Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Ferdi tidak bisa bergerak


__ADS_3

"Tuan, kita sudah di luar kota Jakarta. Tolong bebaskan orang tua saya." Pelayan yang membantu Adelia kabur menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi.


Di kanan kiri mereka hanya ada hutan. Suasana malam yang hening tanpa kendaraan yang lalu-lalang menambah rasa dingin di tengkuk sang pelayan. Tapi dia memberanikan diri demi keselamatan ayah dan ibunya yang ditawan oleh Ferdi.


"Mereka aman di Jakarta, kamu tidak usah khawatir. Anterin kami ke tempat yang aku inginkan terlebih dahulu." Ferdi bicara dengan nada biasa. Tidak ada nada amarah sedikit pun seperti ketika masih di rumah majikannya, Aldi.


"Setelah tiba di sana, saya boleh kembali menemui ayah dan ibu saya, kan tuan?" si pelayan ingin memastikan kelanjutan nasibnya.


"Tentu saja." Sahut Ferdi. Setelah drama kecil dengan pelayan ini usai, Ferdi kembali memeluk kekasihnya dan menikmati perjalanan panjang dengan mendekap Adelia tercintanya.


Sang pelayan yang sudah kelelahan ingin berhenti sejenak. Tapi semakin lama dia menunda, orang tuanya akan semakin lama disekap oleh pria yang duduk di belakangnya.


Mobil yang dia kendarai ini adalah milik keluarga Wiji Sasongko. Karena tugasnya adalah berbelanja bahan makanan setiap hari, maka dia dipasrahi sebuah mobil yang memudahkannya belanja setiap hari.


Berkat keahliannya menyetir dan penyelesaian tugasnya yang selama ini selalu baik, si pelayan diperbolehkan membawa pulang mobil ini untuk kendaraan pribadinya. Hanya di keluarga besar kaya-raya seperti ini saja ada pelayan yang mendapat fasilitas mobil untuk dinas bekerja.


Tapi untuk menjadi pelayan di rumah besar itu tidaklah mudah. Dia sendiri menggunakan ijazah sarjana S-1 untuk melamar pekerjaan ini. Ijazah SMA tidak diterima bekerja di rumah besar keluarga Wiji Sasongko.


Teman-temannya yang menjadi pelayan di rumah itu paling tidak mempunyai ijazah Diploma 1. Itupun yang Diploma 1 harus memiliki keahlian khusus yang dibuktikan dengan sertifikat yang jelas.


Berada dalam situasi seperti ini membuatnya ingin menangis darah. Sudah dipastikan dia akan dipecat dari pekerjaannya. Selain itu membantu musuh keluarga itu pasti tidak akan bisa lepas dengan mudah. Bisa saja dia dituntut atau dipenjara.

__ADS_1


Tapi semua ini demi ayah dan ibunya. Dia bekerja demi mereka. Apalah artinya jika dia tetap bekerja di sana dengan gaji besar jika ayah dan ibunya tidak selamat karena pria menyeramkan yang duduk di belakangnya.


Pria mengerikan itu telah mengamati rumah majikannya begitu lama hingga dia tahu siapa saja yang biasa keluar masuk rumah majikannya tanpa pengecekan dari para pengawal.


Si pelayan terpilih karena dia selalu keluar masuk menggunakan mobil dengan banyak barang belanjaan. Ferdi juga tahu ayah dan ibunya tinggal bersamanya. Kedua orang tuanya terbiasa di rumah. Mereka tidak bekerja. Sasaran yang sangat mudah untuk menjadi alat mengancam si pelayan.


Ketika sedang berkendara, tiba-tiba si pelayan menyetir agak oleng. Sepertinya dia memang terlalu lelah menyetir selama beberapa jam tanpa henti.


"Kamu mau bikin kita kecelakaan! Nyetir yang bener!" Ferdi marah-marah dari belakang. Ingin rasanya memukul kepala si pelayan dari belakang jika tidak ingat dia sedang menyetir.


"Maaf, tuan. Bisakah kita istirahat sejenak. Saya khawatir mengantuk atau oleng lagi. Ini pertama kalinya saya menyetir begitu lama." Si pelayan bicara dengan pelan. Dia memang sudah terlalu lelah.


Ferdi pun menyadari bahwa keselamatannya lebih penting. Merasa sudah berada di luar kota, Ferdi menyuruh pelayan itu berhenti dan beristirahat sejenak.


Mendengar perkataan sang pelayan, Ferdi tampak gelisah. Perubahan sikap Ferdi yang menjadi gelisah tertangkap oleh mata si pelayan. Meski dia seorang pelayan, dia cukup berpendidikan dan bisa merasakan ada yang aneh dengan pria yang menyekap orang tuanya itu. Seketika pikiran si pelayan memikirkan hal paling buruk.


Jangan-jangan telah terjadi sesuatu kepada orang tuanya. Makanya pria ini gelisah. Tapi si pelayan tidak berani membuat pria ini marah.


"Kamu mau istirahat atau menelfon! Pilih salah satu! Kalau kamu menelfon sekarang, habis itu kita jalan lagi. Nggak ada lagi waktu istirahat buat kamu. Kita langsung berangkat lagi."


Ferdi membentak si pelayan. Membuat sang pelayan kebingungan. Dia sendiri paham kondisi dirinya. Sejak tadi malam Ferdi mendatangi rumahnya dan menyandera seorang tuanya, si pelayan tidak makan sama sekali. Dia sama sekali tidak ingin memakan apapun.

__ADS_1


Kini setelah mengingat bahwa dirinya sudah 24 jam belum makan, si pelayan baru merasa lapar.


"Maaf tuan. Apa saya boleh makan? Saya tidak makan apapun sejak tadi malam."


"Kamu ini merepotkan sekali!" Ferdi merasa terusik terus oleh pelayan ini. Sepertinya sudah saatnya dia melepaskan pelayan yang hanya akan merepotkan dirinya.


"Kamu tidak akan berhenti merepotkan ku sampai bisa kembali ke sisi orang tuamu, kan! Jadi sebaiknya kamu sekarang kembali ke Jakarta. Turun dari mobil. Cari cara sendiri untuk kembali ke Jakarta!" Ferdi sudah kehilangan kesabaran dengan pelayan satu ini.


"Terimakasih tuan. Saya diperbolehkan kembali kepada orang tua saya." Wajah sang pelayan kini tampak bahagia bisa terlepas dari Ferdi.


Sang pelayan keluar dari tempat duduk supir. Ferdi dan Adelia juga sama-sama keluar dari mobil.


Mobil itu terparkir di pinggir jalan yang sepi dengan kanan kirinya hutan yang gelap. Si pelayan telah berada di depan mobil. Memberikan tempat kepada Ferdi yang baru keluar dari mobil untuk menduduki kursi kemudi dari sebelah kanan.


Sementara itu Adelia juga keluar dari pintu kanan mobil. Hendak menemani Ferdi di samping kirinya nanti. Tapi Adelia tidak melihat ada truk dari arah belakang dengan kecepatan tinggi melaju ke arahnya.


Adelia yang baru keluar dari pintu kanan mobil tersambar oleh truk yang melaju dengan cepat. Supir truk itu baru mengerem setelah menyadari ada benda keras yang ditabrak olehnya. Sementara Adelia terlempar akibat tabrakan keras truk yang mengenai tubuhnya.


Ferdi dan si pelayan melihat bagaimana Adelia tiba-tiba tertabrak oleh truk yang seolah muncul dari ketiadaan. Si pelayan terkejut dan tampak ngeri melihat tubuh Adelia yang tergeletak agak jauh dengan bersimbah darah.


Ferdi tidak bisa bergerak menyaksikan kekasih yang baru saja dia selamatkan tampak tergeletak mengerikan di jalanan. Ferdi merasa ini sangat tidak mungkin. Ferdi yakin Adel telah berhasil dia selamatkan. Tidak mungkin yang barusan tertabrak itu kekasihnya. Ferdi baru tersadar ketika si pelayan memanggil-manggil dirinya.

__ADS_1


"Tuan, tuan. Ayo segera selamatkan nyonya. Hubungi ambulan atau kita segera bawa ke rumah sakit. Ayo tuan." Si pelayan menyadarkan keterkejutan Ferdi. Membuat Ferdi bergegas melihat keadaan Adelia yang sudah tak sadarkan diri.


__ADS_2