Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Nina Sedang Hamil


__ADS_3

Daniel kini sedang bersama Nina di rumah sakit. Daniel menanti kedatangan Aldi.


Daniel terbiasa bergerak cepat menjalankan tugas-tugas Aldi. Tapi kali ini Daniel bekerja ekstra cepat karena perlakuan Aldi kepadanya sore ini. Dadanya masih terasa hangat mengingat ucapan terima kasih dari sang bos. Kalimat dan ekspresi Aldi berulang kali Daniel mainkan dalam benaknya. Berkat hal itu Daniel bekerja lebih cepat dari biasanya.


Daniel awalnya mengecek rumah sakit dimana Nina dirawat ini. Sesuai dugaan Aldi, Verlita mengamankan Nina. Informasi keberadaan Nina di rumah sakit ini disembunyikan. Daniel awalnya hendak pulang dengan tangan hampa, tapi saat membayangkan wajah Aldi yang berterima kasih kepadanya dengan tulus, Daniel memikirkan ulang beberapa kemungkinan, termasuk kemungkinan Nina yang masih berada di rumah sakit.


Dengan berbagai koneksi, kenalan dan uang, maka Daniel pun menemukan keberadaan Nina yang masih berada di rumah sakit ini. Tidak hanya itu, Daniel menemukan dua orang yang menjaga Nina di luar kamar dan di dalam kamar.


Kini Daniel sedang duduk di samping ranjang pasien rumah sakit dimana Nina sedang tidur pulas. Dua penjaga Nina sebelumnya bukan masalah besar bagi Daniel. Para penjaga itu juga telah mengaku bahwa Verlita adalah orang yang membayar mereka untuk menjaga Nina.


Nama Verlita mengingatkan Daniel kepada pak Mike yang ternyata tergila-gila kepada wanita yang memang tergolong cantik dan seksi itu. Daniel masih saja merasa aneh bagaimana mungkin seorang Mike yang tampak lugu dan baik itu bisa menyukai tipe wanita penggoda seperti Verlita. Daniel juga merasa iba mengingat Mike. Seorang Michael Wiji Sasongko sangatlah tidak layak bersanding dengan wanita seperti Verlita.


Daniel pun sadar bahwa dirinya telah berpikir terlalu jauh. Daniel kembali fokus kepada Nina dan beberapa data yang berada di pangkuannya. Daniel akan membaca cepat semua informasi ini untuk diceritakan kepada Aldi ketika sudah tiba nanti.


Setelah setengah jam berlalu, Aldi pun tiba. Daniel sudah siap menjawab setiap rasa penasaran dan semua haus akan informasi yang dimiliki bosnya.


"Daniel, kamu memang selalu bisa diandalkan." Daniel mendengar sang atasan memuji dengan tulus. Daniel tidak munafik jika mengakui perasaan senangnya akan hal ini.


"Bapak terlalu memuji. Saya menjalankan perintah pak Aldi seperti biasa."


"Kamu pantas mendapatkan bonus untuk ini, aku akan mengatur keuangan untuk menambahkannya ke dalam gaji kamu bulan ini." Aldi duduk di sofa yang tidak jauh dari ranjang Nina yang masih saja terlelap.


"Terima kasih, pak." sahut Daniel. Dia sangat paham bahwa bosnya tidak suka penolakan maupun basa-basi.


"Pak, ini laporan kesehatan Nina. Saat ini dia tertidur karena bius ringan yang diberikan dokter, jadi dalam waktu beberapa menit ke depan, dia akan sadar dengan sendirinya. Tapi saya membuat dia dibius agar mudah dipindahkan ke ruangan ini tanpa beresiko. Sebab tadi ada dua orang yang menjaganya."


"Baiklah. Ceritakan saja isinya." Sesuai tebakan Daniel, Aldi yang membuka dan membacanya tetap membuat Daniel menceritakan isinya.

__ADS_1


"Kesehatan mental Nina saat ini mulai stabil. Verlita menjaganya dengan baik selama ini. Nina sepertinya telah menceritakan banyak hal mengenai kejadian penculikan yang dialami kepada Verlita selama ini. Tapi Nina saat ini juga sedang hamil, pak."


Aldi mengangkat waahnya dari laporan yang dia baca. Aldi menatap Daniel meminta penjelasan.


"Pak Aldi pasti bertanya-tanya mengenai kehamilan ini dan ayah dari bayinya." Daniel menebak tatapan Aldi itu.


"Benar, ceritakanlah." Seperti biasa, Aldi tidak banyak berkata-kata tapi cukup jelas menyampaikan maksudnya.


"Nina dinyatakan hamil setelah satu bulan dirawat di sini. Kondisi mentalnya sangat buruk ketika di bawa ke sini. Jadi rumah sakit selama ini tidak mengijinkannya pulang. Tapi karena kondisi kehamilannya ini, pihak rumah sakit semakin intensif dalam merawat Nina. Mereka iba jika sampai kondisi mentalnya tidak kunjung membaik dalam kondisi hamil begini. Di saat itulah Verlita mengetahui keberadaan Nina dan mengaku sebagai bawahan saya. Saya juga bersalah tidak mengecek kondisi Nina kembali setelah membuat pak Aldi menangung semua biaya pengobatan Nina."


"Apa yang sudah Verlita lakukan?"


"Dia merekayasa agar saya mendapat kabar bahwa Nina telah sembuh dan diijinkan pulang. Akan tetapi yang terjadi adalah Verlita melanjutkan pengobatan Nina dengan biaya dari dirinya sendiri dan menyembunyikan informasi agar diteruskan kepada saya."


Aldi tampak marah mendengar setiap sepak terjang Verlita.


Aldi menatap ke arah ranjang dimana Nina terbaring. Aldi merasa kasihan kepada mantan pelayannya itu. Tapi Aldi terkejut melihat Nina yang telah membuka mata dengan aliran air mata di pipinya. Tampaknya Nina mendengar apa yang Aldi dan Daniel perbincangkan.


"Tunggu saya di luar, Daniel. Saya mau berbicara berdua saja dengan Nina." Daniel dan Nina sama-sama terkejut. Nina terkejut Aldi tahu dia sadar dann ingin berbicara dengannya. Sementara Daniel terkejut melihat Nina yang sudah sadar dan sedang menangis.


Daniel pun permisi meninggalkan Aldi dan Nina berdua saja.


"Hai, Nina. Apa kamu mengenali saya?" Sapa Aldi. Kini Aldi sedang berdiri di samping ranjang Nina.


"Tentu saja saya kenal bapak. Anda adalah mantan majikan saya. Saya telah melakukan kesalahan besar kepada anda, pak. Saya yang awalnya membuat lelaki itu lepas. Semua ini adalah akibat dari hal buruk yang saya sendiri lakukan."


"Saya tidak lagi menyalahkan kamu." Sahut Aldi. Tatapannya tampak dingin, tapi Aldi tidak menunjukkan emosinya untuk Nina.

__ADS_1


"Apa yang bisa saya bantu, pak? Tampaknya Bu Verlita yang selama ini mendekati saya dan baik kepada saya bukanlah orang yang berada di pihak bapak."


"Sepertinya kamu cukup banyak mendengar pembicaraan saya dan Daniel." Aldi masih mencoba mencari tahu sejauh mana Nina mengerti situasinya saat ini.


"Benar, dengan begitu bapak tidak perlu menjelaskan beberapa hal mengenai alasan saya dipindahkan dan dijaga seperti ini." Sahut Nina.


"Apa kamu baru tahu mengenai kehamilan kamu ini?" tanya Aldi.


"Saya sudah diberitahu oleh dokter dan bu Verlita. Dia begitu baik dalam memperlakukan saya selama ini. Dia juga yang menyemangati saya untuk kembali sehat secara mental dan fisik. Saya kira dia seorang malaikat yang pak Aldi kirim untuk menjaga saya. Selama ini saya begitu berterima kasih kepada pak Aldi." Cerita Nina.


Aldi tidak menyangka telah dianggap sebagai malaikat. Aldi sendiri telah bersalah ketika dulu memecat Nina karena menyelamatkan Ferdi dan Adelia yang disekap di rumah besar oleh dirinya dan Mike. Aldi telah lama menyadari kesalahannya ini sejak mengetahui penculikan Nina oleh Ferdi. Nina adalah korban dalam pertikaiannya dengan Adelia.


"Maafkan saya Nina, saya dulu salah telah memecat kamu. Saya juga minta maaf karena baru tahu kondisi kamu yang memprihatinkan ini."


"Tidak, pak. Jangan meminta maaf. Bagi saya, bapak tetaplah penyelamat."


"Saya berjanji akan membantu kamu sampai pulih. Jangan terbebani dengan anak dalam kandungan kamu. Saya akan menannggung biaya anak ini."


"Terima kasih pak, sudah begitu baik kepada saya. Jangan segan-segan memberitahu jika ada hal yang bisa saya bantu. Barangkali bapak ingin saya menceritakan apa yang sudah saya ceritakan kepada Bu Verlita, saya akan menceritakan ulang semuanya."


Inilah yang Aldi tunggu.


🌸🌸🌸🌸


Like jika kalian suka cerita ini ya. Biar saya lebih semangat lagi untuk update. Ingat juga untuk tinggalkan komen kalian biar saya tahu seberapa suka kalian dengan cerita ini. Kasih saran plot juga boleh loh.


_Dinda^^

__ADS_1


__ADS_2