
Bima dan Aldi berada di rumah yang mereka yakini merupakan lokasi dimana Kiara disekap selama satu minggu.
Bima sedang berada di lantai tiga sementara Aldi mulai menyisir lantai satu.
Rumah yang gelap itu seperti rumah hantu bagi Aldi. Sebab Aldi sedang berada di lantai satu yang tak berpenerangan. Hanya ada beberapa lilin yang terpasang di lantai satu.
Aldi maupun Bima juga tidak menyadari keberadaan satu sama lain. Sebab rumah besar itu tidak hanya gelap, tapi juga sepi.
🌸🌸🌸🌸
Bima mulai memasuki kamar pertama yang dia tidak yakin akan ada Ferdi ataukah Kiara di dalamnya. Tapi pengawal Bima yang sebelumnya menguping dari pintu kamar tidak mendeteksi suara sekecil apapun.
Dengan perlahan dan berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apapun, pengawal Bima mulai membuka kmar pertama di lantai tiga. Begitu terbuka, para pengawal memasuki kamar yang lagi-lagi gelap tanpa penerangan. Para pengawal sudah banyak yang menduga bahwa kamar ini kosong. Sebab semua kamar kosong di ltai satud an dua juga gelap begini. Tidak ada satu batang lilinpun yang menyala.
Akan tetapi ternyata kamar itu berbeda dengan kamar lain sebelumnya. Isi kamar itu berantakan. Tidak rapi seperti kamar di lantai satu dan dua. Dalam pikiran mereka mulai menduga bahwa kamar itu berpenghuni. Salah seorang pengawal berlari keluar kamar dan memberi tahu Bima dengan bisikan.
Di saat salah satu pengawal keluar dari kamar menjemput Bima untuk memeriksa kamar yang berantakan ini, Ada sosok dengan rambut panjang di atas ranjang yang tidak rapi itu. Semua pengawal berdebar dan mulai menduga bahwa sosok itu pastilah seorang wanita. Dan bisa jadi wanita ini yang dicari oleh bos Bima.
Tapi tidak ada satupun pengawal yang berani mendeketi sosok wanita yang tampak tidak bergerak itu. Sosok wanita yang ada di ranjang itu tampaknya tidak menyadari keberadaan beberapa pengawal yang ada di kamar itu.
Bima yang memahami apa yang dibisikkan oleh sang pengawal pun berlari ke ranjang di kamar itu. Bima menerangi wajah wanita yang tampaknya tidur itu. Rambut panjang sang wanita menutupi wajahnya. Bima harus menyibakkan rambutnya untuk melihat wajah wanita itu.
Bima berdebar menggerakkan tangannya. Tangan Bima gemetar ketika menyibakkan rambut wanitanya. Bima mengira wajah Kiara lah yang akan Bima lihat.
__ADS_1
Tapi Bima melihat bekas yang mencolok di leher dan bahunya yang tak tertutup selimut. Ada bekas luka yang berdarah, ada juka bekas lebam yang membiru dan mencolok. Hati Bima sakit melihat itu. Bima juga tidak sanggup membuak selimut itu. Khawatir akan melihat Kiaranya tanpa sehelai baju sama sekali.
"Ra.." Bima memanggil. Bima yang tangannya masih gemetaran tidak mampu bergerak menyibak sehelai rambut pun dari wajah wanita itu.
"Kiara..." Suara Bima serak dan menyedihkan. Pengawal yang berjaga di kamar itu mulai merasa tidak tega melihat kesedihan bos mereka.
"Kiara, kamu bisa dengar aku, kan Ra." Bima berkata dengan perlahan, tapi yang merasa tersayat tidak hanya hati Bima. Para pengawal yang semuanya laki-laki itu juga ikut merasakan sakit sayatan luka bos mereka.
Mereka tahu bagaimana seminggu ini sang Bos menghabiskan waktu di kota C untuk mencari wanita yang bernama Kiara ini.
Para pengawal yang tahu kehidupan mewah Bima merasa heran bagaimana bos merek abisa tidur di mobil Van yang sempit. Itu pun hanya tidur beberapa jam di malam hari. Belum lagi wajah bahagia bos mereka setiap ada titik terang mengenai wanita bernama Kiara ini.
Mereka juga menyaksikan bagaimana raut wajah sang Bos setiap kabar buruk harus mereka sampaikan.
Semua yang ada di kamar itu pun akhirnya perlahan keluar dengan inisitif mereka sendiri. Mereka memilih berjaga di luar kamar. Barangkali sewaktu-waktu sang penculik datang hendak memasuki kamar dimana sang bos kini berada.
"Kiara, aku minta maaf karena sudah terlalu lama. Aku sangat menyesal membebaskan Ferdi, Kiara." Bima sudah mulai meneteskan air mata.
Bima masih sangat yakin bahwa wanita di hadapannya itu adalah Kiara. Bima menduga hanya Kiara yang diculik oleh Ferdi. Bima sendiri juga sudah khawatir bahwa seperti inilah yang akan dilakukan Ferdi terhadap kekasihnya, yaitu menyiksa Kiara dan memaksakan dirinya kepada Kiara begini.
"Aku menyesal telah membantu melepaskan Ferdi dari pernjara, Ra" Bima masih menangis. Tapi dengan tangan yang masih gemetar, Bima membelai rambut Kiara yang menutupi wajahnya yang tidur dengan posisi miring ke hadapan Bima.
Bima membelai Kiara berusaha membuat wanita di hadapannya itu bangun. Air mata Bima yang tak terbendung pun mengalir deras hingga sebagian menetes ke rambut hingga wajah yang juga tertutup oleh rambut itu.
__ADS_1
"Bangunkah Kiara. Maafkan aku Kiara. Aku lah yang salah hingga membuat kamu seperti ini, Ra." Kali ini volume suara Bima semakin keras hingga pengawal yang berjaga di pintu kamar bagian luar pun mendengar betapa menyedihkan suara sang bos Bima.
Pengawal-pengawal Bima yang berjaga menjadi semakin bingung juga. Sebelum memasuki rumah ini, mereka melihat nyonya Bella, istri dari bos Bima. Tapi mereka malah menyaksikan sendiri kesedihan yang begitu besar terhadap wanita yanga ada di kamar itu.
Kesedihan bos mereka terlalu mempengaruhi emosi mereka. Tidak sedikit dari mereka yang berhati lemah malah ikut meneteskan air mata mendengar sang bos. Tapi yang bersedih kepada nyonya bos, yaitu Bella, juga ada. Yang sedang mereka saksikan dan dengar saat ini bukanlah sebuah skandal perselingkuhan bos mereka. Tapi justru itulah yang membuat mereka lebih kasihan kepada Bella. Belum ada perselingkuhan saja bos sudah sangat mencintai wanita yang ada di dalam kamar itu, bagaimana jika wanita itu jatuh cinta kepada bos mereka karena sudah menyelamatkannya dari penculikan?
Mereka meyakini sang nyonya bos pasti suatu saat harus menerima hubungan bos mereka dangan wanita bernama Kiara itu. Melihat wajah nyonya bos yang juga cantyik dan masih muda itu, mereka semakin bersimpati dan ikut sedih dengan nasib Bella, sang nyonya bos.
Di saat para pengawal yang bersiaga di luar kamar sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, Bima masih saja berurai air mata. Bima sudah todak tahu lagi harus mengucapkan apa kepada wanita di hadapannya yang belum juga kunjung mau bangun. Tapi tetesan demi tetesan air mata Bima membasahi rambut wanita itu hingga membasahi pipi dan juga matanya.
Wanita itu pun akhirnya tersadar dan membuka mata. Tapi begitu wanita itu membuka mata dan mengetahui ada sosok pria di hadapannya saat ini, wanita yang tadinya tampak tidur itu berteriak dengan kencang.
"Ahhhhh!" Dia menjerit dengan keras.
"Ahhh! Ahhh! Ahhh!" Dia menjerit berulang kali kemudian menjauh dengan perlahan dari jangkauan Bima sambil mengencangkan selimut yang menutup tubuhnya.
"Pergi! Pergi! Jangan sentuh aku lagi!"
🌸🌸🌸🌸
Hai Readers!
Kaget nggak dengan teriakannya? Sama, saya pun kaget.
__ADS_1
_Dinda^^