
"Hai, Bim." Bella yang asalnya berwajah kesal kini berubah tersenyum semanis mungkin.
Bima heran melihat Bella yang bisa merubah ekspresi di wajahnya dengan cepat. Ada perasaan aneh di hati Bima menyaksikan Bella yang bisa tersenyum lebar seperti itu.
"Ada apa" Bima hanya menunjukkan wajah datar tanpa emosi yang tampak di wajahnya.
"Mommy bilang kamu suka western food. Aku tadi masak steak dan salad." Bella bersikap seolah tidak terjadi apa-apa ketika Bima melihat kedatangan Bella tadi. Masih saja bersikap manis ketika menunjukkan tas bekal makanan yang dia bawa.
Bima hanya beranjak masuk ke kantornya. Tidak mempersilahkan maupun menjawab pernyataan Bella mengenai makanan.
Tapi tentu saja Bella langsung masuk begitu saja ke kantornya. 'Dia kan istri bos', pikirnya.
BIma sebenarnya tidak berselera makan saat ini. Tapi karena Bella sudah membuka semua makanan yang ada dalam tas bekal dan meletakkannya di hadapan Bima, maka Bima memakan beberapa suap.
Bima teringat dengan steak buatan Kiara. Bima memakan steak di hadapannya, Tapi semakin sedih karena merindukan rasa steak buatan Kiara yang entah kapan bisa Bima rasakan kembali.
"Aku dengar Kiara sudah membolos. Aku heran kenapa hari ini muncul kembali ke sini. Aku kira sudah mengundurkan diri untuk menjadi ibu rumah tangga biasa." Bella memancing emosi Bima.
"Memangnya kamu mau jadi ibu rumah tangga biasa?"
"Tentu saja tidak. Aku ingin bisa bekerja di tempat yang sedekat mungkin dengan kamu. Kita butuh waktu lebih banyak untuk saling mengenal dan berusaha menyayangi satu sama lain. Iya, kan?"
"Lalu apa mau kamu?"
"Sebelumnya, aku bekerja di WS Tech sebagai sekretaris."
"Lalu?"
"Aku lihat kamu tidak memiliki sekretaris."
"Kamu yakin bisa menangani pekerjaan sekretaris Presdir Atmajaya Grup?" Bima mengangkat alisnya
"Kalau kamu sendirian tanpa sekretaris saja bisa, kenapa aku nggak?" Bella berusaha tampak berwajah tenang tanpa melibatkan emosi.
"Kamu meremehkan kecerdasanku dalam mengatur segala hal yang menjadi kuasaku?"
"Aku tidak meremehkan. Tapi aku tidak yakin pekerjaan kamu banyak. Liburan ke Paris berhari-hari dengan meninggalkan urusan Atmajaya grup saja bisa kok."
"Oh, jadi kamu tahu aku menghilang kemana."
"Ya, apakah ada bedanya aku tahu kemana kamu pergi ataupun tidak?"
"Baiklah, jika kamu yakin mau jadi sekretaris presdir." Bima tetap berwajah datar dan semakin menatap setiap perubahan raut wajah Bella dari datar menjadi ekspresi senang.
"Tapi kita bukan suami istri di kantor. Aku tidak mau kamu menggunakan status kamu sebagai istriku dalam pekerjaan kamu di sini." Bima menambahkan. Membuat ekspresi senang di wajah Bella berubah menjadi ekspresi waspada.
"Aku tidak masalah dengan hal itu. Kamu tetap suamiku seusai jam kantor. Aku tetap istrimu baik di kantor maupun di rumah." Bella menekankan nadanya pada kata 'suami' dan 'istri'.
"Kapan aku bisa mulai bekerja di sini?" Bella menambahkan.
__ADS_1
"Besok pagi." Bima meletakkan alat makannya meski baru beberapa suap saja yang dimakan dari tadi.
Bella memahami jika Bima sudah tidak mau memakan bekalnya lagi. Bella berdiri dan merapikan bekal Bima. Bersiap untuk pergi karena keinginannya sudah disetujui oleh Bima.
Melihat Bella pergi dari ruangannya membuat Bima sejenak merenung dan memikirkan beberapa hal yang selama ini tidak pernah terpikirkan oleh Bima.
Kenapa Malam itu Bima tidak sadar bahwa yang dia tiduri adalah Bella? Bima masih bisa ingat dengan jelas apa saja yang sudah Bima lakukan dari foreplay hingga merenggut kenikmatan seorang gadis yang masih segel.
Bahkan posisi yang Bima gunakan pun masih Bima ingat hingga sekarang. Tapi bagaimana mungkin Bima melihat Bella sebagai Kiara? Se-sakau apa pun dirinya, apa mungkin bisa salah mengenali wanita yang tidur bersamanya?
Sakau?
Bima tidak pernah mengonsumsi obat terlarang. Mana mungkin Bima sakau.
Pikiran Bima terhenti karena deringan telfon dari Aldi.
Melihat nama Aldi di layar telfonnya, Bima yakin Aldi ingin membicarakan pengunduran diri Kiara.
"Halo, Ada apa?" Bima tak mau berbasa-basi dengan Aldi.
"Setujui pengunduran diri Kiara" Aldi terdengar dingin.
"Aku tidak mau."
"Kamu yakin?"
"Tentu."
"Aku bisa menangani hal itu."
"Kamu dan Bella tega juga ya menyakiti Kiara terus-menerus,"
"Apa maksud kamu? Bella kakaknya. Mana mungkin menyakiti Kiara yang sudah mengorbankan hidupnya demi Bella."
"Aku tak perlu menjelaskan apa pun. Kamu bukan pria bodoh. Berhentilah membohongi dirimu sendiri."
Bima terdiam mendengar perkataan Aldi.
"Aku punya sesuatu yang berharga yang bisa ku tukar dengan kebebasan Kiara dari belenggu pekerjaannya bersama kalian. Tertarik?" Aldi terdengar senang mempermainkan rasa penasaran Bima.
"Tidak tertarik" Bima memutuskan tidak akan mau kehilangan Kiara dengan tipuan Aldi
"Aku memiliki potongan video penting mengenai malam pertama kamu dengan Bella. Yakin belum penasaran dan ingin bertukar?"
"Video apa?" Bima tentu penasaran jika ini mengenai malam na'as itu.
"Bertukar? Aku bisa mengirimkan videonya setelah Kiara bebas dari pekerjaannya di sana"
"Jika kamu membohongiku dan ini bukan hal penting bagaimana?"
__ADS_1
"Kamu jangan berlagak bodoh lagi, Bima. Kamu sudah yakin aku memegang video penting dari malam yang kamu benci itu."
"Oke, Aku tanda tangani pengunduran diri Kiara. Besok kamu harus mengirimkan video itu!"
"Tentu." Aldi menutup telfon tanpa berbasa-basi lagi.
Usai berurusan dengan Bima, Aldi beralih menghubungi Kiara melalui panggilan video.
Kiara mengangkat setelah berdering beberapa saat. Ini pertama kalinya mereka melakukan panggilan video, Tumben sekali Aldi melakukan ini.
"DImana?" Aldi yang tampak serius menatap layar komputer besar di mejanya terpampang di layar ponsel Kiara.
Kiara heran kenapa Aldi enggan sekali berbasa-basi untuk sekedar menyapa sekalipun. Selalu saja menanyakan hal pokok yang ingin dibicarakan.
"Masih di hotel Mariott. Ini sedang makan siang di cafe seberang hotel."
"Aku sudah menghubungi Bima. Dia setuju dengan ajuan resign kamu."
"Oh ya." Mata Kiara tampak berbinar meski sambil menyendokkan sesuatu ke mulutnya.
"Lalu kapan aku bisa mulai bekerja di WS Tech?" Tambah Kiara
"Besok pagi."
"Secepat itu? Tidak perlu memasukkan berkas lamaran atau melakukan wawancara?"
"Tidak." Aldi tampak semakin serius.
Melihat Aldi sibuk dengan pekerjaannya tapi masih belum memutuskan panggilan video mereka, membuat Kiara senang dan merasa istimewa.
"Apa posisi pekerjaanku?"
"Tim kesekretariatan. Sekretariat yang berada tepat di bawah perintah CEO."
"Aku menjadi sekretaris?" Kiara heran menatap tak percaya kepada Aldi di layar ponselnya yang masih saja dengan ekspresi dan gerak tubuh yang sama.
"Ya". Dalam hati Aldi melanjutkan, 'menggantikan posisi Bella yang barusan juga mengajukan resign hanya melalui telfon kepada Daniel.'
--------------
hai guys...
Banyak yang berkomentar upload kurang banyak. Maafkan keterbatasan author ya...
Imajinasi dan tulisan belum sinkron bangets akhir-akhir ini... Fokus memikirkan perintilan lebaran...
Dimaafkan ya meski sebelum lebaran
Dinda ^^
__ADS_1