Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Kami titipkan Kiara ke tangan nak Aldi.


__ADS_3

"Assalamualaikum" Kiara mengetuk pintu utama panti asuhan sambil berucap salam dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Walaikum salam" Sudah ada beberapa anak yang menanti kedatangannya.


Mereka yang menjawab salam Kiara langsung berhamburan mendekati Kiara.


"Kak Kiara..." Seru mereka serentak.


Kiara berlutut kemudian membuka lebar kedua tangannya. Siap merangkul adik-adik panti.


"Kalian semua bertumbuh dengan cepat ya." Bisik kiara dengan rasa haru yang membuncah di dadanya.


"Itu karena kakak lama nggak datang nemuin kami." Sahut salah satu gadis yang paling kecil di antara mereka.


"Iya. Maafin kakak ya dek. Kakak sama sekali tidak berkunjung sejak pergi ke Jakarta."


"Aku kira kakak lupa jalan pulang." Sahut gadis kecil yang sama.


"Kakak dulu ada yang nyulik ya." Sahut anak lelaki yang sebaya dengan gadis itu.


"Diculik?" Kiara heran dengan imajinasi mereka.


"Iya. Kakak dulu kan pergi ama orang lain. Dia nyulik kakak, kan? Buktinya kakak nggak datang sama orang itu. Tapi sama temen kakak yang ini." Tunjuk anak lelaki itu kepada Aldi.


"Haha. Kamu ini pinter bikin cerita dongeng ya dek." Kiara bangun dari posisi berlututnya. Kemudian dia menoleh ke belakang dimana Aldi hanya berdiri menyaksikan Kiara.


"Maaf aku nyuekin kamu." Kiara baru ingat ada Aldi yang datang bersamanya.


"Aku senang seperti ini dengan liatin kamu doang." Aldi tersenyum.


"Tuh kan. Aku bener. Yang ini beda dengan yang dulu nyulik kakak dari kami." Si pria kecil mengalihkan perhatiam Kiara kembali.


"Beda apanya sih dek." Kiara ingin tertawa mendengar Bima dituduh sebagai penculik Kiara.


"Kakak berdua ngomongnya suka sambil senyum. Kayak bahagia gitu. Kakak berbeda. Nggak seperti dulu yang suka murung." Sahut si gadis paling kecil.


"Masak sih dek. Udah ah. Temenin kakak ketemu bunda panti saja ya."


Baru juga menyebut namanya, ternyata Bunda pengasuh panti sudah tiba mendatangi Kiara.


Kiara amat senang melihatnya mendekat kepadanya.


"Bunda." Kiara berlari ke pelukannya.


"Bunda, ananda senang bisa ketemu bunda." Kiara masih bicara sambil memeluk sang bunda.


"Bunda lebih senang lagi." Sang bunda mengusap rambut Kiara sambil berurai air mata haru.

__ADS_1


"Maafkan Kiara yang tidak pernah pulang kemari sejak pergi." Kiara menatap bunda setelah sebelumnya melepaskan diri dari pelukannya.


"Sudahlah, ra. Yang penting sekarang kamu sudah datang. Bunda sangat senang." Bunda berusaha mengusap air matanya.


"Bunda sudah siapkan kamar buat kamu dan suami. Ayuk bunda temenin taruh barang kalian di kamar kalian dulu." Bunda menggandeng Kiara hingga ke kamarnya.


Aldi memilih mandi dan ganti baju dulu. Sementara Kiara duduk bersama Bunda di ruang santai tempat anak-anak panti sedang mengelilingi keduanya.


"Bunda khawatir dengan kepulangan kamu. Ada apa, Ra?"


"Gak ada apa-apa, bunda. Kiara hanya kangen."


"Baiklah jika kamu belum mau cerita. Kamu harus berbagi kepada bunda jika sudah butuh teman berbagi cerita ya,nak." Bunda memegang pipi Kiara.


Kiara mulai berkaca-kaca. Tapi tidak sampai meneteskan air mata.


Bunda juga melihat kesedihan di mata Kiara. Tapi tidak melanjutkan untuk memaksa Kiara bercerita.


"Aldi terlihat baik, nak."


"Begitukah menurut bunda?"


"Dia sampai mengantarkan kamu ke sini. Menemani kamu dalam perjalanan sejauh ini."


"Iya, bunda. Kiara senang bisa kembali ke sini." Kiara memeluk bunda. Beberapa saat ingin melepas lelah. Bersandar kepada wanita yang menjadi orang tua Kiara sejak kecil.


Usai melepas pelukan Bunda, Kiara melihat kedatangan Aldi yang sudah terlihat segar dengan pakaian gantinya yang lebih santai. Kaos dengan celana jeans.


Aldi suka mengenakan kemeja setiap keluar rumah baik untuk kerja atau sekedar jalan. Jarang sekali Kiara melihat Aldi hanya mengenakan kaos santai. Apalagi celana berbahan jeans.


Jika di rumah juga Aldi jarang mengenakan pakaian seperti ini. Membuat Kiara merasa Aldi lebih muda bertahun-tahun.


"Bunda tinggal ke dapur sebentar ya nak." Bunda membuyarkan lamunan Kiara. Mengehentikan tatapan mata keduanya.


"Kamu sedih lagi." Aldi menatap raut wajah Kiara.


"Nggak kok. Aku nggak sedih." Kiara tersenyum kaku. Salah tingkah mengetahui Aldi memahami perasaannya saat ini.


"Apa sudah selesai koordinasi kerjaan kamu?" Kiara mengalihkan perhatian.


"Belum. Besok saja."


"Ada tempat yang ingin kamu kunjungi di kota ini?"


"Apa?" Kiara bingung menjawab pertanyaan Aldi yang berubah haluan.


"Aku ingin jalan-jalan ke kota ini besok. Kamu ingin ngajak aku kemana?" Aldi fokus menatap Kiara.

__ADS_1


"Aku pengennya ke taman bermain sama anak-anak panti. Kamu mau nemenin?"


"Tentu saja."


"Kamu nggak terganggu main sama banyak anak-anak?"


"Kenapa terganggu?"


"Aku kira kamu lebih suka menyendiri." Kiara menggoda Aldi


"Emangnya aku pernah bilang suka menyendiri?"


"Nggak sih. Tapi kan kamu biasanya berdiam sendirian ketika kerja di kantor atau di rumah."


"Apa itu berarti aku terlihat lebih suka sendiri?"


"Iya"


"Nggak lah. Aku suka pergi jalan sama kamu dan anak-anak di sini"


"Kalo gitu besok kita jalan-jalan ke arena bermain!" Kiara berseru. Menjadikan banyak anak menoleh dan bersorak.


Aldi hanya bisa tersenyum melihat tingkah kekanakan Kiara bersama para anak kecil di hadapannya. Jarang sekali Aldi melihat wajah Kiara yang tidak bertampang serius.


Ketika di rumah memasak atau bersih-bersih, wajahnya nampak fokus dengan pekerjaannya. Ketika di dalam mobil dalam perjalanan kemana saja juga Kiara selalu tampak serius memikirkan sesuatu.


"Nak Aldi." Bunda panti memanggil Aldi dari sampingnya. Membuyarkan pikiran Aldi mengenai Kiara.


"Ya Bunda."


"Mau berjalan-jalan ke sekeliling panti?"


"Tentu, Bunda. Silahkan." Aldi bersikap ramah dan memberi jalan kepada bunda.


"Nak Aldi tampak memperhatikan Kiara terus-menerus selama di sini. Sudah lama menaruh hati kepada anak bunda?"


Aldi menghentikan langkahnya. Menatap bunda yang juga berhenti melangkah.


"Nak Aldi menyayangi Kiara, kan?" Bunda menatap mata Aldi. Mencoba menemukan jawaban dari tatapannya.


Aldi sendiri hanya menatap Bunda. Tidak kunjung ingin menjawab. Aldi baru memulai memikirkan jawaban dari pertanyaan ini.


"Nak," Bunda menggenggam tangan kanan Aldi, "Kiara sebatang kara sejak lahir. Hanya kami di panti asuhan ini keluarganya. Kini nak Aldi juga adalah keluarganya, suaminya Kiara. Jaga dan sayangi dia ya nak."


Aldi menatap tangan kanannya yang masih di genggaman kedua tangan Bunda.


"Walaupun ini terlambat, tapi Bunda ingin tetap mengatakannya. Kami titipkan Kiara ke tangan nak Aldi."

__ADS_1


Aldi tak kunjung menjawab perkataan Bunda. Aldi masih memikirkan pertanyaan Bunda.


"Tolong jaga dan sayangi Kiara ya nak. Keluarga terdekatnya saat ini hanyalah nak Aldi. Kami semua di sini berada terlalu jauh. Hanya nak Aldi yang bisa bunda harapkan untuk memberikan segenap cinta dan kasih sayangnya untuk Kiara."


__ADS_2