Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Rumah Gelap


__ADS_3

Bella ditinggal bersama beberapa pengawal yang bersiap jika Bima hendak membawa Kiara kabur dari lokasi penculikan itu. Mereka juga tidak terlalu mau tahu apa yang dilakukan nyonya bos di sana. Mereka tidak berani berlaku tidak sopan kepada nyonya dari bos Bima.


"Aku mau menyusul suamiku. Antarkan aku ke rumah yang dia tuju." Perintah Bella kepada salah satu pengawal yang tampak kuat dan memiliki tatapan yang terlihat cerdas.


Sang pengawal yang tiba-tiba mendapat perintah Bella merasa bingung harus menuruti nyonya bos atau tidak. Dia tidak berani berbicara kurang ajar atau menolak keinginan sang nyonya. Tapi dia tahu bahwa lokasi penculikan pasti memiliki resiko yang membahayakan.


"Kamu tidak dengar perintah nyonya kamu? Ayo antarkan aku!" Bella melihat keraguan di mata pengawal itu. Bella meningkatkan volume suaranya agar terdengar sedikit marah, sehingga menjadi lebih meyakinkan.


"Tapi nyonya, saya butuh koordinasi dengan pak Bima atau ketua tim terlebih dahulu."


"Kamu mau menolak perintah saya? Mau bikin saya marah?"Bella berusaha tampil meyakinkan sebagai nyonya Bima Atmaja. Bella ingin terdengar marah dan mengancam.


"Di sana berbahaya, nyonya."


"Justru karena itu, saya harus ke sana memastikan keadaan bos kalian. Sekarang juga kita susul dia. Dia sudah pergi cukup lama." Bella sudah mlangkah seorang diri memasuki blok perumahan. Sementara si pengawal masih diam berpikir.


Sang pengawal pun berlari menyusul langkah Bella yang nampak berjalan perlahan untuk mencari rumah yang kira-kira Bima tuju.


🌸🌸🌸🌸


Bima sedang mengendap-endap di rumah yang menjadi tempat Kiara berada. Begitu masuk ke blok perumahan itu, seluruh akat komunikasi yang dibawa oleh Bima dan pengawalnya tidak berfungsi. Bima dan anak buahnya tidak bisa berkoordinasi dengan baik melalui komunikasi elektronik.


Peralatan night vision yang mereka bawa juga tidak bisa digunakan. Untungnya, Ferdi telah menyalakan lilin sebagai penerangan. Dari ruangan depan hingga ruangan lainnya terdapat satu batang lilin yang menerangi secara samar.

__ADS_1


Bima berusaha berpikir keras mengenai lokasi Kiara. Bima mengabaikan hatinya yang berdebar membayangkan bagaimana kondisi Kiara. Bima yang mengkhawatirkan jeritan wanita yang sejak tadi terdengar menjadi terganggu dengan suasana sepi rumah itu.


Pikiran Bima sudah melayang kemana-mana. Bima sudah menduga hal-hal buruk terjadi pada wanita yang masih belum bisa dia lepaskan itu.


Bima dan pengawalnya menyisir seluruh ruangan terbuka berpenerangan lilin itu dengan perlahan dan teliti. Setelah yakin tidak ada seorang pun di semua ruangan terbuka, Bima mulai akan mengecek tiap kamar tertutup yang ada di lantai satu, lantai dua maupun lantai tiga.


Ya, rumah itu terdiri dari tiga lantai dan memiliki sebuah lift. Tapi lift itu juga tidak bisa dioperasikan. Dugaan Bima dan anak buahnya semakin kuat mengenai alat yang Bima pasang di satu Blok perumahan itu.


Bima mulai memberikan misi baru kepada pengawalnya untuk menemukan juga alat itu dan mematikannya. Alat yang Bima maksud ini dapat membuat alat elektronik apapun tidak bisa berfungsi. Dari aliran listrik, perangkat elektronik, bahkan chip pelacak dan sinyal telepon pun bisa dinonaktifkan oleh alat itu. Alat hebat itu biasanya digunakan untuk teror digital tingkat tinggi.


Bima menjadi sangat heran bagaimana Ferdi bisa berpikir menggunakan alat semacam ini hingga mendapatkannya. Butuh lebih dari satu alat untuk melumpuhkan sinyal dan alat elektronik sejauh satu blok perumahan mewah yang luas ini. Bima merasa sedang menghadapi musuh yang begitu gila.


🌸🌸🌸🌸


Bella semakin terkejut lagi ketika melihat Aldi keluar dari mobil itu dengan bergegas.


Aldi tiba di alamat rumah yang diberikan Adelia dan berlari secepat mungkin memasuki pintu utama. Aldi heran dengan pintu utama yang terbuka. Begitu Aldi masuk, ruang depan hanya memiliki suasana suram dengan penerangan sebatang lilin itu. Hati Aldi semakin mencelos. Aldi sendiri tidak menyadari bahwa alat komunikasi dengan para pengawalnya yang terpasang di telinganya tidak lagi berfungsi.


Rasa takut mulai menyelimuti Aldi. Sama halnya dengan Bima, Aldi khawatir dengan Kiara yang sudah seminggu berada di sini. Suasana malam yang hanya berpenerangan lilin di hadapannya ini terasa mencekam hati Aldi dan membuatnya menggigil kedinginan.


Aldi juag tidak menyadari Bima dan pengawalnya juga berada di rumah itu.


Bima yang sudah berada di lantai dua tidak terdengar maupun terlihat oleh Aldi dan anak buahnya.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Bella melihat tidak hanya Aldi yang masuk ke rumah dimana suaminya berada. Semua orang yang berada di iring-iringan mobil juga memasuki rumah itu dan menghilang dari hadapannya.


Pengawal Bima yang ada di sisi Bella mulai khawatir dengan nyonya bos dan juga bos Bima. Keduanya berhenti dan sama-sama berpikir keras.


Sang pengawal ingin memperingatkan bosnya tapi tidak bisa menggunakan alat komunikasi. Sang pengawal juga ingin mengajak nyonya bos kembali.


Tapi Bella malah ingin segera bergegas dan melihat sendiri apa yang dilakukan Aldi dan anak buahnya. Bella semakin khawatir dengan Bima, suaminya. Bima tidak hanya harus berhadapan dengan orang yang menculik Kiara, tapi juga harus berhadapan dengan Aldi dan anak buahnya yang berjumlah dua kali lipat dari pengawal yang Bima bawa.


Bella yang menyadari akan hal ini, berjalan dengan setengah berlari. Bella berjalan dengan tiba-tiba semakin cepat hingga sang pengawal tidak sadar bahwa sang nyonya bos telah memiliki jarak yang cukup jauh darinya.


🌸🌸🌸🌸


Bima yang tidak menyadari ada Aldi di lantai satu sudah berada di lantai tiga. Bima telah membuka paksa setiap kamar dengan membobol pintu dengan cara manual. Beberapa dari pengawalnya ternyata punya keahlian membuka segala macam kunci pintu. Kamar-kamar tidur yang tertutup di lantai satu dan lantai dua telah berhasil mereka buka dan geledah satu persatu.


Rumah yang sangat besar sekali itu memiliki 8 hingga sepuluh kamar di setiap lantai. Kamarnya juga sedikit berjauhan. Bima amat heran dengan konsep rumah ini. Untuk apa seorang Ferdi memebeli rumah dengan banyak jumlah kamar seperti itu.


Tapi Bima berusaha mengikis rasa penasarannya dan fokus menggeledah setiap sudut dari kamar yang benar-benar gelap itu. Kamar-kamar yang terkunci itu tidak memiliki penerangan lilin satu pun. Agar tidak menjadi gelap, hampir seluruh lilin di lantai satu telah diambil oleh Bima dan pengawalnya untuk menerangi setiap kamar yang gelap dari lantai satu hingga lantai dua


🌸🌸🌸🌸


Hai readers, mulai masuk bab yang agak sulit bagi saya. Pelan-pelan ya bacanya, saya juga menulis dengan pelan agar efek yang saya inginkan dalam chapter-chapter ini bisa didapatkan.

__ADS_1


_Dinda^^


__ADS_2