
Bersantai di pantai memang menyenangkan. Sebanyak apapun berjalan, kakinya tidak kunjung berasa pegal. Mandi singkat dengan shower hangat sudah cukup bagi Kiara untuk menghilangkan rasa lelah dan membersihkan diri.
Aldi sedang keluar untuk mendapatkan makan malam bagi mereka berdua. Membuat Kiara tidak merasa risih ketika sedang mandi. Andai saja Aldi masih ada di kamar ketika Kiara harus mandi, akan sangat memalukan dan mendebarkan ketika Kiara harus berinteraksi dengan Aldi pasca kegiatan mandinya usai.
Mengingat akan hal itu, Kiara mempercepat kegiatan mandinya. Memakai handuk dan mengoleskan lotion ke seluruh permukaan kulitnya, kemudian keluar dengan memakai bathrobe warna putih yang disediakan oleh resort.
Begitu Kiara membuka pintu kamar mandi, pada saat itu juga Aldi membuka pintu kamar tidur. Tatapan keduanya saling mengunci untuk sejenak.
Kiara terlebih dahulu menundukkan pandangannya karena malu. Kulit wajahnya yang agak kemerahan karena habis mandi dengan air hangat semakin merona merah karena rasa malunya. Hal itu menarik perhatian Aldi untuk berlama-lama menatap Kiara.
"Sudah datang, Al." Kiara berusaha menekan rasa malunya diperhatikan oleh Aldi. Mendengar Aldi tidak langsung memberikan jawaban dan masih menatapnya, Kiara mendekati kopernya untuk mengambil gaun rumahan berbahan lembut yang sudah dipersiapkan sebagai baju ganti di malam hari.
"Aku mau mandi dulu." Cuma itu kalimat yang Aldi ucapkan sebelum berlalu ke kamar mandi. Tidak ada jawaban dari sapaan Kiara. Tapi Kiara tahu Aldi tidak sedang bersikap dingin seperti biasanya. Tatapannya tadi seolah ingin menelan Kiara bulat-bulat.
Kiara segera berganti baju dengan cepat, khawatir Aldi tiba-tiba keluar kamar mandi karena suatu hal. Merasa nyaman karena sudah memakai gaun yang panjangnya masih di bawah lutut dengan lengan sepertiga dari tangannya, Kiara keluar dari kamar untuk melihat makan malam yang dibawakan Aldi.
Aroma masakan seafood yang diletakkan di meja ruang santai kamar mereka di resort itu mengundang selera makan Kiara. Kiara yang awalnya tidak merasa lapar kini menjadi kelaparan ingin segera makan. Untungnya Aldi hanya sebentar di kamar mandi. Tidak selama waktu yang Kiara habiskan di dalam sana sebelumnya.
"Al, ayuk buruan makan. Harum sekali makanannya. Aku jadi lapar." Mendengar panggilan Kiara, Aldi hanya menanggapi dengan senyuman tipis. Meski tak dijawab, senyuman Aldi cukup membuat Kiara tak henti menatap sosoknya yang sedang mengambil baju ganti.
Kiara membuka semua bungkusan makanan satu per satu ketika Aldi kembali ke kamar mandi untuk mengganti baju.
"Nggak capek?" Sapa Aldi ketika duduk di samping Kiara hendak menyantap makan malam mereka.
__ADS_1
Kiara bisa mencium aroma shampoo dan body wash Aldi yang menyegarkan. Membuat Kiara tenang menghirup aroma pria yang duduk hampir tidak berjarak di sebelahnya. Kiara mencoba menguasai diri dan tidak tergoda untuk menatapnya dari jarak sedekat ini. Bisa-bisa Kiara akan melakukan hal tidak wajar yang memalukan. "Nggak. Mungkin karena terlalu senang. Kamu sendiri?"
"Nggak juga." Aldi menyuapkan makanan ke mulutnya. Mereka berdua berhenti mengobrol dan menikmati makanan mereka masing-masing.
"Ini beli dari mana? Jauh nggak belinya dari resort?" Kiara tak tahan untuk tidak bertanya seusai menghabiskan sebagian besar makanannya. Rasa masakannya sesuai selera Kiara.
"Lumayan sih. Tadi pake motor yang disediakan oleh resort kok. Jadi meski lumayan jauh juga nggak butuh waktu lama."
"Oh ya. Motornya bisa dipake jalan-jalan juga dong."
"Masih mau jalan-jalan lagi?"
"Hehe. Ya kalo kamu mau nemenin."
"Aku ada kerjaan. Mau nunggu sekitar satu jam?"
"Kerjaan kamu banyak yang terbengkalai, Al?" Kiara menatap mata Aldi. Memastikan apakah Aldi akan berbohong atau berubah ekspresi.
"Aku sudah bawa laptop. Bisa mengerjakan beberapa hal dari sini. Yang penting nikmati saja liburan kamu."
Aldi beranjak dari tempat duduknya di sebelah Kiara. Makanannya sudah habis. Hendak mencuci tangan dan mengambil laptop yang ada di koper nya.
Melihat Aldi sudah akan mulai bekerja, Kiara membersihkan meja tempat mereka berdua makan. Biasanya Aldi suka menggunakan meja ruang tamu dan duduk di karpet lantai ketika menghadap ke laptopnya. Aldi juga melihat Kiara membersihkan meja untuk dirinya. Sehingga Aldi yang awalnya akan mengerjakan pekerjaannya di kamar tidur beralih ke meja yang sudah Kiara bersihkan.
__ADS_1
Merasa Aldi sedang dalam mode bekerja, Kiara tidak banyak bertanya atau berniat mengajak ngobrol. Kiara hanya duduk di sofa di sebelah Aldi. Keduanya duduk berdekatan meski salah satunya di lantai beralaskan karpet. Aldi duduk dengan pemandangan kaki mulus Kiara di sampingnya yang tidak tertutup apapun. Membuat Aldi harus ekstra fokus menatap layar laptopnya tanpa tergoda melirik ke samping.
Kiara sendiri duduk sambil membuka-buka hapenya. Mengalihkan fokus dari pria yang nampak serius mengetikkan banyak hal di laptopnya. Aura Aldi terasa begitu dingin ketika memandang lurus ke layar laptopnya dengan tajam.
"Aku ke depan kamar resort kita ya. Mau lihat laut di malam hari." Kiara beranjak dari sofa dan berpamitan pada Aldi.
"En. Jangan jauh-jauh." Aldi berbicara sambil tetap tidak berhenti mengetik dan menatap layar laptopnya. Kiara heran Aldi merespon perkataannya. Biasanya jika Aldi sudah dalam mode serius bekerja begini tidak akan mau repot menanggapi Kiara.
Kiara menghela udara malam yang berbau lautan. Menyenangkan sekali Kiara bisa menghabiskan waktu di tempat ini. Kamar yang Kiara tempati mengapung di atas lautan yang tidak terlalu dalam. Tapi karena kamar yang Kiara tempati ini berada paling ujung, Kiara yakin lautan di bawah kakinya adalah yang paling dalam dibandingkan dengan kamar lain yanga ada di hadapannya.
Kiara menyaksikan pemandangan malam dari depan kamarnya. Jarak kamarnya dengan kamar lain lumayan jauh. Meski penginapan berbahan kayu memiliki ketahanan bising dan kedap suara yang rendah, Kiara tetap tidak bisa mendengar suara apapun dari kamar lainnya di kejauhan. Hanya ada suara angin laut dan keheningan yang bisa Kiara nikmati. Tidak ada suara lain yang mengganggu ketenangan malamnya.
Kiara menatap laut yang ada tepat di bawah kakinya. Melihat laut yang ada di bawah dek resort itu membuat Kiara menatap cincin di jari manisnya. Cincin yang disematkan Aldi saat akad nikah mereka. Cincin polos dengan satu mata warna putih yang katanya adalah sebuah berlian.
Kiara melepas cincin itu dari jarinya dan menerawang sinarnya di bawah lampu resort. Kilaunya bagus, pikir Kiara. Sejak cincin itu disematkan ke jarinya oleh Aldi, Kiara tidak ada keinginan sama sekali memperhatikan cincin itu atau peduli dengan cincin yang sudah melingkar di jarinya. Tapi malam ini kilau cincin ini begitu menarik di mata Kiara. Kiara tersenyum hanya dengan menatap cincin itu. Merasa hatinya begitu hangat meski diterpa angin malam yang begitu kencang.
Tiba-tiba pegangan ujung ibu jari dan jari telunjuknya yang mengapit cincin itu tidak bisa menahan cincin pernikahannya lolos jatuh ke bawah. Sepertinya Kiara yang sedang melamun bersamaan dengan kencangnya angin membuat cincin itu jatuh. Butuh sepersekian detik supaya Kiara sadar bahwa cincinnya telah terlepas dan membentur lantai kayu kemudian jatuh ke lautan.
Kiara yang tersadar dengan apa yang terjadi tidak mau berpisah dengan cincinnya. Tanpa berpikir panjang, Kiara meloncat ke laut dingin di bawah dek resort itu. Kiara tak peduli dengan rasa dingin air laut yang tiba-tiba menyergapnya. Kiara memasukkan kepalanya mencari cincin yang seharusnya masih melayang tak jauh dari pandangannya. Cincin itu seharusnya belum tenggelam terlalu dalam. Lampu resort yang cukup banyak membantu Kiara menemukan keberadaan cincinnya yang melayang semakin ke bawah lautan dengan perlahan.
Kiara berenang ke bawah dengan sekuat tenaga. Berusaha mendahului laju cincinnya. Mengulurkan tangannya untuk menangkap cincin itu ke dalam genggaman tangannya. Tinggal sedikit lagi Kiara sampai. Dalam jarak satu telapak tangan lagi, Kiara bisa meraih cincinnya. Dan Kiara pun mendapatkan cincin itu dalam genggaman tangannya.
__ADS_1
Mata Kiara berbinar menggenggam cincin itu. Membuat Kiara tanpa sadar menghirup sedikit udara yang mengalirkan air laut ke hidung dan tenggorokannya. Kiara merasa tercekik. Kiara harus berenang ke atas. Tapi air yang masuk ke tenggorokannya itu membuat dadanya terbakar. Kiara tak memiliki tenaga untuk berenang naik. Paru-parunya yang kemasukan air membuat dadanya terasa sakit dan semakin sesak. Kiara tidak bisa bernafas. Kiara tak bisa lagi bergerak. Kiara mulai memejamkan mata di bawah lautan dengan masih tidak melepaskan genggaman tangannya terhadap cincin pernikahannya.