Bertukar Pengantin

Bertukar Pengantin
Kembali ke sisi Bima (2)


__ADS_3

Bella awalnya takut diperlakukan kasar. Tapi dengan kelembutan sentuhan yang diberikan oleh Bima membuat Bella menjadi rileks dan menikmati setiap sentuhan maupun ciuman Bima di seluruh kulitnya.


Akan tetapi Bella kemudian mendengar Bima menyebut nama Kiara. Bella bergetar karena rasa sakit di hatinya.


Bella menggigit bibirnya sendiri untuk mencegahnya menangis. Bella tidak ingin memancing amarah Bima.


"Kiara. Kamu memiliki kulit yang sangat halus dan lembut." Bima mengatakannya sambil terus memberikan kelembutan yang indah bagi Bella sekaligus rasa sakit hati saat mendengar nama Kiara.


"Cium aku" Bella berusaha membalas perkataan Bima.


Mendengar ucapan Bella kali ini membuat Bima seketika itu sadar bukan Kiara yang berada di hadapannya saat ini.


"Jangan ucapkan sepatah kata pun ketika melayaniku!" Bentak Bima dengan tiba-tiba.


Bella kembali ketakutan. Seketika itu langsung mengatupkan mulutnya serapat mungkin.


"Anak baik," Bima merapikan rambut yang menjuntai ke wajahnya, menyibaknya hingga ke belakang telinga Bella.


"Kamu boleh berteriak sesuka hati kamu. Tapi jangan mengucapkan perkataan apa pun yang membuatku sadar bahwa kamulah yang saat ini berada di hadapanku," Bima melanjutkan aksinya yang tertunda kepada Bella.


Hati Bella berdesir perih sekaligus takut. Perintah Bima sangat jelas. Bella bisa menikmati perlakuan lembut Bima, tapi Bella harus menggantikan Kiara dalam hidup Bima. 'Oh Tuhan', tangis Bella dalam hati.


"Kiara," lagi-lagi Bima memejamkan mata sambil terus menyebutkan nama Kiara tanpa henti.


Bella diperlakukan dengan lembut dan manis meski harus menerima disebut sebagai Kiara dan tidak diakui keberadaannya.


Ada rasa senang dengan perlakuan lembut maupun pemujaan Bima terhadap dirinya. Sejak lama Bella merindukan hal ini.


"Iya, begitu Kiara. Teruslah ekspresikan kalau kamu suka aku perlakukan seperti ini,"


Bella masih saja mendengar nama Kiara. Tapi saat ini Bella sudah kebas mendengarnya. Bella akan berusaha menikmati setiap perlakuan lembut Bima ini.


"Ayo sayang. Teruslah ekspresikan kalo kamu menginginkan aku. Aku menanti kamu siap untuk menyatu denganku, sayang," Bima terus saja menyemangati Bella mereguk kenikmatan.


Bella semakin senang dipanggil sayang tanpa ada nama Kiara menyertai. Bella seolah terbang.


Setiap panggilan sayang yang diucapkan oleh Bima membuat Bella senang dan semakin bahagia.


'Aku akan berusaha kuat di sisi kamu, Bima. Aku akan berusaha mendapatkan kasih sayang kamu yang selembut ini terus-menerus'

__ADS_1


'Dalam urusan seperti ini sepertinya aku lebih unggul dalam melayani kamu dari pada Kiara, adikku'


Bella memikirkan semua itu dalam hati. Tiada lagi penyesalan karena kembali ke sisi Bima.


Bima sendiri merasa puas dengan aktivitas ranjangnya bersama Bella.


Selama melakukan semuanya terhadap Bella, Bima terus saja mendesah dan tidak ingin mengucapkan kalimat-kalimat penyemangat atau godaan kepada Bella.


Bima terlalu merasa nikmat dengan penyatuan mereka.


Milik Bella sangat berbeda dengan wanita-wanita yang sebelumnya Bima kencani.


Mungkin karena Bella sejak awal masih memiliki mahkota kegadisannya yang membuat berbeda.


Dengan begini, Bima tidak akan dengan mudah melepas Bella untuk bercerai. Memiliki istri sekaligus pemuas ranjang seperti ini akan menyemangati hidupnya hingga Kiara bisa Bima dapatkan kembali.


"Kamu nikmat banget sayang. Kamu harus belajar lebih baik lagi dalam melayani suami. Biar aku selalu puas sama kamu," Ucap Bima sebelum mengeluarkan lahar panasnya di dalam diri Bella.


Bella sendiri sudah letih melayani Bima. Bima sudah berganti gaya beberapa kali hingga membuat Bella lebih letih lagi. Bella tidak bisa bergerak.


Bella lupa bagaimana telah tertidur di ranjang Bima. Padahal sebelumnya dia masih bersandar di tubuh Bima setelah Bima menuntaskan gairahnya.


Meski harus menahan perih disebut-sebut sebagai Kiara sepanjang malam, Bella terus bertahan hingga akhir. Bella berusaha ikut menikmati setiap perlakuan fisik Bima terhadapnya.


Dengan menutup telinga terhadap nama Kiara yang selalu disebut oleh Bima, Bella bisa melalui tugasnya melayani sang suami. Sekaligus meraih posisi nyonya muda Bima Atmaja kembali.


"Ini kartu belanja buat kamu. Jika kamu mempertahankan performa kamu dalam menyenangkan aku, aku bakal menambahkan uang belanja sekaligus uang jajan kamu."


Bima meletakkan kartu kredit di meja nakas samping ranjang tempat Bella sedang berbaring.


"Aku tahu kamu licik, hampir sama sepertiku. Tapi kamu harus tahu diri untuk menjauh dari urusanku dengan Kiara. Ini peringatan terakhir buat kamu."


Bima mengucapkannya sambil duduk di sisi Bella yang masih berbaring di ranjang dengan sehelai selimut menutupi tubuhnya,


"Jawab aku, Bella. Jangan diam saja ketika aku memberikan perintah!" Bima tidak suka ketika Bella hanya diam mendengarkan saja.


"I.. Iya," Bella menjawab dengan terbata-bata. Tidak menyangka bahwa Bima akan meneriakinya.


Bima berlalu begitu saja usai mendengar jawaban yang diinginkan dari Bella.

__ADS_1


Bima hendak berlalu tapi secara tidak sengaja melihat bagian tubuh pribadi Bella yang sedikit tersingkap ketika hendak duduk dengan susah payah.


Melihat hal itu membuat Bima mengingat hal panas yang mereka lakukan sebelumnya. Bima jadi menginginkannya lagi saat ini.


Setelah mempertimbangkan cukup lama agendanya hari ini yang tidak akan cukup padat, Bima kembali duduk di sisi Bella dan membisikkan sesuatu di telinga Bella.


"Bersihkan diri kamu. Saya ingin memakan kamu sebagai menu sarapan saya sebelum berangkat ke kantor."


Bella merinding mendengar bisikan Bima.


Sekujur tubuh Bella masih berasa sakit semua usai kegiatan mereka berdua kemarin. Kini Bima menginginkannya lagi. Bella tidak tahu setan apa yang sudah menguasai Bima,


"Selesaikan dalam 10 menit, Bella." mendengar ini Bella tidak bisa menunda untuk bangun dari ranjang dan berjalan secepat mungkin ke kamar mandi.


Tidak lama setelah Bella masuk ke kamar mandi, Bima mendapat pesan dari informannya mengenai Verlita. Sudah saatnya Bima harus mulai bergerak menjalankan rencananya.


Bella keluar dari kamar mandi lebih dari 10 menit. Dengan sedikit ketakutan, Bella keluar hanya dengan mengenakan handuk mandi. Tapi Bima sudah tidak ada di kamar.


Bella khawatir Bima pergi karena marah akibat terlalu lama  menunggu Bella. Dengan sedikit bergegas, Bella memakai baju ganti yang masih ada di lemari kamar tidur Bima. Bella heran mendapati baju-bajunya masih tertata rapi di kamar itu. Seolah Bella selama ini masih tinggal di rumah itu.


Perasaan senang menyelimuti Bella. Merasa masih sebagai nyonya muda Atmaja seutuhnya,


Usai berganti pakaian, Bella mencari keberadaan Bima di ruang makan dan ruang keluarga. Tapi Bima tidak kunjung bisa Bella temukan.


Akhirnya Bella mencoba mencari ke ruang kerja suaminya. Bella mengetuk pintu, tapi tidak kunjung ada jawaban. Dengan pelan Bella membuka pintu ruang kerja yang tidak terkunci. rupanya Bima sedang berada di balkon. Dia sedang melakukan panggilan telefon yang cukup serius hingga tidak mendengar ketukan pintu Bella maupun suara pintu ruang kerja dibuka oleh Bella.


"Verlita, jalankan seperti rencana kita. Harus sudah mulai kamu eksekusi hari ini.


Bella mendengar Bima berbicara dengan seseorang bernama Verlita. Bella yakin Verlita ini seorang perempuan. Hati Bella bergetar khawatir. Apakah posisinya sudah tidak akan bertahan lama sebagai istri Bima?


Bella mundur perlahan, berusaha keluar dari ruang kerja sebelum Bima mengetahui Bella yang sudah menguping pembicaraannya.


Tapi nasib baik tidak berpihak kepada Bella. Bima menoleh ke belakang ketika Bella pas berada di pintu.


Menyadari hal itu, Bella berpura-pura baru masuk ke ruang kerja. Menatap langsung ke arah mata Bima dengan pura-pura baru masuk.


Melihat Bella masuk ke ruang kerjanya, Bima yang sudah akan mengakhiri pembicaraannya kini mendekati Bella.


"Kamu sudah wangi, istriku." Bima menghirup bau shampoo Bella,  Menginginkan sarapan paginya dari Bella.

__ADS_1


Bella sendiri berubah menjadi senang dipanggil istri. Ketakutannya sebelumnya pun sirna. Meski sekujur tubuhnya masih berasa pegal dan sendi-sendinya terasa sakit, Bella melayani suaminya dengan sepenuh hati. Berharap nama Kiara tidak lagi disebut-sebut oleh Bima.


__ADS_2