
Kiara keluar dari lamunannya karena mendengar ponselnya berbunyi. Tapi Kiara tidak memiliki keinginan untuk hanya sekedar melihat siapa yang menghubungi dirinya. Kiara menatap lautan yang begitu indah dari jendela kamar tidurnya.
Di saat yang sama, Aldi sedang mengecek rekaman penyadapan dengan headphone yang terpasang di kepalanya. Tapi Aldi juga mengamati layar laptop lain yang menampakkan Kiara. Sejak bangun pagi tadi Kiara hanya menatap lautan di hadapannya. Kiara sama sekali tidak mau melakukan hal lain.
Aldi pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi hotel.
Tidak lama kemudian, kamar tidur Kiara berbunyi. Kiara enggan untuk bangun dan melihat siapa yang datang. Jadi Kiara hanya diam saja tak menghiraukan.
Tidak lama kemudian, telepon yang ada di kamar hotel berbunyi. Tapi Kiara juga tidak bergerak dari sofa yang dia duduki. Pemandangan hamparan laut yang biru di hadapannya seolah sangat indah hingga membuat wanita muda yang sedang menikmatinya itu enggan mengalihkan pandangan darinya.
Telepon di kamar Kiara pun berbunyi kembali. Bel kamar hotel juga ikut berbunyi. Hal itu terus berulang beberapa kali hingga Kiara terganggu dan mengangkat gagang telepon. Tapi Kiara tidak menjawab telepon itu. Kiara meletakkannya begitu saja di meja agar tidak akan ada bunyi telepon yang mengganggu.
Kemudian Kiara menuju pintu kamar hotel dimana bunyi bel kamarnya terus saja terdengar.
"Permisi nona. Kami mohon maaf telah mengganggu waktu istirahat anda. Kami hendak mengantarkan sarapan untuk nona." Kiara hendak memarahi pelayan di hadapannya ketika membuka pintu kamar hotelnya. Akan tetapi penjelasan pelayan wanita di hadapannya tiba-tiba membuyarkan kata-kata yang hendak Kiara lontarkan kepada pelayan itu.
" Saya tidak pesan makanan apapun." Kiara melipat kedua tangannya di dada dan tampak marah.
"Sekali lagi kami mohon maaf nona. Kami dari tadi mendapat telepon dari tuan muda Aldi terus menerus karena belum berhasil mengantarkan sarapan nona. Tuan muda telah berpesan untuk memastikan makanan nona diantarkan tepat waktu. Tapi kami belum berhasil menjalankan tugas pertama kami." Pelayan wanita itu menunduk sambil bicara. Tidak berani menghadapi penolakan maupun amarah Kiara.
Kiara bisa melihat bagaimana pelayan di hadapannya berusaha keras menunaikan tugasnya sebagai pelayan atas perintah atasan mereka dan juga klien super kaya seperti Aldi. Kiara jadi teringat masa-masa sulit ketika bekerja sebagai pegawai rendahan di hotel dulu. Masa ketika dirinya masih kesulitan membantu biaya adik-adik di panti asuhan.
"Terima kasih. Bawa masuk makanannya. Saya sedang beristirahat tadi. Jadi memang belum lapar. Terima kasih telah mengingatkan saya kalau ini sudah waktunya sarapan."
Pelayan wanita di hadapan Kiara heran mendengar kata-kata manis yang terlontar untuk dirinya. Sejak nona muda itu membuka pintu untuknya, si pelayan tidak berani menatap wajahnya. Kini setelah melihat wajah ayu wanita muda di hadapannya ini, si pelayan diam mematung menatapnya. Wajah nona ini jelas-jelas baru bangun tidur tanpa make up. Tapi kenapa dia sebagai sesama wanita tidak bisa berhenti menatap keindahan wajah wanita muda ini.
"Ada apa? Kok diam saja. Silahkan bawa masuk kereta dorong berisi sarapannya." Sekali lagi Kiara bicara dengan lembut kepada pelayan wanita itu.
"Ba.. Baik, nona. Mohon maafkan saya." Si pelayan wanita pun tergagap menjawab Kiara. Dia sendiri tidak sadar telah terdiam cukup lama menatap Kiara.
"Sekali lagi saya mohon maaf nona. Saya permisi. Silahkan dinikmati sarapannya. Semoga nona cocok dengan masakan di hotel kami. Saya juga akan membawa kembali sisa makan malam nona. Jika nanti nona ingin sisa sarapannya dibersihkan, tinggal panggil saya melalui room service."
Kiara terdiam cukup lama setelah mendengar ucapan pelayan itu.
__ADS_1
" Tunggu. " Perintah Kiara sebelum si pelayan pergi.
" I.. Iya.. Nona. Apa.. Apa.. saya melakukan kesalahan lain lagi?" Si pelayan kembali ketakutan dan tergagap. Tamu hotel ini adalah tamu paling istimewa di hotel mereka saat ini. Jika sampai dirinya melakukan kesalahan sedikit saja, pemecatan pun bisa terjadi.
" Tolong beritahu saya apa saja yang dipesan oleh suami saya untuk saya kepada hotel ini." Kiara merasa aneh menyebut kata suami. Hatinya kembali perih mengingat pria protektif yang kelewat perhatian itu.
Si pelayan tahu akan beberapa hal yang harus dia rahasiakan. Si pelayan sadar harus berhati-hati menjawab pertanyaan tamu penting hotel yang berwajah sangat cantik ini.
"Saya hanya mendapat tugas untuk memastikan nona mendapatkan makanan nona tepat waktu. Saya kurang tahu mengenai apa saja yang suami anda pesan kepada hotel, nona. Maafkan saya nona." Si pelayan wanita membungkuk seolah kembali takut. Tapi sebenarnya dia menghindari tatapan menyelidik Kiara.
Kiara menatap gerak-gerik pelayan di hadapannya sambil memikirkan betapa mudahnya pelayan ini meraketakutan. Kiara jadi merasa tidak enak telah membuat gadis muda ini ketakutan beberapa kali. Banyak sekali yang begitu mudah ketakutan hanya dengan keberadaan Aldi. Kiara yakin atasan pelayan ini telah begitu keras dalam menangani pelayan ini.
"Sudahlah, kamu bisa pergi." Mendengar kalimat Kiara ini, si pelayan hotel langsung bergegas pergi dengan kereta dorongnya. Perasaan lega langsung menghinggapinya begitu bisa keluar dan menutup pintu kamar dari luar. Tamu ini sangat istimewa. Ada beberapa hal yang harus hotel urus dengan baik. Semua mengenai pasangan ini adalah top secret dan hanya pelayan senior dan pegawai senior saja yang bisa tahu sekaligus terlibat dalam melayani tamu istimewa ini.
🌸🌸🌸🌸
Kiara sangat tidak berselera untuk makan. Tapi dia sadar harus menyuplai nutrisi untuk anaknya. Pikiran dan hatinya telah mengalami luka dan rasa sakit yang sulit untuk disembuhkan. Dia tidak boleh berhenti memakan sesuatu karena hatinya yang masih sakit ataupun pikirannya yang melayang-layang ke beberapa hal yang menyedihkan.
Karena itulah Kiara memakan sup hangat sambil duduk melihat pantai yang ombaknya bergulung-gulung di kejauhan. Kiara berusaha tidak memikirkan apapun dan fokus menghabiskan semangkuk sup yang dia pegang.
Aldi kemudian menekan tombol panggilan cepat di ponselnya. Panggilan itu tertuju untuk Daniel. "Pesankan aku sarapan."
Aldi hanya mengucapkan satu kalimat itu saja dan mengakhiri panggilannya kepada Daniel. Tidak ada tanggapan Daniel yang perlu dia dengarkan. Waktunya harus dia fokuskan kepada hal lain yang lebih penting. Aldi harus menyelesaikannya dengan cepat agar hubungannya dengan Kiara bisa segera membaik.
🌸🌸🌸🌸
Kiara pun menyelesaikan semangkuk sup dengan susah payah. Kiara merasa sedikit lebih hangat. Kiara kemudian meletakkan mangkuk sup itu di atas meja makan. Tapi ponselnya kembali berdering. Ada panggilan telepon lagi untuknya. Kiara yakin itu bukan Aldi. Pria itu selalu konsisten dengan apa yang dia katakan. Dia telah bersedia tidak mengganggunya. Jadi tidak mungkin Aldi meneleponnya. Jadi sebaiknya Kiara melihat siapa yang menghubunginya kali ini.
Kiara meraih ponselnya dan melihat nama Mike di layar ponselnya. Kiara berpikir sejenak untuk mengangkatnya atau tidak. Lalu menekan gambar telepon berwarna hijau dan menggesernya.
"Halo, Kiara." Kiara bisa mendengar suara Mike yang nampak terburu-buru bercampur lega.
"Ya Mike." Sahut Kiara singkat.
__ADS_1
"Ra, kamu dimana? Kenapa tidak datang ke kantor? Apa terjadi sesuatu?"
Mike memberikan pertanyaan yang paling sulit Kiara jelaskan. Kiara terdiam cukup lama hingga Mike kembali berbicara.
"Ra, kamu baik-baik saja kan?"
"Untuk saat ini aku baik-baik saja Mike. Tapi terjadi banyak hal dalam waktu semalam. Aku tidak bisa bercerita banyak."
Mike bisa merasakan nada bicara Kiara yang tampak lemah. Kiara selama ini termasuk tipikal wanita yang semangat ketika berbicara. Tapi kali ini Kiara terdengar seperti seseorang yang sedang sakit.
"Ra, kamu pasti tahu bahwa situasi di kantor sedang buruk karena suamimu yang berubah menjadi mode pemarah. Aku saja tadi ditolak untuk menghadap. Beri tahu aku bagaimana mengahadapi situasi kantor yang seperti ini, Ra. Kamu yang lebih memahami hatinya."
Kiara kembali terdiam mencerna informasi yang Mike berikan. Kiara tidak pernah berpikir bahwa Aldi akan masuk ke dalam mode pemarah dengan skala cukup tinggi hingga keberadaan Mike saja ditolak.
"Mungkin Aldi sedang menangani Verlita dan ... pria itu, Ferdi." Kiara sadar ini pertama kalinya dia mengucapkan nama pria ini sejak penculikan terakhir yang dia alami.
"Ra, kamu baik-baik saja." Mike kini semakin khawatir. Situasinya pasti sudah sangat buruk jika sudah berhubungan dengan pria penyebab trauma Kiara ini. Tapi untuk Verlita, apa yang sudah wanita itu perbuat dalam hal ini?
"Aku akan berusaha tetap baik-baik saja Mike. Aku akan menajaga kewarasanku dan juga kesahatanku demi anakku." Kiara kembali meneteskan air mata setiap teringat bahwa anaknya tidak diakuai oleh ayahnya sendiri.
"Kiara, apa yang bisa aku lakukan dalam situasi ini? Berikan aku tugas untuk dilakukan agar aku juga bisa mempertahankan kewarasanku di saat seperti ini."
"Ada satu hal yang bisa kamu lakukan, Mike. Ceritakan kepadaku apa saja hukuman yang Aldi berikan kepada Ferdi dan Adelia selama ini. Apa Ferdi sudah berubah menajdi gila ataukah masih waras untuk menjawab beberapa pertanyaan?"
Mike kembali kaget Kiara sudah bisa menyebut nama Ferdi lagi tanpa ragu. Apa mungkin trauma Kiara sudah bisa dia atasi?
🌸🌸🌸🌸
Aldi memakan sarapannya di hadapan Daniel sambil memperhatikan CCTV dimana Kiara masih sedang menelepon seseorang. Dia telah cukup lama berbicara di telepon. Aldi pun segera melahap semua makanannya dan mengecek siapa yang sedang berbicara dengan Kiara.
Aldi melakukan pengecekan dengan begitu mudah karena Aldi juga telah menyadap ponsel Kiara. Aldi mengalihkan pengecekan sadapan kepada yang lain dan beralih kepada penyadapan panggilan telepon Kiara saat ini.
Aldi mendengarkan semua pembicaraan Kiara dengan Mike sejak awal. Aldi sampai tidak memedulikan keberadaan Daniel di hadapannya yang menanti perintah penugasan dari Aldi.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸
_Dinda^^