk menjauh, tetapi setiap kali melihatnya, hatiku tetap tidak bisa beralih dari dia."
"Cinta adalah hal yang rumit dan kadang-kadang sulit dijelaskan. Mike, aku mengerti betapa sulitnya menghilangkan perasaan itu. Aku juga tidak bisa memaksamu melupakan Verlita dengan cepat. Namun, kita harus menghadapi realita," kata Aldi dengan suara lembut.
Mike mengangguk perlahan, tetapi kebingungan masih terlihat di matanya. Dia mencoba memilah perasaannya, mencari solusi terbaik bagi semua pihak.
"Aku ingin hubunganmu dengan Kiara membaik. Aku akan mencoba mengendalikan perasaan ini dan menangani Verlita sebisa mungkin. Mungkin dengan aku menghadapi Verlita secara langsung, perasaanku kepadanya akan berubah," kata Mike dengan tekad baru.
Aldi tersenyum, mengangguk mengerti. Dia tahu bahwa proses ini tidak akan mudah bagi Mike, tetapi dia berharap Mike dapat lebih memahami perasaannya terhadap Verlita hingga menyadari bahwa Verlita tidak cukup baik bagi dirinya.
"Terima kasih, Mike. Aku tahu bahwa ini sulit bagimu, tapi aku menghargai tekadmu untuk mengatasi perasaan ini. Kita akan melewati ini bersama-sama," kata Aldi, memberikan dukungan kepada Mike.
Mereka berdua duduk di samping satu sama lain di sofa tamu kantor Aldi. Keduanya saling mendukung satu sama lain dalam keputusan yang sulit ini. Hubungan mereka sedang diuji, tetapi kebersamaan dan pengertian mereka akan tetap menjadi pilar yang kuat.
"Aldi, aku tidak pernah berpikir bahwa perasaanku terhadap Verlita akan mempengaruhi hubunganmu dengan Kiara. Aku tidak bisa membiarkan keadaan ini berlanjut. Aku akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk memperbaikinya," kata Mike dengan tekad baru.
Aldi menatap Mike dengan pandangan penuh harapan. Dia merasa lega mendengar keputusan Mike untuk mengubah situasi meskipun Aldi sadar ini akan sedikit berat. Mike terlalu mencintai Verlita.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸
_Dinda^^