
"Hai sayang. Kok lama angkat teleponnya." Aldi menyapa Kiara yang wajahnya tampak di layar ponselnya.
Kiara tersenyum manis mendengar sapaan sayang Aldi.
"Iya. Tadi merapikan rambut dan ngaca dulu sebelum angkat video call kamu."
"Duh duh... dandan kilat demi suami nih." Aldi senyam-senyum menatap Kiara yang tampak salah tingkah tapi dengan wajah bersinar karena senyuman. Tatapan Kiara tak bisa fokus menatap Aldi karena malu.
"Apaan sih Al. Kalo masih ngeledekin melulu, aku tutup nih ya teleponnya."
"Jangan dong sayang. Aku kan masih kangen." Aldi yang biasanya berwajah dingin dan bersikap kaku terdengar seperti orang lain.
"Nggak percaya. Baru tadi pagi berpisah. Jangan nggombalin aku kayak ngegombalin anak ABG deh."
"Bukannya kamu masih terlihat kayak anak ABG? Mana ada wanita dewasa dengan mudahnya tersipu malu gara-gara dipanggil sayang doang!" Aldi terkesan meninggikan suaranya seolah berteriak. Tapi setelah itu cekikikan di hadapan Kiara.
"Siapa juga yang tersipu malu. Jangan mengada-ada deh."
"Itu pipi kamu merah."
"Masak." Kiara mendekati cermin tak melihat adanya pipi maupun wajahnya yang memerah.
"Kamu mengada-ada banget deh Al. Pipi atau wajahku nggak merah sama sekali kok."
"Masak nggak. Kamera kamu berarti yang bikin merona merah."
"Kamera?" Kiara tampak berpikir.
Aldi benar-benar ingin tertawa melihat bagaimana Kiara menganggap serius setiap perkataan Aldi.
"Aldi! Ngerjain melulu!" Kiara baru sadar telah dipermainkan oleh Aldi sejak tadi.
"Iya. Maaf ya. Sudah makan siang, Ra?" Aldi tiba-tiba mengalihkan perhatian Kiara kepada tujuan Aldi menelepon.
"Belum. Tapi sudah pesan menu makan siangnya kok. Mungkin sebentar lagi datang."
"Pesan menu apa?"
"Cuma bebek goreng."
"Satu menu doang?"Aldi merasa heran.
"Iya. Kan aku doang yang makan."
"Kurang bervariasi Ra."
__ADS_1
"Ntar malam saja lebih bervariasi. Ketika makan malam sama kamu. Sekarang ini aja udah cukup kok."
"Ting tong.." Layanan kamar datang tepat waktu supaya Kiara bisa punya alasan mengakhiri telepon Aldi.
"Aku buka pintu dulu ya. mungkin pesanan makan siang aku."
Usai membawa masuk makan siangnya, Kiara kembali ke layar teleponnya.
"Kamu sudah makan siang?"
"Belum. Kamu aja dulu. Aku gampang. Diminum juga ya obatnya sehabis ini."
"Iya." Jawab Kiara singkat.
Keduanya masih ingin berlama-lama bertelepon ria. Tapi Kiara merasa canggung melakukan video call seperti ini dengan Aldi untuk pertama kalinya. Aldi sendiri masih ada pekerjaan. Tidak bisa lebih lama lagi menggoda wanita di layar handphone nya.
"Aku tutup ya, Ra. Kamu makan ya... Nanti aku hubungi lagi." Pamit Aldi
"Oke. Segera selesaikan kerjaan kamu biar bisa segera pulang."
"Kamu beneran pengen aku segera pulang?"
"Iya, bener."
"Kayak anak kecil aja minta hadiah!" Kiara rasa bakal digodain Aldi lagi.
"Kalo gitu aku pulang agak malam aja. Nggak ada hadiah yang menanti kok."
"Kamu maunya apa?"
"Maunya kamu."
"Aku?"
"Iya. Aku mau kamu jadi hadiahku malam ini."
"Aku harus bungkus diriku pakai kado gitu?"
"Boleh juga. Ide kamu kreatif banget sih sayang" Aldi tak henti-hentinya tersenyum dari tadi setiap mendengar jawaban Kiara. Maupun menggoda Kiara dengan keinginan-keinginannya yang tidak masuk akal.
"Sudah ya, Ra. Sampai nanti." Aldi mengakhiri panggilan dengan sepihak.
Kiara yang masih bingung mengartikan keinginan Aldi itu hanya diam menatap layar ponselnya yang sudah padam.
Aldi semakin bersemangat menyelesaikan semua agenda dan rencana kerja hari ini. Buru-buru mengakhiri godaannya kepada Kiara agar bisa mulai kembali kepada pekerjaannya.
__ADS_1
Pekerjaan pertama yang harus dia tangani adalah Bima.
"Daniel, masuklah." Aldi memanggil Daniel melalui telepon di mejanya.
Tidak berapa lama, Daniel sudah berada di hadapan Aldi.
"Bagaimana Bima?"
"Usai tiba di kediamannya pagi ini, Pak Bima tidak tampak melakukan pergerakan apapun. Dokter keluarga mereka baru pergi menjelang siang. Tapi pada jam makan siang ini Pak Bima ada janji dengan para pemegang aplikasi ponsel yang telah menghapus jaringan hotel Atmaja dari menu menginap mereka."
"Bagus. Bima akan bergerak siang ini untuk menangani krisis yang aku buat. Tapi aku akan menciptakan krisis lainnya."
"Pak Aldi tidak akan mempersulit pak Bima memasukkan jaringan hotel Atmaja ke aplikasi ponsel kembali?"
"Tentu saja tidak. Itu murni akan menjadi keputusan para pemilik aplikasi itu."
"Saya masih belum paham dengan rencana cerdas bapak."
"Aku telah meretas beberapa aplikasi teratas di Indonesia dengan jumlah pengguna aplikasi yang terbanyak. Aku menghapus seluruh hotel besar Atmaja dari daftar mereka. Dalam semalam, penyewa hotel di bawah naungan Atmaja Grup turun hingga 80%. Haha." Aldi tertawa. Tapi tawanya tidak seperti ketika berbicara dengan Kiara tadi. Kali ini tawanya terdengar dingin dengan tekanan amarah.
Daniel hanya diam menanti Aldi yang tampak sangat marah dengan aura dingin yang menakutkan.
"Berani-beraninya Bima benar-benar menjalankan rencananya untuk memisahkan aku dengan Kiara. Beraninya dia membuat aku menyentuh Verlita! Dan lebih beraninya lagi, Dia telah menyentuh Kiara ku yang sedang lemah. Memanfaatkan kelemahannya untuk mendekati dan menyentuh wanitaku!" Baru kali ini Aldi meluapkan amarahnya sejak malam penjebakan Bima.
Aldi menatap Daniel yang masih diam menanti apa yang akan Aldi sampaikan selanjutnya. Daniel memang memahami kapan dia bisa menyuarakan pendapatnya di hadapan Aldi.
"Aku telah meninggalkan pesan pada setiap pemilik aplikasi, Atmaja Grup bisa kembali berada dalam aplikasi sewa hotel mereka jika Bima datang menemui mereka dan menawarkan kesepakatan yang sangat menguntungkan bagi mereka."
"Jadi Pak Aldi akan menciptakan krisis berikutnya dalam aspek lain?"
"Ya." Aldi mengeluarkan sebuah memori USB dan memberikannya kepada Daniel.
"Buat video ini menjadi trending topik." Perintah Aldi
"Baik, Pak." Daniel undur diri.
Langsung ke meja kerjanya dan membuka video yang ada dalam USB yang diberikan oleh Aldi.
Dalam Video itu tampak Bima berada di sebuah kamar yang seperti kamar hotel bersama wanita yang wajahnya telah disensor. Wanita itu hanya mengenakan handuk mandi yang telah diacak-acak secara paksa oleh Bima.
Daniel paham ini adalah video yang tidak sengaja terekam oleh kamera yang ada pada kalung Aldi ketika sedang dibius oleh Bima dan Verlita. Durasinya tidak sampai satu menit. Tapi wajah dan tingkah laku Bima dalam video itu sudah cukup jelas.
Dengan cekatan Daniel mengirimkan video itu melalui email tanpa nama kepada wartawan yang cukup ahli dalam hal penanganan gosip biasa hingga menjadi panas dan viral.
"Pak Aldi masih belum menggunakan kekuasaan WS TECH maupun BLUE CORP. Tapi pak Bima sepertinya akan kalah telak kali ini," ucap Daniel kepada dirinya sendiri usai melaksanakan tugas yang diberikan Aldi.
__ADS_1