Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Pria Bermasker


__ADS_3

Kiara berada di hotel sepanjang hari. Usai berbicara dengan Aldi di siang hari, Kiara merasa dikerjai terus-menerus oleh Aldi. Kiara merasa semakin bosan. Ingin rasanya keluar melakukan sesuatu. Tapi melakukan apa?


Kiara ingin melakukan sesuatu. Tapi apa yang bisa Kiara lakukan di kamar hotel begini?


Kiara menggerakkan lututnya yang terluka. Rasanya tidak sakit seperti tadi malam. Kiara sudah bisa berjalan normal tanpa rasa sakit sejak minum obat di pagi hari. Tapi menjelang siang ketika waktunya minum obat lagi, kakinya terasa nyeri kembali.


"Aku bisa pergi ke luar mencari udara segar dengan kondisi kaki yang sudah membaik." Kiara melirik Mall yang berada di sebelah hotel. Dari jendela kamarnya, Kiara bisa melihat lalu lalang kendaraan yang keluar dan masuk ke parkiran Mall.


"Menghabiskan waktu di Mall sambil menunggu Aldi pulang akan menyenangkan." Kiara bergerak ke lemari dan mencari baju yang sesuai untuk dia gunakan ke Mall. Mengambil tas, dompet dan hp. Kemudian keluar dengan mengeluarkan kartu kunci kamarnya.


"Senang sekali bisa keluar dari kamar." Kiara tersenyum sambil melihat-lihat banyak orang yang berjalan keluar masuk toko di kanan dan kiri nya.


Kiara hendak masuk ke salah satu restoran cepat saji ketika melihat seorang wanita cantik baru keluar dengan seorang pemuda yang mengenakan setelan jas kerjanya. Sang pemuda berhenti menatap Kiara. Tapi sang wanita cantik tidak memperhatikan Kiara.


"Kenapa aku merasa familiar dengan wanita cantik itu." Bisik Kiara dalam hati.


Ketika Kiara sudah masuk dan duduk di restoran, sang wanita balik menatap Kiara yang sedang memilih menu. Wanita itu adalah Adelia. Dia memperhatikan Kiara sejenak sebelum berlalu pergi bersama sang pria.


"Berikan aku paket menu spesial dari restoran ini hari ini ya." Kiara memberikan buku menu kepada pelayan restoran dan mulai membuka hp nya.


"Baik, kak." Jawab sang pelayan dan kemudian berlalu.


Kiara melihat berita gosip dan juga berita bisnis. Mencari-cari kabar mengenai WS TECH, ALdi, maupun kabar mengenai BLUE CORP. Kiara berusaha mencerna ulang setiap informasi yang Aldi sampaikan kepadanya. Memahami pola pikir Aldi yang sepertinya agak berbeda dengan dirinya.

__ADS_1


Ketika sedang memikirkan semua itu, makanannya disajikan. Makanan yang masih hangat selalu akan terasa lezat bagi Kiara. Meski kali ini menikmatinya sendirian, tapi Kiara merasa nyaman dengan rasa setiap menu yang disajikan. Setelah kemarin seharian tidak memakan apapun, makan siang dua kali sepertinya tidak masalah. Apa lagi tadi Kiara hanya makan satu menu dengan porsi yang agak sedikit.


Kiara menyelesaikan makanannya dengan lahap dan dalam waktu singkat. Ingin kembali memasuki toko baju pasangan remaja yang tadi tampak lucu. Kiara dan Aldi belum pernah mengenakan baju pasangan yang terkesan santai. Aldi lebih sering memakai kemeja. Dan tadi pagi malah lengkap dengan dasi dan jasnya. Kiara ingin melihat Aldi mengenakan pakaian berbahan kaos yang sama dengan dirinya.


Toko baju yang Kiara inginkan berada di lantai paling bawah. Kiara turun dengan lift agar lebih cepat dan segera memasuki toko. DI dalam toko ada berbagai macam pakaian anak muda yang berbahan kaos. Motifnya juga sangat lucu dan warna-warni.


Kiara tertarik dengan pakaian berwarna pink pastel dengan pasangan berwarna biru langit. Ada tulisan 'GREAT HUSBAND' pada baju biru langit. Sementara pada baju pink pastel bertuliskan 'LOVELY WIFE'. Pola tulisan kedua baju membentuk gambar hati yang masing-masing baju memiliki separuh dari hatinya.


Pilihan Kiara jatuh pada pasangan baju ini dan meminta pelayan toko membungkus pasangan baju itu. Kiara kini memikirkan kapan akan memberikan baju itu kepada Aldi dan mengajaknya mengenakan baju ini kemana. Jika hanya untuk di rumah saja, rasanya tidak akan lebih menyenangkan dibandingkan dengan pergi keluar berjalan-jalan.


Melihat warna biru dari baju milik Aldi membuat Kiara ingin ke pantai. Bayangan pantai terakhir yang Kiara dan Aldi kunjungi ketika berbulan madu membuat Kiara ingin mengulanginya. Bermain sepuasnya di tepi pantai.


Begitu keluar dari toko, Kiara merasa butuh ke kamar mandi. Untuk kembali ke kamarnya atau menggunakan kamar mandi di lobby hotel butuh waktu untuk mencari. Jadi Kiara kembali ke dekat lift lantai satu. Tadi Kiara melihat ada toilet di lorong dekat lift.


Dalam sepersekian detik. Tangan Kiara sudah berada di belakang tubuhnya. Pria itulah yang melakukannya. Sebuah pisau kecil menyentuh kulit lehernya yang jenjang. Membuat Kiara yang kaget semakin merasa merinding.


"Jika kamu bekerja sama, kamu nggak akan merasakan ketajaman pisau ini."


"Apa mau kamu?"


"Diamlah, dan ikuti saya keluar dari sini." Bisik pria itu.


"Letakkan tas belanjaan kamu di situ. berikan tas kamu ke saya. Dan pakai masker ini."

__ADS_1


Kiara mengikuti semua perintah pria itu. Maletakkanbtas belanja, memberikan tasnya sendiri. Kemudian memakai masker yang diberikan sang pria.


Usai melakukan semua itu, sang pria melilit tangan kanan Kiara dengan tali dan menjadikan satu dengan tangan kiri pria itu sendiri. Jas yang sebelumnya sudah dia lepaskan, menjadi penutup kedua tangan mereka yang terikat menjadi satu. Pisau kecil tadi dipegang oleh tangan yang terikat dengan Kiara.


"Jangan berani berteriak atau lari! Jika kamu nggak ingin pisau yang di tanganku itu melukai tangan kamu. atau bahkan terhujam langsung ke jantung kamu!" Bisikan sang pria terdengar seperti perintah yang langsung menghipnotis Kiara untuk tidak melawan. Mata pria itu terlalu menakutkan.


Begitu keluar dari toilet, sang pria mengajak Kiara keluar melalui lobby utama. Setelah berjalan agak jauh hingga area depan Mall, sang pria membuang tas Kiara kentong sampah yang cukup besar kemudian melanjutkan berjalan berdua dengan Kiara.


Setelah berjalan jauh hingga halte bis terdekat, sang pria mengajak Kiara duduk di halte. Tak lama menunggu, bus datang. penumpangnya agak sedikit. Sang pria bisa menemukan dua kursi kosong. Sehingga Kiara bisa duduk bersisian dengan sang pria. Kiara berada di kursi dekat jendela. Dengan menatap keluar, Kiara mencoba memikirkan yang dia sedang lalui saat ini.


"Kamu mau ajak kemana aku? Apa mau kamu?"


"Diamlah," Dengan satu kata itu, pisau yang ada di tangan sang pria berubah arah. Dinginnya mata pisau bisa Kiara rasakan menyentuh kulit tangannya.


Kiara merasa dibawa keluar kota. Perjalanan dengan bis itu memakan waktu hingga satu jam lebih.


Begitu tiba di halte yang dituju, Kiara dan sang pria turun dan kembali berjalan kaki hingga cukup lama. Keduanya berhenti di sebuah gang sepi dimana sebuah mobil merah darah terasa tidak cocok berada di situ.


"Masuk." Perintah sang pria.


Begitu Kiara memasuki mobil itu, seorang wanita yang tampak familiar sedang duduk di bagian kemudi.


"Kalian..." Belum usai Kiara berucap, sebuah sapu tangan membekap mulutnya dan Kiara pun tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2