
"Boleh kok pak Bima. Kondisi nyonya cukup baik. Boleh saja untuk diajak melakukannya. Tapi pelan-pelan ya pak. Masih ada bekas luka tembak yang belum sepenuhnya kering di bagian perut. Dan tolong pakai pengaman. Nyonya belum boleh kembali hamil dalam 6 bulan setelah keguguran." Dokter ini menjelaskan dengan serius kepada Bima.
"Baik, dok. Terima kasih. Saya akan memperhatikan saran dan petunjuk dari dokter." Wajah Bima tampak sumringah.
Bella masih sangat malu dengan apa yang Bima tanyakan. Bisa-bisanya Bima menanyakan hal ini kepada dokter Herlina ketika di hadapan Bella secara langsung. Dia ingin buru-buru pamit dari ruangan dokter ini.
Keduanya pun undur diri dari hadapan dokter Herlina yang memeriksa Bella. Sebelum pulang keduanya masih mampir untuk menebus resep obat. Tapi ada layanan pengantaran obat. Rumah sakit yang cukup besar ini bekerja sama dengan pihak ketiga yang memiliki aplikasi online di bidang kesehatan.
Biasanya pasien di rumah sakit harus mengantri obat sekitar setengah jam. Bahkan jika pasien sedang banyak, satu jam lebih pasien harus mengantri obat. Melalui layanan pihak ketiga yang berbasis online ini, Bella hanya perlu memberikan resep kepada mereka dan membayar biaya obat beserta layanan pengiriman secara online dari ponsel Bella sendiri. Biaya pengantarannya pun relatif murah dari pada waktu yang digunakan untuk antri obat. Baik jauh maupun dekat, pasien hanya perlu membayar sekian puluh ribu saja untuk biaya pengantaran di seluruh kota.
"Bel, kita mampir makan siang dulu ya." Ajak Bima. Jam sudah mendekati waktu makan siang.
"Kamu nggak buru-baru balik ke kantor?" Bella tampak enggan.
"Nggak. Aku lapar. Pengen makan dulu sama kamu sebelum kembali ke kantor."
"Ya sudah. Pengen makan apa?" Bella mau gimana lagi kalau Bima sudah menginginkan sesuatu. Seingat Bella memang dia selalu tidak bisa melawan keinginan pria di sampingnya ini.
"Kamu sendiri lagi pengen makan apa?" Tanya Bima tiba-tiba.
"Sebenarnya pengen makan yang pedes. Boleh nggak?" Bella sedang mencoba peruntungan. Dia meminta untuk makan sesuatu yang Bima larang. Bima punya aturan yang tidak bisa dilanggar begitu saja. Mengenai makanan Bella selama masa pemulihan nya ini saja Bima mengawasi dengan ketat apa yang boleh dan tidak boleh dimakan.
"Oh, jadi itu alasannya kamu nanya ke dokter mengenai makanan pedas?" Bima ternyata memperhatikan detail percakapannya dengan dokter Herlina ketika sedang di USG tadi.
"Iya." Jawab Bella singkat.
"Yasudah. Ayo kita makan makanan pedas yang kamu suka. Mau makan kemana kita?" Mereka berdua sudah memasuki mobil. Bima hendak memasukkan lokasi tujuan mereka.
"Ke sini aja." Bella menunjukkan sebuah lokasi dari ponselnya. Sebuah tempat makan yang menyediakan berbagai menu menjadi pilihan tujuan Bella.
__ADS_1
"Oke. Kamu mau makan apa memangnya?" Bima sudah mulai melakukan mobilnya.
"Aku pengen makan ayam bakar yang ekstra empuk tapi terasa gurih sekaligus manis dengan sambal yang ekstra pedas." Bella sudah ngiler ketika membayangkannya.
"Sudah pernah makan di sana?" Bima bisa melihat bahwa Bella bisa membayangkan menu yang pernah membuatnya terpikat..
"Sudah dong." Sahut Bella. Tapi keceriaan dan antusiasme Bella tiba-tiba sirna. Bella ingat dengan orang yang makan bersamanya di sana untuk pertama dan terakhir kalinya.
"Kamu pernah makan ayam bakar di sana sama siapa? Kok baru kali ini ngajak aku?" Bima tidak melihat perubahan ekspresi Bella yang sudah tak lagi antusias untuk membahas makanan.
"Kiara." Sahut Bella pendek.
Bima melihat sekilas ke arah Bella yang kini tampak melihat ke samping kirinya. Fokus melihat apa yang tampak di jendela kirinya. Melihat itu membuat Bima tidak lagi melanjutkan pembahasan. Bima fokus menyetir ke tempat tujuan mereka.
Ketika mereka berdua sudah tiba di tujuan makan siangnya dan menanti pesanan mereka datang, Bima kembali mengajak Bella berbicara.
"Ya. Kiara memang begitu baik hingga mau saja berbaikan dengan saudara seperti aku." Bella tidak mau menatap Bima yang kini memperhatikan setiap ekspresi di wajahnya.
"Kiara tahu kamu menyesal dengan perbuatan buruk kamu sama dia. Karena itu juga lah dia ingin berbaikan sama kamu." Bima heran kenapa Bella menjadi tidak percaya diri begini. Bima mengira Bella begitu berani melakukan apa saja. Bima dari dulu mengira Bella punya tingkat percaya diri yang cukup tinggi untuk menantang dunia.
Wanita yang mampu menjebak diri Bima di ranjang dan merampas Bima dari Kiara seharusnya punya kekuatan pengendalian diri yang tinggi. Tapi semakin ke sini Bima melihat banyak ketakutan dan kelemahan khas seorang wanita pada diri Bella. Bima merasa ingin selalu melindungi wanita yang sudah tak memiliki apapun lagi ini.
"Bim, bukankah itu Aldi?" Tiba-tiba Bella membuyarkan pemikiran Bima.
Bima melihat ke arah yang ditunjuk oleh Bella. "Ya, itu Aldi. Tapi dia bersama dengan siapa? Sepertinya sama-sama ingin makan siang."
"Perlukah kita menyapa mereka? Tapi Aldi tidak sedang bersama Kiara." Bella penasaran dengan wanita yang bersama Aldi.
"Mereka sepertinya baru datang. Mereka berjalan ke arah kita." Bima terus mengamati.
__ADS_1
Bima bisa melihat bahwa Aldi telah melihat dirinya bersama Bella. Aldi berjalan dengan mantap ke meja mereka, sementara wanita yang bersama Aldi tampak pergi memesan menu di tempat Bella tadi memesan makanan.
"Boleh bergabung?" Aldi memang bertanya. Tapi dia tidak menunggu jawaban dari Bima maupun Bella sebelum duduk di kursi yang berada di sebelah Bima. Bella dan Bima memang duduk di meja dengan 4 kursi yang 2 di antaranya saling berhadapan.
Bella mempersilahkan meski Aldi juga sudah duduk. Ingin rasanya Bella langsung bertanya siapa wanita yang bersamanya. Tapi itu tidak sopan.
"Halo. Bolehkah saya juga bergabung duduk di meja ini?" Rara sudah kembali dari memesan makanan. Tentu saja Rara ingat bahwa Bella dan Bima tidak kenal dengan Rara. Jadi berbasa-basi itu juga perlu.
"Duduk saja. Mereka bersedia duduk sama kita kok." Dengan tidak sopannya Aldi memerintahkan Rara.
"Terima kasih." Rara hanya bisa tetap menjaga kesopanan di antara mereka.
Sejak Aldi dan Rara duduk semeja dengan Bima dan Bella, tidak ada obrolan sama sekali. Aldi sibuk mengamati Rara, tapi Rara sibuk dengan iPad yang sengaja dia buka. Sementara itu Bella dan Bima juga tidak berminat melanjutkan obrolan. Keduanya sibuk mengamati Aldi yang memperhatikan Rara.
"Terima kasih telah menunggu. Ini pesanan anda semua." Pelayan mengantarkan 4 porsi ayam bakar yang menggugah selera.
"Wah! Pesanan kita semua sama!" Rara dengan keceriaannya berusaha memecah keheningan yang sejak tadi tercipta di antara mereka berempat.
"Makanlah, kamu tadi kan ingin memakan menu ini." Sahut Aldi.
"Kamu juga segera makan, Bel. Kamu kan ingin makan ini tadi." Bima tak mau kalah dalam memberikan perhatian.
"Jadi nona juga suka ayam bakar di sini?" Kali ini suara Rara terdengar seperti anak remaja yang menggemaskan. Dia bertanya kepada Bella.
"Panggil saja aku Bella. Kamu?" Bella rasa ini saat yang pas untuk berkenalan dan tahu siapa sebenarnya wanita yang bersama Aldi dan dari tadi diperhatikan oleh Aldi dengan intens.
🌸🌸🌸🌸
_Dinda^^
__ADS_1