
Aldi menambah beberapa nama yang perlu dimasukkan ke dalam daftar pantauan. Aldi juga sudah memulai pengerjaan spyware ke beberapa ponsel orang yang namanya ada di daftar itu. Tapi Aldi tidak jadi mendatangkan tim IT WS Tech ke Blue Corp. Sejak mengkonfirmasi ada orang yang mencurigakan di jajaran asistennya, Aldi memilih berjaga-jaga untuk tidak memberinya info apapun.
Aldi sebelumnya sudah mengadakan konferensi video dengan timnya dari WS Tech. Aldi melakukan pembagian tugas dan target penanaman spyware ke ponsel masing-masing orang yang ada di daftar itu. Aldi juga sudah membagikan source code untuk spyware buatannya yang juga akan bisa dimodifikasi oleh masing-masing dari anggota timnya. Setelah merasa puas dengan pembagian pekerjaannya, Aldi baru tersenyum lega. Koordinasi semacam ini sebenarnya akan lebih cepat jika bisa dilakukan secara langsung. Tapi karena memang tidak memungkinkan untuk mengumpulkan mereka secepatnya, maka hanya cara ini yang dapat Aldi pikirkan agar pekerjaannya tidak akan banyak tertunda lagi.
Di saat Aldi sedang sibuk dengan penanaman Spyware ke ponsel orang-orang yang mencurigakan, Mike menghadapi bos besar Fahad yang tampak tidak mau bekerjasama. Fahad menunjukkan tampang tak bersahabatnya sejak bertemu Mike.
Mike yang tiba-tiba harus menghadapi hal ini juga sama tidak senangnya dengan Fahad. Ketika ternyata Fahad dibawa untuk berhadapan dengan Mike, tentu wajah Fahad berubah tampak tak senang. Yang dia harapkan adalah bertemu Aldi, tapi kini Mike yang ada di hadapannya.
"Maaf sekali pak Fahad. Pak Aldi sedang ada agenda rapat dan beberapa pekerjaan yang memerlukan penanganannya secara langsung. Maka dari itu saya mewakili pak Aldi untuk menemui bapak." Mike mengawali pernyataannya kepada Fahad yang sudah memasang wajah tidak senangnya ketika melihat Mike.
"It's okay pak Mike. Saya akan kembali lain waktu ketika pak Aldi ada waktu saja. Memang salah saya yang tidak janjian dulu sebelum datang kemari."
"Kami yang minta maaf pak. Kesalahan bukan ada pada bapak. Tapi kami lah yang bersalah. Sebagai permintaan maaf, saya di sini mewakili pak Aldi yang tidak bisa menemui bapak." Mike sengaja berbelit-belit. Dia ingin tahu sampai mana wajah tak suka Fahad yang terpasang itu bisa bertahan.
Untuk sejenak Fahad kehilangan kata-kata."Baiklah, sampaikan saja salamku kepada Presdir. Tolong buatkan janji temu dengan pak Aldi. Kalau bisa untuk besok."
"Apakah pak Fahad bisa memberitahukan saya selaku CEO, hal ini mengenai apa ya pak?" Mike tidak mau kalah. Mendapatkan sekecil pun informasi akan lebih baik.
"Sebenarnya tidak terlalu urgent. Tapi saya ingin membahasnya dengan Presdir secara langsung. Ini mengenai beberapa hal yang ada dalam kontrak kerja sama kita."
"Saya adalah pendengar yang baik. Dan saya punya cukup waktu untuk mendengarkan apapun mengenai kontrak kerja sama kita." Mike masih berusaha mendapatkan lebih banyak informasi dari Fahad. Tapi tampaknya Fahad sudah akan pergi. Sebelum itu, kelihatannya ada pesan yang masuk ke ponselnya. Fahad sibuk dengan ponselnya cukup lama. Dari sudut matanya, Mike sepertinya tahu bahwa Aldi sedang menargetkan ponsel Fahad.
Mike berusaha menahan senyum di ujung bibirnya. Kemudian mengantarkan Fahad hingga ke depan pintu ruang kerjanya. Di depan ruang kerjanya sudah ada asisten perempuan Mike yang siap mengantarkan Fahad, klien mereka, hingga berjalan masuk ke lift.
__ADS_1
Begitulah tugas mendasar asisten CEO maupun Presdir. Mereka menangani tamu-tamu dan klien sebelum bisa masuk menemui CEO maupun Presdir. Tapi Mike juga merasa aneh dengan situasi asisten Aldi yang berjumlah lima orang itu. Dia saja hanya memiliki dua orang asisten, tapi keduanya melakukan pekerjaannya dengan baik.
🌸🌸🌸🌸
Daniel sedang menjalankan perintah Aldi.
"Cepat pesankan makan siang untuk nyonya Kiara. Pesankan dari restoran Itali dengan menu steak yg disukai bos. Minta diantarkan ke sini dalam waktu satu jam." Daniel memerintahkan salah satu asisten yang jabatannya di bawah dirinya.
Keempat staf asisten Presdir sedang lengkap. Semua hadir di sana. Daniel juga sengaja membuat suara perintahnya terdengar.
Usai melakukan tugasnya, Daniel kembali ke kantor Presdir untuk menghadap kepada Aldi kembali.
"Bos. Perintah dilaksanakan."
Daniel pun menjalankan perintah Aldi dan menanti di depan meja asisten Mike. Daniel mengajak ngobrol asisten Mike untuk kamuflase. Mana mungkin Daniel diam menanti di sana tanpa melakukan apapun. Pasti akan terlihat mencurigakan jika Daniel tidak memiliki urusan apapun untuk berada di situ.
Tak berselang lama, Daniel melihat Fahad keluar dari ruangan Mike. Demi menjaga kesopanan, Daniel berdiri dari kursinya dan memberi hormat kepada Fahad yang merupakan klien penting Blue Corp.
"Kamu asisten Presdir, kan?" Wajah Fahad tiba-tiba berubah ketika melihat Daniel.
"Benar, pak." Sahut Daniel singkat.
"Saya ada urusan sama kamu untuk membuat janji temu dengan pak Aldi. Bisa kita cocokkan jadwal sekalian mumpung kita bertemu?" Fahad melihat ke arah Mike yang berada di belakangnya dan kembali menatap Daniel tanpa mempedulikan Mike.
__ADS_1
"Silahkan, pak. Kita bisa mencocokkan jadwal untuk agenda pertemuan dengan pak Aldi." Daniel masih saja berusaha menjaga kesopanan.
"Kalau begitu kita ke meja kerja kamu saja. Tidak enak ngobrol dengan berdiri di sini." Ajak Fahad sambil berjalan ke arah ruang Presdir berada. Fahad seolah menghindar dari Mike agar tidak menyarankan supaya mereka berbicara di kantor Mike saja.
Daniel yang melihat Fahad menjauh pun hanya bisa mengikuti. Prediksi bos Aldi memang begitu akurat. Sebelum beranjak pergi, Daniel memberikan penghormatan kepada Mike yang berdiri bengong melihat Fahad yang pergi.
Ketika berjalan menuju ruangan Aldi yang berada di lantai yang sama dengan Mike, Daniel diajak berbincang - bincang oleh Fahad.
"Sudah lama bekerja di sini?" Tanya Fahad.
"Masih sangat baru, pak. masih juga beberapa bulan."
"Oh, ya? Tapi kamu sudah langsung menjabat asisten Presdir. Kamu pasti punya kinerja yang baik dan kemampuan yang nggak biasa.
"Tidak begitu juga pak." Daniel bukan orang yang kebal terhadap pujian. Dipuji dengan demikian tentu membuat Daniel berbunga-bunga. Tapi ketika melihat meja asisten dan stafnya di hadapan mereka, Daniel berusaha menguasai diri.
"Jangan merendah seperti itu, posisi asisten sangat penting bagi orang yang duduk di jabatan yang tinggi seperti kami. Banyak aplikasi berbasis web baru yang bermunculan. Tentu asisten di sini sangat berperan"
Keduanya sudah tiba di depan kantor Aldi. Fahad berusaha mengulur waktu dengan mengajak Daniel bicara terus-terusan.
🌸🌸🌸🌸
_Dinda^^
__ADS_1