Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Fahad Mendekati Rara


__ADS_3

Aldi pergi rapat dengan klien di salah satu ruang rapat. Sementara Kiara dibiarkan berada di meja kerjanya di ruangan Aldi. Kiara yang biasanya mengikuti kemana pun Aldi rapat kini harus menerima keputusan Aldi untuk meninggalkannya di sini dengan beberapa pekerjaan ringan seperti mengelompokkan berkas. Pekerjaan yang hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja bagi Kiara.


Tapi ketika Kiara selesai dengan berkas-berkasnya, Daniel memasuki ruang kerja Aldi untuk menemui sekertaris Rara.


"Bisa kita bicara sebentar, sekretaris Rara?" Dengan tiba-tiba Daniel memunculkan wajah tidak menyenangkannya kepada Rara.


"Ya, pak Daniel. SIlahkan." Sahut Rara dengan nada datar yang biasa.


"Mungkin saya akan terdengar lancang, tapi posisi jabatan saya di kantor ini masih satu tingkat di atas sekretaris Rara. Oleh karena itu, mohon sekretaris Rara menjawab dengan sungguh-sungguh apa yang akan saya tanyakan kali ini." Ekspresi serius wajah Daniel yang sekarang ini semakin tidak Kiara suka. Tampaknya Daniel sudah tidak tahan lagi untuk tidak menginterogasi Rara tentang kedekatannya dengan bos.


"Silahkan, asisten Daniel." Kiara berusaha terdengar tenang meski sebenarnya tidak bisa tenang memikirkan jawaban dari pertanyaan yang Daniel inginkan.


"Saya mendengar semua pembicaraan sekretaris Rara dengan pak Aldi pagi ini. Termasuk panggilan sayang pak Aldi kepada sekretaris Rara."


"Lalu?" Rara tampak menantang Daniel


"Saya memang tidak berhak mencampuri urusan sekretaris Rara dengan bos. Tapi sekretaris Rara tahu kan bahwa bos sudah memiliki istri?"


"Semua orang di kantor ini mengetahuinya. Mana mungkin aku sendiri tidak tahu."


"Maka dari itu sekretaris Rara seharusnya paham bahwa hubungan sekretaris Rara dan pak Aldi tidak seharusnya bekembang lebih jauh."


"Memang, tentu saja." Rara menyetujui Daniel. Hal ini berbeda dengan apa yang Daniel pikirkan. Jawaban Rara berbeda dengan skenario yang ada di benak Daniel.


Karena Daniel hanya diam, kini Rara akan menginterogasi Daniel. "Apa kamu pernah mendengar atau melihat aku menggoda bos?"

__ADS_1


Daniel diam memikirkan hal ini cukup lama. Karena tidak kunjung ada jawaban, Rara mengajukan pertanyaan lagi. "Pernahkah aku manggil bos dengan kata-kata sayang atau panggilan sayang seperti itu? Pernahkah aku tampil menggoda seperti pegawai lainnya yang minim bahan ketika bekerja? Atau pernah melihat aku melakukan sesuatu yang tak pantas bersama bos?"


Setelah cukup lama Daniel memikirkannya, jawabannya meang tidak. Yang menunjukkan perasaannya hanya Aldi. Yang tampak protektif adalah Aldi. Rara hanya bawahan yang selalu tampak baik dan mengerjakan tugasnya dengan sesuai.


"Jadi, jika ada yang harus kamu tanya-tanya adalah bos yang manggil-manggil sayang itu. Bukan aku!" Tegas Rara.


Daniel sadar yang diucapkan Rara benar adanya. Dia terlalu terbawa emosi dan tidak berpikir jernih. Rara hanya bawahan yang menjadi korban. Pelakunya adalag si bos yang kelewat perhatian kepada bawahan perempuannya.


" Kalau tidak ada hal lain lagi, bisa tinggalkan saya sendiri?" Rara masih mengusir dengan sopan. Tapi belum sampai Daniel menjawab, suara ketukan pintu terdengar.


"Tok.. Tok.. Tok.." cara mengetuknya terdengar mantap. Rara dan Daniel sama-sama menoleh ke arah pintu sebelum Rara membuka pintu untuk tamu mereka.


Begitu membuka pintu ruang kerja Aldi, Rara cukup kaget melihat sosok yang berdiri di hadapannya, Fahad berdiri di depan pintu. Rara melihat bahwa tidak ada seorang pun yang duduk di meja asisten, itulah sebabnya Fahad langsung mengetuk pintu ruang pimpinan.


Fahad baru pertama kali melihat wanita cantik di hadapannya ini. Tapi reaksi terkejutnya membuat Fahad memikirkan banyak hal. Apalagi Fahad telah mendengar apa yang diperbincangkan oleh kedua orang yang kini ada di ruangan bos mereka, Aldi.


"Mohon maaf pak. Saat ini rapat sudah berlangsung. Bisa kami tahu bapak dari mana dan ada jadwal rapat jam berapa?" Kiara mengucapkan dengan fasih dengan nada bicara sekretaris Rara.


"Saya Fahad Ja'far dari perusahaan MW. Saya ada janji rapat pada jam makan siang. Tapi saya memang terlambat datang. Karena saking terburu-burunya, saya lupa tempat rapatnya dan menuju ke ruang pak Aldi saja langsung untuk bertanya."


"Baik, pak. Saya sekretaris pak Aldi. Mari saya antarkan ke ruang rapat." Rara dengan sopan membimbing jalan.


Daniel hendak maju dan menggantikan Kiara untuk mengantar klien spesial ini. Tapi Rara memberikan kode kepada Daniel untuk membiarkan dirinya menangani hal ini. Daniel tidak menyadari bahwa apa yang dia lakukan ini akan memicu amarah Aldi nantinya.


"Kamu nampak masih muda. Masih kuliah?" Fahad yang berjalan di belakang Rara membuka obrolan.

__ADS_1


"Saya tidak semuda itu pak. Saya sudah lama lulus kuliah dan bekerja di beberapa tempat juga sebelum di sini."


"Oh, ya. Bagi saya kamu nampak seperti mahasiswi yang baru mulai kuliah di semester awal."


"Bapak terlalu memuji. Silahkan masuk, pak. Rapatnya berlangsung di ruangan ini. Dan tampaknya sudah dimulai."


"Kamu nggak ikut masuk untuk ikut rapat?"


"Saya masih ada yang dikerjakan, pak. Yang ikut rapat sekarang asisten pak Aldi yang lainnya. Saya hanya akan mengumumkan kedatangan bapak saja"


"Oh, begitu. Asisten dan anak buah saya sebenarnya sudah ada di dalam. Saya tinggal membubuhkan tanda tangan saja setelah semua selesai dirapatkan. Jadi saya bukannya terlambat. Tapi memang datang di waktu yang tepat, yaitu saat tanda tangan perjanjian kerja sama kita." Tanpa menunggu pertanyaan Rara, dengan sengaja Fahad menjelaskan kedatangannya yang terlambat dalam rapat kali ini.


"Baik, pak. Silahkan masuk." Rara menanggapi Fahad dengan ucapan profesional. Tidak menampakkan ketertarikan untuk mengobrol layaknya seorang teman sama sekali. Kemudian Rara membukakan pintu rapat untuk Fahad.


Usai Fahad masuk dan rapat terhenti karena kedatangan Rara dan Fahad, maka Rara pun menjelaskan maksud kedatangan mereka.


"Mohon maaf mengganggu rapat sejenak, pak Fahad dari perusahaan MW hadir untuk penandatanganan rapat kerja sama." Dengan sopan dan profesional, Rara mengumumkan kedatangan Fahad sang pimpinan perusahaan MW.


Sekilas Rara menatap Aldi. Tatapannya terlihat dingin. Rara paham bahwa Aldi sedang marah. Tapi mau bagaimana lagi, hanya ini yang bisa dia lakukan sesuai jabatannya sebagai sekretaris. Rara tidak bisa menghindari Fahad kali ini.


Usai Fahad duduk di kursi yang disediakan, Rara permisi tanpa berpamitan terlebih dahulu karena rapat telah berlanjut.


Dalam perjalanan kembali ke meja kerjanya yang ada di ruangan Aldi, Rara memikirkan beberapa hal. Kebanyakan yang ada di pikirannya ini tentang Fahad.


Ketika Rara mengantarkan Fahad tadi, pimpinan perusahaan MW itu seolah mengajaknya berbasa-basi. Tapi biasanya klien tidak akan seramah itu kepada seorang sekretaris biasa. Rara memiliki kecurigaan bahwa Fahad sempat mendengar obrolannya dengan Daniel. Jika itu benar terjadi, maka Fahad bisa saja mendengar bahwa Aldi mendekatinya dan tertarik padanya. Fahad tertarik kepada Aldi dan Kiara karena Ferdi. Jika aku memiliki hubungan spesial dengan Aldi, maka berikutnya aku akan menjadi sasaran Fahad untuk menggali informasi penting tentang Ferdi.

__ADS_1


Memikirkan nama pria itu saja sudah membuat hati Kiara tidak nyaman. Tapi melihat Fahad yang berwajah sama dengan Ferdi tidak mempengaruhi dirinya sama sekali.


_Dinda^^


__ADS_2