Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Pengakuan Aldi


__ADS_3

Kiara telah mengalami banyak mimpi yang menyayat hatinya. Tapi kemudian semua mimpi itu hilang.


Dalam mimpi itu, Kiara merasa sedang dipeluk dan digenggam tangannya. Rasa pelukan dan genggamannya pun serasa Kiara kenal.


Tidak berselang berapa lama, Rasa kantuk pun kembali datang. Dalam mimpinya itu Kiara kembali ingin tidur dalam alam tidurnya.


Pada akhirnya Kiara pun terbangun dari mimpi panjangnya. Begitu membuka mata, Kiara merasa ada tangan yang memeluk tubuhnya. Kiara Melirik ke samping untuk melihat sosok yang memeluk dirinya. Sesuai dengan harapannya, Kiara melihat Aldi dengan mata terpejam dan tangan merangkulnya.


'Apa ini mimpi?' Kiara mengedipkan mata beberapa kali dan masih ada Aldi di hadapannya. Posisi mereka berdua juga masih tetap.


'Sepertinya ada yang salah dan aku lupakan. Tidak seharusnya tidur bersama seperti ini. Aku seperti habis tidur panjang dan melupakan banyak hal penting.' Pikir Kiara sambil menatap wajah tampan sang suami yang masih terlelap.


Kiara mencoba bergerak dan ingin turun dari ranjang untuk ke kamar mandi. Tapi pergerakannya membangunkan Aldi seketika.


"Kiara." Tatapan Aldi usai bangun amatlah terkejut melihat Kiara.


"Syukurlah kamu sudah bangun, sayang." Aldi mengucapkannya sambil membawa Kiara ke dalam pelukannya dengan posisi sama-sama duduk.


Aldi memeluk Kiara dengan erat seolah sangat merindukannya.


"Ada apa ini? Kamu sangat merindukanku, Al?" Kiara berusaha mengeluarkan rasa penasarannya atas semua ini.


"Ya, aku sangat merindukanmu, Kiara." Aldi masih belum melepas pelukannya.


"Al, Kita kenapa ada di hotel?" Kiara yang berwajah polos mengajukan pertanyaan kembali. Membuat Aldi gemas ingin menciumnya. Tapi Aldi harus bisa menahannya.


"Aku yang membawa kamu ke sini. Aku tidak ingin kamu dirawat di rumah sakit oleh orang lain. Aku saja yang merawatmu. Lutut kamu masih terasa sakit enggak?"


"Lutut?"


"Kamu enggak ingat kemarin terjatuh dan melukai lutut kamu?"


"Aku..." Tiba-tiba serangan ingatan menyakitkan kemarin kembali kepada Kiara.


Aldi sudah melepaskan pelukannya dan bersiap menghadapi apa pun reaksi Kiara.


"Aku kemarin tidak bisa menghubungi kamu, Al"


"Iya, maafkan aku yang tidak mengetahui kamu telepon, Ra."


"Lalu aku menerima foto kamu sama Verlita." Pandangan Kiara menerawang meski sedang menghadap Aldi.


Aldi juga menanti lanjutan pertanyaan atau respon Kiara.

__ADS_1


"Apa pria di foto itu adalah kamu?"


Aldi tidak menyangka poin penting bagi Kiara adalah yang paling sulit dia jawab.


"Ya, itu aku, Ra."


Kiara menatap mata Aldi dengan tatapan tak percaya.


"Maukah kamu mendengarkan aku menjelaskan yang terjadi kemarin secara keseluruhan?"


"Aku tidak punya pilihan selain menjadi pendengar yang baik."


"Yang ada di foto itu memang aku, Ra. Tapi aku dalam posisi dibius." Aldi berhenti dan melihat ekspresi maupun reaksi Kiara.


"Lanjutkan"


"Bima mengundangku ke hotelnya untuk membahas kerja sama antara WS TECH dengan Atmaja Grup. Aku sudah tahu sebelumnya jika Bima akan merencanakan hal tidak baik. Jadi aku dengan berani datang. Sebab aku sudah memasang kamera di liontin ini."


Aldi menunjukkan liontin yang Verlita duga diberikan oleh Kiara.


"Kamera ini memiliki kamera yang memorinya dikirim langsung ke asisten aku yang mengawasi dan bersiap jika terjadi sesuatu yang buruk."


"Aku berpesan supaya menyelamatkanku jika Verlita sampai membuatku tidur dengan dia. Tapi karena melihat mereka hanya membuatku tidur dan difoto dengan membuka pakaian bagian atas saja, mereka tidak menerobos untuk membawa aku pergi."


"Tunjukkan kepadaku rekamannya." Aldi bangkit dari ranjang mereka dan memilih menunjukkan video yang ada di tablet. Aldi mengambil tabletnya dari tas dan mencari video yang dimaksud. Kemudian memberikan kepada Kiara untuk dilihat.


"Kamu lihatlah dengan seksama. Aku pesan makanan dulu ya." Aldi menuju ke telepon layanan kamar dan memesan banyak menu makanan yang dia yakin akan disukai Kiara.


Usai memesan, Aldi duduk di hadapan Kiara dan kembali memperhatikan dengan seksama bagaimana ekspresi wajah Kiara saat melihat video itu.


Video berakhir dengan Bima mencium Verlita dan membuat handuk yang dikenakan oleh Verlita menjadi berantakan.


"Itu semua yang terjadi usai aku tidak sadarkan diri karena mengonsumsi minuman yang sudah diberi bius oleh Bima." Aldi mengawali lagi perbincangan dengan Kiara.


"Jadi foto itu hanya rekayasa dengan kamu sebagai pemeran utamanya."


"Kurang lebih begitu."


"Kalau memang asisten kamu mengawasi, kenapa dia tidak kamu perintahkan masuk begitu baju kamu dilepaskan oleh wanita itu?" Kiara tampak menahan amarah.


Prediksi Aldi salah. Video ini tidak menyelesaikan masalah. Aldi baru sadar bahwa Aldi di mata Kiara tetap saja salah.


"Aku.. aku ingin memiliki alasan untuk menggoyahkan Atmaja grup."

__ADS_1


"Kenapa juga harus menyerang perusahaan Bima?"


"Dengar, Kiara. Aku telah melakukan penyadapan kepada Bima selama ini. Dia menyelidikiku karena ingin memisahkan aku dari kamu. Dengan alasan itu saja, aku tidak bisa menyerang Atmaja Grup yang besar. Beda jika pewaris Atmaja grup melakukan kesalahan kepadaku."


"Kamu mau menyerang mereka? Dengan meretas mereka?"


"Tidak. Dengan perusahaan yang aku miliki. Sebenarnya aku bukan pegawai di WS TECH, tapi aku pemiliknya." Kiara merasa terkejut sekaligus merasa paling bodoh.


Seharusnya dari cara pengeluaran dan belanja Aldi selama ini, Kiara memiliki kecurigaan. Kenapa dia begitu mudahnya percaya semua perkataan Aldi mengenai gajinya dan pemberian Mike dan semua hal dalam liburan itu.


"Aku membeli WS TECH dalam kondisi mau bangkrut, jika aku tidak menyamarkan jabatan asliku sebagai salah satu pegawai biasa seperti mereka dan mencari akar permasalahannya dari bawah, maka aku tidak bisa mengubah WS TECH menjadi besar dengan waktu yang singkat."


Kiara memikirkannya dan Aldi memang benar. Dia kenapa begitu cerdas. Membuat Kiara sulit untuk marah kepadanya.


"Selain itu ada satu lagi alasan. Aku harus menikah dengan anak dari papa kamu. Masih ingat, kan?"


'Ya, aku akan selalu mengingatnya. Mana mungkin bisa lupa.' Jawab Kiara hanya dalam hati. Enggan menjawab Aldi.


"Bella membuang kesempatan menjadi istriku karena aku orang biasa."


'Bukan hanya itu, kamu terlalu dingin, Aldi!!' Teriak Kiara. Masih saja hanya dalam hati bisa mengucapkannya.


"Meski aku sadar sih, Bella menjauh karena aku susah  didekati. Aku bersikap terlalu dingin sama dia."


Kiara menatap Aldi dengan heran. 'Kok kamu juga sadar, Al'


"Terus terang, Ra. Aku merasa tidak nyaman berdekatan dengan Bella. Aku khawatir dikhianati seperti sebelumnya."


'Ah, trauma Verlita muncul.' Kiara hanya menjawab dengan menatap mata Aldi. Tanpa mengeluarkan apa yang dia ucapkan dalam benaknya. Kiara masih enggan untuk itu.


"Masih banyak yang ingin aku tanyakan. Apa kamu mau jawab semuanya?" Kiara akhirnya ingin berbicara. Pertanyaan di benaknya terlalu banyak. Banyak hal dari penjelasan Aldi yang ingin Kiara tanyakan.


"Aku bakal jawab. Enggak ada lagi rahasia yang ingin aku tutupi dari kamu. Tapi rahasiaku terlalu banyak untuk aku jelaskan semua sekarang."


"Kenapa kamu mau berbagi semua hal rahasia itu sama aku sekarang? Beberapa hari lalu kamu menyuruh aku menunggu."


"Aku enggak mau ada salah paham yang bisa bikin aku kehilangan kamu, Ra." Aldi tiba-tiba memeluk Kiara dengan erat


"ting .. tong.. " Suara bel memotong pelukan Aldi.


"Kita berhenti dulu cerita-ceritanya ya. Makanan sudah datang. Kamu butuh makan dan minum obat."


Kiara hanya bisa memasang wajah cemberut yang lebih dibuat-buat.

__ADS_1


__ADS_2