Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Menutupi Kondisi Bella


__ADS_3

"Kamu yakin ngajak aku pindah ke sini?"


Bima tidak melihat ada wajah senang sedikitpun di wajah Bella. Rencananya menyenangkan Bella dengan kejutan kepindahan rumah ini sepertinya akan gagal.


Tapi Bima tidak mau menyerah. Bima bertekad menyenangkan Bella. Mungkin sudah saatnya Bima menggunakan beberapa taktik yang biasa dia gunakan untuk membuat para gadis terpesona hingga rela menghangatkan ranjangnya.


"Tentu saja. Sudah saatnya kita hidup di rumah kita sendiri." Jawab Bima. Bima merangkul bagian belakang tubuh Bella untuk mengajaknya masuk ke rumah.


Bella sedikit terkejut dengan aksi Bima ini, tapi Bella tidak protes atau menolak. Hanya saja ada rasa bersalah di hati Bella. Mengingat ini adalah rumah yang Bima bangun untuk hidup bersama Kiara.


"Kita ke ruang kerja aku dulu ya." Ajak Bima yang masih merangkul bagian belakang Bella. Tangan kanan Bima ada di samping kanan perut Bella. Mengajaknya ke ruang kerja dengan mantap.


Di ruang kerja Bima yang sama luasnya dengan ruang kerja di rumah utama keluarga Atmaja, Bella duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Bima sendiri tidak langsung ikut duduk seperti Bella. Tetapi duduk di meja kerjanya dan membuka lemari di bawah meja yang di dalamnya ada brangkas milik Bima.


Bima mengeluarkan map yang tampak penting dari brangkas itu. Kemudian beranjak ke hadapan Bella. Bima duduk di hadapan Bella dan memberikan map tersebut.


"Bukalah, Bel." Bima meminta dengan lembut.


"Apa ini?" Bella tidak langsung membukanya. Tapi Bella menunjukkan wajah penasarannya. Menuntut penjelasan Bima.


"Bukalah dulu." Pinta Bima kembali.


Bella membuka map itu dan membacanya. Di dalam map itu ada dokumen sertifikat kepemilikan tanah dan rumah. Bella membaca lembar demi lembar buku sertifikat itu.


"Rumah ini milik kamu, Bel." Bima mengungkapkan dengan singkat isi dari sertifikat yang dibaca Bima.


Bella memikirkan ucapan Bima dan mencari kertas lain di dalam map itu. Tapi tidak ada. Bella mencari dokumen surat perjanjian cerai. Tapi di dalamnya hanya ada sertifikat rumah.

__ADS_1


"Untuk apa kamu ngasih aku rumah ini? Kenapa surat cerainya tidak ada?" Tanya Bella.


Bima kaget dengan kata 'cerai' yang diucapkan oleh Bella.


"Kita akan tinggal bersama di sini, Bel. Tidak ada perceraian." Bima berusaha bersabar dan berbicara dengan nada yang masih lembut. Meski pun dalam hatinya ingin marah karena niat baiknya masih saja disangka buruk.


"Jadi rumah ini bukan lah kompensasi jika kita bercerai. Lalu ini kompensasi untuk apa?"


"Kenapa kamu anggap aku kasih kompensasi atas suatu hal? Aku sudah sering bilang sama kamu. Aku nggak pernah ada niat ninggalin kamu."


"Kamu masih mau pura-pura sampai kapan? Kamu nggak capek terus berpura-pura baik sama aku? Kiara dan Aldi sudah nggak di sini. Aku juga nggak ada niat ngundang Kiara kemari. Kamu sudah nggak akan diapa-apain sama Aldi. Aku nggak akan mengadu kepada mereka jika kamu mau kembali bersikap seperti sebelumnya."


Bella mengucapkannya dengan nada datar seolah sedang membicarakan cuaca yang terus-terusan hujan akhir-akhir ini. Tapi Aldi yang mendengarkan ucapan Bella tidak menyangka akan apa yang Bella pikirkan tentang dirinya. Bima mengira bahwa perubahan sikapnya kepada Bella selama seminggu ini telah berhasil merubah hubungannya dengan Bella menjadi lebih baik.


"Simpanlah sertifikat itu. Aku tidak berniat berpisah sama kamu. Aku ingin rumah ini menjadi tempat tinggal kita berdua hingga kita tua. Aku ingin menghabiskan sisa usiaku bersama kamu di sini." Bima berusaha fokus dengan niat dan tujuannya yang sebenarnya. Bima harus berusaha menghilangkan salah paham Bella kepadanya.


Bima tertegun sejenak dengan reaksi Bella. Sepertinya Bima terlalu terburu-buru melakukan kontak fisik dengan Bella. Bima hendak mengganti strategi dengan mengganti topik pembahasan. Tapi Bella buru-buru ingin menyingkir dari hadapan Bima.


"Jika hanya ini yang ingin kamu sampaikan, aku ingin tahu dimana kamarku. Aku mau istirahat. Kita sudah melakukan perjalanan berjam-jam. Tidakkah kamu merasa aku butuh merebahkan diri?"


"Maafkan aku, Bel. Aku tunjukkan kamar kita. Ayo kita ke kamar." Bima merasa Bella ingin memiliki kamarnya sendiri. Tapi Bima tidak bisa membiarkan hal itu. Hubungan mereka akan semakin berjarak jika sampai mereka berdua tidur di kamar terpisah.


Bima mengerahkan aura mendominasi yang dia miliki. Berjalan di samping Bella menuju kamar utama. Setibanya di depan pintu kamar utama, Bima membuka pintu untuk Bella dan mempersilahkannya masuk terlebih dahulu.


Bella menatap seluruh ruang kamarnya beserta isinya. Tampak meja rias sudah terisi produk kecantikan dan make up yang biasa dia pakai.


"Kamu sudah memindahkan barang-barang pribadiku dari rumah utama?"

__ADS_1


"Tentu saja. Kalau kamu punya barang - barang kamu di sini, maka tempat ini akan lebih terasa menjadi rumah kamu. Semua yang kamu butuhkan sudah tersedia di sini." Bima membisikkan kalimat terakhir di telinga Bella. Membuat jarak keduanya menjadi terlalu dekat.


Menyadari kedekatan mereka, Bella memutuskan mendekati meja riasnya dan membuka laci-lacinya. Setelah meneliti isinya, Bella beralih ke Walk in Closet. Baju, tas, sepatu dan aksesoris sudah tertata rapi. Ada sebagian bajunya sehari - hari. Tapi kebanyakan baju baru yang labelnya masih belum dilepas.


'Apa tujuan Bima melakukan ini semua? Benarkah hanya karena rasa bersalah karena kehilangan calon anak kami?' Mengingat anak membuat hati Bella kembali ingin menangis.


Bima menyusul Bella ke lemari pakaian yang berbentuk sebuah ruangan itu. Bella terlalu lama di dalam. Membuat Bima khawatir. Dan kekhawatirannya terbukti. Bella sudah mau menangis lagi.


"Kita ngobrol di luar yuk. Aku nggak suka baju pakaian wanita yang belum kena keringat kamu sama sekali ini." Bima mencari alasan asal-asalan saja untuk mengajak Bella kembali ke kamar.


Bima mengarahkan Bella duduk di ranjang berdua dengannya.


"Istirahatlah. Kamu capek setelah perjalanan jauh hanya duduk di mobil. Berbaring sejenak baik untuk pemulihan kamu, Bel. Aku mau kembali ke ruang kerja dulu ya. Nanti malam aku bangunin kalo kamu ketiduran."


Bima tidak menanti jawaban Bella. Bima kemudian mengecup kening Bella dan pergi dari kamar mereka.


Dengan langkah lebar, Bima bergegas ke ruang kerjanya. Bima menyimpan kembali map berisi sertifikat rumah yang tadi tidak diambil oleh Bella. Bella tadi tampak tidak suka mendapatkan map itu. Bima salah mengira bahwa Bella selama ini senang dengan harta keluarganya.


Ketika Bima memasukkan map berisi sertifikat itu ke lemari besinya, Bima mengeluarkan sebuah map dengan logo rumah sakit. Bima membaca isi map berlogo rumah sakit yang berisi laporan kesehatan Bella itu. Bima menerima laporan ini usai Bella menjalani operasi.


Bima terkejut saat pertama kali mengetahuinya. Tapi usai Bima sadar dari keterkejutannya, dia memutuskan bahwa hal ini harus dirahasiakan. Tidak ada yang boleh tahu mengenai isinya, termasuk Bella sendiri.


🌸🌸🌸🌸


Hai Readers


Terima kasih buat yang masih setia menantikan kelanjutannya...

__ADS_1


_Dinda^^


__ADS_2