
Bima tiba di hadapan Diandra. Bima tampak tenang. Padahal Diandra kesulitan menenangkan diri.
"Apa ini, Bima?" Diandra melempar sebuah map di hadapan Bima.
Bima memungut map itu dari lantai dan membaca isinya. Ekspresi Bima masih tak berubah. Diandra semakin kesal dibuatnya.
"Mommy cukup cepat mengetahuinya. Aku kira masih bisa menyembunyikannya hingga beberapa tahun lagi." Jawab Bima dengan datar.
"Apa maksud kamu dengan bertahun-tahun lagi?" Banyak pikiran buruk terlintas dalam benak Diandra. Anak lelakinya ini bisa melakukan banyak hal, termasuk mengambil anak orang lain dan mengakuinya sebagai anaknya sendiri. Itu tidak boleh terjadi. Sudah cukup bagi Bima untuk melakukan apapun sesuka hati. Ini saatnya Diandra membatasi Bima.
"Mommy mau apa sekarang? Aku tidak akan meninggalkan Bella." Bima sedari tadi hanya berdiri di hadapan Diandra, kini Bima duduk di sofa empuk di hadapan Diandra. Keduanya sama-sama duduk bertatapan.
"Mommy tahu kamu tidak akan bersedia meninggalkan istri kamu."
"Lalu apa tujuan Mommy?"
Diandra melempar map lain ke meja di hadapan Bima. Dengan enggan, Bima membuka map itu. Wajahnya menjadi gelap begitu melihat foto wanita dengan keterangan identitasnya di halaman pertama.
"Kamu pilih wanita yang ada dalam map itu. Mereka sanggup mengandung anak kamu dan menjadi istri kedua kamu." Bima seperti tersambar petir di sore hari.
Bima tidak menyangka Mommy Diandra yang selalu Bima anggap baik ternyata setega ini.
"Jangan main-main mom!" Map di tangannya Bima tutup kembali setelah melihat halaman pertama. Bima membanting map itu tepat di hadapan Diandra dengan emosi.
"Pernah kamu lihat Mommy bertindak main-main?!"
Bima terdiam. Mommy Diandra selalu melakukan setiap hal dengan sungguh-sungguh. Mommy juga yang selalu membantu Bima membereskan urusan dengan para mantan pacar yang masih menginginkan hubungan mereka berlanjut. Mommy tidak pernah main-main dengan apa yang dia lakukan.
'Tidak, aku lupa memperhitungkan ini. Aku tidak memiliki rencana apapun jika sampai mommy mengetahui hal ini lebih cepat.' Bima mulai bingung.
"Kamu bermain-main dengan wanita mana pun, mommy nggak pernah melarang. Bahkan Mommy bantuin kamu membereskan jejak tidak baik kamu. Dan lagi-lagi kamu mengulanginya.
__ADS_1
"Mom. Bella masih dalam penanganan psikiater. Dia baru saja mulai membaik. Mana mungkin aku nikah lagi demi anak, Mom. Please try to understand." Bima berusaha memohon pengertian sang Mommy.
"Jika Mommy nggak pengertian, sudah mommy suruh kamu ninggalin Bella. Dia sama sekali nggak bisa lanjutkan keturunan Atmaja. Tentu saja tidak lagi punya kualifikasi menjadi istri kamu. Tapi mengingat dia sudah berkorban demi selamatkan nyawa kamu, mommy masih ijinkan dia jadi istri kamu. Tapi kamu juga harus berkompromi. Menikah lagi dan lanjutkan keturunan keluarga kita." Keputusan Diandra sudah bulat. Dia tidak akan menerima penolakan Bima.
"Mom" Bima tidak tahu bagaimana lagi bisa membujuk Diandra. Bima hanya bisa memanggil namanya dengan lemah. Berharap Dinda mengerti keengganannya untuk saat ini.
"Jangan merengek seperti anak kecil lagi, Bima. Mommy nggak akan terpengaruh. Di map itu adalah calon istri yang sesuai kriteria kecantikan yang kamu sukai. Mommy juga sudah memastikan mereka mau berbagi suami dengan Bella. Juga mereka mau langsung mengandung anak kamu. Tapi karena usia pernikahan kamu sama Bella baru seumur jagung, mereka juga bersedia kita tidak mengadakan pesta pernikahan kedua kamu ini. Cukup disahkan secara hukum dan agama saja. Mommy sudah melakukan sebisanya, sekarang saatnya kamu menuruti pengaturan yang mommy berikan."
"Mom, aku nggak bisa nikah lagi, mom. Please." Bima masih berusaha memohon.
"Kamu mau mommy keluarin ancaman mommy?!" Diandra dan Bima sama-sama tahu kemampuan masing-masing.
"Mom. Jangan seperti ini. Kasihani Bella mom. Kasih aku waktu, mom."
"Waktu untuk apa? membodohi mommy dengan tipu daya kamu lagi?" Diandra sudah sangat ingin marah. Bima dan Diandra sama-sama cerdas. Keduanya juga saling memahami kemampuan memutar balikkan keadaan satu sama lain.
"Mom, why did you say that? You are so smart. How I could fool you." Bima mencoba menggunakan bahasa asal Diandra. Mungkin Mommy akan lebih menurunkan emosi ketika Bima menggunakan bahasa selain Indonesia.
"No Way. You have to listen to me, son." Diandra menurunkan nada suaranya meski Diandra masih memaksakan keinginannya.
Diandra memikirkan sejenak perkataan Bima. Ada benarnya jika Bima butuh waktu menyiapkan hati dan perasaannya untuk wanita lain. Apalagi Bima baru saya menerima keberadaan Bella yang sangat mencintainya. Jika Bima mau mempunyai istri kedua, tentu Bima butuh waktu.
"Okey. Mommy kasih kamu waktu untuk bersiap. Persiapkan hati kamu untuk menerima wanita lain dalam hidup kamu. Dan kamu juga harus bisa bikin Bella mengerti untuk menerima wanita ini. Jangan sampai mama yang turun tangan untuk menyadarkan Bella akan kekurangannya."
Bima terdiam. Bima tidak tahu telah melakukan hal yang benar atau tidak dengan menyetujui keinginan mommy-nya. Tapi jika Bima menolak dengan keras, maka Diandra akan beralih menyakiti Bella. Bima harus melindungi Bella dari Mommy-nya. Bima harus memastikan kondisi mental Bella stabil. Itu yang terpenting saat ini. Dalam waktu yang Diandra berikan itu, Bima harus bisa memulihkan kesehatan kejiwaan Bella menjadi kembali normal.
"Baik mom. Kasih aku waktu dua tahun, ya." Bima dengan yakin mencoba peruntungannya.
"What! Of Course I Will reject it"! Diandra jengkel dengan penawaran Bima kali ini. Bahasa asalnya keluar begitu saja.
"Come on mom. Two year please!" Bima memohon lagi.
__ADS_1
"Tidak. 2 bulan." sahut Diandra. Awalnya Diandra hanya akan memberikan toleransi 1 bulan. Ini sudah Diandra perpanjang menjadi 2 bulan.
"Too little, mom. one and a half year, okey?" Bima menawar menjadi 1,5 tahun.
"No"
"Please."
"No"
"Okey. 1 tahun ya. Udah nggak bisa kurang lagi."
"Mommy nggak lagi kasih penawaran. 3 bulan! Nggak bisa lebih."
"Mom, jika 1 tahun lagi, mommy bisa adakan pesta pernikahan lagi."
"Mommy bisa bikin pesta 1 tahun lagi setelah anak kalian lahir."
"Tapi 3 bulan terlalu pendek mom. Gimana kalo Bella belum pulih kondisi kesehatan mentalnya?"
"Itu urusan kamu. Yang jelas, 3 bulan dari sekarang, kamu sudah menikah. 1 tahun setelah itu, cucu mommy sudah lahir ke dunia ini. Tidak bisa ditawar lagi sedikit pun! Jangan buang-buang tenaga dan pikiran kamu untuk tawar-menawar lagi dengan mommy. Kecuali kamu mau menukarnya dengan kondisi Bella yang memburuk."
"Mom, kenapa selalu mengarah kepada Bella."
"Karena hanya itu kelemahan kamu sekarang. Wanita yang begitu rapuh ini sudah menjadi titik lemah kamu. Mommy tentu harus bisa memanfaatkannya dengan baik."
"Mom, jangan sentuh Bella. Aku turuti kemauan Mommy. 3 bulan. Selama 3 bulan ini aku bebas bersama Bella. Jangan ungkit ini di hadapan Bella sama sekali. Ingat itu, mom."
"Okey fine. As long as you remember our deal. I can stay away from Bella as far as I can. But you need to give me my grandchild with one of these girl." Diandra melempar lagi map berisi para gadis calon istri Bima.
Bima tidak punya pilihan selain membawa map itu untuk dilihat. Tentu Bima tidak mau dipilihkan oleh Diandra. Bima harus tahu siapa pilihan calon istrinya berikut latar belakangnya.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸
_Dinda^^