Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Lalu aku kehilangan jejak kamu


__ADS_3

Kiara lupa kapan terakhir melihat Aldi marah. Aldi selalu bersikap baik. Seingat Kiara, Aldi hanya akan mendiamkannya jika Kiara melakukan kesalahan atau hal yang tidak sesuai dengan keinginan Aldi.


'Ya, Aldi hampir tidak pernah marah seperti ini. Kecuali ketika Kiara tenggelam di laut saat bulan madu mereka.'


Aldi masih saja menatap Kiara dengan penuh amarah.


"Maaf, Al. Aku salah." Kiara tulus mengucapkan maaf.


"Kamu selalu mengulang kesalahan yang sama, Kiara! Kapan kamu mau dengarkan keinginanku? Kapan kamu berhenti membahayakan keselamatanmu sendiri!" Aldi menggenggam tangannya hingga memucat. Dia masih berusaha keras menahan amarahnya.


Kiara hanya diam.


"Baru sehari sebelumnya aku bercerita mengenai keluargaku dan bagaimana bahanya situasi kita saat ini. Kamu malah pergi keluyuran begitu saja tanpa kasih tahu aku! Sendirian tanpa pengawal satupun!"


"Bagaimana kamu bisa menyelamatkan aku kali ini, Al?" Kiara berusaha


"Menurutmu bagaimana!" Aldi masih marah mengingat bagaimana rasanya ketika mengetahui Kiara menghilang.


Aldi sama sekali sudah tidak ingin memakan apapun yang ada di meja makan di hadapannya. Melihat Kiara yang tak memiliki rasa bersalah sedikitpun ini membuat amarah di dadanya semakin berkobar.


"Maaf, Al. Aku tidak berpikir situasinya separah yang kamu ceritakan."


Aldi hanya diam menatap Kiara yang wajahnya menunduk.


"Aku pikir Mall itu juga termasuk area hotel. Karena kamu bilang hotelnya aman. Aku kira Mall yang gedungnya jadi satu dengan hotel juga aman."


"Jadi sekarang kamu nyalahkan aku karena bilang hotelnya aman? Aku bilang hotelnya, Kiara! Yang ku maksud supaya kami tetap di kamar!" Aldi lagi-lagi ingin marah.


"Dengan lutut yang terluka seperti itu saja kamu bisa keluyuran hingga menarik bahaya datang sama kamu. Apa lagi kalo kamu sudah sehat! Bisa-bisa kamu sudah kelayapan mengundang para penjahat kemana pun kamu pergi!"


Kiara mulai tidak tahan dengan amarah Aldi. Kok bisa mengatai dirinya suka kelayapan. Tapi wajah Aldi yang penuh amarah membuat Kiara takut untuk memancing kemarahannya yang lebih besar.


"Iya, Al. Aku salah." Kiara hanya bisa mengulang-ulang kalimat itu.


"Bagus kalo kamu tahu salah. Yang lebih penting lagi, ini yang terakhir kalinya kamu ngelakuin ini, Kiara! Kasih tahu aku kalo kamu mau kemana-mana. Ajak pengawal atau pelayan!"


"Iya. Kemarin aku lupa pamit sama kamu. Aku sendiri berencana nggak lama kok perginya."


"Nggak lama, Ra?!" Aldi kembali emosi.


"Kamu mampir makan saja sudah hampir sejam. Lalu ke toko baju juga malah lebih dari satu jam. Habis itu kamu masih nggak ada niatan balik ke kamar hotel. Kamu bilang itu tidak lama!"

__ADS_1


'Aduh, aku salah omong lagi. Sepertinya hanya kata maaf dan mengaku salah saja yang bisa digunakan buat ngomong sama Aldi.' Batin Kiara.


"Tunggu deh Al. Kamu bisa tahu berapa lama aku makan dan ke toko baju dari mana?"


"Tentu saja aku mencari kamu! Istriku menghilang dan tidak bisa dihubungi. Mana mungkin aku diam saja menanti seorang penculik minta uang tebusan" Aldi tidak menggunakan nada yang tinggi kembali. Dia lebih terdengar seperti frustasi.


"Kapan kamu tahu aku menghilang?"


"Ketika kamu keluar dari Mall bersama seorang pria, Daniel juga sedang ke hotel untuk nemuin kamu."


"Daniel?" Kiara ingin Aldi bercerita lebih banyak.


"Ya. Dia aku suruh mengantarkan gaun yang sedang kamu pakai ini." Aldi menunduk sedih.


"Jadi Daniel sejak awal membuntuti aku dan menyelamatkan aku?"


"Kamu berharap diselamatkan oleh orang lain? pria lain!" Aldi mengeraskan intonasinya lagi.


"Lalu?"


"Dia langsung menuju kamar hotel. Tapi kamu menghilang."


"Dia melapor sama aku. Karena kamu juga nggak bisa dihubungi."


"Maaf ya Al. Kamu pasti panik." Kiara merasa bersalah.


"Tidak hanya panik, Ra. Dua hari sebelumnya aku baru mengalami hal ini. Perasaan takut kehilangan kamu baru selesai dua hari sebelumnya. Bayangkan. Aku harus merasakan rasa Frustasi dan tak berdaya lagi kemarin." Aldi meremas rambutnya yang pendek dan menatap Kiara tak percaya.


"Aku amat khawatir musuhku sanggup mengambil kamu dari kamar hotel yang aku yakini aman. Aku merasa seluruh dunia tidak lagi aman buat kamu tinggali, Kiara!" Tatapan Aldi memerah.


Kiara sungguh merasa bersalah. Aldi sampai seperti ini.


"Lali bagaimana kamu bisa nyelametin aku, Al?"


"Daniel yang mencari jejak kamu melalui CCTV. Juga melacak sinyal ponsel kamu."


Aldi menunduk. Kiara paham. Aldi terpukul dengan kabar menghilangnya Kiara dari hotel hingga tak tahu harus berbuat apa.


Melihat Kiara yang hanya diam, Aldi melanjutkan. "Begitu Daniel bisa melacak jejak kamu yang keluar sendiri dari kamar dan pergi keluyuran ke Mall, aku merasa memiliki harapan. Aku berharap kamu hanya jalan-jalan. Aku berharap kamu akan segera kembali atau bisa ku lacak sedang di toko mana."


"Aku mulai meretas CCTV MALL dan hotel. Aku bisa melakukan lebih cepat dari pada Daniel. Tapi aku menemukan kamu keluar bersama pria Bermasker."

__ADS_1


"Daniel juga berhasil menemukan tas berisi ponsel kamu yang berada di tong sampah di luar Mall."


"Lalu?" Aldi yang kemudian hanya diam membuat Kiara ingin mendengar lebih banyak.


"Lalu aku kehilangan jejak kamu." Aldi kembali tampak frustasi.


Sebenarnya Kiara tidak sabar ingin mendengar lanjutan ceritanya. Tapi melihat rasa sakit di mata Aldi ketika menceritakan penyelamatannya kemarin membuat Kiara tidak tega untuk memintanya melanjutkan cerita.


"Al, aku lapar. Kita makan dulu yuk." Kiara mencoba mengalihkan perhatian Aldi. Jika Aldi tidak ingin bercerita hal yang menyakitinya, Ki huara tidak akan memaksa.


"Kamu makanlah." Jawab Aldi lemah.


"Makan sendiri tidak enak. Rasa makanannya tidak selezat ketika ada teman yang makan bersama kita."


'Teman. Kiara menyebutnya teman."Aldi terdiam memikirkan hal ini.


'Jadi Kiara tidak mendengarkan ucapanku dan laranganku untuk keluar dari hotel karena aku hanya seorang teman. Teman yang tidak penting untuk didengarkan perkataannya.' Aldi semakin diam dengan pikirannya sendiri


"Al. Aldi" Kiara memanggil-manggil Aldi yang hanya diam.


"Makanlah. Aku sedang tidak ingin." Aldi beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Kiara. Dia berjalan ke arah taman bunga. Dia butuh menghirup udara segar dan menenangkan pikirannya.


Kiara terdiam. Berusaha memikirkan semua perkataan dan amarah Aldi barusan. Wajah sedih dan frustasi Aldi membayang terus di benaknya. Selera makannya juga sirna.


Ingin rasanya Kiara menyusul Aldi. Tapi Kiara harus meminta maaf dengan cara apa lagi. Aldi tampak terlalu marah. Mengingat kejadian penculikannya kemarin juga membuat Aldi merasakan kembali frustasi dan kesedihan yang kemarin dia alami.


"Nona. Apakah menu yang disajikan malam ini tidak sesuai dengan selera nona dan tuan muda." Irma tiba-tiba saja berada di sampingnya dan bertanya dengan sopan kepada Kiara.


"Kamu sejak tadi dari mana?Apa kamu dari tadi mendengar pembicaraan kami?"


"Saya sungguh tidak berani nona. Saya melihat tuan muda sedang duduk-duduk di taman bunga. Saya kira nona dan tuan muda sudah selesai makan. Jadi saya hendak membereskan meja makan. Tapi ternyata makanannya tidak ada yang dimakan."


"Aldi ada di taman?"


"Benar nona."


Mendengar jawaban Irma, Kiara beranjak dari tempat duduknya. Kiara tidak ingin terlalu banyak berpikir. Kiara hanya ingin berada di dekat Aldi. Kiara pergi ke taman dimana Aldi berada.


 


Like dan komen ya guys... Makasih ^^

__ADS_1


__ADS_2