
Atas permintaan Kiara, Aldi dipindahkan di ruang VIP yang sama dengan Kiara. Karena ruangan itu begitu luas, rumah sakit hanya perlu menambah ranjang tambahan untuk Aldi. Jadi di ruangan itu saat ini ada dua pasien suami istri yang sama-sama butuh perawatan rumah sakit.
Dokter memberikan Aldi obat bius agar malam ini bisa istirahat lebih banyak tanpa terganggu dengan mimpi ataupun rasa sakit di sekujur tubuhnya. Kiara juga meminum obat yang mengandung sedikit dosis obat penenang. Jadi malam ini keduanya sama-sama tidur dengan tenang di ranjang yang bersebelahan di ruangan yang sama. Sebelum tidur, Kiara mengucapkan selamat malam kepada Aldi yang masih saja memejamkan mata. Kiara mencium pipi pria itu dan kembali ke ranjangnya dengan pipi yang memerah.
Ketika Kiara bangun pada keesokan paginya, hal pertama yang dilakukan Kiara adalah menoleh ke ranjang di sebelah kanannya. Tapi Kiara terkejut mendapati ranjang itu kosong. Ranjang itu terlihat rapi dan tidak ada siapapun yang tidur di atasnya.
Kiara mengalihkan pandangan ke pergerakan seorang pria yang membuka halaman dokumen yang berada di pangkuannya. Pria itu mengenakan baju rumah sakit yang sama dengan Kiara. Matanya nampak fokus membaca apa yang ada di pangkuannya saat ini.
"Jika sudah bangun, sebaiknya makan sarapan yang ada di meja sebelah kiri kamu." Aldi yang masih membaca dokumen di pangkuannya tidak menoleh ke arah Kiara sedikitpun meski ucapannya ditujukan untuk Kiara.
"Apa kamu sudah bangun dari tadi, Al?" Kiara mencoba mencari tahu suasana hati Aldi.
"Ya. Sudah beberapa jam aku bangun dan mengamati kamu tidur dengan nyenyak."
"Apa kamu sudah sarapan, Al?"
"Belum. Sengaja nungguin kamu."
"Kalau begitu kita makan bersama-sama sekarang ya. Aku lapar." Kiara sebenarnya tidak lapar. Tapi Kiara ingin membuat Aldi juga mau makan bersamanya. Kiara yakin Aldi tak akan membiarkan Kiara kelaparan terlalu lama.
__ADS_1
Benar dugaan Kiara, Aldi mau makan dengannya. Aldi menutup dokumen yang dari tadi dibaca dan menata makanan mereka di atas meja di hadapan Aldi. Kiara yang melihat pergerakan Aldi langsung menyeret tiang infusnya ke dekat sofa dan duduk di sofa di hadapan Aldi. Kiara senang melihat Aldi mulai makan.
Meski Aldi tak kunjung mengajaknya bicara, Kiara tetap senang memakan makanannya sambil terus menatap Aldi yang juga sedang makan dengan baik.
Aldi menyadari sejak tadi Kiara menatapnya. Tapi Aldi memilih membiarkannya seperti biasa. Aldi ingin Kiara tidak menyepelekan kebodohannya melompat ke laut demi sebuah cincin. Kiara harus dibuat jera untuk tidak mengulangi kebodohan yang sama.
Setelah makan dengan tenang, Aldi dan Kiara masih tetap tidak berbicara. Kiara mulai merasa Aldi sengaja ingin mendiamkannya.
Apapun itu, selama Kiara masih bisa melihat bahwa Aldi baik-baik saja sudahlah cukup. Menghadapi Aldi yang pendiam begini bukanlah hal baru bagi Kiara. Jika Aldi hanya ingin mendiamkannya atas kebodohan yang Kiara lakukan terhadap nyawanya sendiri, Kiara rasa ini hukuman paling ringan yang Kiara dapatkan dari pria ini.
"Kita pulang ke Jakarta hari ini." Aldi bukan bertanya. Tapi menyatakan apa yang harus Kiara tahu.
Saat siang mulai terasa terik, Kiara, Aldi dan juga Mike berangkat kembali ke Jakarta dengan kapal pesiar yang lebih kecil dari pada kapal yang sebelumnya mereka naiki selama liburan di kepulauan seribu. Tapi isi kapalnya lebih mewah. Bahkan ada kamar tidur yang perabotannya lengkap. Kapal yang Kiara naiki saat ini lebih terasa sebagai kapal pesiar pribadi dari pada kapal penumpang yang selama ini Kiara rasakan.
Kiara juga sudah bertanya kepada Aldi kenapa mereka bisa naik kapal pesiar yang mewah itu. Tapi Aldi hanya menjawab dengan menunjuk Mike dengan dagunya. Melihat Mike, Kiara seketika paham.
Mike telah memberikan Kiara baju-baju yang terlampau mahal secara cuma-cuma sebagai kado pernikahan mereka. Tentu saja jika Mike ingin menyusul Aldi ke kepulauan seribu, maka Mike yang sepertinya kaya raya itu tinggal menaiki kapal pesiar mewah miliknya saja. Kiara tidak memperpanjang daftar pertanyaannya lagi. Memilih menikmati kemewahan kapal saja.
Kiara menempati satu-satunya kamar di kapal itu. Ada kamar mandi dengan shower juga di dalamnya. Kiara jadi ingin mandi saja. Dua hari di rumah sakit, Kiara sama sekali tidak mandi. Pasti menyenangkan bisa mandi di terik siang yang menyengat ini. Di atas kapal yang sedang berlayar pula.
__ADS_1
Mandi adalah kegiatan favorit kebanyakan kaum wanita. Tak terkecuali Kiara. Melihat berbagai macam produk perawatan kulit tersedia di kamar mandi membuat Kiara tak akan menyia-nyiakannya. Kiara perlu mencobanya. Dan jika cocok, tentu Kiara nanti akan membeli produk yang sama.
Pertama-tama Kiara mulai dari menggunakan scrub. Kiara mengikuti metode yang pernah Kiara alami ketika merasakan dua kali SPA di tempat yang berbeda. Keduanya dimulai dari melakukan massage bersamaan dengan mengoleskan scrub ke seluruh permukaan kulitnya. Akan tetapi karena Kiara tidak bisa memijat dirinya sendiri di seluruh badannya, Kiara memilih melakukan scrub tanpa massage saja.
Seperti halnya ketika Kiara melakukan perawatan SPA, usai mengoleskan scrub dan merontokkan semua sisa kulit mati dan daki bersama butiran scrub, maka Kiara bisa melanjutkan dengan mengoleskan Body Mask ke seluruh permukaan kulit selain wajah yang sebelumnya sudah di lakukan scrub.
Produk Body Mask yang tersedia di kamar mandi itu begitu harum. Kiara sangat suka dengan baunya. Lebih menenangkan dari pada yang digunakan di kedua tempat SPA yang pernah Kiara kunjungi. Kiara mengingat-ingat merk produk Body Mask itu dan nanti pasti akan Kiara beli ketika sudah di rumah.
Selesai dengan Body Mask, Kiara tinggal mandi dengan shower air hangat saja. Tapi sebelumnya Kiara menunggu hingga seluruh Body Mask yang telah dioleskan itu kering. Usai mandi shower, Kiara hendak keluar kamar mandi hanya dengan handuk yang dililitkan di dadanya saja. Tidak ada bathrobe di kamar mandi. Kiara juga tadi tidak membawa baju ganti.
Tapi Kiara dibuat terkejut hingga jantungnya serasa mau copot. Ada Aldi di kamar itu. Aldi juga tampak hendak mandi. Hanya ada handuk yang melilit di pinggangnya. Pemandangan di hadapan Kiara sungguh menawan. Meski sekujur tangan dan wajah masih ada lebam dan bekas luka yang agak mengering, tidak mengurangi kadar ketampanan dan maskulinitas pria di hadapannya.
Begitu pula pemandangan yang ditampilkan Kiara di hadapan Aldi saat ini.Tak hanya pemandangan indah Kiara yang mengenakan handuk, tapi harum yang menguar dari tubuh Kiara pun menguji pertahanan Aldi untuk tidak menerkam Kiara saat itu juga. Rambutnya yang juga basah karena hanya dikeringkan dengan handuk juga menambah keinginan Aldi untuk meraih handuk yang menjadi satu-satunya penghalang bagi Aldi untuk menikmati kelembutan Kiara.
\=\=\=
Chapter ini terjadi banyak perubahan pagi ini karena semalaman tidak di acc oleh NT guys... Dari setengah 8 malam sudah author terbangkan untuk direview. Tapi sudah 12 jam tidak kunjung diterbitkan sama editor. Ini sudah setengah 8 pagi... kalo yg ini lolos review, satu jam ke depan bakal ditayangkan.
Author kesulitan nulis adegan intens yang membara di sini. seringnya tidak di acc ginie... 😑
__ADS_1
_Dinda^^