Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Sentosa Island


__ADS_3

Bella mengerjap-ngerjapkan matanya yang silau dengan cahaya kamar yang terlalu terang baginya. Begitu membuka mata, Bella yakin ini bukan kamarnya. Lebih tepatnya bukan kamar Bima. Kamar ini serba putih dan terlalu terang. Kamar Bima memiliki cahaya yang agak temaram dan cenderung remang-remang.


"Dok, pasien sudah sadar." Bella menoleh ke arah suara wanita yang memakai baju perawat di sampingnya. Bella yakin ini rumah sakit. Tapi bagaimana bisa dia sampai di rumah sakit. Siapa yang membawanya ke sini?


"Ceklek" Pintu kamarnya terbuka. Pria berwajah dingin yang selalu Bella rindukan memasuki kamarnya.


Melihat Bima yang berjalan ke arahnya membuat Bella berharap Bima yang membawanya kemari. Tatapan Bima kepada Bella selalu saja tajam. Tatapan yang menyelidik itu lagi-lagi ditujukan kepadanya. Sebuah tatapan kecurigaan.



Bella tidak tahan ditatap dengan begitu intens dengan kecurigaan begitu. Bella memilih menundukkan pandangannya dan berusaha tidak memikirkan Bima dan keinginannya. Rasa penasaran dan salah ucap hanya akan menyakiti dirinya lebih dalam.


"Drama apa lagi yang kamu mainkan?" Tatapan menyelidik itu masih saja ditujukan kepada Bella. Kebingungan akan pertanyaan Bima pun tak bisa dielakkan. Bella ingin diam tapi tidaklah mungkin. Bima selalu menuntut jawaban dari setiap pertanyaannya kepada Bella.


"Aku tidak tahu drama apa yang kamu maksud." Bella masih tidak berani menatap Bima sama sekali. Bella hanya memandang ujung selimut yang menutupi kakinya.


"Hentikanlah kepura-puraan kamu, Bella! Maksud kamu apa menyembunyikan kehamilan kamu! Aku hampir saja membuat kamu keguguran! Aku hampir membunuh anakku sendiri!" Bima berteriak dan ingin sekali memukul Bella seperti sebelum-sebelumnya, tapi Bima kini berusaha menahan diri.


Bella terkejut mendengar bentakan Bima. Apa yang baru saja Bima ucapkan sedikit tidak masuk akal baginya. Bima menyebutkan tentang keguguran dan juga.... anak.


Bella refleks memegang perutnya dengan kedua tangan ketika memikirkan anak yang disebut-sebut Bima. Benarkah dia sudah hamil? Kabar baik ini terlalu tidak masuk akal. Tidak mungkin akan ada kabar baik datang kepadanya.


"Jangan bercanda. Kamu yakin aku hamil? Aku sama sekali tidak merasakan tanda-tanda kehamilan." Bella menantang Bima. Baginya kabar ini kurang masuk akal. Bisa saja Bima sedang mempermainkannya. Atau juga bisa saja Bima salah.


Bima sendiri tercengang dengan tanggapan Bella. Mana mungkin dirinya bercanda mengenai kehamilannya. Dimana otak wanita ini.


"Baca sendiri." Bima mengeluarkan hasil laporan dokter dari laci di sebelah tempat tidur Bella.

__ADS_1


Bella menerima dan membaca laporan itu dengan seksama. Bahkan Bella membacanya hingga tiga kali dari Kop rumah sakit di bagian paling atas hingga tanda tangan dokter yang memeriksa.


Di laporan itu tertulis dengan jelas bahwa dirinya sudah hamil dengan usia kandungan 3 bulan lebih.


"Kamu sudah hamil begitu lama, tapi kamu sama sekali tidak sadar. Kamu ibu yang keterlaluan, Bel." Bima lagi-lagi emosi melihat Bella.


Bella meneteskan air mata mendengar ucapan Bima. Sakit sekali mendengar makian Bima kali ini. Dia menganggapnya sebagai ibu yang tidak baik bagi calon anaknya.


Bima berhenti berkata kasar melihat tatapan Bella kepadanya. Tatapan itu menyakitkan hati Bima. Dengan mata yang masih basah oleh air mata yang mengalir ke pipi putihnya, Bella berhasil membuat Bima tak bisa berkata-kata lagi.


Bima bahkan merenungkan kalimatnya barusan. Mencoba memikirkan perkataannya kepada Bella yang mungkin terlalu kasar.


🌸🌸🌸🌸


Di malam yang sama, Kiara menghabiskan sorenya mengelilingi Sentosa Island. Sebuah wahana bermain yang sebelumnya sempat Kiara dengar cukup menarik. Memang tergolong masih baru dibandingkan Universal Studio yang cukup terkenal di Indonesia. Tapi memasuki sendiri Sentosa Island sangatlah luar biasa bagi Kiara.


Memiliki perusahaan besar sekelas Blue Corp di Singapura membuat Aldi dengan mudah menikmati kemewahan yang diinginkan. Semua akses ke kemewahan di negara ini bisa dengan mudah Aldi dapatkan,


Tapi bagi seseorang yang tidak pernah mengunjungi Dunia Fantasi maupun Ancol di Jakarta, pemandangan seperti Sentosa Island ini amat menakjubkan bagi Kiara.


"Aku suka tempat yang kamu pilih ini, Al. Kita main dulu kan sebelum ke resort?" Kiara masih tidak menoleh menatap Aldi. Dia sibuk mengamati pemandangan yang ada di hadapannya.


"Tentu." Jawaban singkat Aldi mengawali petualangan Kiara sore itu di Sentosa Island. Dua jam penuh mereka bermain hingga Kiara merasa kelelahan.


"Kita makan malam dulu di atas Cable Car itu sebelum kembali ke resort tempat kita menginap malam ini" Aldi tiba-tiba mengajak Kiara makan malam dan menunjuk ke arah papan iklan yang memuat gambar kereta gantung Sentosa Island.


__ADS_1


Ketika Kiara masih sibuk mengamati gambar Cable Car yang ditunjuk oleh Aldi, beberapa orang pegawai mendekati mereka dan memberikan salam penghormatan sebagai sapaan.


"Silahkan ikuti kami, tuan. Cable Car yang tuan inginkan sudah siap."


Kata salah satu pegawai yang mengenakan jas dengan model dan atribut yang berbeda dari pegawai lainnya. Tampaknya pria itu memiliki jabatan yang lebih tinggi dari pada pegawai lainnya di situ. Mungkin dia manajernya, pikir Kiara.


"Baiklah, apa koper kami ke sudah dibawa resort?" Aldi bertanya kepada sang manajer sambil menggandeng Kiara menuju kereta gantung bersama pegawai Sentosa Island.


"Sudah tuan. Kami juga telah mengosongkan resort yang tuan minta. Semua tamu yang sebelumnya di sana telah kami pindahkan ke resort sebelah. Resort milik lawan bisnis kita, tuan. Saya dengar bahwa Tuan menginginkan supaya kami menjalin hubungan yang baik dengan kompetitor."


Mendengar pembicaraan Aldi dengan pegawai dari tempat itu membuat Kiara tersentak. Kiara menghentikan langkahnya dan menanyakan apa yang ada di benaknya kepada Aldi.


"Al, kamu yang mempunyai resort yang dikelola pegawai itu?" Kiara menunjuk manajer yang mengenakan jas itu.


"Tentu saja. Resort kita adalah salah satu dari yang terbaik di sini." Jawab Aldi dengan bangga. Kiara menggaris bawahi ucapan 'Resort KITA' yang keluar dari mulut Aldi. Sejak kapan dirinya merasa memiliki sebuah resort di Singapura.


"Kok kamu nggak ngajak kita nginap di situ saja tadi malam?" Kiara lebih ingin menanyakan hal ini dari pada menanyakan tentang kepemilikan resort.


Aldi berhenti sejenak memikirkan pertanyaan Kiara, kemudian menjawabnya sambil tersenyum di telinga Kiara, "Aku sudah bosan melihat resort itu sejak kecil. Aku ingin malam pertama kita lebih berkesan. Aku ingin melakukannya di tempat yang lebih istimewa. Yang tidak akan bisa aku lupakan. Yang akan selalu kamu kenang sebagai salah satu memori terbaik dalam hidup kamu."


Kiara mendengarkan jawaban Aldi sambil bersemu merah. Bisa-bisanya dia mengingatkan apa yang mereka lakukan tadi malam ketika berada di tempat umum begini. Bagaimana jika anak buah Aldi mendengar bahwa mereka baru saja melakukan malam pertama setelah tiga bulan menikah. Itu akan sangat memalukan.


"Sebaiknya kita pergi menyusul mereka." Kiara menjauh dari Aldi dan mengejar langkah manajer yang memimpin jalan mereka menuju Cable Car yang disebut-sebut Aldi.


🌸🌸🌸🌸


Hai readers. Makasih yang sudah tetap setia menanti update Kiara dan Bella. Makasih juga yang sudah berkomentar di chapter sebelumnya...

__ADS_1


Big Love to You All.. 🥰🥰🥰


__ADS_2